
Disini Arcelia kini berada, terduduk ditepian tempat tidur seraya mengingat lagi kejadian beberapa saat lalu bersama Irsyad dihalaman belakang tadi.
Dia masih terlihat sedikit bingung bahkan mungkin linglung dengan apa yang terjadi dan mereka lakukan tadi, tak percaya rasanya mereka berdua bisa sampai seperti itu. Duduk dan berbicara berdua dengan tenang saja adalah sesuatu yang mustahil bagi mereka sebelumnya, tapi ini sekarang? Ck, sungguh kemajuan yang sangat luar biasa bagi hubungan mereka berdua rasanya.
Arcelia sendiri saja merasa masih sangat bingung, kenapa dirinya bisa dengan begitu mudah memaafkan Irsyad yang mana bukankah dirinya itu sedang begitu marah dan kesal pada sosok suaminya itu? Ia bahkan sampai bisa berucap seperti itu tadi, memulai dan memperbaiki semuanya? Haha.. Rasanya ia ingin tertawa sekarang.
Ya, itu memang tidak salah dan bukan sesuatu yang aneh juga. Bahkan jika boleh jujur, dirinya juga memang menginginkan hal ini sudah sejak lama, dia ingin hubungannya bersama Irsyad bisa lebih jelas dan berjalan kearah yang jauh lebih baik. Tapi setelah terjadi, kenapa justru Arcelia merasa aneh? Sikap Irsyad tadi juga benar-benar diluar dugaannya, dan mengapa bisa-bisanya mereka tadi bersikap seolah menjadi orang lain?
" Hah.. Tapi terlepas dari semua hal itu aku jadi merasa lega sekarang, setidaknya sudah ada sedikit kemajuan bukan dalam hubungan kami saat ini? " Monolog Arcelia sembari menyandarkan punggungnya pada ranjang, kemudian tatapannya teralih kepada perut buncitnya.
" Mommy akan melakukan segala yang terbaik untukmu sayang, mari kita sama-sama berjuang untuk masa depan kita. " Ucapnya seraya mengelusi perutnya yang buncit itu dengan gerakan lembut penuh kasih sayang.
Dug..
Arcelia tersenyum senang bahkan sampai terkekeh kecil kala merasakan tendangan bayi didalam sana, tendangannya itu seumpama merespon dan menyetujui perkataannya barusan. Arcelia senang sekali setiap kali merasakan gerakan didalam perutnya itu, seakan ada yang menemaninya mengobrol dan
" Kau sedang apa Lia? " Tegur Irsyad kala memasuki kamar mereka dan melihat istrinya itu tengah terkekeh sendirian di sana.
" Lho.. Kau tidak pergi ke kantor? " Tanya Arcelia heran melihat Irsyad masih ada di rumah, padahal kan ini sudah akan menuju siang.
__ADS_1
" Ini akhir pekan Lia, jadi tentu saja aku libur. Kau tidak mengingat hari ya? " Sahut Irsyad dengan tersenyum lucu akan pertanyaan Arcelia barusan, padahal istrinya itu selalu terorganisir dan sangat memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan waktu. Tapi sepertinya karena hampir satu bulan dia berada di rumah dan tidak pergi kemana-mana, bahkan tidak melakukan apapun dia menjadi sedikit berbeda.
" Ooh.. Hehe.. Maaf, aku lupa. " Cicit Arcelia malu rasanya kenapa dirinya sampai lupa akan hal seperti itu, belum lagi karena kejadian tadi pagi dia menjadi semakin canggung dan bingung bila berhadapan dengan Irsyad.
" Tak masalah, oh ya tadi kau sedang apa? Ku lihat kau tadi tertawa-tawa sendirian disini. " Tanya Irsyad yang nampak begitu penasaran kenapa Arcelia terlihat sangat senang saat ini.
" Oh itu.. Apa kau sudah tahu? Kalau akhir-akhir ini dia sudah mulai aktif menendang, aku jadi sangat sangat terhibur karenanya. " Papar Arcelia sembari menunjuk dan mengelus perutnya yang lagi-lagi kembali ia rasakan tendangan di sana.
Mendengar hal itu tentu saja Irsyad terkejut dan dibuat tak percaya, dia juga nampak sekali senang dan antusias mendengar perkataan Arcelia tersebut mengenai perkembangan anak mereka.
" Benarkah? Kenapa kau baru memberitahuku tentang ini? " Tanya Irsyad yang dengan segera menghampiri Arcelia, menyentuh dan mengelus perut buncit istrinya itu. Dia juga ingin ikut merasakan tendangan dari anaknya itu.
Dug.. Dug..
Bertepatan dengan itu bayi mereka menendang-nendang lagi, hingga Irsyad pun memekik antara kaget dan takjub dengan apa yang dirasakan oleh kedua telapak tangannya itu. Ternyata apa yang dikatakan oleh Arcelia benar adanya, bayinya menendang, bayi mereka bergerak dan menendang begitu aktif didalam sana.
" Wah.. Kau benar Lia, dia.. Dia benar-benar menendang ku barusan. Aku masih tidak percaya ini, kenapa bisa? Ah.. Sayang sekali, kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal? " Ucapnya dengan menggebu bahagia, namun juga ada perasaan menyesal kenapa dirinya baru mengetahui hal ini sekarang.
Jika saja sejak awal dirinya tahu dan merasakan tendangan pertama dari calon anaknya itu, mungkinkah perasaannya akan jauh lebih merasa bahagia dari hari ini? Tapi ya sudahlah, mau kemarin ataupun sekarang yang jelas dia akan sama-sama merasa bahagia seperti sekarang ini.
__ADS_1
" Emh.. Maaf, sebenarnya sudah sejak bulan lalu dia mulai menendang seperti ini walau pada awalnya masih hanya terasa gerakan kecil, tidak begitu terasa seperti saat ini. Tapi, saat itu aku.. Aku malas saja memberitahumu. " Ucap Arcelia sedikit merasa bersalah, namun juga tak menutupi apa yang menjadi alasannya tidak memberitahu suaminya itu.
" Iya, tak apa itu juga sudah berlalu kan. Tapi mulai saat ini kau mau kan mulai terbuka dan memberitahuku tentang apapun itu, apalagi mengenai calon bayi kita ini, hemm? " Pinta Irsyad tanpa menggeser sedikitpun posisinya yang saat ini masih duduk berlutut berhadapan langsung dengan perut buncit Arcelia.
Arcelia mengangguk dan mengiyakan permintaan Irsyad itu, karena bukankah mereka memang sudah sepakat untuk memperbaiki hubungan mereka dan mungkin dari hal-hal inilah mereka akan memulainya.
Selanjutnya Irsyad masih saja mengusap dan bermain-main dengan perut Arcelia yang tak henti-hentinya memberinya sebuah tendangan, dia juga terlihat mengajak calon buah hatinya itu bicara dengan direspon sebuah tendangan yang semakin kuat terasa membuatnya semakin bersemangat saja bercerita dan mengajak sang jabang bayi itu bermain.
Arcelia tersenyum melihat bagaimana Irsyad yang begitu antusias juga merasa bahagia seperti yang dirasakannya, hatinya tiba-tiba saja menghangat melihat interaksi Irsyad bersama calon buah hati mereka yang masih ada dalam kandungannya itu.
" Ah.. Kau benar Lia, ini sangat menghibur. Aku senang dia begitu aktif dan merespon semua sentuhan dan ucapan ku. Dia begitu pintar. " Puji Irsyad yang terlihat begitu bangga dan takjub pada anaknya yang bahkan belum lahir ke dunia itu.
" Hmm.. Kau benar, terkadang aku juga merasa kalau dia sudah begitu memahami apa yang kita ucapakan padanya. Dia selalu merespon semuanya dengan baik. " Ujar Arcelia yang tak kalah ikut memuji dan membanggakan tingkah calon anak mereka itu.
" Iya benar, lihat.. Lihat! Dia menendang lagi, sepertinya dia tahu kalau kita tengah membicarakannya. " Pekik Irsyad lagi yang saking gemasnya kini ia mendusel-duselkan kepalanya diperut Arcelia dengan kedua tangannya yang merengkuh pinggang Arcelia dari arah depan.
Arcelia pun tertawa karena merasa geli dengan apa yang Irsyad lakukan itu, tanpa sadar tangannya pun terulur menyentuh kepala Irsyad yang tepat ada diperutnya dan agak menekannya sedikit hingga kepala Irsyad pun terbenam sempurna diperutnya.
......................
__ADS_1