
Kini mereka sudah berkumpul di ruang keluarga dengan Arcelia dan Irsyad yang menunduk merasa bersalah dengan perbuatan mereka beberapa waktu lalu. Dan Hardi yang yang tengah dengan sekuat tenaga menahan tawanya agar tak pecah ketika melihat kedua anaknya itu takut pada istrinya.
Sebenarnya baik Lidya, Hardi maupun Darwin memang sudah sangat siap dan tahu bahwa akan ada kejadian-kejadian seperti ini setelah mereka memutuskan untuk menikahkan kedua anaknya itu.
Cepat ataupun lambat mereka pasti akan menampilkan hubungan mereka yang sebenarnya, yang memang diketahui tidak pernah akur dan tidak ada kata damai itu. Hal ini jelas tidak luput dari pengetahuan para orang tuanya yang memang sudah memantau mereka sejak dulu, ya meskipun pada awalnya mereka memang masih menutup-nutupi kenyataan tersebut dan hanya akan bersikap manis kala dihadapan orang tuanya, mengingat bagaimana hubungan orang tua mereka yang terjalin baik dan sangat dekat.
Dan kejadian tadi tentu saja tidak terlalu membuat mereka terkejut, namun sebagai seorang ibu, Lidya tidak ingin jika anak-anaknya itu terus menerus bersikap kekanak-kanakan seperti saat ini. Dia harus mengambil sikap agar kedua anaknya itu sadar dan bisa sikap dengan sewajarnya.
Karena jika terus begini, jangankan hadirnya seorang cucu diantara mereka. Yang ada kini justru rumah mereka yang sudah dibuat layaknya sebuah taman kanak-kanak oleh kedua orang dewasa itu.
Semua masih nampak terdiam hingga terciptalah keheningan diantara mereka, tak ada yang berani untuk memulai membuka pembicaraan terlebih Arcelia dan Irsyad yang memang sedang menjadi terdakwa saat ini. Hingga tak lama dari itu Lidya pun bicara.
" Sekarang jelaskan, apa yang sebenarnya kalian lakukan tadi? " Ujar Lidya dengan nada suara yang sudah kembali seperti biasanya, lembut dan tenang. Namun masih tetap terdengar menakutkan bagi Irsyad dan Arcelia yang memang merasa memiliki sebuah dosa.
" Emm.. Jadi dia Bun yang memulainya! " Tuduh Irsyad seraya menuding Arcelia dengan jari telunjuknya. Meski masih sedikit ragu untuk bersuara, namun akhirnya Irsyad pun menyakinkan diri.
Tak menyangka jika Irsyad akan menuduhnya, Arcelia pun dengan segera menatapnya tajam dan ikut menudingkan telunjuknya pada Irsyad.
" Kauuu!! " Dia tak terima disalahkan seperti ini, jelas-jelas tadi Irsyad yang memulainya dengan terus mengejeknya dengan sebutan 'perempuan tua'.
" Apa?! Kau mau mengelak hehh? " Tantang Irsyad dengan bersikap seolah memang dialah korbannya di sana.
" Akuilah Lia, sekarang kau itu harus mulai belajar mengakui kesalahanmu! Jangan malah melempar kesalahan pada orang lain, seperti yang sudaha-sudah. " Tambah Irsyad semakin membuat Arcelia tersudut.
__ADS_1
" Kurang ajar! Drama apa yang sebenarnya dia mainkan ini? Huft, oke kita ladeni saja dia sekarang. " Geram Arcelia dalam hati.
" Apa?! Apa tidak terbalik? Bukankah sebaiknya kata-kata itu lebih cocok untukmu? Bukan hanya dulu, bahkan sampai detik ini pun kau masih memiliki sikap buruk itu! " Balas Arcelia tak kalah tajam membalikkan tudingan Irsyad.
Oke, sejak tadi Lidya dan Hardi masih memperhatikan mereka. Mereka ingin tahu sampai dimana kedua orang itu akan terus saling menuding dan menyalahkan. Hingga saat Irsyad akan kembali membalas ucapan Arcelia, Lidya akhirnya angkat bicara.
Terlihat dari cara mereka yang saling menyalahkan itu, Lidya tahu bahwa tidak akan ada yang akan mengalah dan mengakui kesalahannya masing-masing.
" Sudah cukup! Bunda meminta kalian untuk menjelaskannya, bukan malah saling tuduh seperti ini. Mengenai siapa yang tidak mengakui kesalahan, Bunda lihat bukankah kalian itu sama saja? " Ucap Lidya membuat keduanya diam dan mati kutu karena ucapan Lidya memang sangat benar.
" Bunda tidak perduli, siapa yang memulainya tapi yang jelas disini, kalian berdua memanglah bersalah. Jika telah terjadi sesuatu diantara kalian, begini'kah cara kalian menyikapi dan menyelesaikannya? " Sambung Lidya menjelaskan panjang lebar, dan membuat kedua anak muda itu tertunduk semakin dalam.
" Baiklah, sekarang Bunda tanya siapa yang benar dan siapa yang salah disini? " Tanya Lidya ingin menguji siapakah yang paling keras kepala diantara keduanya yang memang sama-sama keras kepala itu.
" Maaf Bun Lia salah, tadi aku terbawa emosi. Bunda mau'kan maafin Lia? " Ucap Arcelia pelan karena bagaimanapun sikapnya tadi memanglah salah, tidak seharusnya perempuan dewasa sepertinya bersikap seperti itu.
Arcelia mendelik mendengar ucapan Irsyad barusan, sedangkan Lidya? Tentu saja dia merasa geram hingga rasanya ingin mencabik dan menjambak rambut putranya itu.
" Anak ini, terbuat dari apa sebenarnya kepalanya itu. Dari dulu selalu saja keras kepala seperti ini! " Ujar Lidya dalam hati dan tak lama..
Plak
Suara Lidya yang memukul lengan Irsyad, karena kebetulan tempat mereka duduk tidak begitu jauh sehingga Lidya masih bisa menjangkaunya dengan mudah.
__ADS_1
" Aaww.. Bun sakit! " Pekik Irsyad sesaat setelah mendapat pukulan dari Bundanya.
" Kau ini benar-benar ya Irsyad! Tidak tahu malu, sudah salah masih saja ngeyel. " Gerutunya seraya menatap Irsyad jengah.
" Apa sih Bun, kenapa tiba-tiba memukulku? " Tanyanya masih belum juga menyadari kesalahannya.
" Lihatlah Yah, anak lelakimu itu benar-benar keras kepala sepertimu! " Ujar Lidya lagi yang kini jadi ikut menyeret nama suaminya.
" Lho kok jadi Ayah sih Bun. " Bantah Hardi yang tak terima dirinya ikut terseret dalam masalah putranya.
" Syad kamu ini gimana sih, ini jadi Ayah yang ikut disalahkan. " Protes Hardi pada anaknya kala ucapannya tadi hanya dijawab oleh istrinya yang melengos tak mau menatapnya.
" Sudah ah, lebih baik kita pergi saja dari sini sayang. Biarkan mereka berpikir dan menyadari kesalahannya sendiri! " Ajak Lidya sambil meraih tangan Arcelia, menggandengnya dan membawanya pergi menjauhi kedua lelaki keras kepala itu.
" Eh.. Bunda mau kemana? " Panggil Hardi ketika melihat istrinya beranjak dan pergi meninggalkannya. Namun, nyatanya pertanyaannya barusan hanyalah angin lalu bagi istrinya yang tak berniat menjawabnya dan malah mengabaikan dirinya.
" Irsyad.. Semua ini gara-gara kamu ya! Kamu harus tanggung jawab, lihat Bunda sekarang jadi ikut-ikutan marah sama Ayah! " Ujar Hardi meminta pertanggung jawaban kepada anaknya.
" Lho kenapa jadi aku? Aku sendiri masih bingung, kenapa Bunda malah memukulku dan sekarang Ayah lihat sendiri'kan Bunda justru memihak pada Arcelia yang jelas-jelas sudah mengaku salah. " Ucap Irsyad terheran-heran menatap kepergian ibunya dengan mengandeng tangan Arcelia.
" Hadehh kamu ini Syad, jelas saja Bundamu sampai marah begitu. Kamu sadar tidak, kalau sebenarnya kamu itu juga salah dan lebih parahnya lagi kamu tidak menyadari apa kesalahanmu itu. Sekarang cobalah introspeksi dirimu! " Gemas juga rasanya menghadapi putranya itu, pantas jika istrinya sampai pergi karena jengkel.
Tak berbeda dari Lidya, akhirnya Hardi pun pergi meninggalkan Irsyad sendiri di ruangan itu. Membiarkan agar anaknya menyadari kesalahannya dan berharap mengikuti sarannya untuk mengintrospeksi dirinya.
__ADS_1
......................
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.. biar othornya makin semangat ngayalnya.