
" Oke, sampai disini pertemuan kita kali ini. Semoga untuk kedepannya kita bisa menjalani hubungan dan bekerja sama dengan baik. " Ucap Arcelia menutup meetingnya pada siang hari ini, pertemuan yang seharusnya dilakukan pagi hari itu akhirnya dimundurkan menjadi siang hari secara mendadak.
Ya, tentu saja semua ini terjadi akibat dari peperangan yang Arcelia dan Irsyad lakukan pagi hari tadi.
Meski begitu, Arcelia bersyukur karena kesepakatan kerja sama dengan rekan barunya itu tetap terjadi dan berjalan dengan lancar tanpa terkendala sesuatu apapun.
" Terima kasih juga sudah memberi kami kesempatan untuk bekerja sama dengan anda, Nona. " Ujar pria muda yang mana adalah rekan baru Arcelia.
" Karena waktu sudah beranjak siang, bagaimana kalau kita sekalian pergi makan siang bersama, Nona Arcelia? " Ajak pria tersebut ketika mereka sudah meninggalkan ruang rapat.
Arcelia nampak berpikir, hingga tak lama ia pun mengangguk mengiyakan ajakan pria tersebut. Tidak sopan rasanya jika ia langsung menolak ajakan pertama kali dari kliennya itu.
" Hmm.. Boleh, kira-kira dimana baiknya kita akan makan siang Tuan Richard? " Tanya Arcelia balik meminta pendapat dari tamunya yang ternyata bernama Richard itu.
" Saya dengar disekitar sini ada sebuah restoran yang terkenal cukup enak, bagaimana jika kita makan siang di sana saja? " Usul Richard yang teringat sebuah restoran yang cukup membuatnya pernah dilanda penasaran.
" Tentu, baiklah kita ke sana sekarang. " Putus Arcelia.
Dan akhirnya mereka pun pergi untuk makan siang bersama, dengan tetap ditemani asisten mereka masing-masing.
Sesampainya di sana, mereka segera menuju pada sebuah meja yang beberapa saat sebelumnya sudah mereka reservasi.
" Silahkan Nona Arcelia. " Ujar Richard yang membantu menarikan sebuah kursi untuk Arcelia dan mempersilahkannya duduk di sana. Perlakuan yang cukup manis, bagi seseorang yang baru saja saling kenal.
Namun, Arcelia tak ingin terlalu menghiraukannya, ia memilih langsung saja duduk di sana dan tak lupa untuk mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Acara makan siang mereka pun berjalan dengan semestinya hingga tiba-tiba..
" Maaf Nona.. " Sela Richard yang secara tiba-tiba membantu menyeka noda saus disekitar bibir Arcelia.
Arcelia tentu saja terkejut dengan tindakan Richard tersebut, meski sebenarnya ia sudah terbiasa diperlakukan dan menghadapi rekan-rekan kerja prianya yang selalu bersikap manis dan memberikannya perhatian yang terbilang berlebihan jika mengingat mereka hanya sekedar rekan bisnis.
Namun, tindakan Richard kali ini benar-benar membuat Arcelia tertegun saking terkejutnya. Bila selama ini dia akan bersikap santai dan cuek saja, bahkan tak jarang ia tidak akan perduli sama sekali dengan segala sikap dan tindakan manis dari para rekannya.
Akan tetapi kali ini nyatanya berbeda, selain karena tindakan Richard yang memang sudah melampaui juga secara tiba-tiba dada Arcelia yang dengan tidak tahu dirinya berdesir akan perlakuan Richard tersebut.
Ya, kalau boleh jujur Richard adalah sosok sempurna yang selama ini selalu diidam-idamkan oleh Arcelia. Baik secara fisik, gestur bahkan pola pikirnya itu adalah gambaran nyata dari semua kriteria yang Arcelia inginkan. Boleh dikatakan bahwa Richard adalah 99% tipe pasangan ideal yang diimpikannya, namun sayang seribu sayang baru kali ini bisa dia temukan sosok itu.
Terlepas dari semua itu, Arcelia hanya ingin dan akan bersikap profesional dan seperti biasanya. Dia tidak ingin semua ini akan mengganggu dan merusak jalannya sebuah kerja sama diantara mereka, ditambah lagi ini memang sudah tak pantas untuk dirinya rasakan mengingat kini dia sudah berstatus sebagai istri seseorang.
Untuk menghilangkan kecanggungan yang tercipta karena insiden tersebut, Arcelia pun mengalihkan situasi dengan mengajaknya membicarakan beberapa topik mengenai proyek yang akan segera mereka garap bersama nantinya. Tak jarang perbincangan merekapun merembet pada hal lainnya, karena ternyata mereka juga memiliki banyak kesamaan sehingga membuat percakapan mereka makin seru. Dan jangan lupa sebelumnya Arcelia pernah bilang'kan, jika dia memang sangat menyukai cara pandang dan berpikir Richard mengenai caranya melihat dan memandang dunia.
" Menakjubkan! Cantik, cerdas dan wanita yang sempurna. Sangat disayangkan, dia sudah lebih dulu dimiliki oleh orang lain. " Ucap Richard tanpa melepas pandangannya dari Arcelia yang mulai menjauh darinya.
" Benar Tuan, anda sangat terlambat dalam menemukannya. " Sahut Asisten Richard yang setuju dan dapat melihat betapa serasinya sang atasan dengan wanita cantik yang baru mereka temui itu.
°°°°°
" Hmm.. Nona... " Ujar Devin yang terlihat ragu untuk bertanya pada atasannya itu.
" Iya, ada apa Dev? " Sahut Arcelia sangat menikmati perjalanan mereka yang akan kembali ke kantor, tidak seperti biasanya yang akan memberenggut ketika jalanan macet seperti sekarang ini.
__ADS_1
" Maaf sebelumnya Nona, saya lihat sepertinya anda sangat senang menjalin kerja sama dengan Tuan Richard. " Ungkap Devin yang akhirnya memberanikan diri bersuara, jujur saja dia dibuat heran dengan mood Nona mudanya hari ini.
Bukannya menyahuti ucapan Devin, Arcelia justru tersenyum dengan kedua pipi yang bersemu merah. Entahlah apa yang dipikirkannya saat ini.
Dan karena tak ada sahutan, Devin pun kembali melanjutkan berbicaranya.
" Saya juga lihat sepertinya anda juga cukup menyukainya Nona. " Lanjut Devin yang bermaksud menyukai kepribadian dari partner bisnisnya kali ini, karena biasanya secocok apapun Arcelia dengan seseorang dia akan masih bisa menahannya dan bersikap sewajarnya.
Devin tidak tahu saja jika justru Arcelia bukan hanya sekedar menyukainya, kini bahkan hati Arcelia seakan sudah dipenuhi oleh bunga-bunga indah yang sedang bermekaran.
Apa mungkin boleh kita katakan bahwa Arcelia tengah jatuh cinta sekarang? Perasaan senang tak terkira, bahagia tak terlukiskan. Mungkin ini perasaan indah yang pertama kali baru dirasakan oleh seorang Arcelia, sedikit terlambat memang untuk dikatakan sebuah cinta pertama bagi seseorang seusia Arcelia.
Namun, mau bagaimana lagi jika kenyataannya memang benar seperti itu. Bukankah cinta memang tak terbatas, tak bisa diukur dan diatur kapan dan pada siapa ia akan datang? Tak melihat waktu atau bahkan memandang usia seseorang untuk dapat merasakan keindahannya.
" Ya, apa begitu terlihat jelas sekarang di wajahku? " Tanya Arcelia dengan raut polosnya, merasa cukup malu karena asistennya ternyata menyadari perubahan pada dirinya.
" Benar Nona, namun saya ikut senang jika memang anda juga menyukainya dan tidak memiliki keluhan tentang hal ini. " Ujar Devin lagi masih berpikir jika hal ini hanya mengenai pekerjaan dan kerja sama mereka.
" Iya Nona saya ikut tenang, meski memang sedikit merasa aneh. " Gumam Devin dalam hati yang tak berani mengutarakan keanehannya.
Hah.. Kita biarkan saja untuk saat ini Arcelia merasakan perasaan indahnya itu, karena untuk kedepannya tentu saja kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Dan karena bagaimanapun perasaan Arcelia ini memang jatuh pada waktu dan orang yang kurang tepat untuk bisa digabungkan.
......................
Jika sempat tekan Like, Coment, dan Votenya ya..
__ADS_1
Makasih juga udah mau mampir dan sempetin baca ceritaku🙏🏻🙏🏻