
Irsyad masih menatap Arcelia dengan lamat sedangkan yang ditatap masih terus saja membuang muka, terlihat enggan sekali bersitatap dengan laki-laki didepannya itu.
Entahlah, Arcelia masih saja merasa kesal, marah juga sebal dengan Irsyad. Setelah apa yang dilakukan laki-laki itu, dia nampak tak berniat sedikitpun menjelaskan ataupun sekedar membahas atas apa yang dilakukannya itu. Padahal sudah sangat sengaja Arcelia memancingnya tadi dengan penuturan kejam itu, agar Irsyad tersudut dan setidaknya mau untuk menjelaskan padanya.
Berbeda dengan yang dipikirkan oleh Arcelia, Irsyad justru terlihat tengah berusaha keras menahan emosi dan rasa sakit hatinya atas perkataan yang dilontarkan Arcelia tadi. Sadar tidak bisa hanya untuk sekedar meluapkan rasa cemasnya, hingga akhirnya Irsyad pun hanya memilih diam dan membiarkan Arcelia tanpa mau menyahuti dan membahas lagi apa yang tadi dikatakan istrinya itu.
Disisi lain, Lidya yang mendengar suara kegaduhan dari kedua orang yang tengah berbincang sengit itu pada akhirnya terbangun kan. Ya, setelah cukup lama terjadi keributan itu Lidya justru baru terbangun dari tidurnya, ya wajar saja selama beberapa hari ini ia merasa cukup melelahkan.
Kurang tidur dan istirahat karena harus menunggui menantunya yang tengah dirawat, meski sebelumya baik Hardi dan Darwin pun sering datang untuk menjaga dan menunggui Arcelia di sana bergantian dengannya. Kadang kala mereka bertiga pun akan secara bersamaan ikut menginap dan menemani Arcelia kala wanita cantik itu sudah mulai merengek karena merasa bosan dan ingin segera pulang.
" Irsyad.. Kau kah itu? " Tanyanya ketika menatap kearah ranjang dan melihat seorang pria yang dikenalinya tengah duduk membelakanginya.
Seketika Irsyad pun berbalik dan menghadap ibunya, bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri ibunya yang masih terduduk di sebuah sofa tempat tadi dirinya tertidur.
" Iya Bun, ini aku. Maafkan aku ya Bun, karena sudah membuat Bunda kerepotan seperti ini. " Ucap Irsyad syarat akan rasa penyesalan karena sudah begitu menyusahkan semua orang terlebih orang tuanya ini.
Melihat wajah lelah dan lingkaran hitam disekitar mata ibunya, sontak saja membuat rasa bersalahnya semakin besar saja. Hatinya sakit teriris karena sudah begitu terlambat hadir untuk mereka, mendapat tatapan kecewa dan amarah ibunya sekalipun rasanya itu belum cukup untuk membuat rasa bersalahnya ini hilang.
__ADS_1
" Keterlaluan kamu ya.. Kemana saja heh? Kemana saja kamu kemarin, dihubungi tidak bisa, pergi tanpa bilang atau sekedar menitipkan istrimu saja kamu tidak! " Cecar Lidya seraya memukuli anak laki-lakinya itu, ya seandainya Irsyad pergi dengan setidaknya memberitahu dirinya, sudah pasti dia yang akan menjaga dan memastikan kondisi kesehatan menantunya itu hingga tanpa perlu mengalami kejadian seperti ini. Tapi dengan bodohnya anaknya ini.. Ck, sudahlah.
" Iya Bun, Irsyad mengakui kalau Irsyad salah. Maafkan aku.. " Ucap Irsyad lirih menatap ibunya penuh sesal, dia bahkan tidak mengelak ataupun menghindar kala ibunya memukuli dirinya. Dia pasrah, karena memang merasa pantas mendapatkannya.
" Sudahlah, tunggu disini! Bunda mau ke kamar mandi dulu, kamu tetaplah disini ada yang mau Bunda bicarakan denganmu! " Tukas Lidya karena merasa tak tega melihat wajah memelas putranya, hingga memilih melanjutkan pembicaraannya nanti saja.
Lagi pula, dia perlu berbicara empat mata dengan putranya itu sedangkan di sana ada Arcelia. Bukan apa-apa, hanya saja ditakutkan pembicaraan mereka nanti dapat mempengaruhi kondisi Arcelia nantinya.
Setelah berbincang sebentar dengan Arcelia dan pamit untuk keluar barang sebentar dengan berkata ingin mencari beberapa makanan untuk sarapan, Lidya pun keluar dari ruang rawat Arcelia dengan diikuti Irsyad dibelakangnya.
°°°°°
Setelah berada diluar ruangan Arcelia, Lidya pun memilih mengajak Irsyad untuk berbicara diarea kantin rumah sakit saja. Selain karena memang ingin mencari makanan seperti yang dikatakannya kepada Arcelia tadi, Lidya juga merasa jika berbicara di kantin akan jauh lebih nyaman dan leluasa tanpa harus merasa terganggu dengan lalu lalang orang disekitarnya.
" Ada apa Bun, apa kondisi Arcelia sangat serius saat ini? Katakan saja Bun, ada apa sampai-sampai Bunda harus meminta berbicara empat mata begini? " Ujar Irsyad yang sejak tadi memang sudah sangat resah dan ketakutan dengan segala pemikirannya. Tadi sebenarnya dia berencana untuk menemui dokter yang menangani Arcelia secara langsung, agar mengetahui kondisi istri dan anaknya itu dengan pasti. Sungguh dia benar-benar khawatir dan takut jika ternyata semua yang dialami Arcelia tak sesimpel yang dia lihat.
" Ck, tentu saja ini serius! Jika tidak, apa mungkin Lia sampai harus dilarikan ke rumah sakit seperti sekarang? " Ketus Lidya dengan kesal dan menatap putranya dengan menahan emosi dan amarah.
__ADS_1
Ucapkan Lidya yang sebenarnya hanya menjabarkan kenyataan yang logis itu, ternyata mampu membuat Irsyad semakin cemas dan panik. Irsyad semakin ketar-ketir dengan segala praduga dan kemungkinan buruk yang akan didengarnya.
" Jadi apa Bun, emm.. maksudku masalah serius seperti apa? Apa kondisi Arcelia seburuk itu? Kondisinya seserius apa? Apa ada kemungkinan Arcelia dan bayi kami bisa terselamatkan, Bun?! " Cecar Irsyad meluapkan segala praduga buruknya yang ingin segera terjawab dengan kepastian.
Bug..
" Bodoh! Kamu pikir apa, heh? Kenapa kamu sampai berpikir sejauh itu? Apa kamu akan merasa senang heh, jika kondisi mereka tidak baik-baik saja? Apa kamu berharap sesuatu yang buruk menimpa mereka, sampai segala membahas terselamatkan atau tidak!!? " Semakin kesal dan geram-lah Lidya dengan ucapan putranya itu, Lidya bahkan sampai refleks memukul bahu putranya itu cukup keras.
" Bun! Tentu saja tidak seperti itu, Bunda ini sebenarnya bicara apa! Mana mungkin aku senang dan menginginkan keburukan terjadi pada anak dan istriku sendiri! " Balas Irsyad tak terima dengan tuduhan ibunya itu, dia bahkan berkata dengan sedikit menekankan kata-katanya, tanda dia begitu tak suka dengan apa yang baru saja ibunya katakan.
Ya, seperti inilah sifat Irsyad yang sebenarnya terlepas dari sifatnya yang cuek, seenaknya dan tengil serta sulit untuk diajak berdiskusi. Beginilah tampilan dirinya ketika sudah berubah serius, apalagi jika itu sudah berkaitan dengan kewajiban dan tanggung jawabnya.
" Huh.. Sudahlah, lagipula bukan hal itu yang ingin Bunda bahas denganmu sekarang! Kamu jangan pura-pura lupa ya dengan semua perbuatanmu kemarin! Jangan dipikir Bunda akan begitu saja melupakannya, kamu ini sadar atau tidak sih sebenarnya. Tindakanmu kemarin itu sungguh egois! Irsyad.. Kamu melepas tanggung jawabmu begitu saja. " Ucap Lidya yang akhirnya masuk ke pembahasan inti yang sejak tadi sudah ingin meluap dan segera ia keluarkan.
Lidya sudah begitu berusaha menahan amarah dan rasa kecewanya itu selama beberapa hari ini, sebenarnya ia masih tidak menyangka Irsyad sampai bisa berbuat hal seperti itu. Bukankah dari jauh-jauh hari dia selalu mengingatkan dan mewanti-wanti putranya itu, agar dia harus bisa jauh lebih sabar, perhatian dan lebih ekstra lagi dalam hal menjaga Arcelia. Tapi ada apa sekarang dengan putranya itu, Lidya benar-benar tidak mengerti jalan pikiran putranya itu.
......................
__ADS_1