
Tepat dua minggu sudah setelah kepulangan Arcelia dari rumah sakit, meski sebelumnya terjadi sedikit perdebatan antara Irsyad dan Lidya kala di rumah sakit waktu itu. Dan pada akhirnya Lidya lah yang unggul dan berhasil membawa menantunya itu ke kediamannya, namun Irsyad tidak berhenti sampai disitu dia tetaplah Irsyad yang keras kepala.
Meski sebelumnya dilarang dan tidak diperbolehkan untuk ikut dan tinggal di rumah orang tuanya, dengan keukeh dan penuh percaya dirinya dia tetap memaksa tinggal di sana dengan membawa kehebohan khasnya. Ya benar kehebohan, karena bagaimana tidak jika Arcelia yang seharusnya banyak beristirahat dan menjalani hari-harinya dengan penuh ketenangan justru terus menerus mendapat gangguan dari Irsyad, hingga tak jarang Lidya menegurnya bahkan perdebatan pun sering tak terelakan.
Seperti pagi ini, setelah menyelesaikan acara sarapan bersama Irsyad sejak tadi terus saja mengganggu dan mengikuti Arcelia kemana pun istrinya itu pergi. Ya, selama dua hari terakhir ini Arcelia sudah bisa beraktivitas seperti biasanya walau jika urusan pekerjaan ia masih belum diperbolehkan untuk melakukannya.
Meski Arcelia menginginkannya dan berkata jika dirinya sudah bisa dan mampu kembali untuk bekerja walau hanya di rumah sekalipun, tapi dengan tegas Darwin melarangnya bahkan sampai mengancamnya kala itu. Ya, hanya keputusan Daddy-nya itulah yang mampu membuat Arcelia tak berkutik sedikitpun, bahkan kali ini Devin sekalipun tak dapat ia ajak kerja sama karena Darwin sendirilah yang mengambil alih semua pekerjaan milik Arcelia.
" Ck, lepaskan! Kau itu sebenarnya kenapa sih, selalu saja menggangguku! Bisa tidak tidak sih, biarkan aku tenang barang sebentar saja? " Keluh Arcelia menghentikan langkah kakinya seraya menghempas tangan Irsyad yang sejak tadi bertengger dipundaknya.
Ya, sejak tadi Irsyad terus saja mengekori langkahnya dengan memegangi kedua pundak Arcelia selama mereka melangkah. Tentu saja Arcelia menjadi semakin jengkel karenanya, diikuti saja sudah membuatnya sangat risih apalagi ini sambil digelayuti oleh mahluk tak jelas ini.
" Hei.. Ini karena aku sedang menjagamu, aku harus selalu memastikan keselamatan dan keamananmu, bukan? Aku tidak mau kalau kau tiba-tiba limbung dan terjatuh, itu sangat berbahaya. Kau harus ingat kalau kondisimu ini masih lemah. " Bela Irsyad dengan perlakuannya itu, selalu saja itu yang menjadi alasannya melakukan segala keanehan yang membuat Arcelia risih.
" Cih, selalu saja alasan! Kau pikir aku selemah itu apa, hingga bisa limbung? Sudah, sudah sana aku sedang tidak ingin diganggu, aku ingin sendirian! " Tegas Arcelia dengan sedikit menekankan kata-katanya, berharap dengan itu mau untuk sejenak menjauh darinya.
__ADS_1
Arcelia terlihat akan kembali melanjutkan langkah kakinya setelah dia selesai berucap seperti itu pada Irsyad, namun lagi dan lagi Irsyad selalu berhasil mengusik dan menguji kesabaran Arcelia. Karena bukannya menjauh dan membiarkan Arcelia seperti yang dimintanya, kini Irsyad justru merengkuh pinggang istrinya yang terasa sudah tidak seramping dulu itu dengan begitu posesif seraya ikut melangkah kemana kaki istrinya itu berjalan.
Arcelia terlihat berontak ingin melepaskan diri dari rengkuhan Irsyad, namun tak kunjung juga dirinya dapat terbebas. Irsyad yang seakan tuli meski sudah berapa kali dirinya meminta untuk dilepaskan. Perdebatan kecil diantara mereka pun seperti biasa mengalir dengan tak pernah sekalipun mendapatkan jalan keluar, hingga Arcelia menjadi jengah sendiri dan akhirnya diapun memilih diam dan membiarkan pria keras kepala dan menyebalkan itu melakukan apa yang diinginkannya itu.
Karena tak peduli sekeras apapun dirinya berusaha, memang pada akhirnya dia tidak akan mendapat apa yang diinginkannya jika sudah berhadapan dengan sosok yang semakin menyebalkan dan menjengkelkan itu.
Ya, semenjak Arcelia pulang dari rumah sakit dan tinggal di rumah mertuanya ini sikap Irsyad terasa semakin menyebalkan saja dia rasakan. Ingin selalu berdekatan dan ada di sekeliling dirinya, apalagi semenjak pria itu mendapat hukuman dari Lidya, ibu mertuanya itu melarang Irsyad untuk tidur satu kamar dengan dirinya, ah.. Semakin menjadilah tingkah aneh dan grasak-grusuknya itu.
Irsyad yang tak bisa melakukan perlawanan apalagi penolakan atas hukuman dari ibunya itu, dia hanya bisa pasrah dan melihat istrinya dari kejauhan dengan nanar di setiap malamnya. Memaksa dan menerobos masuk ke kamarnya? Tentu saja itu tidak bisa dilakukannya, karena sang ibunya lah yang akan selalu menemani dan tidur bersama istrinya hingga dia tidak pernah punya kesempatan untuk melakukan hal curang.
°°°°°
Malam hari dikediaman Lidya, setelah beberapa waktu lalu Irsyad sempat memilih diam dan berusaha untuk tetap menjalani hukumannya meski merasa sulit dan berat. Namun, malam ini kembali terulang dimana Irsyad merengek dan meminta agar hukumannya segera diakhiri.
Tanpa malu, Irsyad bahkan sampai mengiba pada ibunya untuk dibiarkan kembali bersama Arcelia seperti sebelumnya.
__ADS_1
" Ayolah Bun.. Ini sudah dua minggu lho, Bunda hukum aku. Udah lama banget Bun, masa sih Bunda masih mau hukum terus. " Ibanya dengan memasang wajah sayu minta dikasihani.
" Itu belum seberapa! Lagipula hukuman ini masih terlalu ringan dan sepele untuk diberikan padamu, yang seharusnya mendapatkan hukuman yang jauh lebih berarti dan dapat membuatmu tersadar! " Balas Lidya dengan tenang, meski rasa kesalnya membuatnya menekankan beberapa kata-katanya.
" Tapi ini sangat berarti dan berat menurutku Bun. Bunda bayangkan saja aku sudah hampir satu bulan Bun, tidak tidur satu ranjang dengan istriku! " Kembali Irsyad berucap dengan wajah memelasnya, ya memang benar apa yang dikatakannya itu. Karena sejak pulang dari luar kota dia hanya menemani Arcelia di rumah sakit, lalu kemudian sekarang dirinya tidak diperbolehkan hanya untuk sekedar berdekatan dengan istrinya itu. Ck, miris sekali!
" Alah.. Saat kamu pergi keluar kota kemarin, kamu terlihat baik-baik saja tuh. Tanpa ada Lia, bahkan sekedar mengabarinya saja pun kamu tidak dan itu cukup untuk membuktikan bahwa tidak masalah bukan ada Lia ataupun tidak di dekatmu? " Pancing Lidya sengaja menyudutkan anaknya dengan kembali membahas persoalan yang sama.
" Bun..! Tidak begitu, Bunda salah Bun! Tentu saja keberadaan Lia penting untuk aku dan bukankah untuk permasalahan kemarin aku sudah minta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi? Tapi sekarang, kenapa Bunda masih saja membahasnya? "
" Aku butuh Lia Bun, sangat sangat membutuhkannya. Aku mohon Bun, maafkan aku dan sudahi hukuman Bunda ini! " Pinta Irsyad dengan mengiba dan memohon pada ibunya itu, sungguh dia sangat berharap usahanya kali ini bisa meluluhkan hati ibunya itu.
Lidya pun dapat melihat dan merasakan seberapa sungguh-sungguh putranya itu dalam berucap, jujur saja dia juga merasa kasihan padanya. Tapi, dia tidak bisa luluh begitu saja dan mencabut hukuman putranya itu dengan mudah. Bukan ingin menjadi ibu yang kejam dan keterlaluan, namun ini juga upayanya dalam menegur dan mendidik putranya itu agar lebih berhati-hati lagi dalam bersikap dan mengambil keputusan. Sungguh Lidya tidak pernah mengharapkan hal seperti ini dapat terjadi lagi dan dilakukan oleh putranya itu.
......................
__ADS_1