Mengandung Anak Musuhku

Mengandung Anak Musuhku
15. Saling mengerti


__ADS_3

" Assalamu'alaikum.. Bunda, apa sudah menunggu lama? Maaf ya Lia terlambat, jalanan macet parah Bun. " Adu Arcelia ketika sampai di rumah dan melihat mertuanya sudah menunggunya mungkin sudah sejak tadi.


Perasaan bersalah tentu Arcelia rasakan, selain itu ia juga tak enak hati pada mertua yang seakan ibu kandungnya itu. Seharusnya ia yang menunggu dan menyambut kedatangan Bundanya, tapi apa ini yang terjadi? Sungguh, menantu macam apa dirinya itu.


Diraihnya tangan halus itu, kemudian ia cium penuh hormat.


" Wa'alaikum salam tidak apa sayang, Bunda juga belum lama kok sampainya. Jam segini memang sedang macet-macetnya, dimana orang-orang 'kan baru pulang kerja. " Sahut Lidya memaklumi, dia tahu Arcelia pasti sedang merasa bersalah padanya maka dari itu dia mencoba mengalihkannya.


" Kamu pasti lelah'kan setelah seharian kerja, ayo lebih baik sekarang masuk dan bersih-bersih! Bunda sudah gak sabar nih mau cerita banyak sama kamu. " Ujar Lidya dengan berbinar karena memang sudah tak tahan rasanya ingin segera bercengkrama dan berbagi cerita tentang banyak hal dengan menantunya itu.


Ya, wajarlah dia seperti itu mengingat memang dia tidak memiliki partner lain di rumah selain suaminya yang hanya bisa menanggapinya dengan mengangguk dan cukup menjawab iya dengan semua ceritanya itu. Sungguh tidak memuaskan, dan bercerita dengan Arcelia adalah pilihan yang paling pas meski menantunya itu super duper sibuk dan tak memiliki begitu banyak waktu luang.


Oh iya, sebenarnya Lidya juga memiliki seorang anak perempuan lainnya. Yaitu adik kandungnya Irsyad yang saat ini sedang menempuh pendidikan disalah satu universitas yang berada diluar negeri, dikarenakan sedang berada di tahapan akhir pendidikannya dan yang pastinya sedang sangat sibuk-sibuknya hingga dia pun memilih tidak pulang saat hari pernikahan Irsyad dan Arcelia.


Meski begitu, Arcelia dan Erwinda namanya, putri bungsu pasangan Lidya dan Hardi. Mereka sempat saling berkenalan dan bertatap muka meski hanya melalui video call, pada saat itu Winda terlihat begitu senang dan sangat mengagumi sosok kakak iparnya yang ternyata sangatlah cantik menurutnya.


Dan tak jauh berbeda dari Erwinda, nampaknya Arcelia pun menyukai adik iparnya itu yang terlihat sangat manis dan imut. Benar-benar sangat berbeda dari kakaknya yang menyebalkan bin menjengkelkan itu, kurang lebih begitulah penilaian Arcelia pada kakak beradik tersebut.


°°°°°

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Arcelia pun selesai dan sudah terlihat kembali segar. Nyatanya dia juga sudah tak sabar ingin segera berbagi berbagai cerita dan berceloteh dengan ria bersama ibu mertuanya itu. Mengingat sudah beberapa minggu terakhir mereka tidak berjumpa dan hanya berkomunikasi melalui ponsel saja.


Dan terjadilah kini acara bercerita mereka yang sesekali Lidya juga menanyakan mengenai hubungan Arcelia dan Irsyad, hanya untuk memastikan apakah sudah ada perkembangan atau tidak. Ya, meskipun sedikit banyak dia sendiri tahu akan berjalan seperti apa hubungan mereka.


" Kamu juga jangan terlalu sibuk, ingat juga untuk selalu menjaga kesehatan dan makan dengan teratur. " Peringat Lidya setelah sebelumnya sudah membahas begitu banyak hal dengan Arcelia, dia jadi teringat akan kebiasaan buruk Arcelia yang selalu mengabaikan kesehatannya bahkan sering kali melewati waktu makannya.


" Mulai sekarang kamu juga kurang-kurangi itu yang namanya lembur, ingat kehidupan itu bukan hanya soal kerjaan saja sayang. Ada banyak hal lain juga harus kamu rasakan dan perhatikan, seperti berlibur misalnya atau sekedar melakukan hal-hal yang membuat kamu senang. Belajar untuk menyeimbangkan kehidupan kamu yaa! " Tambahnya lagi bukan semata-mata ingin mengatur atau membatasi Arcelia, akan tetapi sebagai seorang ibu ia juga harus memberikannya pengertian dan pandangan lain agar anak-anaknya menjadi lebih baik.


" Iya Bun, Lia akan coba usahain. Makasih ya Bun, udah mau selalu ingetin dan selalu ada buat Lia, Lia sayaaang banget sama Bunda. " Balas Arcelia sambil merengkuh tubuh Lidya erat, seolah sudah merasa candu dengan kenyamanan yang selalu ditawarkan di sana.


Hal-hal seperti ini adalah yang tak pernah didapatkannya dari sosok seorang ibu, ia merasa sangat bersyukur karena dipertemukan dengan ibu mertuanya yang sangat baik, penyayang dan menganggapnya sebagai putrinya sendiri.


Dia bingung dan tak tahu harus menjawab apa sekarang, tidak mungkinkan jika dia harus mengatakan yang sebenarnya, kalau dia dan Irsyad selama ini memang belum pernah melakukan hal itu. Bahkan sekedar membahasnya pun tidak, ya terkecuali pada saat mereka saling bercanda dan sekedar menjadikannya bahan ejekan.


" Emm.. Gimana ya Bun, sebenernya aku dan Irsyad belum membahas soal ini lebih lanjut. Mungkin nanti akan Lia tanya langsung Irsyadnya. " Sahut Arcelia seadanya, dia yang memang sudah mentok tak memiliki jawaban lain untuk pertanyaan mertuanya itu.


" Ya sudah, gak papa kalau memang begitu. Tapi, Bunda sih berharap kamu dan Irsyad gak nunda soal itu ya, memang semua sudah ditentukan oleh Tuhan. Tapi kamu dan Irsyad tetap harus berusaha ya.. Bunda udah kepengen gendong cucu nih. " Ujar Lidya lagi dengan tertawa kecil diakhir ucapannya, dia terlihat sudah tak sabar dan dapat Arcelia juga lihat di sana begitu besar harapan Lidya untuk segera menimang seorang cucu.


Arcelia jadi semakin merasa bersalah, padahal dianya saja belum ada kepikiran untuk memiliki anak dalam waktu dekat ini. Dan dia yang juga belum siap dan masih ragu dengan keseriusan Irsyad dalam menjalin hubungan dengan dirinya ini.

__ADS_1


Mengajak Irsyad berbicara dan membahas persoalan inipun tidak akan mendapatkan hasil baik dan yang seperti dia inginkan. Kalian tahulah bagaimana watak Irsyad yang sangat sulit ditebak dan apa yang sebenarnya dia inginkan. Hampir tidak pernah ada satu permasalahan pun yang berhasil diselesaikan jika itu sudah bersama dengan Irsyad.


Ya, Arcelia ingat! Mungkin dia harus menemukan lagi waktu seperti tadi pagi, dimana Irsyad nampak serius dan terlihat tegas. Mungkin disaat seperti itulah dia bisa membicarakan semua ini dengan benar bersamanya.


" Iya Bun, Bunda do'akan saja ya. Semoga yang terbaiklah yang akan terjadi. " Timpal Arcelia dengan pikiran yang sudah kesana-kemari memikirkan ide untuk membahasnya dengan Irsyad.


Tidak disadari ternyata hari sudah mulai menggelap, namun Lidya merasa aneh kenapa Irsyad belum ada tanda-tanda akan pulang ya?


" Oh ya, kemana Irsyad? Kenapa sampai jam segini dia belum pulang juga? Apa dia suka kaya gini? " Tanya Lidya heran atau jangan-jangan sedang terjadi sesuatu diantara keduanya? Pikiran buruk mulai berseliweran di kepalanya.


" Dia lembur Bun, tadi pagi dia udah bilang kok sama Lia. Bunda gak usah khawatir, kita selalu membiasakan untuk selalu saling bilang kalau salah satu diantara kita ada yang pulang telat. " Sahut Arcelia mengerti kerisauan ibunya, hah.. Andai Lidya tahu justru dirinyalah yang paling sering pulang larut malam dibandingkan dengan Irsyad entahlah akan seperti apa reaksinya.


Namun, diluar semua itu yang terpenting adalah dia dan Irsyad tidak pernah menjadikan hal itu sebuah permasalahan. Dan akan tetap saling mengerti dengan kebiasaan dan kesibukan masing-masing. Dan karena hal itulah, menurut Arcelia hal ini tidak perlu Arcelia bahas dan memberitahukannya kepada orang lain, cukup dengan mereka saja yang menjalani yang mengerti'kan semua ini.


......................


Siang semua.. jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak kalian ya..


Ingat selalu untuk Like, Coment, Vote dan hadiah ya😊

__ADS_1


Terima kasih🙏🏻


__ADS_2