Mengandung Anak Musuhku

Mengandung Anak Musuhku
8. Bulan Madu?


__ADS_3

Masih di hotel yang sama, terlihat tiga orang paruh baya sedang bercengkrama dengan hangat. Raut lega dan kebahagiaan tergambar di wajah ketiganya setelah akhirnya berhasil mewujudkan harapan mereka sejak dulu itu. Sengaja mereka hanya sarapan bertiga dan membiarkan pasutri baru itu di kamar, agar kedua anaknya itu lebih banyak beristirahat mengingat mereka bertiga saja masih merasakan lelah, apalagi kedua anak mereka yang merupakan bintang utama di acara semalam.


Namun, siapa yang menyangka jika niat baik mereka justru diartikan berbeda oleh anak-anaknya, yang mengira jika mereka secara tidak langsung dikurung dan tidak diperbolehkan keluar kamar sama sekali. Dan hal itu membuat kedua orang yang kini masih berada didalam kamar itu tersiksa oleh rasa bosan.


" Akhirnya penantian kita terbayar juga, kini kita bisa besanan. " Ucap Hardi dengan riang disela-sela acara sarapan mereka, saat ini mereka sedang berada di restoran hotel.


" Hmm.. Benar, kukira awalnya ini akan sulit. Tapi kalau memang sudah jodoh, mau bagaimana pun pasti terjadi kan? " Balas Darwin yang tak kalah semangat.


" Iya kak benar, yaa meskipun aku masih sedikit khawatir dengan hubungan keduanya, mengingat mereka yang tak pernah akur itu. " Timpal Lidya mengungkapkan kerisauannya.


" Tapi kini kita tidak perlu khawatir, melihat dari mereka yang nampak tidak keberatan bahkan menolak perjodohan ini saja tidak. Aku yakin mereka akan baik-baik saja. " Balas Hardi menepis segala kekhawatiran yang ada, lebih tepatnya untuk membuat istrinya itu lebih tenang.


" Ya, Hardi benar. Semua hanya masalah waktu saja, kedepannya aku yakin mereka akan menjadi keluarga yang rukun. " Tambah Darwin sambil meraih minumannya dan menyesapnya.


" Iya aku harap juga begitu. " Lidya mengangguk setuju. " Andai saja mbak Listiana masih ada, dia pasti akan sangat bahagia'kan melihat putra-putrinya bersama? " Lidya kembali bersuara namun kini dengan nada sendu kala mengingat sahabat baiknya itu.


" Tentu saja dia akan bahagia di sana, bukankah ini adalah harapannya juga? Harapan kita bersama? " Hardi merangkul bahu istrinya berupaya menghiburnya, hingga dibalas dengan anggukan dan senyum tipis oleh Lidya, tertanda setuju dengan ucapan suaminya. " Hemm, dia pasti bahagia. "


" Mbak, aku berjanji akan menjaga dan menyayangi anakmu seperti anak kandungku sendiri mbak. " Tekad Lidya dalam hati dengan senyum sendunya.


Tak berbeda dari Lidya, Darwin yang mendengar nama istrinya disebut terlihat menerawang, mengingat kembali wanita yang sangat dicintainya itu.


" Sayang, kamu juga melihatnya kan di sana? Putri kecil kita sudah dewasa sekarang, kemarin dia menjadi pengantin yang paling cantik sama seperti dirimu dulu. Ku harap kamu juga bisa merasakan kebahagiaan kami ini. " Ucap batin Darwin yang seolah tengah berbincang dengan istrinya.

__ADS_1


" Aah..iya, kira-kira kita akan mendapat berapa cucu yaa dari mereka. " Seloroh Hardi berusaha untuk mengembalikan suasana.


" Kamu ini, baru saja kemarin mereka menikah. Sudah bahas masalah cucu. " Ujar Lidya dengan tawa yang tak bisa ditahannya, yang benar saja suaminya ini bicara soal cucu? Lucu sekali, belum juga ada satu bulan anak-anaknya menikah.


" Hahha.. Benar, kenapa tidak terpikirkan olehku yaa. " Balas Darwin yang baru sadar bahwa mungkin sebentar lagi dia akan segera menjadi seorang kakek. " Kalau menurutku mungkin dua atau tiga cucu-cucu manis lah, bahkan mungkin lebih banyak lebih baik. " Lanjutnya dengan disambut tawa yang bersahutan.


" Aahha.. Sepertinya itu boleh juga, pasti nanti rumah kita akan sangat ramai. " Membayangkan akan betapa ramai dan serunya nanti ia dihari tua.


" Ada-ada saja kalian ini. " Timpal Lidya namun tetap ikut tertawa.


✨✨✨✨


Malam harinya masih berada di hotel yang sama, kini mereka sedang melakukan makan malam bersama. Tidak seperti tadi pagi, dimana Arcelia dan Irsyad tidak ikut serta, kali ini mereka pun ikut bergabung untuk makan malam bersama. Sekalian ada yang ingin dibicarakan oleh para orang tua, tentu saja tak lain dan tak bukan mengenai acara bulan madu pasangan suami-istri baru itu. Setelah tadi pagi pembahasan mereka mengenai cucu, membuat mereka merencanakan hal ini. Entahlah, sepertinya mereka jadi benar-benar menginginkan kehadiran seorang cucu secepatnya.


Sedangkan Irsyad hanya diam memperhatikan, namun sama-sama menunggu apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh orang tua mereka.


" Sebenarnya kami sudah menyiapkan tiket bulan madu untuk kalian, kalian mau kan melakukannya? " Pungkas Lidya berinisiatif menjelaskan maksud mereka.


" Bulan madu? " Ucap Arcelia dengan sedikit keterkejutan.


" Huh.. Seperti yang sudah ku duga, ini pasti akan terjadi. Tapi apapun itu aku harus menggagalkannya kali ini, haah tak terbayang rasanya aku harus menghabiskan malam bersama si Udang. " Batin Arcelia bersiap melancarkan rencana yang telah disusunnya.


Tak berbeda jauh dengan Arcelia, Irsyad pun merasa enggan untuk pergi berbulan madu. Tak terlintas sedikitpun di otaknya akan menjalani dan menghadapi hal-hal seperti ini, yang ada dia justru sedang mempersiapkan segala macam acara untuk menjahili Arcelia sepuas yang dia inginkan. Kekanakan? Atau tidak ada kerjaan? Ya, memang begitulah Irsyad.

__ADS_1


" Ya, hitung-hitung sebagai liburan dan pengenalan awal bagi hubungan kalian. Kami tahu, kalian masih merasa canggung'kan menjalani status baru kalian ini? " Imbuh Darwin menjawab ucapan Arcelia yang terlihat sedikit ragu itu.


" Iya Syad, pacaran dulu saja gitu istilahnya. " Tambah Hardi menatap putranya penuh arti, seolah memberi kode pada sang anak. Namun, mau dikatakan apapun Irsyad sedang tidak bertujuan ke arah sana.


" Emm.. Maaf sebelumnya Dad, Ayah dan Bunda. Bukan maksud Arcelia tidak menghargai niat baik kalian, tapi sepertinya baik aku ataupun Irsyad tidak bisa melakukannya sekarang. " Ujar Arcelia menolak saran orang tuanya, ketika dirasa sepertinya Irsyad tidak ada niatan untuk menolak bahkan bersuara sekalipun.


" Lho kenapa? Bukanya ini ide bagus ya untuk kalian? " Heran Lidya dengan penolakan menantunya.


" Iya Bun, maaf. Tapi saat ini pekerjaan kami sedang benar-benar tidak bisa kami tinggal, ada banyak projek baru yang sudah menunggu Lia. Begitupun dengan Irsyad. " Jelas Arcelia dengan sedikit dibuat-buat karena sebenarnya dia tidak tahu menahu soal pekerjaan Irsyad.


" Ya ampun Nak, untuk pekerjaan bisa kita urus nanti saja. Sekarang kalian fokus dulu dengan hubungan kalian. " Bantah Hardi yang terlihat sedikit keberatan dengan penolakan Arcelia.


Berbeda dengan Darwin yang memang sudah bisa menebak akan bagaimana reaksi anaknya itu, sehingga dia sudah tidak terkejut lagi bahkan hanya mengulas senyum tipis mendengar penolakan anaknya.


" Bukan begitu maksudnya Ayah, mungkin saat ini kita memang belum bisa pergi melakukan honeymoon. Tapi, tidak menutup kemungkinan bukan, kalau nanti kita akan pergi melakukannya? Mungkin kira-kira begitu maksud Arcelia, benarkan Lia? " Ucap Irsyad yang pada akhirnya ikut bersuara karena bagaimana pun dirinya juga tidak ingin pergi.


Dan dibalas dengan sebuah anggukan kepala oleh Arcelia.


" Wah.. Cerdik juga ternyata dia. " Arcelia sambil menatap Irsyad sekilas.


" Hahh.. Kalian ini, ya sudahlah jika memang itu yang kalian inginkan. Tapi ingat! Kalian jangan menunda untuk punya momongan ya, kami para orang tua sudah tidak sabar untuk menimang cucu. " Ucap Hardi dengan ringan dan tanpa dosa ia berujar, jangan lupakan wajah riang yang juga ia tunjukan seolah memang benar sangat menanti seorang cucu.


" What?! " Pekik Arcelia dalam hati, benar-benar diluar dugaan keinginan para orang tua ini ya.

__ADS_1


......................


__ADS_2