
Pagi-pagi sekali di kamar tidur milik Irsyad dan Arcelia, terlihat seorang perempuan cantik sudah terbangun sejak tadi. Entah apa yang tengah dilakukannya pagi-pagi buta seperti ini, sejak tadi dia terlihat begitu gelisah, berjalan mondar-mandir dengan tak tentu arah sesekali dia juga melirik pada laki-laki yang masih setia memejamkan matanya di atas ranjang.
Berjalan ke kiri dan ke kanan seolah tidak pernah merasakan lelah, sesekali dia juga terlihat mengelus-elus perutnya yang mulai membuncit itu dengan sayang.
Merasa bimbang, ya dia sedang merasa bimbang antara membiarkan suaminya itu pergi atau ia harus menahannya. Namun, layakkah jika ia sampai menahannya untuk pergi? Dan dengan alasan apakah kiranya harus menahannya?
Aaaaah.. Kenapa harus begini sih! Arcelia bahkan bingung sekarang, entah ia kesal dan marah karena kepergian Irsyad atau justru marah karena sekarang ia ternyata sudah begitu bergantung dan sangat membutuhkan kehadiran laki-laki itu disampingnya.
" Tidak, tidak! Ini semua karena aku sedang mengandung sekarang. Ini bukan karena aku, bukan juga atas keinginanku, tapi bayiku ini yang selalu menginginkan kehadirannya. Bukan aku! " Gumam Arcelia menemukan alasan dibalik perasaan gelisah-nya saat ini.
" Aduh sayang, jangan seperti ini Mommy jadi bingung kan harus melakukan apa sekarang. " Ujarnya yang ia rujuk untuk janin didalam rahimnya itu, dielus dan diusapnya perut buncitnya itu dengan pikiran yang berlarian kemana-mana.
" Ah bagaimana ini? " Gumam Arcelia lagi seraya menghempaskan tubuhnya ke sofa, lelah dan pegal juga ternyata hanya dengan mondar-mandir seperti itu.
Meski kini tubuhnya hanya terduduk diam, bukan berarti seperti itu juga dengan kepalanya yang kini terus berputar sampai rasanya Arcelia sendiri merasa cukup pusing tak juga mendapat pencerahan.
" Ck, lagipula tega sekali sih dia mau meninggalkanku pergi seperti ini disaat kondisiku begini! " Gerutu Arcelia sebelum akhirnya berakhir melamun memikirkan nasibnya nanti, tangannya tanpa henti terus terulur dan mengelus-elus perutnya.
Dan tanpa disadarinya waktu terus bergerak, bahkan Irsyad sendiri pun terlihat mulai mengerjapkan matanya dan bangun dari pembaringan seraya merenggangkan otot-otot tubuhnya. Beberapa saat terdiam mengumpulkan kesadaran, hingga tatapannya tak sengaja melihat Arcelia yang duduk termenung dengan tatapan kosongnya.
" Sedang apa dia di sana? Ck, pagi-pagi begini sempat-sempatnya dia malah bengong seperti itu! " Gumam Irsyad beranjak dari ranjang dan mulai melangkah mendekati Arcelia seraya menegurnya.
" Hei.. Sedang apa kau disini? " Tegur Irsyad yang seketika membuat Arcelia terjengkat kaget.
Namun, sebelum ikut mendudukkan dirinya di samping Arcelia dia tersadar dan menduga jika mungkin saat ini istrinya itu sedang menginginkan sesuatu, ya semacam ngidam gitu. Pasalnya dia melihat sejak tadi Arcelia terus saja mengelus perutnya, terlebih selama kehamilannya ini Arcelia jarang sekali mengatakan atau meminta sesuatu.
__ADS_1
Irsyad yang sebagai suami dan calon ayah dari janin yang dikandungnya saja sampai tidak pernah tahu apa yang diinginkannya itu, entah istrinya itu mengalami yang namanya ngidam atau tidak. Itu saking tidak pernahnya Arcelia meminta sesuatu, atau mungkin juga karena jika pun Arcelia menginginkan sesuatu dia masih dapat membeli dan memenuhinya sendiri.
Ya, jujur saja sebenarnya Irsyad sedikit kecewa jika sampai benar Arcelia memenuhi semua keinginannya itu sendiri. Sebagai suaminya dia merasa tak berguna dan tidak dimanfaatkan dengan baik, padahal dia akan senang-senang saja jika harus mengabulkan keinginan calon anaknya itu.
Terlihat kini Arcelia beralih mengelus dadanya akibat terkejut dengan teguran Irsyad barusan, dan Irsyad yang sudah duduk bersebelahan dengan Arcelia pun mengulurkan tangannya ikut mengelus perut buncit istrinya seraya menatap istrinya dan bertanya.
" Apa kau sedang menginginkan sesuatu? Apa kau mengidam saat ini? " Tanyanya menatap kedua bola mata istrinya dengan lembut.
" Hahh?! " Arcelia yang tak paham apa maksud dari pertanyaan Irsyad yang tiba-tiba itu dibuat tercengang dan merasa aneh. Ditambah lagi tatapan Irsyad yang tak biasa itu entah mengapa tiba-tiba membuat dirinya berdebar.
Segera dia alihkan tatapannya agar tidak bertemu dengan mata Irsyad yang masih setia menatapnya itu.
" Ti..tidak, aku tidak sedang mengidam ataupun menginginkan sesuatu! " Jawab Arcelia dengan sedikit tergagap.
" Tidak! Ka..kau itu sebenarnya kenapa sih, terus bertanya hal-hal aneh seperti itu? Aku tidak apa-apa, tidak perlu bersikap aneh begini. " Ucap Arcelia dengan hati sudah dag dig dug tak menentu, kenapa Irsyad terus bersikap manis begini pagi ini?
" Lalu katakan, apa yang menjadi alasanmu melamun di pagi hari begini? Kau sedang ada masalah di kantor atau apa heh?! " Tanya Irsyad lagi yang masih belum puas dengan jawaban dari Arcelia tadi, dia tidak mau Arcelia terlalu banyak pikiran hingga akan berakibat buruk pada kondisi kandungannya.
Arcelia menghela napas, berpikir bagaimana cara membuat Irsyad berhenti bertanya dan memberikan jawaban yang tepat tanpa mengatakan apa yang sebenarnya ia pikirkan tadi.
" Aku hanya terbangun lebih pagi saja tadi dan bingung harus melakukan apa karena tak bisa kembali tidur. " Sahutnya dengan menampakkan wajah yang menyakinkan.
" Oh ya, ngomong-ngomong kau jadi pergi hari ini? " Arcelia berusaha mengalihkan pembicaraan agar tidak merembet kemana-mana, juga agar ia tak terlalu tampak jika sedang merasa keberatan dengan kepergian Irsyad itu.
" Ya, tentu saja. Dan sekarang aku harus segera bersiap, terlebih aku juga akan pulang dulu ke rumah untuk mengambil beberapa barang sebelum akhirnya berangkat. " Sahut Irsyad kembali antusias ketika mengingat hal itu lagi.
__ADS_1
" Oh, kalau begitu aku ikut! " Sambar Arcelia tiba-tiba begitu Irsyad baru menyelesaikan ucapannya.
" Hah, ikut?! Apa kau sudah gila, mau ikut pergi denganku? " Kejut Irsyad bahkan suaranya sudah menyerupai pekikan saking ia terkejutnya. Namun, Arcelia justru mengerutkan keningnya bingung.
" Lia apa kau sadar heh, lihat dirimu! Lihat perutmu itu, kau mau ikut denganku ke sana dengan keadaanmu ini heh?! " Lanjut Irsyad dengan mata yang seakan siap untuk keluar.
Mendengar itu Arcelia terkejut juga balik menatap Irsyad aneh.
" Hah? Kau yang benar saja, Irsyad. Apa kau kira aku akan ikut pergi mendaki gunung bersamamu dalam kondisiku yang seperti ini?! Aku masih waras Irsyad! " Balas Arcelia dengan tak kalah sewotnya, ia kaget dan baru mengerti jika ternyata Irsyad salah tangkap akan maksud perkataannya tadi. Ah, pantas saja dia sampai marah begitu.
" Maksudku tadi, aku akan ikut pulang bersamamu karena aku juga perlu membawa berkas-berkas untuk meeting-ku hari ini! " Jelasnya karena memang Arcelia tidak membawa mobil miliknya, kemarin dia pergi bersama Irsyad ke sini.
" Ooh itu, makanya bicara yang jelas dan jangan setengah-setengah begitu. " Sahut Irsyad dengan suara yang kembali pelan dan terdengar meluluh.
" Justru kau yang seharusnya mendengar dengan baik, jangan asal sewot seperti tadi! " Arcelia tak mau kalah.
......................
Sertakan selalu
Like
Komen
Vote dan Hadiahnya yaaa🤗💖💖💖
__ADS_1