Mengandung Anak Musuhku

Mengandung Anak Musuhku
51. Maafkan aku..


__ADS_3

Disebuah rumah sakit, terlihat Lidya duduk di kursi yang bersisian dengan sebuah ranjang tempat Arcelia berbaring saat ini dengan wajah yang masih saja terlihat begitu cemas. Belum lagi jika harus memikirkan tentang keberadaan anaknya saat ini, entah masih keluyuran dimana laki-laki tidak bertanggung jawab itu. Jangankan tahu tentang keberadaannya, untuk sekedar menghubunginya saja dia begitu kesulitan.


Karena ulah meresahkan putranya itu, Lidya bahkan sempat sampai menyambangi kantor milik putranya itu bertujuan untuk menanyakan keberadaan anaknya itu pada asisten anaknya di sana. Dia juga memaksa asisten itu untuk menghubungi dan meminta anaknya itu untuk segera pulang dan mempertanggung jawabkan segala kekacauan yang ditinggalkannya itu.


Namun sama seperti dirinya, asisten tersebut pun tak bisa untuk sekedar menghubungi atasannya. Karena hal itu, dia yang tak tahu apa-apa dan tak sedikitpun berkecimpung dalam permasalahan tersebut harus berlapang dada menjadi sasaran kemarahan dan kekesalan dari ibu atasannya tersebut.


Dengan perasaan kesal dan dongkol karena tak mendapatkan hasil apapun, Lidya pun meninggal gedung itu dengan membawa kejengkelannya yang semakin bertambah pada putranya itu. Lihat saja, begitu dia pulang habislah dia! Lidya bahkan sudah menyiapkan apa dan bagaimana hukuman yang akan dijatuhkannya nanti pada anak laki-lakinya itu.


Dan sekarang tepat sudah 3 hari semenjak Arcelia dilarikan ke rumah sakit, tapi lihatlah putranya itu masih menghilang dan tak ada kabar. Diliriknya sang menantu yang tengah tertidur itu dengan wajah yang masih sangat terlihat pucat dan lemah itu, ya setelah sebelumnya dia makan dan meminum obatnya Arcelia akhirnya kembali tertidur.


Perasaan iba dan bersalah semakin menyerang dirinya ketika melihat menantunya yang terbaring lemah dan tak berdaya itu, apalagi ketika mengingat dalam kondisinya yang seperti itu suami yang seharusnya selalu ada dan mendampingi dirinya justru malah menghilang entah kemana.


Beberapa hari yang lalu, dia mendapatkan sebuah panggilan telepon dari nomor yang tak dikenalnya. Dari panggilan itu Lidya mengetahui jika menantunya, Arcelia berada di rumah sakit akibat mengalami sebuah pendarahan yang cukup hebat. Mengetahui hal itu dia bersama suaminya pun dengan segera mendatangi rumah sakit yang dimaksud dengan perasaan panik dan cemas luar biasa, berbagai pertanyaan dan pikiran buruk begitu saja menghinggapi pikirannya.


" Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi? Lalu bagaimana keadaan mereka sekarang, menantu dan calon cucu pertamanya? Apakah keduanya baik-baik saja dan masih bisa terselamatkan? Padahal beberapa waktu saat terakhir mereka bertemu, semuanya masih baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan ataupun dicemaskan dari kondisi menantunya itu. Lalu apa ini? Kenapa bisa sampai terjadi, apa anak laki-lakinya itu sudah benar-benar menjaga menantunya dengan baik? Kenapa bisa sampai teledor dan terjadi hal buruk seperti ini?


Disepanjang jalan menuju rumah sakit Lidya tak hentinya mengungkapkan segala kegelisahan hatinya dan begitu sampai didepan ruangan tempat Arcelia sedang ditangani oleh para medis, tak ada siapapun yang dikenalnya di sana. Hanya ada seorang laki-laki muda yang dia duga asisten dari menantunya yang tadi sempat menelpon dan memberitahunya tentang kondisi Arcelia.

__ADS_1


Lalu dimanakah Irsyad? Kenapa dia tidak ada disini, apa mungkin dia belum mengetahui akan kondisi Arcelia saat ini? Namun, Lidya menepis semua pertanyaan itu terlebih dahulu, ada ingin tahu bagaimana ceritanya sampai Arcelia harus terbaring di atas ranjang pesakitan itu?


Dan, pendarahan hebat? Ah.. Mengingat kata itulah yang membuat kepanikan selalu berhasil melonjak naik dengan beribu kecemasan dan rasa takut oleh praduga-nya sendiri. Dengan tidak sabaran, Lidya pun akhirnya mencecar Devin dengan beribu pertanyaan yang mana dia juga menuntut jawaban yang sedetail-detailnya.


Devin pun menceritakan semuanya tanpa terkecuali, mulai dari kegilaan Arcelia dalam bekerja hingga kejadian di sore hari itu. Dimana dia menemukan Arcelia yang sudah tergeletak tak sadarkan diri dilantai dengan kedua kaki jenjangnya yang sudah bersimbah darah.


" Karena terkejut juga kalut, tanpa banyak berpikir lagi saya pun segera membawanya kemari. Dan maafkan saya sudah lancang Nyonya, karena berani membuka tas dan ponsel milik Nona Arcelia. Saya melakukannya karena sudah benar-benar bingung harus menghubungi siapa lagi. " Ujar Devin saat itu dengan seadanya, kala itu dia sungguh bingung karena nomor ponsel yang diketahuinya hanya milik Irsyad dan Tuan Darwin ayah dari Arcelia.


Namun kedua pria itu berada dalam keadaannya yang tidak memungkinkan untuk segera mendatangi rumah sakit, jika Irsyad tidak dapat dia hubungi berbeda dengan Darwin yang memang berada diluar negeri. Tapi, syukurlah dua hari setelah Devin memberitahukan mengenai kondisi Arcelia, Darwin pun akhirnya sampai ke tanah air dengan membawa segunung rasa cemas untuk putri sematawayangnya itu.


Tepat pukul satu dini hari akhirnya pesawat yang ditumpangi Irsyad pun landing dengan selamat, tanpa menunda waktu lagi dengan tergesa Irsyad keluar dari bandara dan mencari sebuah taksi.


Tanpa berniat untuk pulang menyimpan barang-barangnya terlebih dulu atau bahkan hanya sekedar beristirahat sebentar, Irsyad langsung saja meminta sang supir untuk mengantarnya menuju rumah sakit.


Entah dengan cara apa Irsyad akhirnya bisa masuk kedalam rumah sakit dengan begitu mudahnya meski hari masih dini hari seperti saat ini. Dibukanya perlahan pintu ruang rawat Arcelia setelah tadi sempat menanyakannya pada bagian resepsionis, ketika pintu terbuka terlihat wajah pucat Arcelia yang terbaring dengan lemah di sana.


Melihat sekeliling ruangan dan terlihat sang ibulah yang menunggui Arcelia di sana seorang diri, seketika itu perasaannya mencelos dipenuhi dan diserang rasa bersalah dan sakit ketika harus melihat wajah wanita yang biasanya menyalak galak kepadanya kini tengah terbaring dengan tak berdayanya.

__ADS_1


Dengan perlahan dan tanpa menimbulkan suara gaduh yang dapat mengganggu tidur kedua wanita yang disayanginya, Irsyad masuk dan mulai mendekati ranjang yang menjadi tempat tidur Arcelia.


Diusapnya perlahan wajah pucat milik istrinya itu, wajah yang nampak sangat menjelaskan kondisi lemah istrinya itu. Dia bersalah, dia bodoh karena tidak bisa menjaga istri dan anaknya, malah lebih mementingkan ego dan keinginannya sendiri yang menghabiskan waktu hanya untuk bersenang-senang semata dengan mengabaikan tanggung jawab besar ini.


" Mengapa aku begitu egois! Maafkan aku Lia, karena tidak bisa menjaga dirimu dan anak kita dengan baik. Maafkan aku, karena membuatmu harus mengalami dan melewati semua ini seorang diri. " Ujar Irsyad berbisik pelan sebelah Arcelia, dia tergugu dengan rasa bersalahnya karena tidak becus dan tak berguna sebagai seorang suami dan seorang ayah bagi anaknya.


Tanpa sadar Irsyad bahkan sampai menetaskan air mata penuh penyesalan dengan apa yang telah terjadi kini, sakit sekali hatinya saat ini harus melihat Arcelia dalam kondisi seperti ini.


Perlahan tangannya pun terulur menyentuh dan mengusap lembut perut sang istri yang terlihat semakin menyembul saja dari terakhir kali ia melihatnya.


" Maafkan juga Daddy Nak, sudah membiarkanmu dalam keadaan berbahaya. Maaf jika Daddy sudah begitu mengabaikanmu.. " Seru Irsyad lagi pada sang anak dengan diri yang sudah semakin tergugu dalam tangisan penyesalan dan rasa bersalahnya.


......................


Kasih dukungannya ya jangan lupa🤗 Biar Arcelianya cepet pulih🤭


Oke, ditunggu like dan vote dari kalian💖💖

__ADS_1


__ADS_2