
Setelah kemarin mereka melakukan penolakan untuk pergi honeymoon, kini baik Irsyad maupun Arcelia sedang mengemas pakaian dan barang-barang pribadi mereka ke dalam koper. Mereka memutuskan untuk check-out pagi hari ini, belum ditentukan kemana mereka akan pulang karena sejak tadi keduanya masih bersikeras dengan keinginannya masing-masing.
Arcelia memilih untuk tinggal di rumah Daddynya dengan alasan bahwa dia merasa khawatir membiarkan Daddynya tinggal sendiri, namun disisi lain Irsyad pun berkeinginan untuk menetap di rumah kedua orang tuanya karena jarak rumah tersebut lebih dekat dengan kantor tempat ia bekerja. Hingga terjadi kembalilah percekcokan diantara keduanya yang sama-sama tak ingin mengalah.
" Sudah ku putuskan, kita akan tinggal di rumah Bunda. " Tegas Irsyad sambil menutup kopernya dan menarik resleting sebagai tanda dia sudah selesai berkemas.
" Tidak bisa seperti itu dong, aku juga berhak memilih dan menentukannya. " Tolak Arcelia merasa keberatan dengan ucapan Irsyad.
" Seharusnya kau sadar, disini aku kepala keluarganya. Jadi akulah yang berhak menentukan segala sesuatunya. " Dengan santai ia memainkan ponselnya sambil menunggu Arcelia selesai berkemas.
" Alah.. Kepala keluarga apanya yang seperti itu. " Gerutu Arcelia dengan pelan, kemudian kembali berucap " Tapi tidak seperti itu juga! Kau seharusnya bisa mempertimbangkan keinginanku juga. Kalau aku tinggal di sana, lalu bagaimana dengan Daddy-ku? Apa kau tidak kasihan dengannya? Dia sendirian Irsyad, sendirian! " Arcelia dengan dramatis berharap bisa membujuk dan mengubah keputusan Irsyad.
"Coba kamu pikirkan lagi, jika kita tinggal dengan Daddy kita tidak harus mengkhawatirkan kedua orang tuamu karena mereka memang selalu bersama. Tapi Daddy-ku? Bayangkan dia tidak punya siapa-siapa selain aku. " Tambahnya masih berupaya membuat Irsyad goyah. Bukanya dia tidak bisa menolak atau tetap mempertahankan keinginannya, namun mau bagaimana pun Arcelia sadar jika kini hidupnya sudah terikat dengan pria itu. Dan mau tak mau ia juga harus mulai menerima bahwa dia adalah memang suami dan kepala keluarga yang harus ia patuhi, yaah walaupun itu memang akan sangat sulit baginya.
" Sudah cepat selesaikan saja kau kemas barangmu, melakukan itu saja lama sekali. Aku tunggu kamu di lobi. " Cibir Irsyad sambil menyeret kopernya keluar tanpa mau sedikitpun membalas ucapan Arcelia.
" Tunggu dulu! " Teriak Arcelia sambil mencegat langka Irsyad.
__ADS_1
" Apa lagi? " Tanya Irsyad dengan malas ia menatap Arcelia.
" Katakan dulu, kalau kita akan tinggal di rumah Daddy. " Pinta Arcelia sambil memegang lengan pakaian yang dikenakan Irsyad.
" Ayo.. Katakan! " Paksa Arcelia dengan mengguncang lengan Irsyad ketika lawan bicaranya hanya diam saja.
" Tidak akan! Sudah cepatlah, kalau tidak terpaksa aku akan meninggalkanmu disini. " Tolak Irsyad sambil menepis tangan Arcelia dan kemudian melenggang pergi meninggalkan kamar tersebut.
" Irsyaaadd! " Teriak Arcelia saking kesalnya dengan penolakan yang Irsyad lakukan.
.
.
.
" Daddy.. Aku akan tinggal denganmu! " Ujar Arcelia sambil merangkul lengan ayahnya posesif. Dia berpikir dengan melakukan hal ini maka Irsyad pun tidak akan bisa memaksa dirinya lagi, karena dia sudah lebih dulu mengatakan keinginannya didepan mereka.
__ADS_1
" Bukankah kamu dan Irsyad sudah memutuskan akan tinggal di rumah mertuamu? " Heran Darwin mendengar perkataan putrinya, karena baru saja beberapa saat lalu mereka membicarakan hal tersebut dengan Irsyad. Dan Irsyad bilang bahwa dia dan Arcelia telah setuju untuk tinggal di rumah Hardi-Lidya, dan Darwin tidak terlalu mempermasalahkan hal itu dia setuju-setuju saja karena menurutnya mereka tinggal dengannya ataupun dengan besannya itu sama saja.
" Oh benarkah? " Kejut Arcelia yang diluar dugaannya ternyata ia kalah cepat dari Irsyad.
" Ah sial.. Ternyata dia sudah mencetak skor terlebih dulu. Huh.. Awas saja dia! " Gerutu Arcelia dengan kesal menatap Irsyad yang sedang menahan tawa.
" Lihat wajah bodohnya itu.. Haha aku benar-benar ingin tertawa sekarang. " Irsyad dengan sekuat tenaga menahan gelaknya agar tak mengudara.
" Iya nak, baru saja Irsyad mengatakannya pada kami. Melihat dari reaksi mu, Bunda jadi ragu apa benar kalian sudah mendiskusikannya? " Tanya Lidya menatap penuh selidik pada anak dan menantunya secara bergantian.
Meski ditatap seperti oleh orang tuanya tak membuat Irsyad lantas mengiyakan ataupun menyangkal keraguan sang ibu, kini dia justru tengah menunggu kalimat apa yang akan selanjutnya Arcelia ucapkan sebagai pembenarannya.
" Be.. Benar kok Bun tadi kita memang sudah membahas hal ini, hanya aja Lia yang lupa. Hhehe " Jawab Arcelia seraya meraba leher bagian belakangnya, mungkin karena saking salah tingkahnya dia. Dan hal itu justru semakin membuatnya terlihat sangat bodoh dimata Irsyad. Sedang Irsyad sendiri hanya menghela napas ringan mendengarnya, tanpa berkeinginan untuk membahas lebih lanjut persoalan ini. Biarlah si pembuat onar itu memperbaikinya sendiri, kira-kira begitulah arti tatapan Irsyad pada Arcelia saat ini.
" Aaaaa.. benar-benar menyebalkan kenapa jadi begini. Apa sekarang aku akan jadi mengikuti keinginannya? Ah.. Aku tidak terima! " Gerutu Arcelia yang belum rela dengan kenyataan bahwa ia kalah dari Irsyad.
Terlepas dari pembahasan itu kini Irsyad jadi semakin tahu dimana letak kelemahan seorang Arcelia. " Ada satu hal lagi kebodohan tentangmu yang kutahu sekarang, dibalik kepintaran mu itu ternyata masih banyak hal bodoh yang tersembunyi di sana ya.. " Gumam Irsyad dalam hati kala menunggu yang lain masih asik berbincang sebelum akhirnya berpamitan pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
......................