Mengandung Anak Musuhku

Mengandung Anak Musuhku
56. Irsyad marah


__ADS_3

Setelah selesai berbicara dengan dokter dan begitu masuk ke ruang rawat Arcelia, Irsyad dibuat terkejut bukan main. Dilihatnya ranjang yang tadi menjadi tempat istrinya itu berbaring sekarang terlihat kosong, tidak ada siapapun di ruangan itu.


Irsyad panik, kemana kiranya istrinya itu pergi? Dan yang membuatnya begitu panik dan risau sekarang adalah bukankah istrinya itu belum diperbolehkan dulu untuk banyak bergerak, apalagi sampai berpergian sendiri seperti ini?


Tak ingin terlalu banyak menduga dulu, Irsyad pun memilih untuk meringsek masuk lebih dalam lagi untuk memastikan keberadaan Arcelia. Tapi belum sempat ia berpikiran yang lain dan melakukan sesuatu hal, bertepatan dengan itu tiba-tiba saja pintu kamar mandi pun terbuka dan muncullah sosok yang sudah membuatnya sangat panik dan sport jantung itu.


Terlihat di sana istrinya itu sedang sangat berusaha berjalan dengan pelan dan hati-hati, hingga membuat siapapun yang melihatnya itu ikut meringis merasa khawatir dan perihatin melihat kondisinya itu.


Melihat hal itu sontak saja Irsyad yang diliputi kekhawatiran dan rasa cemas itu semakin meradang dan marah dengan tindakan nekat dan lagi-lagi kecerobohan istrinya itu.


" ARCELIA!! APA YANG KAU LAKUKAN?!! " Teriak Irsyad sampai menggema memenuhi seisi ruangan rawat inap itu.


Dengan langkah lebar dan tergesa Irsyad segera melangkah menghampiri Arcelia, tanpa banyak kata lagi Irsyad merengkuh tubuh Arcelia hingga seketika membuatnya kini berada dalam gendongannya.


Mendudukkan Arcelia kembali di atas ranjang dengan perlahan dan hati-hati, masih dengan wajah merah padam menandakan amarahnya yang masih begitu besar Irsyad menatap Arcelia dengan tajam.


" Kau bodoh atau bagaimana?! Kenapa malah turun dari ranjang? Jika kau ingin ke kamar mandi, kenapa tadi tidak bilang saja padaku? Jika tadi kau mengatakannya, aku mungkin tidak akan pergi dan menemui dokter. Aku pasti akan lebih mendahulukan mu dulu! " Irsyad berbicara dengan sedikit lebih keras dari nada bicaranya yang biasa, dia terlihat begitu kesal dan marah.

__ADS_1


Arcelia hanya diam melihat dan mendengar kemarahan Irsyad, dia masih terkejut dan terlihat masih berusaha mencerna keadaannya.


" Kau selalu saja bertingkah seenaknya Lia, kau egois! Kau terlalu mementingkan dirimu sendiri, selalu berusaha mengedepankan semua keinginanmu sendiri! Bisakah untuk sekali ini kau berhenti? Ingat kondisimu, jangan egois!! " Akhirnya keluarlah segala unek-unek yang sejak sebelumnya berusaha ia tahan dan ia maklumi, Irsyad yang kecewa dengan Arcelia yang masih dengan kebiasaan buruknya sejak dulu. Aecelia yang selalu tak mampu untuk sekedar membagi waktunya antara pekerjaan dan menjaga kondisi kesehatannya.


Ya, itulah yang Irsyad sangat sayangkan. Bahkan dalam kondisinya yang kini sedang hamil sekalipun Arcelia masih berperilaku sama, bukankah karena hal itu yang membuatnya sampai harus mengalami pendarahan dan berada disini sekarang?


" Aku sudah berusaha sabar dalam menghadapi mu sejak kemarin, menuruti dan memenuhi semua yang kau minta dan inginkan! Berusaha untuk mengerti dan memahamimu! Aku tahu, aku salah Lia! Aku tahu apa yang aku lakukan kemarin itu tidaklah benar, kau marah? Kau kecewa? Aku menerimanya, dan oleh karena itu juga sekarang aku sedang berusaha memperbaikinya. Menebus semua salah dan kebodohanku kemarin, tapi Lia.. Kau tidak bisa terus seperti ini! Apa kau sadar, jika kau juga sebenarnya salah, semua ini tidak akan terjadi jika seandainya kau bisa menjaga dirimu sendiri!! " Tekan Irsyad lagi rasanya kesabarannya itu sudah habis kali ini. Meski sudah begitu berusaha keras untuk bersabar dan menekan egonya sendiri, nyatanya untuk kali ini dia tak bisa lagi.


" Irsyaaaaaddd!! Cukup! Kau tidak tahu semuanya, kau tidak mengerti aku!! " Teriak Arcelia tak terima, sejak tadi dia sudah ingin menyela dan sudah tak tahan mendengar semua ucapan Irsyad yang seakan semakin menyudutkan dirinya saja.


" Tidak bisakah kau diam dan beristirahat, hmm? Hentikan semua ambisimu itu sesaat ini saja?! Demi anak kita? Demi nyawa kecil yang kini sedang berjuang dan tumbuh didalam rahimmu itu?! " Ucap Irsyad yang kini sudah mulai terdengar pelan dan luluh, nyatanya dia tetap tak tega untuk memarahi Arcelia kembali apalagi ketika kini melihat kedua bola mata istrinya itu sudah mulai berkaca-kaca.


Sekuat tenaga Irsyad berusaha mengendalikan rasa marahnya itu, terlihat dia yang mulai mengatur deru napasnya yang tadi sempat melonjak naik itu. Terlebih kini suara isak tangis Arcelia mulai terdengar di indra pendengarannya, hufft.. Apa sudah keterlaluan kah dirinya tadi?


" Hiks.. Hikss... " Terdengar Arcelia menangis karena begitu kesal dan sedikit sakit hati oleh ucapan Irsyad padanya. Ya, tanpa perlu Irsyad berkata seperti itupun dirinya sadar bahwa dia salah dan mengakuinya karena terlalu mengedepankan perasaannya yang kesal juga marah akan Irsyad yang pergi begitu lama dan tanpa mengabarinya.


Arcelia melakukan semua itu karena ingin mengalihkan kekecewaan dan perasaan kesalnya pada Irsyad, dia memilih menyibukkan dirinya demi bisa lupa dan tidak terus dicokoli oleh rasa sakit hatinya. Dia sama sekali tidak bermaksud egois dan membahayakan selamatan bayinya, sama sekali tidak! Mana mungkin bukan, ada seorang ibu yang akan dengan sengaja melakukan hal itu?

__ADS_1


" Ya! Aku tahu aku salah! Dan aku yang paling bersalah disini, bukan?! " Ucap Arcelia dengan suara serak yang tenggelam oleh isak tangisnya.


" Kau akan dengan mudah saja menyalahkanku, tanpa benar-benar mau tahu apa yang aku rasakan! " Tambah Arcelia kali ini dengan menatap Irsyad dengan tatapan penuh kepedihan, Irsyad yang melihat hal itupun seketika hatinya mencelos.


Dengan segera ia rengkuh tubuh Arcelia yang saat ini terasa bergetar karena menahan isak tangis itu kedalam pelukannya.


" Sstt.. Kau ini sebenarnya kenapa, aku tidak berkata seperti itu tadi. Bukankah tadi aku juga mengatakan bahwa aku pun salah? Aku tidak bermaksud untuk menyalahkanmu. " Irsyad jadi bingung sendiri bagaimana caranya menenangkan istrinya yang kini sudah menangis tersedu itu.


" Ck, lepaskan aku! Tidak perlu kau menyentuhku! " Arcelia terlihat berontak dalam pelukan Irsyad, namun Irsyad nampaknya tak menghiraukan penolakan Arcelia itu. Dia masih terus memeluknya seraya mengelus punggung wanita itu berharap dengan hal itu Arcelia bisa kembali tenang dan menghentikan tangisannya itu.


Masih dengan suasana yang dipenuhi dengan suara tangisan Arcelia, tiba-tiba saja pintu ruang rawat terbuka. Dan sesaat setelahnya, muncullah Lidya dengan diikuti seorang dokter dan perawat yang akan melakukan pengecekan pada Arcelia.


" Irsyad! Apa yang kamu lakukan apa menantuku!? " Lidya yang terkejut melihat Arcelia menangis pun segera melangkah mendekati mereka dan tanpa lupa mencecar putranya yang dapat ia tebak menjadi penyebab dari tangisan Arcelia itu.


" Bundaa... " Mendengar suara Lidya seketika Arcelia mendorong Irsyad dan mulai merengek pada Lidya seakan-akan dirinyalah anaknya.


......................

__ADS_1


__ADS_2