
Mendengar ungkapan kekecewaan sang ibu, seketika mampu membuat Irsyad menunduk dalam dengan perasaan sesal dan bersalah karena sudah mematahkan kepercayaan ibunya itu.
Dia sadar, bahkan sangat menyadari akan kesalahan dan kelalaiannya itu, dia tidak bermaksud atau sampai sengaja menelantarkan istrinya. Selain pergi untuk berlibur bersama teman-temannya, bukankah Irsyad juga pergi untuk bekerja dan menyelesaikan pekerjaannya di sana? Jadi, tidak semuanya ia lakukan karena keegoisannya kan?
Dia juga memiliki sebuah tanggung jawab lain yaitu pekerjaannya, dan dia juga bahkan sudah berpesan dan meminta Arcelia untuk selalu berhati-hati dan menjaga dirinya dan anak mereka. Ya, meskipun tetap salah karena dia tidak membiarkan dan meminta seseorang untuk membantu menjaganya, apalagi kepergian dirinya itu terbilang cukup lama.
" Aku minta maaf Bun, bukan maksud hati Irsyad mau lepas apa yang menjadi tanggung jawab Irsyad. Sungguh Bun, Irsyad tak berniat seperti itu. Awalnya Irsyad juga pergi karena ada satu pekerjaan di sana. Dan yang menjadi alasan Irsyad tidak memberitahu Bunda itu karena.. Irsyad tahu Bunda pasti akan melarang-ku untuk pergi jauh. Irsyad menyesal Bun, maafkan Irsyad.. " Jelas Irsyad dengan tak hentinya mengatakan maaf, yang dapat Lidya lihat dengan jelas bahwa putranya itu memang benar-benar menyesalinya.
Melihat kesungguhan dari perkataan anaknya itu membuat Lidya pun akhirnya menyudahi pembahasan mengenai hal itu, Lidya tahu jika Irsyad memang tidak sengaja melakukan semua hal itu. Karena Lidya juga tahu betul bagaimana sifat Irsyad yang sangat menjaga dan bertanggung jawab akan segala sesuatu yang sudah menjadi tanggung jawab dirinya.
Tapi meskipun seperti itu, Lidya tetap harus memperingati Irsyad karena takut suatu hari nanti anaknya itu akan kembali melakukan kesalahannya yang sama seperti kali ini. Lidya mulai kembali berkoar dan menceramahi anaknya itu, memberikannya kembali wejangan-wejangan untuk selalu diingat dan dipegang oleh putranya itu.
" Dan ingat ya, Bunda memang sudah memaafkan-mu kali ini dan pembahasan mengenai masalah ini pun selesai sampai disini. Tapi, bukan berarti Bunda akan membiarkanmu begitu saja, Bunda akan tetap memberimu hukuman agar suatu hari kamu tidak akan dengan mudah mengulangi kesalahanmu itu! " Putus Lidya yang ternyata meski sudah memaafkan Irsyad dengan mudah, dia masih tetap pada pendirian dirinya sebelumnya yang akan menghukum Irsyad.
" Iya Bun, Irsyad siap menerima apapun hukuman Bunda itu! " Sahut Irsyad dengan mantap karena memang mau tidak mau dia harus menerima konsekuensi dari perbuatannya itu.
__ADS_1
" Bagus, untuk hukumannya kita bahas nanti saja. Dan mulai hari ini, kamulah yang akan menjaga dan menemani Arcelia disini. Sedangkan Bunda akan pulang, Bunda sengaja melakukannya karena ingin melihat seberapa mampu kamu dalam menjaga dan merawat istrimu yang tengah sakit itu. " Ujar Lidya lagi ingin menguji kesungguhan dan ke tanggapan Irsyad dalam melakukan tanggung jawabnya.
" Untuk itu Bunda tenang saja, itu memang sudah menjadi keharusan ku. Bunda istirahatlah di rumah, maaf sekali lagi sudah membuat Bunda kelelahan dan repot selama beberapa hari ini. " Ucap Irsyad menatap ibunya dengan rasa bersalah, namun Lidya nampak tak mempermasalahkan semua itu dia hanya cukup mengangguk menyahuti ucapan putranya itu.
°°°°°
Selepas perbincangan antara ibu dan anak itu, mereka akhirnya kembali ke ruang rawat inap Arcelia setelah keduanya tadi sempat menyantap sarapan mereka terlebih dulu karena Irsyad sudah mengeluh merasakan lapar. Sejak kemarin siang Irsyad mengaku tidak makan lagi, hingga tentu saja pagi ini dia sudah begitu kelaparan.
Mereka tiba di kamar Arcelia bertepatan dengan seorang suster yang mengantarkan sarapan untuk Arcelia, ketika mereka baru saja meringsek masuk suster itupun sudah berpamitan kembali karena tugasnya memang sudah selesai.
" Sudah selesai, Bun? " Tanya Arcelia saat melihat ibu mertuanya itu kembali dengan menjinjing sebuah kantung kresek ditangannya.
" Iya, kamu pasti merasa bosan ya.. karena Bunda tinggal cukup lama. " Ucap Lidya yang paham dengan perasaan menantunya itu, jangankan dia tinggal seperti sekarang ini terkadang meski ditemani pun Arcelia kerap kali merasakan bosan.
" Hmm.. " Arcelia hanya bergumam menjawab perkataan ibu mertuanya itu, bukan karena malas atau mau bersikap tidak sopan. Hanya saja ia jadi merasa risih karena sejak tadi Irsyad terus saja melihat dan memperhatikannya.
__ADS_1
Lidya yang menyadari keadaan yang kurang nyaman disekitarnya pun, akhirnya mengerti jika hubungan diantara anak dan menantunya itu sekarang sedang kurang baik. Dan berinisiatif ingin membiarkan mereka segera menyelesaikan permasalah diantara mereka, dengan secepatnya ia akan berpamitan untuk pulang. Karena jika dirinya masih tetap berada diantara mereka, mereka pastinya akan terus saling mendiamkan.
" Lia.. Sayang, karena sekarang sudah ada Irsyad yang akan menemanimu disini. Bunda pamit pulang dulu ya, tapi kamu tenang saja Bunda pasti akan sering-sering untuk datang mengunjungimu. " Ujar Lidya mengatakan apa yang sedari tadi dikehendakinya itu.
Namun seketika itu raut wajah Arcelia berubah sendu, dia tak ingin ditinggal oleh Lidya. Jikapun ibu mertuanya itu mau pulang, setidaknya bawalah juga dirinya pulang dia ingin ikut pulang saja dan sudah tidak mau berada di rumah sakit seperti saat ini.
" Nak, jangan bersedih seperti ini, bukankah masih ada Irsyad yang akan menjagamu disini? Bunda mohon jangan seperti ini, kamu membuat Bunda sedih. Maafkan Bunda, bukan Bunda tak ingin menjagamu disini tapi.. " Ucapan Lidya terhenti kala tiba-tiba Arcelia meraih tangannya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Tidak Bun, tidak seperti itu. Mengapa jadi Bunda yang meminta maaf, Lia yang seharusnya meminta maaf pada Bunda karena sudah begitu merepotkan Bunda. Maafkan Lia.. karena sudah menjadi beban untuk Bunda. " Ungkap Arcelia sembari menundukkan kepalanya diikuti dengan tetesan air mata yang entah mengapa meluncur begitu saja tanpa bisa dicegahnya.
" Ssttt.. Kamu ini bicara apa sih sayang. Jangan bicara begitu, itu tidak baik Nak. Mana ada Bunda merasa direpotkan olehmu, apalagi sampai terbebani tidak ada yang seperti itu Nak. Sudah lebih baik sekarang kamu fokus saja dengan pemulihanmu, dan segeralah pulang ke rumah dengan keadaan sehat kembali yaa.. " Ucap Lidya sembari merangkul dan mengusap lembut punggung Arcelia yang terlihat bergetar kecil karena terisak.
Arcelia terlihat mengangguk kecil, selanjutnya dia pun merengkuh tubuh mertuanya itu dengan membisikan kata terima kasih. Meski sebenarnya dia sangat enggan jika harus ditinggal berdua dengan Irsyad seperti ini, tapi ya mau bagaimana lagi dia tidak bisa memilih. Memaksa keluar dari rumah sakit pun rasanya itu tidak mungkin, kondisinya harus benar-benar dinyatakan baik dulu jika ingin dibiarkan pulang.
Irsyad yang sejak tadi hanya mematung dan diam melihat interaksi kedua wanita yang sangat berarti di hidupnya itu, seakan ditampar oleh kenyataan. Sakit, ketika menyadari jika ternyata dirinya begitu tidak berguna dan bodoh, dia tidak pernah ada disaat-saat istrinya itu sangat membutuhkan kehadirannya. Melihat lelehan air mata Arcelia barusan seketika itu Irsyad dapat melihat seberapa rapuh istrinya itu saat ini.
__ADS_1
" Ya sudah, Bunda pulang dulu yaa.. Dan jika Irsyad tidak menjagamu dengan benar dan malah berulah disini, kamu segera laporkan saja pada Bunda yaa.. " Pesan Lidya yang lebih menyerupai peringatan untuk putranya itu, hingga akhirnya dia pun benar-benar berlalu pergi.
......................