
" Kubilang diam, jangan ganggu aku! " Peringat Arcelia untuk yang kesekian kalinya.
Masih dihari yang sama dimana Arcelia pulang lebih awal, dan meskipun begitu bukan berarti Arcelia jadi meninggalkan pekerjaannya itu dia kini masih tetap bekerja meskipun sekarang berada di rumah. Ya, setelah beberapa jam lamanya ia bercengkrama dengan ibu mertuanya, hingga tanpa mereka sadari hari sudah semakin petang dengan ditandai kepulangan Irsyad dari kantor hingga akhirnya merekapun mengakhiri quality time mereka itu.
Tapi kini justru Irsyad terus saja mengganggunya sejak tadi, seperti tidak memiliki pekerjaan lain saja. Selalu saja merecokinya, membuat keadaan yang semula tenang dan damai menjadi kacau balau. Apa dia tak tahu bahkan tak melihat jika kini dirinya tengah bekerja? Ada-ada saja tingkahnya itu, Arcelia tak habis pikir.
" Aku tidak mengganggumu, justru aku sedang berbaik hati padamu. Tidakkah kau lelah? Seharian bekerja dan kini pun masih tetap bekerja, apa kau tidak merasa bosan, hah?! " Beo Irsyad kembali bicara yang tidak jelas dan bermutu bagi Arcelia.
" Aku tahu kamu orang yang ulet dan pekerja keras, namun tidak harus sampai seperti orang yang tidak waras juga'kan? Adakalanya kau juga perlu bersantai dan menikmati hidup, ayolah.. Temani aku bermain PS. Aku jamin ini jauh lebih menyenangkan, dan aku pastikan kau akan menyukainya bahkan mungkin ketagihan. " Tambah Irsyad mencoba merayu Arcelia kembali untuk menemaninya bermain game dengan alasan ia yang tidak memiliki lawan untuk bermain. Dan hal itu sudah dilakukannya sejak beberapa waktu lalu, ya meskipun rayuannya itu tetap diselipi kalimat yang sedikit mencibir Arcelia yang gila kerja itu.
Namun, Arcelia tetaplah Arcelia dia mengabaikan semua ucapan Irsyad dan tetap fokus pada laptop dihadapannya. Ia tak akan mau repot-repot hanya untuk mendengarkan dan menanggapi ucapan-ucapan Irsyad.
Tak patah arang, Irsyad menghampirinya dan duduk di sofa yang sama dengan yang sedang diduduki Arcelia, ia duduk tepat disebelah Arcelia dan dengan sengaja terus memepetnya. Meski sadar dengan yang Irsyad lakukan, Arcelia tetap bergeming membiarkannya hingga sejauh mana ia bertingkah. Apalagi pekerjaannya itu sedang tanggung-tanggungnya.
" Lia ayo.. " Rengeknya lagi ketika tindakannya tadi tak mendapat respon, persis seperti rengekan seorang anak pada ibunya. Jangan lupakan, tangannya yang juga menarik dan mengguncang-guncang lengan Arcelia yang tengah mengetik sesuatu itu.
Terdengar Arcelia menghela napasnya lelah.
" Benar-benar memusingkan, harus tinggal satu atap dengan pria seperti dia. " Ujar Arcelia namun hanya dalam hati.
" Apa kau tidak bisa bermain sendiri saja, dan tolong berhentilah untuk menggangguku! " Tandas Arcelia yang terlihat berusaha mengendalikan marahnya, karena tidak ingin hal ini sampai membuat moodnya berantakan.
" Tidak bisa Lia, rasanya akan berbeda dan tidak akan seru jika tidak memiliki lawan main secara langsung. " Kilah Irsyad beralasan, walaupun itu memang yang sebenarnya ia rasakan.
" Kalau begitu, carilah orang lain. Ayah, Bunda bahkan mungkin para pekerja bisa kau jadikan lawan mainmu. " Ujar Arcelia memberi Irsyad pilihan.
__ADS_1
" Tidak Lia! Ayah belum pulang, dan mana mungkin Bunda dan aku tidak yakin kalau para pekerja akan bisa bermain. " Tolak Irsyad mentah-mentah, aneh saja jika dia harus berkeliling rumah hanya untuk meminta mereka bermain game.
" Lalu apa bedanya dengaku, aku pun tidak bisa bermain hal seperti itu. Aku tidak pernah melakukannya. " Bantah Arcelia yang mendengar ajakan Irsyad yang tak masuk akal, mengajak orang yang jelas-jelas tak bisa bermain.
" Aku yang akan mengajarimu, ayolah! " Bujuk Irsyad lagi.
" Tidak! Sekali tidak, tetap tidak! Sudah sana, jangan ganggu aku lagi. " Tolak Arcelia tegas, akhirnya dia jengah juga menanggapi Irsyad yang selalu memiliki ide untuk selalu beralasan.
" Ck.. Kau itu sangat membosankan! Pantas saja wajahmu terlihat lebih tua! " Cibir Irsyad sambil melengos kesal karena tetap mendapat penolakan dari Arcelia.
Sedangkan Arcelia hanya mengendikan bahu tak peduli dengan cibiran Irsyad tersebut, dan memilih kembali fokus pada laptopnya.
°°°°°
Tok, tok, tok..
" Iya siapa? " Teriaknya masih dengan tangan yang mengotak-atik benda pipihnya itu. Tanpa mau beranjak dan membuka pintu.
" Ini Bibi Den, makan malam sudah siap. Nyonya meminta Aden dan Nona segera turun, untuk makan malam bersama. " Sahut salah satu pekerja rumah dengan sedikit mengeraskan suaranya.
" Oh iya Bi, sebentar. " Irsyad pun beranjak dan mendekat kearah pintu tanpa menatap Arcelia yang masih saja fokus dengan kerjaannya.
Setelah pintu terbuka terlihat Bi Sumi yang tadi memanggilnya masih berdiri di sana, dan kemudian kembali berseru ketika dilihatnya Arcelia masih saja duduk tak terusik dengan pemberitahuannya tadi. Dan karena hal itu jugalah kenapa dirinya diminta tetap menunggu sampai mereka turun ke bawah.
" Non, mari turun ke bawah. Nyonya dan Tuan sudah menunggu kalian di ruang makan. " Serunya lagi dan segera diangguki Arcelia meski tatapannya masih saja pada layar laptopnya.
__ADS_1
" Haah.. Sudah biarkan saja perempuan tua itu Bi, biarkan agar dia terlihat semakin berkeriput! " Tandas Irsyad mencibir Arcelia karena masih merasa kesal dengannya.
Mendengar cibiran yang sama untuk kedua kalinya dari Irsyad hari ini tentu saja Arcelia langsung mendelik dan menatap Irsyad tak terima. Dia yang biasanya masih bisa menahan diri, kini menjadi terpancing dan merasa sedikit tersinggung dengan ucapan Irsyad itu
" Apa tadi kau bilang?! Berani sekali kau!! " Pekik Arcelia sambil menjengkit dari duduknya.
Melihat itu Bi Sumi jadi bingung sendiri entah apa yang akan ia lakukan sekarang, bagaimana ini aku jadi terjebak diantara pertengkaran mereka. Batin Bi Sumi yang sudah ketar-ketir takut pertengkaran tersebut memanjang.
" Ku bilang kau itu perempuan tua dan penuh keriput!! " Ucap Irsyad semakin menjadi untuk mengata-ngatai Arcelia.
" Apa, berani-beraninya kau mengulang kata itu! Awas saja kau!! " Ujar Arcelia seraya melangkah dan bersiap untuk menghabisi si mulut rombeng itu.
Melihat pergerakan dari Arcelia dengan sigap Irsyad pun segera menghindar menjauhi Arcelia, namun masih tetap dengan cibiran yang tak henti ia layangkan pada perempuan cantik itu.
" Irsyaaaad.. mau kemana kau!!! " Teriak Arcelia ketika melihat Irsyad menjauh dan dengan segera ia pun berlari untuk mengejarnya.
" Aduh bagaimana ini, kok malah jadi kejar-kejaran. " Bingung Bi Sumi sambil menggaruk kepala belakangnya yang tiba-tiba saja gatal melihat tingkat kedua majikannya itu.
Aksi kejar-kejaran merekapun membuat mereka tanpa sadar sudah berada di ruangan yang sama dengan orang tua mereka.
" Hei.. Apa-apaan kalian ini? " Seru Lidya merasa terkejut melihat tingkah kedua anaknya, bagaimana tidak sejak tadi dirinya dan suaminya menunggu mereka untuk turun dan makan malam. Tapi bukannya turun dengan tenang, mereka malah saling kejar disertai cibiran dan umpatan yang saling bersahutan.
Namun sepertinya baik Arcelia maupun Irsyad masih dipenuhi oleh kekesalannya masing-masing, sehingga tanpa sadar merekapun mengabaikan seruan dari sang Bunda. Melihat hal itu Lidya pun dibuat semakin geram, hingga mau tak mau akhirnya ia pun berteriak menginterupsi keduanya.
" Irsyad, Lia! Bunda bilang stop!! " Pekiknya membuat mereka seketika berhenti dengan raut terkejut karena untuk pertama kalinya mendapat teriakan dari perempuan yang mereka kenal sangat lembut dan penyayang itu.
__ADS_1
" Cepat duduk, dan habiskan makan malam kalian! Setelah ini Bunda mau bicara. " Sambungnya setelah melihat mereka berhenti.
......................