
Disisi lain, jauh dari kota tempat Irsyad berada saat ini. Devin yang memang sejak awal sudah khawatir dan sempat beberapa kali mewanti dan mengingatkan atasannya itu, meski hanya berbalik omelan dan menjadi pelampiasan kekesalan atasannya itu.
Akhirnya, setelah menimbang dan memikirkannya masak-masak dia memberanikan diri untuk memberitahu mengenai hal tersebut pada suami atasannya yaitu Irsyad.
Ya, pada awalnya dia memang tidak berniat untuk memberitahukan hal tersebut pada Irsyad, selain karena dia merasa kegiatan yang dilakukan Arcelia memang sudah biasa meski dalam kondisi fisik atasannya itu yang berbeda. Juga, dia yang tak ingin jika laporannya kali ini justru berujung buruk dan menimbulkan pertengkaran diantara pasangan tersebut.
Emosi Arcelia yang mudah berubah dan gampang tersulut menjadi salah satu ketakutan tersendiri jika dia memberitahu Irsyad mengenai hal ini, karena tentu saja Irsyad tak akan tinggal diam akan hal itu dan pastinya akan memberikan Arcelia teguran yang cukup akan membuat hubungan keduanya semakin memburuk.
Tahu sendirilah bagaimana kondisi hubungan pasutri itu, yang meski berniatan baik tapi karena buruknya komunikasi dan cara penyampaian satu sama lain malah akan semakin memperkeruh keadaan.
Tapi, karena keadaannya yang semakin mengkhawatirkan dan sulit hingga akhirnya Devin pun memberanikan diri memberitahukannya pada Irsyad.
Ya, bagaimana tidak jika jam kerja yang Arcelia lakukan semakin hari semakin ekstrem saja. Jika sebelumnya dia harus mendampingi dan ikut lembur hingga tengah malam bersama Arcelia. Kali ini justru lebih parah lagi, pernah Arcelia beberapa kali nonstop bekerja dari pagi hingga pagi lagi dan tentu saja dia selaku bawahannya pun harus ikut andil dalam kegilaan atasannya itu.
Melayangkan protesan tentu bukan hal tepat untuk dilakukannya, selain keberatan dan enggan mengikuti jam kerja Arcelia. Devin pun dibuat cemas akan kondisi atasannya yang tengah mengandung itu, jika dirinya saja yang merupakan laki-laki yang sehat, bugar dan tentu saja tidak sedang dalam keadaan hamil saja sudah merasakan lelah yang teramat, lalu bagaimana dia yang merupakan seorang wanita dan sedang berbadan dua?
Ini gila sih! Disaat tubuhnya seakan sudah hancur dan remuk redam tak terkira, Arcelia justru terlihat anteng dan baik-baik saja mengerjakan semua pekerjaannya tanpa pernah sedikitpun terdengar keluar keluhan-keluhan dari mulutnya.
Meski seperti itu, bukan berarti Devin akan diam dan menutup mata dari kondisi mereka saat ini. Walau tak ada keluhan dan kondisi fisik yang terlihat mengkhawatirkan, Devin tahu dan cukup dibuat cemas jika semisalnya hal paling buruk justru nanti terjadi.
__ADS_1
Dia tidak bermaksud mendoakan hal-hal buruk untuk atasannya itu, tapi sebagai orang yang berpikir tentu saja dia bisa menduga akan ada banyak kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Mau bagaimana pun kegiatan dan jam kerja Arcelia memang sudah tidak sehat dan jauh dari kata baik.
Oleh karena itulah dia menghubungi Irsyad, berharap Irsyad bisa menghentikan dan mengakhirinya. Namun, setelah kirimi beberapa pesan bahkan beberapa kali ia coba hubungi, nomor tujuannya itu ternyata sedang tidak aktif dan berada diluar jangkauan.
Mencoba hubunginya kembali sampai beberapa hari setelahnya dan masih sama, tidak aktif dan sulit dihubungi. Hingga akhirnya dia hanya terus mengirimi pesan mengenai semua yang dilakukan Arcelia, berharap Irsyad akan segera membacanya begitu ponselnya itu kembali aktif.
°°°°°
Sore hari pada saat itu, Arcelia yang baru saja kembali dari menyelesaikan sebuah meeting yang kebetulan berlangsung diluar, lantas kembali ke kantor untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.
Bukannya pulang dan beristirahat di rumah, Arcelia justru malah kembali kesini. Lihat, sekarang bahkan beberapa pekerja akan pulang dan menuju rumah mereka masing-masing karena jam kerja pun memang sudah mulai habis. Beberapa dari mereka juga tadi berpapasan dengan Arcelia dan menyempatkan menunduk hormat sebagai bentuk sapaan mereka ketika Arcelia memasuki loby kantor.
Terlepas dari semua hal itu, tanpa ada yang tahu dan menyadari termasuk Devin sekalipun Arcelia terlihat meringis kesakitan ketika hendak memasuki lift, bahkan jika dia tidak pintar menyeimbangkan tubuhnya mungkin tubuhnya itu sudah pasti akan terhuyung jatuh kebelakang.
Entahlah apa yang dilakukan dan ingin dirinya buktikan saat ini, dia terkesan berusaha keras dan terlalu keras pada dirinya sendiri akhir-akhir ini. Yang secara tidak langsung terlihat seperti tengah menyiksa dan menghukum dirinya sendiri.
Sebenarnya rasa sakit seperti itu bukanlah yang pertama kali dia rasakan, bahkan sudah sering dan beberapa waktu terakhir semakin kerap menyerangnya. Rasa keram dan sakit yang teramat disekitar perutnya itu, kadangkala tidak hanya mampu membuatnya meringis sakit seperti saat ini, bahkan bisa sampai membuatnya berkeringat dingin dan tanpa sadar meneteskan air mata saking sakitnya.
Tapi itu dia keanehan yang terjadi, Arcelia bukannya khawatir dan segera memeriksakan kondisinya ia justru mengabaikan dan membiarkannya begitu saja. Dengan dalih yang sering ia katakan pada dirinya sendiri, nanti sakitnya juga akan hilang dengan sendirinya.
__ADS_1
Dia tidak tahu saja, kondisi wanita yang sedang mengandung tidak bisa disamakan dan disepelekan seperti halnya kondisi fisik seorang yang dewasa dan hanya terserang sakit biasa.
" Nona, apa tidak sebaiknya Nona istirahat terlebih dulu walau barang sejenak saja? Saya pikir, tubuh Nona pasti merasa lelah setelah seharian ini bekerja diluar. " Ujar Devin memberanikan diri memecah keheningan didalam lift tersebut.
Bertepatan dengan pintu lift yang terbuka, Arcelia menjawab " Sebaiknya kaulah yang beristirahat Dev, nanti setelah beberapa saat dan aku mulai membutuhkanmu aku akan kembali memanggilmu. " Serunya seraya melangkah kearah ruangannya berada, masih dengan perasaan tercengangnya Devin pun dengan sigap mengikuti dan membukakan pintu untuk atasannya tersebut.
Setelah sedikit berbincang dan pintu tertutup kembali, Devin hanya mampu menggelengkan kepala dengan jawaban yang tadi diucapkan oleh Arcelia. Niat hati ingin memintanya istirahat dan berharap atasannya itu merilekskan dirinya meski sesaat karena jujur saja semakin hari dia semakin khawatir saja dengan kondisi wanita cantik itu. Tapi sungguh luar biasa atasannya itu, dia malah berbalik memintanya beristirahat sedangkan dirinya sendiri lanjut menghantam pekerjaannya itu.
" Sebenarnya bukan ini maksudku, tubuhku memang lelah dan sangat membutuhkan istirahat tapi bukan itu tujuanku berkata seperti itu padanya. Apa tadi aku salah memilih kalimat ya? " Bingung Devin seraya berlalu dari sana.
Dan ditempat Arcelia saat ini, didalam ruangan kerjanya Arcelia terlihat kembali merasakan rasa sakit dan keram seperti sebelumnya. Bahkan bisa dia rasakan kali ini, rasanya jauh lebih melilit dan menyiksanya. Terlihat saat ini dia sudah berpegangan pada hal apa saja yang bisa menopang tubuhnya yang mulai melemas merasai rasa sakitnya.
Keringat dingin terlihat sudah bermunculan di dahi bahkan sampai dikedua telapak tangannya itu, Arcelia semakin meringis seraya memegangi perutnya yang seakan diremas-remas hingga lama kelamaan tubuhnya merosot kebawah akibat tak mampu lagi menahan rasa sakit yang semakin parah menderanya.
Tergeletak dengan tangan yang masih berupaya meraih tas jinjingnya berniat menghubungi Devin untuk membantunya, namun sebelum hal itu berhasil, kesadarannya sudah lebih dulu menghentikan upayanya itu. Ya, pada akhirnya Arcelia jatuh tak sadarkan diri didalam ruangannya tanpa ada seorang pun yang menyadari akan keadaannya itu.
......................
Like dan Votenya dong tolong✌🏻🤗
__ADS_1