Mengandung Anak Musuhku

Mengandung Anak Musuhku
36. Kegiatan baru Arcelia


__ADS_3

Hari-hari telah dilalui oleh Arcelia maupun Irsyad setelah hari dimana mereka mengumumkan kabar kehamilan Arcelia beberapa waktu lalu. Tak lupa juga mereka memberitahukan kabar tersebut pada Darwin, ya meski Daddy dari Arcelia tersebut tengah berada diluar negeri, mereka tetap harus memberi tahunya bukan? Jadi meski hanya melalui ponsel genggam masing-masing, mereka tetap bisa saling mengungkapkan rasa kebahagiaannya. Darwin bahkan sampai meneteskan air matanya saking bahagia dan terharunya mendengar kabar bahwa gadis kecilnya itu akan segera memberinya cucu.


Tak percaya, namun juga ada bahagia yang tak bisa ia elakkan, putri kecil nan manjanya itu akan segera menjadi seorang ibu. Ada rasa bangga juga lega ia rasakan, mau bagaimanapun ia tetaplah seorang orang tua yang bisa merasa khawatir dan tak tenang dengan kehidupan anaknya tersebut. Apalagi sang putri yang harus menjalani sebuah pernikahan atas kehendak dan keinginan dirinya, tapi dengan adanya kabar ini semua cemas dan rasa bersalahnya itu seakan sirna dan melepas ikatan belenggu yang selama ini ia rasakan.


Di kediaman Arcelia dan Irsyad saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, baik Arcelia maupun Irsyad kini sudah sama-sama memposisikan dirinya berbaring dan bersiap untuk mengistirahatkan tubuh mereka masing-masing. Namun, ada saja tingkah anehnya Arcelia yang membuat keadaan yang seharusnya tenang dan berjalan dengan baik justru berakhiran rumit dan menyebabkan percekcokan diantara keduanya kembali mengudara.


" Lia hentikan, ini sangat geli! " Keluh Irsyad seraya beringsut menjauh dari Arcelia, tapi sia-sia semakin ia menjauh semakin Arcelia pun ikut beringsut mendekatinya dan kembali menempatkan dirinya pada posisinya seperti semula.


" Ck, diam! Kau itu sebenarnya kenapa sih, ingat sebelumnya kau juga sudah mengizinkanku melakukan ini kan?! " Ucap Arcelia seraya membetulkan posisinya, membenamkan wajahnya lebih dalam lagi ke dalam tengkuk Irsyad mencari posisi yang jauh lebih nyaman.


" Kau harus mempertanggung jawabkan-nya, semua ini juga karena ulah mu! Kau pikir aku senang melakukannya? Aku mana mungkin akan dengan sukarela memelukmu, mengendusi bau-mu, bahkan menggerayangi-mu seperti ini jika bukan karena dia?! " Cerocos Arcelia sambil menunjuk kearah perutnya yang masih rata, kesal rasanya kegiatannya yang memang sudah terjadi akhir-akhir ini menjadi terganggu.


Mendengar itu seketika Irsyad pun kembali diam tak bisa berkutik sedikit pun, dia hanya bisa menahan geli yang diakibatkan kegiatan baru Arcelia yang sangat aneh itu dengan sekuat tenaga. Kali ini masih mending jika hanya harus menahan rasa geli, daripada seperti waktu itu dia yang harus mati-matian menahan nalurinya setelah merasakan gelenyar aneh yang tanpa sengaja bangkit karena ulah Arcelia yang satu ini.


Huftt.. Kebiasaan Arcelia ini sungguh membahayakan sekaligus menyiksa dirinya, andai saja Arcelia mau bertanggung jawab setelahnya, lah ini? Dia malah tak peduli dan seakan tak ingin tahu tentangnya, pernah satu kali ia memintanya karena rasanya ia benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi. Tapi yang dia dapat malah amukan dan gerutu Arcelia yang berlangsung lama seakan tidak ada hentinya.


" Kau masih ingatkan nasehat Bunda waktu itu? Seharusnya kau itu bersyukur karena kehamilanku ini termasuk tidak begitu menyulitkan dan menginginkan yang aneh-aneh. Coba kau lihat perempuan hamil yang lain dan bla..bla..bla.. " Arcelia terus saja mengoceh meski Irsyad sekalipun sudah tak melakukan perlawanan dan protesan-nya lagi.

__ADS_1


" Huuffftt.. dia sudah mulai lagi! " Batin Irsyad menjerit seakan ingin segera terbebas dari siksaannya ini.


Ya, selain lebih sensitif ternyata Arcelia jadi bertambah cerewet berkali-kali lipat dari sebelumnya. Dia yang sekarang akan selalu menyertakan kutipan perkataan Lidya, setiap kali Irsyad mulai mengajukan aksi protes dan keberatannya. Dengan licik dan cerdiknya, Arcelia bahkan sempat beberapa kali mengancam Irsyad akan mengadukannya pada Bunda mereka itu, jika Irsyad sampai tidak berlaku baik dan menuruti setiap keinginan perempuan hamil itu.


Dan Irsyad yang memang sudah terlanjur berjanji pada sang bunda juga tak ingin membuat pertengkaran dengan Arcelia, apalagi mengingat perempuan itu kini tengah mengandung anaknya mau tak mau dia pun menurut saja meski tetap dengan segala protesan-nya itu.


" Ck, iya iya. Sudah lebih baik sekarang kau tidur! " Pungkas Irsyad menghentikan Arcelia yang masih terdengar terus mengoceh itu.


" Hih.. Kau yang mulai juga! " Belanya namun akhirnya diam juga dan kembali ke mode tenangnya.


" Elus kepalaku!! " Pintanya dengan tanpa menggeser sedikitpun posisinya yang kini sangat rapat dengan Irsyad itu.


°°°°°


Pagi harinya, disebuah ruang makan terlihat Irsyad dan Arcelia tengah menikmati sarapan mereka dengan tenang. Tidak ada perdebatan dan percekcokan yang terjadi pagi ini diantara mereka, terlihat para pekerja rumah pun ikut merasa bersyukur dan lega melihat keantengan kedua majikannya itu.


Bagaimana mereka tidak merasa seperti itu, hampir di setiap pagi bahkan setiap waktunya kedua orang tersebut berada ditempat yang sama secara bersamaan, ada saja hal menjadi pertikaian dan bahan debat kedua calon orang tua itu. Hingga terkadang para art di sana pun terheran-heran dan dirundung begitu banyak pertanyaan, tentang alasan mengapa keduanya itu bisa sampai menikah jika hubungan mereka sekacau ini. Tapi ya.. karena sadar diri dan merasa tidak begitu berhak untuk mengetahui kehidupan majikannya itu terlalu dalam, mereka akhirnya memilih bungkam dan hanya menjadi penonton saja.

__ADS_1


Terlihat kini Arcelia tengah memakan sarapannya sembari mengecek handphonenya, pagi ini merupakan hari pertama pengerjaan proyek kerja samanya dengan perusahaan milik Richard. Ya, setelah berminggu-minggu lamanya mereka melakukan perencanaan dan observasi terlebih dulu, kini akhirnya mereka mulai melakukan proses penggarapannya.


Dari ponselnya itu Arcelia kini tengah mempelajari beberapa materi yang akan menjadi pembahasan mereka dipertemuan pagi ini, terlihat dia menyantap dan mengunyah sandwich-nya dengan sesekali bergumam-gumam kecil tentang isi materi yang dibacanya.


Melihat itu, Irsyad yang sebenarnya memang sudah mulai terganggu sejak Arcelia mengeluarkan ponselnya ketika mereka sedang sarapan, dibuat menghela napas lelah. Ingin rasanya menegur dan melarangnya bermain ponsel ketika tengah makan karena khawatir nanti dia tersedak, apalagi tadi terdengar dia bergumam tidak jelas.


Tapi ya, karena rasa malas dan tak ingin mengundang pertengkaran baru dengan wanita hamil itu, jadi dia hanya memilih diam dan sesekali meliriknya dengan jengah.


" Ck, tidak tahu tempat sekali! Apa dia tidak bisa melakukannya usai sarapan saja nanti, awas saja jika sampai nanti tersedak dan membuat calon anakku dalam bahaya! " Batin Irsyad dengan perasaan kesalnya, sungguh dia sedang mengkhawatirkan keadaan calon anaknya yang kini tengah berada dikandungan Arcelia.


" Hei.. Kau mau kemana?! " Tanya Irsyad pada akhirnya bersuara juga, ketika melihat Arcelia bangun dari duduknya dan bersiap akan meninggalkan meja makan.


" Tentu saja pergi bekerja, kau pikir mau kemana lagi? " Acuh Arcelia seraya meraih handbag-nya dengan tangan kiri.


" Ck, selesaikan dulu sarapanmu! Lihat, kau bahkan baru meminum susu hamilnya separuh. Jangan egois kau, ingat juga dengan janin diperut mu itu! " Cerca Irsyad menatap Arcelia dengan kesal, ketika dia akan kembali berbicara dengan cepat Arcelia menyambar gelas susunya.


" Iya, iya ini aku minum! " Serunya cepat, akan lama jadinya jika Irsyad sudah mulai menceramahi-nya seperti itu, apalagi jika dengan membawa-bawa nama ibu mertuanya.

__ADS_1


Ya, selain Arcelia ternyata Irsyad pun kini menggunakan nama Bunda mereka untuk saling melemparkan sebuah ancaman, ketika salah satu diantara mereka sudah mulai melenceng dan abai akan tanggung jawab dan kewajibannya


......................


__ADS_2