
Satu minggu sudah Arcelia berada diruang perawatan itu, karena dari sejak awal dia memang sudah tidak betah dan selalu minta ingin segera pulang, apalagi setelah kejadian kemarin dimana Irsyad sudah menjanjikannya untuk pulang namun malah berakhir dengan menyebalkan menurutnya.
Hari ini Arcelia kembali terus merengek dan meminta untuk dipulangkan, seakan tidak ada kata lelah dia terus saja berkata bahwa dirinya ingin pulang ke rumah. Irsyad sendiri bahkan sudah dibuat pusing dengan ocehan Arcelia yang itu-itu saja ia sampaikan dan inginkan.
Jika Arcelia sudah bertingkah seperti ini, entah mengapa Irsyad merasa dia sudah seperti anak kecil saja yang merengek meminta mainan pada ibunya. Seakan sosok istrinya yang dulu ia kenal tegas, galak dan menyebalkan itu hilang entah terbang kemana. Berganti dengan sesosok perempuan mungil yang lemah dan menggemaskan dalam pandangan matanya itu.
" Irsyaad.. " Serunya mulai kembali ingin merayu Irsyad agar dirinya bisa segera pulang.
" Sstt.. Diam Lia, lebih baik sekarang kau makan saja dan kembali beristirahat. " Cegah Irsyad dengan segera menyodorkan sesendok makanan kearah mulut Arcelia.
Namun Arcelia mengelak dengan memalingkan wajahnya kearah lain, sepertinya dia akan melakukan mogok makan lagi demi hanya untuk bisa mendapatkan izin pulang.
" Lia.. Kau tidak bisa terus bertingkah seperti ini, hentikan Lia dan makanlah! Jika bukan untukmu, maka makanlah untuk anak kita! " Ujar Irsyad yang tahu apa yang akan dilakukan oleh istrinya itu.
Mendengar perkataan Irsyad barusan, mau tidak mau Arcelia pun menurut untuk makan meski dengan hati yang enggan dan terpaksa. Ya,lebih baik seperti itu daripada nanti dia harus dikatai lagi oleh Irsyad bahwa dirinya egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri, apalagi jika sampai dituduh dirinya mengabaikan anak dalam kandungannya itu.
Dalam diam dan tak banyak tingkah Arcelia mengunyah makanannya, hanya menurut dan patuh saja dengan semua yang Irsyad minta padanya. Mulai dari menghabiskan semua makanannya hingga pada akhirnya diminta untuk meminum obat dan kembali beristirahat, Arcelia masih dengan diam melakukan semuanya.
Tak ingin dan tampak tak berminat sama sekali jika dirinya harus sampai debat kusir lagi dengan suami menyebalkannya itu. Begitupun dengan Irsyad yang nampak tenang dan senang karena Arcelia berhenti bertingkah dan mau menurut dan patuh pada dirinya.
__ADS_1
" Huft.. Jika seperti inikan enak, aku jadi tidak harus ceramah panjang lebar apalagi sampai memarahinya. " Gumam Irsyad didalam hati sambil menatap Arcelia yang terlihat kembali mengistirahatkan tubuhnya, tak lama dari itu diapun membetulkan selimut Arcelia dan berlalu keluar dari sana.
Dan tanpa sepengetahuan Arcelia, ternyata Irsyad keluar untuk membayar administrasi dan mengurus semua surat-surat yang diperlukan untuk kepulangan Arcelia. Ya, Irsyad ternyata memang berencana membawa Arcelia pulang hari ini juga. Lidya, Hardi dan Darwin bahkan sudah dia hubungi dan diberitahu, mungkin sebentar lagi mereka pun akan datang untuk ikut menjemput Arcelia kembali pulang ke rumah.
Entahlah, kenapa Irsyad tidak memberitahu Arcelia mengenai hal ini bahkan terkesan merahasiakannya dari istrinya itu. Padahal kan jelas-jelas Arcelia begitu menginginkannya dan pastinya akan begitu senang dan bahagia jika tahu dirinya akan segera pulang, tapi sepertinya Irsyad sengaja ingin memberinya sebuah kejutan.
Ya, bagaimanapun Irsyad tak tega dan merasa kasihan terhadap Arcelia yang selalu merengek meminta pulang kepadanya. Hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk membawa Arcelia pulang saja, terlebih kondisinya memang sudah membaik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi padanya.
°°°°°
Tepat disaat hari menunjukan siang, Arcelia akhirnya meninggalkan ruang rawat yang menurutnya sumpek itu. Dengan digiring oleh para orang tuanya Arcelia nampak sekali senang dan antusias dengan kepulangannya ini, meski sebelumnya sempat bingung dan kaget dengan kedatangan orang tuanya yang tiba-tiba namun pada akhirnya ia bisa bersorak bahagia karena ternyata mereka datang untuk menjemputnya pulang.
" Kita pulang ke rumah Bunda saja ya sayang? Agar memudahkan Bunda memastikan keadaanmu. " Ucap Lidya yang ditujukan pada Arcelia.
" Bun, ini maksudnya jadi gimana? " Tanya Irsyad seraya menatap ibunya yang terlihat tenang dan senang itu.
" Gimana apanya? " Lidya yang malah balik bertanya pada putranya itu.
" Ya, gimana? Kenapa jadi pulang ke rumah Bunda, bukannya Arcelia pengen pulang itu karena pengen pulang ke rumahnya dan tentunya itu rumah aku sama Lia dong Bun. Benarkan Lia? " Papar Irsyad yang diakhiri dengan mencari dukungan dari istrinya itu.
__ADS_1
" Enggak tuh, aku ya pengen pulang aja. Kemanapun itu, asal gak di rumah sakit ini terus apalagi diruang rawat itu! " Sahut Arcelia seraya sedikit bergidik ngeri membayangkan ruang perawatnya itu.
Perkataan Arcelia barusan tentu saja secara otomatis membantah perkataan Irsyad sebelumnya, dan Lidya tersenyum mendengar perkataan menantunya itu seraya menatap Irsyad dengan sedikit mengejek.
" Tapi tetap saja Bun, karena kami sekarang sudah memiliki rumah sendiri, maka kami akan pulang ke rumah kami saja Bun. " Ucap Irsyad yang tetap dengan keinginannya, meski Lidya sudah tak mengatakan apapun lagi tapi melihat senyum ibunya membuatnya ingin menegaskan keinginannya itu.
" Memangnya apa bedanya sih di rumah Bunda ataupun di rumah kalian, lagipula apa kamu mampu menjaga Lia sendiri jika kamu membawanya pulang ke rumahmu?! " Tanya Lidya dengan sedikit menantang dan meremehkan putranya itu.
" Tentu saja aku bisa Bun, lagipula Bunda juga bisa kan mengunjungi kami sesekali seperti biasanya jika Bunda ingin mengetahui kondisi Arcelia? " Irsyad masih enggan untuk mengalah pada ibunya.
" Ya, Bunda percaya kamu memang bisa menjaganya sampai-sampai Lia bisa berada disini sekarang kan? " Balas Lidya dengan memberikan sindiran pedas pada putranya itu, entahlah dia masih merasa sedikit kesal padanya.
Baru saja Irsyad akan menjawab sindiran ibunya yang tepat sekali sampai-sampai melukai kepercayaan dirinya itu, tiba-tiba Arcelia bersuara yang seketika membuat semua upaya Irsyad sejak tadi itu sia-sia saja.
" Bun, aku ingin pulang ke rumah Bunda saja! " Putus Arcelia tanpa mau tahu hal lainnya lagi, Arcelia rasanya masih sangat enggan jika harus kembali berdekatan dan terkurung hanya bersama suaminya itu.
" Tuh kan Lia saja mau Bunda ajak ke rumah Bunda, kalau kamu masih keberatan ya sudah jangan ikut pulang bersama kami! Gitu aja kok repot. " Lidya yang merasa menang dengan cepat mengambil alih kursi roda Arcelia dari tangan Irsyad, lalu membawanya pergi meninggalkan Irsyad yang masih berdiri mematung.
" Lho.. Gak bisa gitu dong Bun! Kalau Lia ke rumah Bunda, aku juga harus ikut! " Cepat Irsyad mengejar ibu dan istrinya itu yang kini sudah terlihat memasuki sebuah mobil.
__ADS_1
......................