
" Hai sayang, apa kabar? Pekan lalu kenapa tidak kemari, apa sangat sibuk ya? " Sambut Lidya ketika melihat Arcelia baru saja turun dari mobilnya lengkap dengan ritual cepika-cepiki ala mereka.
Ya, Arcelia selalu sengaja untuk pulang lebih awal ketika ia akan menyandangi rumah mertuanya.
" Kabar baik Bun, Bunda sendiri bagaimana kabarnya? Ayah dan Bunda sehat-sehatkan? " Balas Arcelia dengan mulai merangkul dan menggelayut di lengan ibu mertuanya itu.
" Ya, seperti itulah Bun. Untuk beberapa bulan ini Lia akan melangsungkan beberapa projek baru sekaligus, jadi tentu akan sedikit lebih padat dari biasanya. " Tambah Arcelia menyahuti pertanyaan Bundanya yang menanyakan keabsenan dirinya pekan lalu.
Jadi setiap akhir pekan setidaknya 2 kali dalam sebulan Arcelia maupun Irsyad akan menginap di rumah Lidya-Hardi, dan tentu hal itu atas permintaan kedua orang tuanya itu. Tak peduli sesibuk dan sepadat apapun kegiatan anak-anaknya, baik Lidya maupun Hardi sangat menekankan hal itu.
Yang jelas dalam satu bulan jangan sampai mereka los dan tidak bertemu, bukannya egois dengan memaksakan hal itu pada mereka hanya saja Lidya yang memang kesepian semenjak Irsyad dan Arcelia pindah rumah ditambah Erwinda putri bungsunya itu belum lantas pulang juga.
Hingga mau tak mau Arcelia dan Irsyad-lah yang menjadi sasarannya, meski begitu Lidya bersyukur karena anak-anaknya itu mau mengerti bahkan meluangkan waktu mereka ditengah padatnya kesibukan dan tuntutan pekerjaan mereka.
" Kami sangat baik, sayang. Apalagi jika dikunjungi seperti ini lebih sering, uh.. Rasanya Bunda akan sangat sehat dan bahagia. " Seloroh Lidya yang disambut tawa oleh keduanya.
"Haha.. Iya Bun, akan Lia usahakan. " Seraya mereka melangkah memasuki rumah, ya nanti malam Lidya mengadakan acara keluarga dimana keluarga dari pihak suaminya dan dirinya akan turut hadir. Untuk tujuan dan alasan diadakannya jujur saja Arcelia kurang tahu dan tidak tertarik juga untuk bertanya dan mencari tahu.
Setelah sebelumnya Arcelia sempat pamit untuk membersihkan dan menyegarkan dirinya terlebih dahulu. Kini dia juga sang mertua tengah bercengkrama dan melepas rasa rindu mereka satu sama lain.
" Oh ya nak, bagaimana kabar Daddy-mu Bunda dengar dia kini kembali negera A ya? " Tanya Lidya memulai perbincangan mereka mengenai besannya yang dikabarkan memilih tinggal kembali diluar negeri tepat beberapa bulan setelah pernikahan anak mereka.
" Daddy baik Bun, ya dia memutuskan untuk kembali ke sana. Padahal aku sudah mencoba untuk melarangnya, tapi yaa mau bagaimana lagi Daddy selalu saja beralasan harus mengurus perusahaan yang ada di sana. " Ucap Arcelia dengan lirih dan sedikit sendu karena harus berjauhan lagi dengan Daddynya.
__ADS_1
" Tidak papa jika dia memang merasa nyaman di sana, kamu tidak perlu merasa sedih begitu. Bukankah ada Bunda dan yang lain disini, kami juga keluargamu sayang. " Hibur Lidya bagaimana pun dia sangat tahu betapa dekat dan bergantungnya menantunya itu pada Daddynya.
" Hmm iya Bun, terima kasih karena sudah selalu ada untuk Lia. " Dipeluknya ibu mertua terbaiknya itu, yang selalu saja menguarkan rasa hangat dan nyaman ketika ia peluk.
Merasa suasana berubah menjadi sendu, Lidya pun berinisiatif untuk mengalihkan pembicaraan mereka pada hal lain. Dan memang kebetulan ada beberapa hal yang ingin ditanya dan bahas bersama menantunya itu.
" Emm.. Ngomong-ngomong bagaimana sekarang sayang, apa sudah ada tanda-tanda? " Lidya memberikan pertanyaan yang sudah sangat ia tunggu jawaban gembira tentangnya, bahkan kini tangannya sudah terukur menyentuh dan mengelus perlahan perut rata menantu kesayangannya itu.
Deg
Seolah langsung tersadar dari situasi sebelumnya, mendapat pertanyaan dan perlakuan demikian tentu saja tubuh Arcelia langsung menegang dan secara reflek ia menelan ludahnya dengan susah payah. Entahlah akan bagaimana setelah ini, pikirannya seakan langsung blank dan ia mulai diserang rasa bingung.
" Jawaban apa yang sebaiknya aku berikan pada Bunda sekarang? Apa iya aku harus menjawab yang sebenarnya saja, dengan mengatakan kalau aku akan menunda memiliki anak?! " Bimbang Arcelia dengan menggigit bibir bawahnya bingung.
" Ya Tuhan, tolong aku. Aku harus bagaimana sekarang? " Batin Arcelia menjerit.
" Bunda do'akan saja ya.. Semoga secepatnya dia segera hadir. " Ucap Arcelia akhirnya dengan yakin sambil meniru yang Lidya lakukan tadi, mengusap dan mengelus perutnya sendiri.
Dia tidak sadar saja, bahwa ucapannya itu nanti akan menjadi hal yang sangat dia sesali nantinya. Bukankah ucapan adalah do'a?
" Ah iya, Aamiin sayang! Bunda tunggu ya kabar baiknya darimu. " Seru Lidya dengan riang berbanding terbalik dengan Arcelia yang justru terlihat ketar-ketir dengan wajah piasnya ketika ia teringat sesuatu.
Ketika hari beranjak semakin petang, mereka pun memilih mengakhiri perbincangan mereka. Tak lupa Lidya pun meminta Arcelia untuk segera bersiap karena tepat pukul 19.00 malam nanti para tamu undangannya akan mulai berdatangan.
__ADS_1
Namun bukannya melakukan apa yang mertuanya tadi minta, saat ini Arcelia justru terlihat sangat gelisah bahkan keduanya tangannya pun terlihat gemetar dan mulai berkeringat.
Dia takut, bahkan sangat ketakutan sekarang. Bagaimana tidak, karena dengan bodoh dan cerobohnya dia malah lupa untuk meminum alat kontrasepsi yang tempo hari dia minta belikan pada Mbok Yem.
" Aaaaaaa bodoh! Bodoh! Bodoh! " Makinya pada dirinya sendiri, karena kesibukannya ia bahkan sampai melalaikan hal sepenting ini.
Dicarinya benda kecil itu didalam tasnya, semoga saja benda itu memang berada di sana. Karena jujur saja, ia sendiri sudah lupa dimana ia meletakkan benda itu.
" Ah.. Tidak ada! " Gumamnya sambil membanting tas bermereknya itu sembarangan, bahkan semua isi tasnya itu sudah berhamburan di atas ranjang karena ia obrak-abrik tadi.
Terduduk dengan lesu dipinggiran ranjang masih dengan pikiran yang berkecamuk, kini bahkan bukan hanya tangan saja yang berkeringat dan gemetar tapi tubuhnya pun terlihat terguncang saking panik dan takutnya.
" Sebentar, sekiranya aku meminumnya sekarang pun rasanya itu tidak akan berguna. Kemarin seharusnya aku membeli pil penunda kehamilan darurat, ahh.. Kenapa tidak terpikirkan sih sebelumnya! " Kesal Arcelia membanting guling tak bersalah disebelahnya, dia merasa menjadi orang paling bodoh sekarang.
" Dan sialnya lagi, aku bahkan sudah melakukan dua lagi dengannya. " Bibir Arcelia bergetar ketika tersadar bahwa kemungkinan hal itu semakin besar sekarang, tidak, tidak Arcelia belum siap untuk itu..
Dengan tergesa Arcelia berganti pakaian dan bersiap untuk pergi ke suatu tempat terlebih dahulu, sebelum tamu-tamu ibu mertuanya itu tiba dan membuatnya tertahan tak bisa kemana-mana.
Namun,...
" Ah sayang, Akhirnya kau turun juga. Kemarilah kenalkan ini tante Mei, dia sudah menunggumu sejak tadi. " Seru Lidya tepat ketika melihat Arcelia sudah berhasil menjejakkan kakinya di ruangan itu.
" Aaaaa! Kenapa harus sekarang sihh! " Pekik Arcelia dalam hati karena lagi-lagi ia harus gagal untuk memperbaiki kebodohan terbesarnya itu.
__ADS_1
......................