Mengandung Anak Musuhku

Mengandung Anak Musuhku
60. Usaha Irsyad


__ADS_3

Telah berbagai cara Irsyad lakukan agar membuat ibunya itu mencabut hukuman yang diberikan padanya, namun pada akhirnya selalu saja berakhiran sama. Ibunya itu terlalu kukuh dengan keputusan yang diambilnya itu, Irsyad kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa, ingin marah tapi nyatanya itu tidak mungkin.


" Bun, Bunda serius nih agak bakal ngizinin aku tidur sama Lia? Bun, aku bisa nekat lho Bun kalau Bunda gini terus. " Ucap Irsyad yang kini sudah dilanda keputusasaan dan frustasi.


" Aku bisa aja lho maksa masuk dan tidur di kamar Lia, tanpa izin Bunda sekalipun. Aku bisa Bun, lakuin itu! " Saking kehabisan ide Irsyad bahkan berani mengancam ibunya seperti itu, entahlah rasanya ia benar-benar sudah tidak sanggup menjalani hukuman dari ibunya itu.


Mungkin masih mending jika dirinya tidak diperbolehkan mendekati Arcelia namun dengan jarak dan keberadaan mereka yang berjauhan, tidak saling bertemu seperti sekarang. Mungkin rasanya tidak akan seberat ini, meskipun untuk itu dirinya enggan meninggalkan dan berjauhan dengan Arcelia.


Melihat istrinya dari kejauhan tanpa bisa menyentuh apalagi merengkuhnya adalah suatu siksaan yang nyata, belum lagi dengan keadaan Arcelia yang semakin cantik dan mempesona dimatanya. Arcelia dengan tubuhnya yang mulai berisi dan perutnya yang membuncit itu membuat Irsyad gemas sendiri, jika mungkin ingin sekali ia memainkan pipinya terlihat cubby itu layaknya sebuah mainan.


" Ah.. Itupun bisa aku lakukan jika dia tidak mengamuk, huh.. Sungguh berliku sekali hidupku ini! " Keluh Irsyad setelah beberapa saat membayangkan bagaimana ekspresi dan reaksi marah istrinya itu jika sampai ia benar-benar melakukan keinginannya itu.


" Sudah berani rupanya kamu sama Bunda ya..! Berani kamu nantangin Bunda kayak gitu, heh? " Pekik Lidya yang seketika membuat Irsyad terlonjak kaget dari lamunannya, keberaniannya yang tadi mengancam ibunya seketika menguap entah pergi kemana.


Irsyad kini terlihat takut dan duduk dengan gelisah melihat tatapan dan cara ibunya tadi bicara. Ada sedikit rasa sesal disudut hatinya saat ini, menyesal kenapa tadi dia bisa begitu berani berbicara seperti itu pada ibunya.


" Bukannya merenung dan menyadari apa kesalahanmu, kamu malah berani bersikap kurang ajar seperti ini pada ibumu, heh? " Terdengar lagi suara ibunya yang sudah seperti suara petir ditelinga Irsyad, ah.. Ampun Bun aku minta maaf, aku salah Bun. Teriak hati Irsyad membatin.

__ADS_1


" Asal kamu tahu ya.. Bunda melakukan semua ini juga untuk kebaikanmu kedepannya nanti. Bunda memberimu hukuman, bukan semata-mata untuk menghukum-mu saja! Namun dengan ini Bunda sangat berharap kamu jera, dan tidak sampai melakukan kebodohan-kebodohan lainnya lagi! " Ujar Lidya dengan sedikit panjang dan memekakkan telinga Irsyad.


Lidya terlihat sangat kesal pada Irsyad, dia berpikir perilaku Irsyad barusan menunjukan bahwa anaknya itu belumlah menyadari apa kesalahan dirinya dan masih terbilang kekanak-kanakan dalam menyikapi sebuah permasalahan. Dia kesal sekaligus merasa khawatir akan putranya itu, dan daripada dirinya nanti semakin terpancing emosi Lidya pun akhirnya memutuskan beranjak meninggalkan putranya yang masih tertunduk itu sendirian. Tapi..


Grep.


" Maaf Bun, aku hanya ingin memperbaiki semuanya dengan caraku sendiri. Bukan tidak mau menerima hukuman Bunda, aku mungkin masih bisa sedikit menahan dan meneruskan hukuman Bunda ini. Tapi Bun, ada hal lain yang mesti ku perbaiki dan aku rasa ini jauh lebih penting. Bunda sendiri tahukan bagaimana sikap Lia padaku? Aku tidak ingin terus seperti ini Bun, aku ingin segera memperbaikinya. " Irsyad menahan tangan ibunya agar tidak berlalu meninggalkannya, ia berucap dengan panjang lebar tidak mau jika sampai ibunya itu salah paham akan maksud dirinya.


" Aku tidak ingin jika sampai Arcelia semakin jauh Bun, aku tidak ingin jika hubungan kami nantinya semakin hambar saja. Aku tidak bisa mempertaruhkan hubungan kami dengan kesalahpahaman dan permasalahan-permasalahan yang terus menerus tidak kami selesaikan dengan benar ini Bun. " Imbuh Irsyad mengutarakan perasaan dan kekhawatirannya itu pada sang ibu, bukan maksud ingin mengeluh dan mengadu namun ini ia lakukan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman baru hadir diantara ia dan ibunya.


Dan bukannya membantu menyelesaikan, dia justru memperparah dan membuat hubungan diantara keduanya menjadi renggang. Bagaimana pun mereka memang tetap harus membicarakan permasalahan yang ada diantara mereka dengan kepala dingin, tapi bukannya memberi mereka ruang dia justru memisahkan dan tidak memberi mereka kesempatan untuk saling bicara.


" Maaf Bun, bukan aku tidak mengerti maksud baik Bunda. Aku sangat berterima kasih atas hukuman yang Bunda berikan, yang membuat aku jadi mengerti betapa penting keberadaan Lia di hidupku Bun. Tapi aku harap Bunda juga mengerti ketakutanku ini, aku.. " Ucapan Irsyad terhenti kala Lidya menyentuh tangannya dan berkata.


" Baiklah Bunda mengerti, sekarang pergilah ke kamar istrimu dan segera selesaikan permasalahan kalian. Ingat! Jangan sekali-kali membuat menantuku kembali menangis!! " Pungkas Lidya dengan tetap memberi putranya itu peringatan.


Irsyad yang tidak menyangka dan terkejut dengan reaksi yang diberikan ibunya itupun, sampai dibuat mematung dan bingung harus bersikap seperti apa. Otaknya seakan berhenti bekerja, sungguh tidak menyangka akan secepat inikah ibunya memberi dirinya izin bertemu Arcelia? Hoho.. Entah harus berteriak atau berjingkrak kah Irsyad kali ini saking bahagia dan leganya.

__ADS_1


" I.. Ini benar Bun? Bun, beneran? " Tanya Irsyad dengan tak karuan, rasa terkejut, bingung dan bahagia luar biasa seakan bercampur tak bisa dia ungkapkan saat ini.


Irsyad bahkan sampai menggoyang-goyangkan tangan ibunya yang masih memegang tangannya itu, dia tidak percaya namun juga menolak jika ini hanya sekedar ilusinya.


" Iya, pergilah! Mulai malam ini hukumanmu Bunda cabut. " Sahut Lidya akhirnya memutuskan hal itu, meski dimata Irsyad ibunya itu masih terlihat sedikit tak ikhlas tapi apapun ia yang jelas dia senang dan terlepas dari masa hukumannya itu.


" Ah.. Makasih Bun, makasih.. Bunda yang terbaik deh pokoknya! " Seru Irsyad dengan girang dia merengkuh tubuh ibunya itu, cukup erat membuat Lidya segera memintanya untuk menyudahi pelukannya itu. Antara ikut senang, namun juga agak sedikit sebal Lidya rasakan saat ini.


" Sudah, sudah, sana! Pergilah tidur, Lia mungkin sudah tertidur saat ini. Bunda selalu memintanya untuk tidur lebih awal akhir-akhir ini, kamu juga usahakanlah membuatnya untuk tidur lebih awal dan nyaman. " Ujar Lidya yang memiliki makna tersirat di kalimat terakhirnya, agar supaya Irsyad tidak mengganggu kedamaian dan kenyamanan menantunya itu.


" Iya Bun, aku akan mengingatnya. Baiklah, sekarang aku pergi ke kamar ya Bun.. " Pamit Irsyad dengan nada suara yang terdengar riang gembira itu.


" Ya. Ingat pesan Bunda tadi, jangan membuat menantuku menangis! " Ulang Lidya lagi kala melihat putranya itu mulai berlalu menjauh darinya.


" Siap Bun, aman. " Sahut Irsyad dengan memberi tanda yang berarti kata oke.


......................

__ADS_1


__ADS_2