Mengandung Anak Musuhku

Mengandung Anak Musuhku
62. Saling memaafkan


__ADS_3

" Ih.. Diam! " Keluh Arcelia yang entah sudah ke berapa kalinya, sejak semalam hingga bangun pagi ini dia dibuat kesal dan meradang dengan segala tingkah aneh suaminya itu.


Dimulai dari dia yang tidak mau melepaskan pelukannya ketika mereka sudah sama-sama terbangun tadi, sampai dia yang terus mengikutinya bahkan sampai ke kamar mandi. Entah apa maksudnya dia seperti itu tapi cukup lama mereka berdebat didalam kamar mandi tadi, hingga pada akhirnya karena Irsyad yang sangat keras kepala dan sulit untuk dimengerti membuat Arcelia mau tak mau harus mandi dengan Irsyad yang tetap ada didalam kamar mandi tersebut.


Karena sudah dia usir pun sulit dan ketika dia akan keluar dan membiarkan Irsyad mandi terlebih dulu pun dicegah olehnya. Dengan cuek dan tidak memperdulikan keberadaan Irsyad, Arcelia mandi dengan santainya seperti biasa. Lelah rasanya jika harus meladeni tingkah Irsyad dengan cara normal, maka sekarang Arcelia pun memilih membalasnya dengan cara yang gila pula.


Selama dirinya tadi mandi, dengan penuh kesengajaan Arcelia sedikit memancing dan menggoda Irsyad. Ya, sengaja semua itu dia lakukan agar Irsyad tahu rasa ucapnya tadi. Dia tahu benar Irsyad pasti akan terpancing dan terbakar melihatnya seperti itu, terlihat dari wajahnya yang semakin memerah dengan tatapan penuh dambanya itu. Salah sendiri kenapa mencari gara-gara dengannya gumam Arcelia saat melihat Irsyad yang semakin kepayahan tadi.


Dan sekarang entah apa lagi tingkahnya itu, sepertinya dia memang belum puas mengganggunya sejak tadi hingga saat inipun dia masih terus mengikutinya persis layaknya seekor anak ayam yang mengikuti langkah induknya.


" Hentikan Irsyad, kau ini sebenarnya kenapa sih! Mau ya.. Aku bilangin Bunda? " Ucap Arcelia lagi yang kini sepertinya sudah cukup jengah hingga membawa-bawa nama Bundanya.


" Kau dulu yang berhenti mendiami ku dan marah padaku, kita perlu bicara Lia.. Kau jangan seperti ini terus! " Ujar Irsyad yang masih setia berjalan di samping Arcelia, dia memang bertekad tidak akan pernah berhenti sebelum semuanya terselesaikan diantara mereka.


" Jadi kau bersikap seperti ini hanya untuk ingin bicara padaku? Ck, yang benar saja, kau kan bisa bicara saja langsung bahkan sekarang pun bukankah kita sedang bicara? " Ucap Arcelia merasa alasan Irsyad itu mengada-ada, karena hal sepele seperti ini saja dia sampai melakukan semua itu? Ck, yang benar saja.


" Ck, tidak seperti itu Lia.. Aku tidak ingin kita bicara disaat kau sendiri masih bersikap acuh padaku seperti ini. Kita perlu ruang untuk bisa saling bicara dari hati ke hati, jadi mari kita selesaikan kesalahpahaman diantara kita. " Sahut Irsyad dengan tatapan penuh permohonan dia berikan pada Arcelia, berharap jika istrinya itu dapat melihat kesungguhannya dalam memperbaiki hubungan mereka saat ini.


Melihat cara Irsyad menatapnya dengan segera Arcelia memalingkan pandangannya kearah lain, dia tidak mau kalau sampai terperdaya oleh tatapan itu.


" Ya, oke..oke.. Kita langsung bicara saja sekarang! " Balas Arcelia dengan enggan menatap lawan bicaranya itu.

__ADS_1


" Di sana! Mari kita bicara di sana, kita perlu membicarakan semuanya dengan rileks, bukan? " Kata Irsyad seraya menunjuk sebuah kursi yang berada dihalaman belakang rumahnya. Sepertinya suasana sejuk di sana akan sangat membantu saat mereka melangsungkan pembicaraan mereka nanti, pikirnya.


" Hmm.. Baiklah, ayo! " Setuju Arcelia dengan melirik tempat yang Irsyad maksud, kemudian dia pun melangkah terlebih dulu kearah sana.


Sebelum ikut melangkah ke sana Irsyad meminta pada salah satu pekerja rumahnya yang kebetulan tadi lewat didekatnya untuk dibuatkan minuman dan sedikit cemilan, ya hitung-hitung untuk menambah kesan santai-lah dia melakukan hal tersebut juga sebagai sedikit penghilang kecanggungan diantara mereka nantinya.


Duduk saling bersisian dengan masih ditemani kesunyian, yah belum ada yang memulai pembicaraan di sana. Baik Irsyad maupun Arcelia masih sama-sama diam, terfokus dengan pemikirannya masing-masing. Hingga akhirnya Irsyad pun mulai menyampaikan apa yang ia maksudkan, setelah sebelumnya pekerja yang tadi ia minta untuk membawakan minuman meninggalkan mereka berdua selepas menyajikannya.


" Lia.. " Panggil Irsyad seraya meraih kedua tangan Arcelia kemudian menggenggamnya.


" Ck, bicara ya bicara saja. Jangan pegang-pegang begini! " Sergah Arcelia seraya menepis tangan Irsyad yang menyentuhnya itu.


Mendengar nada bicara Irsyad yang berubah seketika Arcelia pun menolehkan wajahnya pada sang suami, karena memang sejak tadi dia hanya menatap lurus ke depan. Dan ketika ia menoleh dapat dilihatnya tatap Irsyad yang begitu dalam dan nampak terlihat serius dari sebelum-sebelumnya yang pernah dia lihat.


Ya, Irsyad yang memang sulit untuk diajak serius dan bersikap normal seperti ini hanya beberapa kali saja ia pernah melihat Irsyad begini. Seketika itu saja Arcelia menjadi membeku dan diam ditatap seperti itu oleh suaminya, bukan takut. Namun entahlah tiba-tiba saja tubuhnya bereaksi seperti tegang dan ikut menatap Irsyad dengan serius.


" Lia.. Terlepas dari semua yang telah terjadi diantara kita selama ini, aku mau kita melupakan semua itu dan mari kita perbaiki hubungan kita. " Ucap Irsyad dengan penuh kesungguhan dan keyakinan ia berucap, menatap dalam bola mata indah yang saat ini tengah menatapnya juga.


" Dan tentang kejadian kemarin, Lia.. Aku benar-benar minta maaf soal itu, aku tidak bermaksud tidak menghargai mu dengan tidak memberikan kabarku padamu saat di sana. Kau tahu sendiri kan aku pergi kemana? Di sana tentu saja tidak akan ada sinyal, dan karena itulah aku tidak bisa menghubungimu. Ku harap kau tidak akan marah dan salah paham lagi mengenai hal ini. " Imbuh Irsyad menjelaskan dengan terlihat sungguh-sungguh dan raut penyesalan nampak tergambar jelas di wajah serius itu saat ini.


Semua penuturan Irsyad itu tersampaikan dan dapat Arcelia rasakan bahwa semua perkataan Irsyad itu benar-benar serius dan dikatakan dengan sesungguhnya. Arcelia bahkan dibuat tertegun dan tak bisa berkata-kata melihat seriusan dan kesungguhan Irsyad kali ini, dia bingung harus berujar apa dan menanggapinya seperti apa.

__ADS_1


Melihat Arcelia yang hanya diam saja, tidak membalas ucapannya bahkan sekedar memberikan sedikit ekspresi saja pada penjelasannya barusan membuat Irsyad segera bergerak berlutut dihadapannya, berpikir jika Arcelia mungkin masih enggan untuk memaafkannya.


" Lia.. Aku mohon, kau maafkan aku. " Ujarnya seraya menunduk memohon permohonan maaf dari istrinya itu.


Dan Arcelia tentu saja terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Irsyad itu, seketika dia kembali tersadar dari kebingungan dan lamunannya tadi.


" I.. Irsyad apa yang kau lakukan? " Dengan sedikit terbata saking kaget dan bingungnya dengan situasi yang dihadapinya saat ini Arcelia bertanya, dia bahkan meraih kedua tangan Irsyad memintanya untuk bangun dan kembali duduk seperti semula.


" Bangunlah, jangan seperti ini! " Pinta Arcelia karena Irsyad tak kunjung juga mau bangkit dari posisi berlututnya.


" Tidak Lia, maafkan aku dulu dan mari mulai dan perbaiki semuanya bersama. " Mohon Irsyad lagi, membuat hati Arcelia menjadi tersentuh tak tega melihatnya seperti itu.


Arcelia sedikit menunduk, kedua tangannya terulur meraih kedua sisi wajah Irsyad sehingga membuatnya yang semula tertunduk lesu itu menengadah dan kedua mata mereka saling bertemu dan menatap.


Arcelia tersenyum hangat seraya menatap Irsyad kemudian berkata. " Tidak ada yang perlu dimaafkan, jikapun ada maka aku pun harus meminta maaf juga 'bukan padamu? Karena bagaimanapun aku sama salahnya, maka dari itu mari kita saling memaafkan saja dan menjadikan semua ini sebagai pelajaran untuk kedepannya. Seperti katamu tadi, mari kita perbaiki semuanya dan memulai semuanya kembali. " Tutur Arcelia dengan lembut dan diakhiri senyumannya yang manis.


Mendengar itu jelas saja Irsyad senang, dengan mata yang berbinar tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya dia membalas senyuman Arcelia. Dan dengan gerakannya yang cepat dia mengecup kening Arcelia kemudian merengkuh tubuhnya dengan hangat. Dalam hati dia sangat bersyukur karena ternyata tak sampai sesulit yang ia bayangkan untuk bisa mendapatkan maaf dan meredam amarah istrinya itu.


" Terima kasih Tuhan.. Kau sudah mempermudah semua ini untukku. " Batinnya meneriakkan kebahagian dan rasa syukurnya.


......................

__ADS_1


__ADS_2