
Dengan wajah memberengut menahan kekesalan, Arcelia duduk di samping Irsyad dengan memalingkan wajahnya menatap jalanan yang mengantarkannya menuju perusahaan miliknya.
Ya, pada akhirnya Arcelia dengan terpaksa menuruti Irsyad dan mengganti sepatunya. Sangat kesal dan tak rela sebenarnya dia melakukan ini, tapi mendengar ancaman Irsyad tadi Arcelia pun jadi tak memiliki pilihan lain. Dia takut jika sampai Irsyad benar-benar melarangnya bekerja, hingga pada akhirnya dengan setengah hati dan perasaan yang teramat dongkol Arcelia memilih untuk mengalah.
" Sudahlah Lia, kau jangan terus cemberut seperti itu. Aku melakukannya demi kebaikan kalian juga, setidaknya dengan seperti itu aku akan sedikit tenang membiarkanmu kembali bekerja. " Ujar Irsyad memecah keheningan yang sejak tadi terjadi diantara mereka.
" Menggunakan sepatu yang tadi juga aku akan baik-baik saja, kau tidak tahu saja aku justru merasa tidak percaya diri jika seperti ini! " Keluh Arcelia yang untungnya walau sedang kesal namun masih mau bersuara dan membalas ucapan Irsyad.
" Aku tidak terbiasa menggunakan sepatu seperti ini, ah.. aku pasti akan terlihat aneh nanti. " Bicara dengan menelusuri penampilannya, kemudian merengut lagi dan menghentakkan kakinya kesal ketika merasa dirinya kini benar-benar berpenampilan sangat aneh.
" Apanya yang aneh? Kau sama sekali tidak terlihat aneh, penampilanmu terlihat sama kok seperti biasanya. Bahkan aku yakin, tidak akan ada orang yang menyadari kau mengenakan sepatu seperti itu. " Ujar Irsyad yang terdengar hanya berusaha menenangkan Arcelia, namun sebenarnya memang seperti itu kenyataannya.
" Ck, kau memang tidak akan mengerti! " Ketus Arcelia menatap Irsyad dengan kesal.
" Sudahlah, lagipula untuk apa juga coba kau pakai sepatu modelan seperti tadi. Tanpa menggunakan itupun sebenarnya kau sudah cukup tinggi, jadi apa coba manfaatnya benda itu?! " Tutur Irsyad tanpa tahu ucapannya itu membuat Arcelia semakin kesal, hingga ingin rasanya Arcelia menjambak rambut suaminya itu.
" Cih, dasar tidak tahu fashion! " Dengus Arcelia mencibir ucapan suaminya barusan.
Hingga tak terasa mobil yang membawa mereka pun akhirnya sampai didepan lobby perusahaan Arcelia, masih dengan wajah masamnya Arcelia melepas seatbelt dengan dibantu oleh Irsyad.
" Nanti kau tidak usah menjemput ku, aku akan pulang dengan Devin saja. Aku sedang malas denganmu! " Ujar Arcelia masih dengan segunung rasa kesal pada Irsyad, kemudian dia melengos hendak membuka pintu mobil.
" Eh.. Jangan kayak gitu dong, aku 'kan sudah bilang ini semua demi kebaikanmu dan anak kita. Walaupun kau sudah terbiasa mengenakannya, bukankah dalam kondisimu yang seperti ini kita perlu lebih hati-hati? " Ucap Irsyad yang terdengar lembut ingin meluluhkan kekesalan istrinya saat ini.
__ADS_1
" Apalagi setelah kejadian kemarin, kita harus lebih baik lagi dalam menjaganya 'kan? " Tambah Irsyad lagi yang sekarang sudah mengulurkan tangannya untuk menyentuh dan mengelus perlahan perut Arcelia.
Arcelia terdiam sejenak dengan tetap memalingkan wajahnya mendengar Irsyad bicara, hatinya mungkin membenarkan apa yang baru saja Irsyad katakan. Namun, rasa kesalnya yang tengah mendominasi dirinya kini membuatnya enggan menyetujui hal itu.
" Terserah aku tidak mau tahu, yang jelas aku tidak akan pernah melupakan kalau kau sudah merusak dan mengacaukan penampilanku hari ini! " Kesal Arcelia yang mana untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia harus berpenampilan yang tidak sesuai dengan jati dirinya yang selalu tampil paripurna selama ini, dan semua itu gara-gara Irsyad.
" Dan satu lagi, aku sudah menetapkan sore nanti aku akan pulang dengan Devin! Jadi kau tidak perlu repot-repot datang kesini! " Pungkas Arcelia sembari membuka pintu mobil dan berhasil keluar dari sana.
Irsyad yang melihat itu, tentu saja tidak serta merta membiarkan dan menyerah begitu saja. Dibukanya kaca pintu mobil dan dia pun sedikit berteriak, karena posisi Arcelia sudah lumayan berjarak dengan tempat mobilnya terparkir.
" Ya, hati-hati kerjanya Lia! Pokoknya nanti sore aku akan menjemputmu disini tepat pukul 4 sore yaa! " Pekik Irsyad menghiraukan perkataan kesal Arcelia sebelumnya dan tanpa menunggu balasan Arcelia dia pun berlalu pergi meninggalkan perusahaan istrinya itu.
" Hei.. Ck, dasar menyebalkan! " Umpat Arcelia yang ingin melayangkan kembali protesannya, namun mobil Irsyad sudah berlalu begitu saja.
Siang hari masih di perusahaan milik Arcelia, terlihat para karyawan sudah berbondong-bondong menuju kearah keluar perusahaan untuk mencari dan menyerbu menu makan siang mereka.
Pekerjaan yang menumpuk, yang tentu saja membuat siapa saja yang mengerjakannya terserang rasa lelah dan penat, belum lagi jika sudah beranjak siang dan perut sudah meminta untuk diisi. Maka fokus pun akan mulai burai dan mudah teralihkan, hingga tak jarang mereka sangat menanti-nanti waktu istirahat seperti sekarang ini.
Namun tunggu dulu, ada apa itu? Kenapa orang-orang berkerumun seperti itu? Terlihat juga beberapa orang lainnya ikut berlarian kearah sana, mungkin untuk mencari tahu dan menuntaskan rasa penasarannya seperti yang lain.
" Ayo cepat, katanya ada wanita hamil yang jatuh di sana. " Seru salah seorang dari mereka yang bergegas melihat dan berniat menolong.
" Apa?! Ayo.. Ayo.. " Timpal yang lain ikut berlari menuju kerumunan tersebut.
__ADS_1
" Aaahh.. Sa..sakit.. Tolong aku.." Begitu sampai di sana, terdengar suara lirih wanita hamil tersebut mengaduh kesakitan seraya memegangi perutnya yang terlihat membuncit itu.
" Hei.. Ayo cepat bantu dia! Tolong panggilkan ambulans segera! " Suara pekikan seseorang yang seketika membuat orang-orang yang sejak tadi berkerumun itupun tersadar dan segera mengambil tindakan.
" Aku sudah menghubungi ambulans-nya, tapi perlu beberapa waktu untuk menunggunya sampai disini. " Yah, memang benar begitu adanya tidak mungkin bukan begitu ditelpon dan ambulans nya langsung datang? Karena segala sesuatu memang perlu proses.
" Aaaah... Sakit sekali! " Pekik kesakitan wanita itu, bahkan terlihat kedua kakinya yang sudah bersimbah darah semakin membuat kondisinya bertambah mengkhawatirkan.
Hingga tak berapa lama, datanglah seseorang memecah kerumunan tersebut dan memberikan instruksi-instruksi untuk segera mengevakuasi wanita tersebut.
" Tolong bantu angkat dia dan segera bawa dia ke rumah sakit, biar mobil kantor saja yang mengantarnya! " Serunya karena jika menunggu ambulans memang akan memakan banyak waktu, sedangkan wanita hamil tersebut sudah sangat membutuhkan pertolongan.
Mendengar instruksi seperti itu, orang-orang pun mulai memundurkan dirinya untuk memberikan jalan. Beberapa dari mereka menatap perihatin dan kasihan ketika melihat wanita itu sudah begitu kesakitan dan terus merintih.
" Kasihan sekali yaa.. Mana darahnya yang keluar sudah banyak. Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya dan kandungannya. " Ucap salah seorang di sana yang diamini dan disetujui oleh yang lain.
Berbeda dengan seorang wanita yang terlihat masih termangu karena shock melihat kejadian tersebut, setelah tadi sebelumnya dengan refleks memberikan arahan terlihat dia kini memegangi perutnya yang juga sama buncitnya seperti wanita yang tadi dievakusi.
Terlihat raut cemas, takut, kaget juga sedikit kelegaan pada dirinya. Namun, setidaknya kejadian ini membuatnya sadar untuk tidak menyepelekan dan menganggap enteng sesuatu. Apalagi dengan kondisinya yang kini tengah berbadan dua, ada rasa syukur juga terima kasih pada suaminya yang sebelumnya telah memaksanya mengenakan sepatu flat ini.
Kini dia sadar bahwa yang dilakukan Irsyad tadi pagi bukanlah sesuatu hal yang berlebihan, apalagi sesuatu yang ingin membuatnya merasa terkekang. Namun ini upaya terbaik yang mungkin bisa dilakukannya untuk melindungi dirinya dan kandungannya.
......................
__ADS_1