Mengandung Anak Musuhku

Mengandung Anak Musuhku
7. Seperti seharusnya


__ADS_3

Waktu menunjukkan bahwa hari kini sudah lewat tengah malam, terlihat Arcelia tengah terduduk lemas ditepi ranjang sudah lengkap dengan menggunakan piyama tidurnya. Akhirnya ia berhasil melalui hari yang paling melelahkan itu, bagaimana tidak disaat ada begitu banyak tamu yang harus ia hadapi tadi. Para tamu yang sebagian besarnya merupakan kolega dan rekan-rekan kerja dari kedua belah pihak keluarga. Tentu itu sangat menguras banyak tenaganya, belum lagi kini kedua kakinya seakan terasa akan putus setelah seharian berdiri untuk menyambut para tamu.


Namun lebih dari itu semua, ada hal yang sangat mengganggu pikiran Arcelia saat ini. Dia terlihat terus berpikir dan menerawang, ada kekhawatiran juga rasa takut dibalik kedua matanya. Kira-kira akan seperti apakah kehidupannya setelah ini? Akan ia bawa kemanakah pernikahannya ini bersama Irsyad?


Arcelia hanyut kedalam pikirannya, hingga tak disadarinya Irsyad yang sejak tadi sudah selesai dengan acara mandi susunya itu terus memanggilnya. Kenapa dikatakan mandi susu? Itu karena mandinya seorang Irsyad itu terasa memakan cukup banyak waktu, tidak seperti kebanyakan pria pada umumnya yang akan mandi paling lama hanya sekitar 15 menit. Tapi tidak dengan Irsyad yang mandinya sudah bagaikan putri di negeri dongeng, untung saja Arcelia mandi lebih dulu meski sebelumnya dia sempat terlibat percekcokan yang cukup alot dengan Irsyad karena berebut siapa yang akan terlebih dahulu mandi.


" ARCELIA! " Teriak Irsyad dengan sangat keras, entah sudah berapa kali ia tadi memanggil orang yang terlihat sedang melamun itu.


Tentu saja Arcelia tersentak kaget dan segera menatap sengit orang yang dengan sengaja mencari gara-gara dengannya itu.


" Apa?! Apa kau tidak bisa berbicara dengan sedikit santai? Kenapa harus teriak-teriak begitu? " Kesalnya dengan tak kalah keras dan masih menatap Irsyad tak suka.


" Kau yang kenapa, dari tadi ku panggil bukannya menyahut malah bengong! Kesambet baru tahu rasa! " Balas Irsyad dengan tak kalah kesal, kemudian merangkak naik keatas ranjang dan ikut mendudukkan dirinya bersebelahan dengan Arcelia.


Arcelia diam tidak berniat menimpali ucapan Irsyad lagi, dia juga membiarkan Irsyad naik keatas ranjang begitu saja. Rasanya dia sudah sangat malas, jika hari yang sudah menguras banyak tenaganya ini kembali ia tambah dengan pertengkaran tak berujung dengan si kepala batu itu.


Dibiarkannya pria yang kini terlihat sedang duduk dengan bersandar pada kepala ranjang itu terus mengoceh sendiri. Tak ingin mendengar dan peduli dengan ucapannya, dia hanya diam seraya memejamkan matanya.


" Kau tahu? Aku tidak sebrengsek itu dengan mempermainkan janji suci dihadapan Tuhan! " Kembali Irsyad bersuara, setelah sekian banyak kata dan bahasan yang tadi ia ocehkan.

__ADS_1


Mendengar itu Arcelia otomatis menoleh, tak lama ia pun kembali memalingkan tatapannya, meski awalnya ia tak berniat menyahut tapi ternyata gatal juga ia ingin menimpali ucapannya barusan.


" Ck.. Lalu apa ini, jika bukan mempermainkan namanya? " Pelan dia berkata seakan benar ingin menghemat energinya.


Terdengar Irsyad menghela napasnya berat.


" Apapun itu, yang pasti kini aku akan menjalani pernikahan ini seperti yang seharusnya! " Imbuh Irsyad dengan santai ia meraih tangan Arcelia dan kemudian menggenggamnya.


" Cih.. Kau pikir aku akan percaya! " Balas Arcelia dengan ketus sambil menepis kasar tangan Irsyad.


" Ya sudah kalau tidak percaya. " Balas Irsyad acuh, tak sedikit pun berusaha menyakinkan Arcelia. Hanya Tuhan dan dia sendirilah yang tahu, apa ucapannya itu serius atau hanya sekedar mengerjai Arcelia, tapi biar sajalah terserah dia. Tak lama dari itu ia pun membaringkan diri untuk bersiap tidur dengan posisi memunggungi Arcelia.


Arcelia yang memang tahu tabiat Irsyad, tentu saja tidak akan serta merta percaya begitu saja, karena ini bukan kali pertama untuknya mendengar Irsyad bicara seolah dengan keseriusan dan sungguh-sungguh seperti itu. Pria gila itu memang sudah tidak diragukan dalam perkara membual, ia sudah sangat kenyang ditipu dan dibodohi olehnya, sekarang cukup! Tidak lagi, akan terlalu bodoh rasanya bila ia benar-benar mempercayai ucapannya itu.


✨✨✨✨


Pagi harinya dikarenakan mereka mengambil cuti, jadilah aktivitas mereka hari ini hanya diam dan sekedar merebahkan tubuh yang ternyata masih terasa lelah dan pegal-pegal akibat acara kemarin malam. Sebenarnya, Arcelia maupun Irsyad tidak menginginkan libur seperti ini. Apalagi Arcelia yang memang gila kerja dan saat ini sedang sangat sangat disibukan oleh proyek terbarunya. Namun lagi-lagi apalah yang bisa mereka lakukan, jika orang tua mereka sudah berfatwa dan memutuskan.


Entah akan berapa lama cuti mereka ini akan berlangsung, karena baik Irsyad atau Arcelia keduanya memang tidak diberitahu akan hal itu. Mereka hanya bisa patuh dan mengiyakan saja apa kata orang tua mereka, namun entah jika nanti. Arcelia bahkan sudah merencanakan sesuatu untuk dijadikan alasan agar acara liburnya ini segera berakhir, jika hal ini sampai menguras terlalu banyak waktunya.

__ADS_1


Disini di sebuah kamar hotel, terlihat Irsyad sedang berbaring sambil terus mengotak-atik ponselnya. Entahlah apa yang sedang dia lakukan, Arcelia tidak peduli. Selama dia tidak bertingkah apalagi sampai mengganggunya, Arcelia tidak akan mempermasalahkannya. Namun, rasa jenuh ternyata mulai menghinggapi Arcelia. Ya bagaimana tidak, ini benar-benar diluar kebiasaannya, hanya duduk dan berdiam tak memiliki kegiatan seperti ini benar-benar bukan gayanya.


Setelah kira-kira 30 menit yang lalu mereka menghabiskan sarapannya, Arcelia masih tetap terduduk di sofa yang tadi ia pergunakan untuk sarapan. Bingung mau melakukan apa, hingga tak terasa sejak tadi dia hanya bisa melamun. Jengah rasanya bila harus seperti ini terus, akhirnya Arcelia pun memutuskan untuk menghubungi Devin, sang asisten untuk memintanya mengambilkan laptop dan beberapa berkas yang belum sempat dia kerjakan. Ya, Arcelia memutuskan untuk lebih baik ia kembali bekerja saja, meski hanya melalui via email atau video. Dan tentunya dengan cara sembunyi-bunyi, hingga tidak diketahui oleh orang tuanya.


" Lia.. " Panggil Irsyad sepertinya dia sudah mulai merasa bosan bermain dengan gadgetnya.


" Hmm.. " Sahut Arcelia yang sudah beberapa jam lalu fokus dengan laptop dihadapannya. Ya, setelah Devin berhasil membawa laptopnya secara sembunyi-sembunyi ke kamarnya, dengan antusias Arcelia pun langsung mengerjakan pekerjaannya.


" Kau sedang apa? " Tanyanya basa-basi karena jelas dia sudah tahu apa yang sedang Arcelia lakukan.


" Menurutmu? " Balas Arcelia santai dan tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali dari laptopnya.


" Ck.. Aku bosan! Yang benar saja, apa kita akan benar-benar berada didalam kamar ini seharian? " Lanjut Irsyad dengan mulai mengeluarkan keluh kesahnya.


" Kalau begitu, keluarlah sana! Tidak ada yang memintamu untuk tetap disini. " Malas menanggapi Irsyad, karena sudah dapat dipastikan ini akan menjadi sangat panjang.


" Kau ini bagaimana, kau tahukan diluar pasti ada Ayah, Bunda dan juga Om.. Emm.. Maksudku Dad Darwin. Lalu bagaimana aku bisa keluar? " Ucap Irsyad semakin menyebalkan, tidak tahukah dia kalau Arcelia sedang ingin fokus.


" Terserah! Urus saja sendiri. " Imbuh Arcelia dengan berlalu membawa laptopnya kearah balkon, tertanda tak ingin diganggu.

__ADS_1


" Heii.. Aku belum selesai! " Teriak Irsyad kesal melihat Arcelia meninggalkannya.


......................


__ADS_2