
Diserahkannya sebuah amplop berlogo sebuah rumah sakit dan selembar kertas USG yang tadi pagi didapatkannya itu kepada Irsyad.
" Apa ini? " Irsyad mengerutkan keningnya pura-pura tidak tahu, agar Arcelia tak merasa curiga dan mau menjelaskannya langsung kepada dirinya.
" Ya, dibaca saja untuk mengetahui isinya. " Timpal Arcelia seraya ikut mendudukkan dirinya di ranjang bersebelahan dengan Irsyad.
Arcelia sengaja melakukan hal itu, karena jujur saja ia malas dan juga bingung jika harus menjelaskannya sendiri kepada Irsyad. Apalagi setelah pembicaraannya tadi yang tidak ditanggapi dengan baik oleh Irsyad, hal itu cukup membuat moodnya sedikit memburuk.
" Ck, benar-benar tidak ada inisiatifnya sekali dia menjadi seorang istri! " Cibir Irsyad dalam hati mendapatkan perlakuan seperti itu dari Arcelia.
Keinginan dan bayangannya yang akan mendapatkan kabar ini dengan sikap antusias dan semangat Arcelia hilang sudah, istrinya itu justru malah bersikap menyebalkan seperti itu.
Hah.. Padahal mereka berdua memang sama-sama menyebalkan🤭 tapi ya sudahlah, mungkin memang mereka sudah ditakdirkan untuk hidup bersama dan saling melengkapi dengan sifat bawaan mereka masing-masing itu.
" Apa? Kau hamil? " Pekik Irsyad berpura-pura terkejut masih dengan aktingnya yang seakan belum mengetahui tentang hal itu. Tapi bukannya membuat dirinya terlihat menyakinkan, justru reaksinya itu mendapat tanggapan berbeda dari Arcelia.
Mendengar suara pekikan Irsyad seketika membuat Arcelia menolehkan wajah kearah dimana Irsyad duduk, melihat reaksinya yang seperti itu entah kenapa membuat Arcelia kesal juga marah kepada Irsyad.
Ekspresi dan raut terkejut Irsyad seolah mengatakan jika dia belum siap dengan kenyataan tersebut, dan hal itu tentu saja membuat amarahnya seketika terasa terbakar. Padahal kan sebelumnya Arcelia sendiri mengatakan bahwa dirinya belum siap, tapi ketika mendapat tanggapan seperti itu dari orang lain dia tidak terima.
Bahkan itu sesuatu hal yang belum tentu benar, terkejutnya Irsyad belum tentu berarti seperti itu. Tapi entahlah malah diartikan seperti itu oleh Arcelia, mungkin dia menjadi begitu sensitif karena kehamilannya tersebut.
Ditatapnya Irsyad dengan mata yang menyalak marah seakan ada sebuah kobaran api yang keluar dari kedua bola matanya itu.
" Apa?! Kenapa kau kaget heh?! " Ujar Arcelia yang sudah terlanjur emosi, bahkan terlihat dari napasnya yang memburu dengan dada yang kini sudah naik turun.
Melihat Arcelia membuat Irsyad bingung sekaligus merinding ketika melihat tatapan Arcelia yang diberikan untuknya.
__ADS_1
" Dih kenapa lagi dia? Menyeramkan sekali, sedikit sedikit berubah. " Heran Irsyad menatap Arcelia dengan harap-harap cemas, takut-takut justru nanti ia diterkam olehnya.
" Ingat! Semua ini juga karena ulahmu! Tak pantas rasanya kau terkejut dan bereaksi seperti itu! " Tuding Arcelia menunjuk-nunjuk Irsyad dengan kilatan marah.
" Hei.. Kau ini sebenarnya kenapa? Reaksiku yang mana yang menurutmu tak pantas itu, apa yang salah jika aku terkejut, hmm? Aku hanya tidak menyangka jika kau ternyata sedang hamil. " Sahut Irsyad akhirnya karena merasa Arcelia sudah terlalu aneh.
" Tidak menyangka!? Kenapa kau tidak menyangka, kau lupa kalau sudah melakukan hal itu padaku. Jadi jelas dan wajar saja jika aku sampai hamil! "
Yah.. Salah lagi Irsyad memberikan tanggapan itu kepada Arcelia yang justru semakin marah dan tak terima, Irsyad sampai dibuat kelimpungan dengan sikap Arcelia tersebut.
" Sekarang apa heh? Kau tidak mau mengakuinya dan mau menuduhku yang macam-macam? Dan bla..bla..bla.. " Arcelia terus saja menyerocos tak jelas dan kemana-mana, dan Irsyad yang hanya terbengong bengong melihatnya tanpa bisa melakukan apapun.
°°°°°
Selepas melalui drama ibu hamil itu, Arcelia kini sudah mulai kembali tenang setelah sebelumnya marah-marah bahkan sampai menangis pilu hingga akhirnya membuat Irsyad mengambil sikap. Merangkul dan menenangkan Arcelia didalam pelukannya, meski masih dengan perasaan bingung dan bertanya-tanya akan sikap dan perubahan suasana hati Arcelia terjadi begitu sangat cepat dalam yang cukup singkat.
Meski malu namun Arcelia akhirnya mengangguk juga sebagai jawaban dari pertanyaan Irsyad tersebut, dia mulai beringsut untuk memberi jarak antara dirinya dan Irsyad.
Kalau boleh jujur, malu, sangat sangat malu rasanya Arcelia saat ini lagi-lagi dia harus menangis dihadapan orang lain seperti ini. Padahal sebelumnya mana pernah dia begini, sesuatu hal yang sangat pantang untuk dirinya lakukan. Tapi ya, mau bagaimana lagi dia sungguh tidak bisa untuk mengendalikannya akhir-akhir ini.
Entahlah, Arcelia sendiri dibuat bingung dengan emosinya sekarang. Masih sedang bertanya-tanya, ada apa dengan dirinya dan bagaimana untuk bisa mengakhiri semua keanehannya ini.
Aaa.. Apalagi hari ini, ini adalah yang terparah dari yang sebelum-sebelumnya. Dia meracau berbicara yang tidak tidak, marah-marah atas sesuatu yang tidak jelas karena apa. Ah sudahlah lebih baik kita lupakan saja, dari pada harus terus menanggung malu seperti saat ini.
" Baiklah Lia, katakan maaf lalu lupakan semuanya. Enyah kalian dari pikiranku. " Batin Arcelia ancang-ancang ingin menyudahi rasa malunya, ia bahkan sampai memaki bayangan-bayangan memalukan tadi yang terus berseliweran di kepalanya.
" Emmh, ma..maaf! " Lirihnya sambil tertunduk, tak sanggup untuk menampakkan wajah sembabnya itu didepan Irsyad.
__ADS_1
Meski lirih tapi untunglah Irsyad masih bisa untuk mendengarnya, dia tersenyum lucu melihat Arcelia yang seperti itu. Jika ia tidak menahannya dengan sekuat tenaga, mungkin dia akan tertawa terbahak-bahak sekarang. Momen yang sangat langka, bahkan Arcelia mengucapkan kata maaf barusan sungguh sesuatu hal yang mungkin tidak akan pernah terjadi lagi.
" Ya, tidak masalah. Emm.. Ngomong-ngomong berapa usianya sekarang? " Ujar Irsyad yang mulai mengalihkan kecanggungan dan pembicaraan mereka dengan bertanya mengenai sang jabang bayi yang kini sedang bersemayam diperut Arcelia.
" Apa? " Arcelia yang sedang tidak terlalu fokus itupun, balik bertanya karena tidak bisa menangkap maksud pertanyaan Irsyad.
" Dia.. " Tunjuk Irsyad pada perut rata milik Arcelia, yang seketika membuat Arcelia langsung mengerti.
" Oh.. dokter bilang katanya sudah tujuh minggu dan katanya keadaannya juga baik. " Arcelia mengulangi apa yang tadi pagi disampaikan oleh dokter kandungannya.
" Lalu apalagi, dokter mengatakan apalagi tadi? " Tanya Irsyad lagi semakin penasaran dan ingin tahu lebih banyak lagi tentang calon anaknya itu.
" Tidak ada, setelahnya aku hanya melakukan USG dan mendengarkan detak jantungnya. Sudah, hanya itu. " Timpal Arcelia kembali mengingat ketika diperlihatkan gambar bayinya.
" Benarkah? Ah sayang sekali. " Antusias Irsyad yang juga terselip sedikit penyesalan, Arcelia hanya mengangguk menanggapi Irsyad.
" Baiklah, ayo besok kita katakan hal ini pada Bunda, dia pasti akan senang sekali. Besok aku akan mengatakan apa yang baru saja kau katakan itu. " Ajak Irsyad dengan semangat karena akan bisa menceritakan sedikit tentang anaknya itu pada ibunya.
" Bunda? Ya, Bunda pasti akan senang mendengar ini. Tapi, bukan itu yang ingin ku dengar darimu. Yang ingin ku tahu, apakah kau juga bahagia mendengar kabar ini? " Ucap Arcelia membatin menatap Irsyad sendu, karena ternyata Irsyad yang terlihat senang itu bukan disebabkan atas kehamilannya ini melainkan senang bisa memenuhi keinginan bundanya. Hal itulah yang Arcelia tangkap dari Irsyad.
" Ah.. Apa yang kau harapkan Arcelia! Jelas saja dia akan biasa-biasa saja, bahkan menikahi mu tanpa cinta pun dia bisa melakukannya. " Hati Arcelia memaki dirinya sendiri, mengingat akan itu entah kenapa rasanya ada yang berdenyut sakit di diri Arcelia.
" Ya, tentu. Aku pasti akan memberitahu Bunda secepatnya. " Sahut Arcelia sekenanya karena perasaannya kini sudah tak menentu, dan entah kenapa dia merasa kecewa dengan respon dari Irsyad itu.
......................
Dukungannya guys jangan lupa, Like, komen, vote dan hadiahnya jika berkenan. Aku selalu nunggu semangat dari kalian nih💖🤗
__ADS_1