Mengandung Anak Musuhku

Mengandung Anak Musuhku
21. Menunda


__ADS_3

Keesokan paginya, dimana matahari mulai terlihat merangkak naik keatas. Didalam sebuah kamar utama yang mana semalam menjadi saksi cinta antara Arcelia dan Irsyad, terlihat Arcelia masih terlelap tidur dengan diselimuti keletihan yang nyata.


Berbeda dengan Irsyad yang sepertinya sudah kembali pada aktivitas biasanya, terbukti dengan tak nampaknya ia didalam kamar tersebut.


Tentu saja, kejadian semalam adalah sejarah paling berharga dalam hubungan mereka. Meski akan tetap memiliki artian yang berbeda dikedua-nya, karena seperti yang kita tahu bahwa belum ada kesepakatan diantara mereka saat melakukannya. Bahkan mungkin lebih cenderung pada Irsyad yang memaksakan keinginannya pada Arcelia.


Ya, apapun itu tetap saja baik Arcelia maupun Irsyad kini sudah resmi menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya. Dan seharusnya tidak ada lagi'kan jarak atau sesuatu apapun yang membatasi mereka? Kini mereka sudah benar-benar terikat antara satu sama lain.


Tak lama dari itu, Arcelia akhirnya mulai mengerjapkan matanya meski masih sangat lelah dan mengantuk itu terlihat dari matanya yang nampak lengket dan sulit sekali untuk ia buka. Namun, karena sinar mentari yang sudah menyengat hangat masuk kedalam kamar, menembus lapisan gorden yang masih tertutup sempurna, hingga mau tak mau ia pun harus mengakhiri tidur cantiknya itu.


Menggeliat berupaya menyegarkan kembali tubuhnya, juga menyingkirkan segala lelah yang masih menggelayuti dirinya. Mata indahnya mulai menyesuaikan diri dengan cahaya sekitar, ketika wajah cantiknya itu berhadapan langsung dengan terpaan sinar indah pada pagi hari itu.


Dilihatnya sekeliling hingga beberapa detik kemudian dia baru teringat sesuatu, dirabanya bagian dada dan bagian tubuhnya yang lain secara bergantian. Wajahnya terlihat panik dan tegang ketika mengingat adegan semalam, ketika wajahnya dan Irsyad begitu dekat bahkan tubuh mereka yang saling m*nempel.


" Apa semalam benar-benar sudah terjadi? Aku dan Irsyad?! Diantara kami kini.. " Gumamnya dengan kegelisahan yang masih nyata.


Digelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, berupaya dengan hal itu ia bisa menepis kenyataan yang mencengangkannya itu. Tidak, dia belum siap dengan semua kenyataan ini. Kini dia sudah benar-benar menjadi seorang istri dari Irsyad si pria menyebalkan itu, semua miliknya kini benar-benat telah dimiliki pria itu.

__ADS_1


Entah ini akan menjadi sebuah awal yang baik atau mungkin sebaliknya, Arcelia tidak tahu. Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah diam, mengikuti kemana takdir akan membawanya dan hubungan mereka ini nantinya.


" Iihhs.. Menyebalkan sekali dia! Setelah apa yang dia lakukan, sekarang dia pergi seenaknya! " Gerutu Arcelia ketika menyadari dia ditinggal seorang diri di sana, lengkap dengan keadaan kamar yang berantakan dan kacau balau karena ulah keduanya semalam.


Tidak ada perhatiannya sama sekali Irsyad ini sebagai seorang suami, jangankan bersikap manis dan romantis seperti pasangan-pasangan pada umumnya. Ini, dia bahkan tak ada niatan untuk sekedar membangunkannya, dia seperti tidak mau repot-repot memikirkan dirinya yang mungkin saja memiliki jadwal penting dan sekarang malah terbangun dihari yang mulai beranjak siang.


" Ck. Betapa sialnya aku memiliki suami seperti dia, harusnya sekarang aku dibantu bahkan digendong untuk bisa sampai di kamar mandi. Tapi, apa ini sekarang.. " Keluh Arcelia merasa sedih dengan nasibnya yang jangankan mendapatkan kata terima kasih dari suaminya, ini melihat wajahnya pun tidak.


" Ah.. Rugi sekali rasanya, aku sudah menyerahkan diriku padanya! " Gumam Arcelia masih menggerutu kesal, dengan tertatih dia melangkah secara perlahan ke kamar mandi.


Meski sebenarnya Arcelia memiliki agenda untuk bertemu salah satu kliennya pagi ini, namun sepertinya dia akan memilih untuk menundanya lebih dulu. Mungkin setelah waktu makan siang nanti dia baru akan pergi ke kantor, untuk sekarang akan lebih baik jika dia beristirahat barang sebentar.


Selesai dengan acara mandinya, Arcelia bergegas turun kelantai satu untuk mengisi perutnya yang sejak tadi sudah berontak minta untuk ia isi. Bagaimana tidak, karena bahkan jatah sarapannya kali ini harus ia dapat siang hari begini. Ah sudah katakanlah ini makan siang sudah tak layak juga bukan ia sebut ini sarapan.


" Mbok ambilkan makananku! " Pinta Arcelia ketika ia melihat sosok Mbok Yem dan langsung diangguki oleh wanita paruh baya itu.


Melihat hal itu Arcelia pun menarik kursi dan segera duduk manis menanti makanannya tiba, hingga ia pun terikat akan sesuatu. Melihat Mbok Yem kembali menghampirinya, dengan cepat ia menarik tangannya agar lebih dekat dengan dirinya lalu ia pun membisikan sesuatu.

__ADS_1


" Oh iya Mbok, setelah ini tolong rapihkan kamar utama ya dan.. Emm..juga tolong nanti Mbok belikan pil kb untukku yaa. " Pinta Arcelia dengan berbisik dan sedikit ragu saat mengatakan kalimat terakhirnya.


Ya, tiba-tiba saja Arcelia teringat akan hal itu, dia benar-benar bingung dan entah harus melakukan apa setelah kejadian semalam. Ada perasaan takut, ragu juga bimbang jika ia teringat perihal anak, bukan! Bukan karena ia tidak menginginkannya.


Hanya saja ia masih sangat takut dan ragu jika Irsyad tidak benar-benar menginginkannya dan hanya mempermainkannya saja, tentu hal ini disebabkan karena Irsyad yang tidak pernah serius dalam banyak hal termasuk dengan hubungan mereka saat ini.


Arcelia merasa hubungannya ini masih menggantung dan belum tentu arah mana yang akan mereka tuju, jadi untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan terjadi Arcelia lebih memilih untuk menunda memiliki momongan untuk saat ini.


" Baik Non, apa ada lagi yang ingin Non beli selain itu? " Sahut Mbok Yem dengan patuh, bahkan tanpa mempertanyakan apapun mengenai benda yang diminta Arcelia.


" Tidak Mbok, untuk saat ini cukup hanya itu saja. " Ujar Arcelia yang detik selanjutnya mulai memasukkan makanan pada mulutnya, dan tak lama dari itu Mbok Yem pun pamit meninggalkan Arcelia sendiri diruang makan itu.


" Ya, aku pikir ini sudah tepat. Menundanya mungkin akan menjadi pilihan yang terbaik untuk saat ini. " Arcelia makan dengan pikirannya yang berlarian kemana-mana.


" Maaf Bun, Maafkan Lia. Sepertinya tidak dalam waktu dekat ini! " Batin Arcelia merasa bersalah pada ibu mertuanya yang ia tahu sudah sangat menginginkan seorang cucu darinya dan Irsyad.


Bukan Arcelia tidak tahu tentang seberapa besarnya harapan keluarganya pada dirinya mengenai hal ini, bukan pula dia ingin abai dan egois dengan lebih mengedepankan keraguan dan kekhawatirannya yang mungkin saja tidak benar itu. Namun, bukankah dia yang menjalani hubungan ini dan dia sendiri jugalah yang nantinya akan menghadapi segala konsekuensi dari keputusan yang ia ambil saat ini?

__ADS_1


......................


__ADS_2