
" Kapan terakhir kali mendapat tamu bulanannya Mbak? Barang kali Mbak masih ingat? " Tanya seorang dokter wanita bername tag Medina itu, dia merupakan dr.Obgyn langganan Arcelia yang menangani permasalahan menstruasinya dulu dan tentu karena dia yang akan lebih tahu mengenai kondisi kesuburan dirinya hingga Arcelia pun kembali memilihnya.
Seperti yang sudah direncanakannya tadi dan demi mendapatkan hasil yang lebih akurat dan tentunya sesuai dengan yang diinginkannya, Arcelia akhirnya memilih untuk memeriksakan dirinya ke dokter kandungan. Memang terdengar aneh dan memaksa tapi itulah Arcelia, dia terlihat sangat berharap besar pada hasil pemeriksaan dokter kali ini yang semoga saja tidak akan membuatnya kecewa.
" Mengenai itu saya kurang yakin Dok, tapi kalau tidak salah kurang lebih satu bulan yang lalu Dok. Tapi, mengenai telat haid bukankah saya sudah biasa ya Dok, jadi seharusnya ini bukan salah satu pertanda itu kan Dok? " Sahut Arcelia dengan tetap keukeh menyelipkan keinginan hatinya, agar menepis hasil testnya tadi pagi yang ia yakini itu salah.
" Dari hasil pemeriksaan Mbak terakhir kali semuanya menyatakan jika kesehatan Mbak sudah baik, jadi permasalahan Mbak kemarin seharusnya tidak akan mempengaruhi hal ini. Dengan kata lain, kemungkinan untuk Mbak bisa hamil itu berpeluang sangat besar. " Ujar dokter paruh baya itu yang secara otomatis langsung membantah semua anggapan dan secuil harapan Arcelia sebelumnya.
Deg!
Wajah Arcelia seketika berubah pucat dan menegang, bukan ini jawaban yang diharapkannya. Bukan ini ucapan yang diharap akan menenangkan dirinya, ah belum apa-apa pikiran Arcelia sudah berlarian kemana-mana.
" Untuk memastikannya kita langsung melakukan testnya saja ya, Mbaknya yang tenang jangan tegang begini. Kan belum tahu juga hasilnya akan seperti apa. " Ucap dokter itu lagi sepertinya dia tahu dan menyadari akan kekhawatiran yang dirasakan pasiennya itu, hingga membuat kata-kata yang berupaya bisa sedikit mencairkan kegusarannya itu.
Masih dengan menampilkan wajah seperti sebelumnya, Arcelia tersenyum tipis sebagai respon dari ucapan dokter tersebut.
Perasaannya semakin campur aduk saja sekarang entahlah rasa takut, cemas, sedih, pasrah bahkan nelangsa sudah bersatu padu membuat dirinya sendiri sulit untuk mengekspresikan perasaannya itu.
" Aaaaa.. Bagaimana ini, Tuhan berikan yang terbaik saja untukku saat ini. Aku pasrahkan semuanya padamu. " Batin Arcelia yang tahu sepertinya sudah tidak akan ada harapan untuk dirinya, dan memilih untuk berserah diri saja pada Sang Pencipta.
__ADS_1
" Mari Mbak. " Ajak dokter itu yang akan mengambil sampel darah dan urin Arcelia untuk mengetahui kondisi kesehatannya secara umum.
Beberapa saat menunggu hingga keluarlah hasil tes yang tadi dilakukannya, meski sudah berusaha tenang sekeras apapun hal itu tetap tidak membuat Arcelia benar-benar bisa menepis rasa gelisahnya.
Dia duduk masih dengan ketegangannya, kedua tangan yang lagi-lagi terlihat gemetaran dengan cucuran keringat dinginnya menunjukan seberapa nyata ketakutan yang Arcelia rasakan saat ini. Dengan degup jantung yang seakan sudah terdengar sampai keluar, Arcelia menunggu dokter Medina menyampaikan hasil tesnya.
" Saya ucapkan selamat ya Mbak, hasil tesnya menunjukan kalau Mbak Arcelia saat ini memang positif hamil. Dan Alhamdulillah tidak ada permasalahan apapun di kesehatan Mbak, semuanya nampak normal dan baik. " Papar dokter Medina yang berlanjut dengan menjelaskan lebih detail hasil pemeriksaannya tersebut.
Bersamaan dengan itu Arcelia justru termenung dengan perasaan berkecamuknya, tubuhnya seakan terapung dan tak memiliki pijakan. Pikirannya seketika kosong, entahlah dia pun bingung harus bereaksi seperti apa akan kenyataan itu.
Bahagia'kah atau justru harus sedih karena hal ini bukan sesuatu yang direncanakannya, memiliki seorang anak memang sesuatu yang sempat dia pikirkan dan berharap suatu hari nanti mungkin bisa dia wujudkan. Akan tetapi tidak untuk saat ini, karena dia belum ada sedikitpun rencana akan memilikinya dalam waktu dekat ini.
°°°°°
Arcelia keluar dari ruangan dokter Medina setelah sebelumnya Arcelia juga melakukan USG bahkan sempat mendengarkan suara detak jantung calon baby nya itu, dari sana dia juga mengetahui jika usia kandungannya sekarang sudah menginjak minggu ke tujuh.
Arcelia bahkan sampai menangis dengan sedikit terisak-isak tadi ketika mendengar suara detak jantung anaknya untuk yang pertama kalinya, ada perasaan haru sekaligus bahagia yang tak bisa ia lukiskan ketika melihat nyawa kecil itu dilayar monitor. Namun diwaktu yang bersamaan rasa bimbang pun kian menghinggapinya, dia bingung entah bagaimana caranya ia menyampaikan berita ini pada suaminya.
Dan yang paling ditakutkannya adalah tentang bagaimana tanggapan dan reaksi Irsyad nanti ketika mengetahui bahwa dirinya kini tengah mengandung anaknya. Akankah dia bahagia dan menerima kehadirannya? Atau justru... Ah tidak, tidak Arcelia tidak ingin terlalu memikirkannya saat ini. Daripada merasa khawatir dengan reaksi Irsyad nantinya, akan lebih baik jika saat ini dia menata hatinya sendiri dan mulai belajar menerima kehadiran calon anaknya tersebut.
__ADS_1
Dikarenakan lututnya yang terasa masih lemas membuat Arcelia memilih untuk mendudukkan dirinya disalah satu kursi yang berada di lorong rumah sakit, menghela napasnya perlahan berupaya mengeluarkan perasaan-perasaan negatif yang tadi dirasakannya.
Menunduk menatap perutnya yang masih rata itu, kemudian tersenyum tipis seraya mengulurkan tangan untuk mengusapnya. Tak bisa ia pungkiri bahwa memang ada perasaan bahagia dibalik semua rasa cemas pada dirinya itu setelah pemeriksaannya tadi.
Terharu juga takjub ketika menyadari dalam tubuhnya kini tengah tumbuh sesosok nyawa kecil mungil yang sedang bergantung hidup pada dirinya, sedikit tak percaya juga jika ternyata sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ibu. Aa.. Entahlah perasaan apa ini namanya, yang jelas Arcelia merasa dada sedikit membuncah ketika mengingat hal itu.
Arcelia terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah hasil USG yang tadi didapatnya dilihat dan diusap-usapnya lagi sebuah kertas yang menampilkan gambar cikal bakal calon anaknya itu.
" Apakah seperti ini ya perasaan bahagia yang dirasakan oleh calon ibu? Benar-benar sulit diekspresikan melalui kata-kata. " Gumamnya masih setia memandangi hasil USG itu, hingga tiba-tiba suara dering ponsel mengalihkannya.
Dreet.. Dreett..
" Devin? " Gumam Arcelia mengerutkan keningnya ketika sang asisten-lah yang ternyata menghubunginya.
" Ya hallo Dev, ada apa? " Sahut Arcelia ketika sambungan telpon sudah terhubung.
" Nona pertemuan pagi ini sudah akan dimulai, Nona dimana? Apa perlu pertemuannya saya undur? " Ujar Devin memberitahu Arcelia.
" Ah iya Dev aku lupa, baiklah aku akan segera ke sana sekarang. " Sahut Arcelia cepat, bisa-bisanya ia sampai lupa akan hal itu bahkan tanpa sadar ia sudah berada cukup lama di rumah sakit ini.
__ADS_1
......................