
Hari yang telah dipersiapkan dengan sedemikian rupa oleh mereka itupun kini akhirnya terealisasikan, tampak di sana Irsyad-Arcelia, Lidya-Hardi, Darwin dan seluruh anggota keluarga besar mereka pun sudah hadir dan terlihat bersuka cita ikut meramaikan acara syukuran tersebut.
Dan ya, mengenai Darwin sendiri yang memang sebelumnya masih berada diluar negeri, yang bahkan rencananya tidak akan pulang dan tidak bisa menghadiri acara tersebut, dikarenakan pekerjaannya yang kebetulan sedang sangat padat-padatnya itu. Justru dibuat panik dan cemas karena sebuah drama yang kembali dibuat Arcelia, dimana anaknya itu menangis meraung meminta Daddy-nya itu untuk pulang.
Darwin sangat terkejut dengan reaksi Arcelia tersebut, dia tahu sejak dulu Arcelia memang begitu manja dan lengket kepadanya. Namun tidak jika sampai menangisinya seperti ini, sekalipun dia begitu merindukan kepulangannya itu. Karena dari kecil Arcelia memanglah seorang anak yang pengertian dengan kesibukan dan pekerjaannya, dia tidak pernah rewel ketika ditinggal pergi olehnya untuk bekerja.
Dan kepergiannya ke luar negeri seperti ini bukanlah untuk yang pertama kali, bahkan bisa dikatakan mereka cukup sering hidup terpisah dan berjauhan seperti kali ini semenjak Arcelia duduk di bangku SMA-nya. Ya, meskipun begitu Darwin yang merupakan single parent tentu sempat dilanda rasa khawatir dan berat hati meninggal putrinya yang masih dalam pertumbuhan itu, hanya berada dibawah pengawasan asisten rumah tangganya karena bagaimanapun hubungannya dengan sang anak sangatlah dekat. Tapi, bukankah tetap saja tugasnya adalah memastikan anaknya berada dalam keadaan yang layak dan sejahtera dengan ia bekerja dan menghasilkan banyak uang?
Meski dengan perasaan anehnya itu, pada akhirnya Darwin pun memilih untuk kembali ke tanah air, meninggalkan dan menunda semua pekerjaannya di sana. Ingin memastikan keadaan putrinya yang ia curigai bersikap seperti itu karena efek dari mengandung cucu pertamanya itu, lagipula ia memang sudah sangat ingin bertemu dengan mereka semenjak Arcelia memberitahunya mengenai kabar kehadiran calon cucunya itu.
" Daddy! Daddy disini saja, jangan jauh-jauh dari aku. Aku masih sangat merindukan Daddy! " Ujar Arcelia dengan manja sembari menarik dan memeluk lengan Daddy-nya dengan sangat posesif tidak mau berjauhan sedikitpun dengan Daddy-nya itu.
Irsyad yang sejak tadi berada disisi Arcelia itupun berdecih dan mengejek istrinya itu, ia sebal dan kesal karena sejak kepulangan mertuanya itu kemarin Arcelia terus saja mengacuhkan dan menganggurkan dirinya.
" Cih, sekarang saja dia cuek dan tidak memperdulikan ku. Lihat saja nanti jika dia membutuhkan dan memanggil-manggil-ku lagi! " Gumam Irsyad seraya mencebikkan bibirnya kearah Arcelia yang terlihat tengah merangkul lengan ayah mertuanya itu dengan tatapan malasnya.
__ADS_1
Sudah lupa'kah dia jika selama berbulan-bulan ini yang sudah selalu ada dan dia cari itu dirinya? Cih, sungguh menyebalkan melihat sikapnya itu. Andai tidak ada begitu banyak orang disini, sudah akan ku jitak saja kepalanya itu. Gerutu Irsyad dengan tak hentinya hatinya itu terus mengobarkan rasa kesalnya.
Bagaimanapun baik Irsyad maupun Arcelia sendiri memang sudah sangat terbiasa dengan kehadiran masing-masing, kegiatan Arcelia yang terjadi setiap akan menjelang tidur, setiap hari weekend dimana Irsyad biasanya akan pergi bersama teman-temannya entah itu untuk pergi berlibur atau sekedar pergi nongkrong sejenak pun terkadang harus lenyap kala Arcelia sudah merengek memintanya untuk tetap di rumah menemani dirinya. Meski terkadang kesal dan terpaksa menurutinya, namun nampaknya Irsyad sudah sangat nyaman dengan semua itu bahkan mungkin sudah dilevel ketagihan.
Tapi dengan menyebalkan-nya, semua pengorbanannya itu sekarang seakan hilang tak bersisa. Lenyap sudah, semenjak dirinya kini hanya bisa duduk dipojok ruangan menjadi manusia transparan dan terlupakan di keramaian keluarganya sendiri. Semua orang, semua perhatian hanya tertuju pada si calon ibu itu dengan tanpa ada satupun yang menanyakan tentang kehadirannya yang sudah terdorong menjauh karena desakan para ibu-ibu rumpi yang ingin mengerubungi wanita hamil itu.
" Cih, tidak sadarkah mereka jika alasan diadakannya acara ini juga adalah berkat kerja kerasku? Jika bukan karena aku, bagaimana bisa perut wanita yang kalian elus-elus itu akan berbentuk seperti itu! " Entah untuk yang ke berapa kalinya laki-laki itu berdecih, sesekali menyesap minumannya dengan tak berselera.
Acara yang semula akan diadakan mewah dan besar-besaran itupun kini berlangsung dengan hanya dihadiri kerabat dan beberapa keluarga dari kedua keluarga besar masing-masing. Ya, setelah mendiskusikannya kepada para sesepuh keluarga beberapa minggu sebelumnya, akhirnya mereka memutuskan untuk membuat acara secara tertutup dan kekeluargaan saja.
Ingin rasanya Irsyad membuat Richard kepanasan bahkan terbakar api perasaannya sendiri sama persis seperti dirinya waktu itu. Dia tak rela jika hanya dirinya saja yang harus tersiksa karena merasakan perasaan itu, dia juga ingin melihat Richard mengalaminya yang ia rasa jauh lebih pantas untuk merasakannya, karena sampai kapanpun dia tidak akan memiliki dan mendapatkan Arcelia yang hanya akan menjadi miliknya selamanya.
Tapi sudahlah, mungkin bukan saat ini waktu yang tepat untuk melakukannya. Namun, dilain waktu pasti akan ia lakukan dan memastikan jika Richard akan melihat kepemilikannya terhadap Arcelia dengan mata kepalanya itu sendiri!
Disisi lain Arcelia tampak tengah mencari sosok laki-laki yang sejak tadi menggerutu dan sedang merajuk itu. Acara akan segera dimulai dan tentu saja sebagai calon ayah dari janin yang ada dalam kandungannya, laki-laki itu harus turut ada dan hadir disampingnya selama acara pembacaan do'a berlangsung.
__ADS_1
" Sedang apa kau disini? Kau sengaja ya membuatku harus mencari-carimu begini? " Tegur Arcelia langsung ketika mendapati laki-laki itu terlihat sedang duduk dengan santai dipojokan.
" Masih ingat kau ternyata? Ku pikir kau sudah lupa dengan penanam saham tertinggi ini! " Sahut Irsyad menyindir Arcelia tanpa menyembunyikan ekspresi kesalnya itu, bahkan ia dengan sengaja membawa-bawa kalimat terakhirnya itu meski tahu Arcelia tidak memahaminya.
" What? Hei..apa maksudmu? Ah sudahlah, ayo cepat! Acaranya akan dimulai sebentar lagi, disaat seperti ini kau justru malah bicara melantur. " Ucap Arcelia seraya mulai berbalik, berjalan menuju tempat duduknya lagi dengan diikuti Irsyad dibelakangnya.
Tanpa kata Irsyad pun mengekori langkah istrinya itu, terlihat pembawa acaranya sudah membuka dan memulai acaranya.
......................
Like
Coment
Vote
__ADS_1
Dan klik Favoritnya yaa 💖💖