Mengandung Anak Musuhku

Mengandung Anak Musuhku
35. Bunda bahagia?


__ADS_3

" Lalu nak, apa kamu sudah memeriksakannya pada dokter? " Tanya Lidya lagi pada menantunya, setelah tadi cukup lama fokus untuk menceramahi anaknya.


" Sudah Bun, dokter bilang janinnya sehat dan usia kandungannya sekarang sudah 7 minggu. " Bukan Arcelia yang menjawabnya melainkan Irsyad, dengan cepat ia menyahut bahkan terlihat seakan dia yang sudah paling tahu semuanya. Arcelia yang tadi akan menjawab pun hanya bisa menghela napasnya, bahkan dia mengatupkan kembali mulutnya rapat-rapat menatap Irsyad malas.


" Dia juga bahkan sudah mendengarkan detak jantung bayinya Bun, ck dia curang! Seharusnya 'kan dia juga mengajakku. " Tambah Irsyad seraya mengemukakan keluhannya pada sang ibu, padahal semalam ketika Arcelia menceritakannya Irsyad tak mengatakan apapun dan dia terlihat biasa-biasa saja.


" Oh benarkah sayang, usianya sudah 7 minggu? Kenapa kalian baru memberitahunya sekarang? " Ujar Lidya kaget sekaligus tidak percaya, jika benar seperti itu adanya berarti Arcelia sudah mengandung disaat kemarin mereka mengadakan acara. Tapi kenapa tidak ada yang memberitahunya tentang ini, kalau saja saat itu dia tahu sudah pasti dia akan langsung mengumumkan kabar gembira itu pada sanak keluarganya.


" Iya Bun itu benar. Masa sih aku salah dan mengada-ada, apalagi ini mengenai calon anakku sendiri. Jadi tentu saja aku harus mengetahuinya dengan benar. " Lagi-lagi Irsyad yang menjawab, entahlah maksudnya apa seolah tidak membiarkan Arcelia ikut bergabung dalam percakapan tersebut atau mungkin efek dari dia yang terlalu bersemangat.


Lidya yang sebenarnya sejak tadi sudah sedikit geram tetapi tetap berusaha menahannya, karena mau bagaimanapun hari ini merupakan hari bahagia menurut mereka dan dia tak ingin merusaknya. Hingga akhirnya dia tak tahan juga karena Irsyad terus memotong pembicaraannya dengan sang menantu, niat hati ingin berbincang dengan perempuan cantik itu namun anaknya ini terus saja merecokinya.


" Irsyad! Bunda bukan bertanya padamu, beri kesempatan untuk Arcelia bicara! Biarkan kami saling mengobrol, dari tadi kau terus saja memotong pembicaraan kami! " Semprot Lidya yang sudah terlanjur geram pada anak laki-lakinya itu.


Arcelia yang sejak tadi menahan kesal pun akhirnya tersenyum, dia menatap Irsyad mengejek. Dia senang karena akhirnya ada yang mengerti dirinya bahkan sampai membelanya juga, ah.. Ibu mertuanya ini benar-benar the best lah pokoknya.


" Ck, Bun aku hanya ingin memberitahumu saja, lagipula apa bedanya mendengarnya dariku atau Arcelia? Toh akhirnya sama juga. " Bela Irsyad merasa tak terima mendapat teguran dari Bundanya itu.

__ADS_1


" Sudahlah, kau bicara saja dengan Ayahmu sana. Jangan malah mengganggu urusan wanita! " Usir Lidya tak ingin mendengar ocehan anaknya lagi. Mendengar itu Irsyad pun melengoskan wajahnya dan lebih memilih diam.


" Kenapa kamu tidak memberitahu Bunda sebelumnya, sayang? " Tanya Lidya yang kini sudah kembali fokus pada Arcelia, dia ingin mendengar penjelasan langsung dari menantunya itu.


" Lia juga baru mengetahuinya kemarin Bun, sebelum-sebelumnya Lia tidak begitu memperhatikannya. Ditambah lagi tubuhku juga tidak menunjukan tanda-tanda yang mengarah ke sana, jadi Lia tidak ngeh dan berpikiran akan hal itu. " Papar Arcelia dengan sedikit menyelipkan kebohongan karena yang sebenarnya dia justru sudah mencurigai hal ini sejak lama, tapi karena rasa takut dan ingin menyangkalnya dia memilih untuk terus menghindar.


" Oh ya Bunda paham, mengingat kamu kan tidak mengalami morning sickness atau semacamnya seperti yang tadi kamu bilang. Jadi ya wajar saja jika kamu sampai tidak menyadarinya. " Maklum Lidya menerima penjelasan dari Arcelia.


" Tapi selain mood swing dan jadi lebih sensitif, kamu gak ngerasa hal lain seperti mudah lelah, ngantuk atau menginginkan sesuatu gitu? Kayak misalnya tiba-tiba kepengen makan apa atau beli sesuatu? " Tanya Lidya lagi masih merasa khawatir dan belum puas jika belum mengetahui keadaan Arcelia secara meyeluruh.


Arcelia nampak mengingat dan berpikir. " Emm.. Kayaknya enggak deh Bun, sejauh ini Lia nggak ngerasa yang aneh-aneh kayak gitu. Tapi, gak tahu yaa kalau nanti hehe.. " Sahut Arcelia dengan tawanya yang terdengar renyah.


" Ya udah, sekarang udah hampir siang nih lebih baik kita makan siang saja dulu. Terus nanti dilanjut lagi deh ngobrolnya. " Ajak Lidya ketika melirik jam dan tak terasa ternyata hari sudah beranjak siang saja.


Arcelia menganggukinya dan Lidya pun menggiring mereka untuk ke ruang makan, seraya menggandeng tangan Arcelia dan tetap mengajaknya mengobrol disepanjang melangkahkan kakinya.


" Malam ini kalian tidur disini ya.. Bunda masih kangen dan ingin mengobrol banyak dengan kalian. " Pintanya yang sebenarnya sebuah perintah tanpa penolakan. Lebih tepatnya sih Lidya masih kangen dan ingin mengobrol dengan Arcelia, kalau dengan anaknya itu sih ah..sudahlah yang ada dia malah bosan.

__ADS_1


" Lho tapi Bun.. " Irsyad yang baru saja mendudukkan dirinya di kursi makan hendak protes.


" Ssttt.. Tidak ada alasan dan tidak ada penolakan. Pokoknya kalian menginap malam ini disini! " Cepat Lidya memotong perkataan putranya itu.


" Ck, Bunda apaan sih. " Meski tak terima pada akhirnya dia yang harus mengalah dan sebenarnya memang pasti kalah.


Sore hari dihalaman belakang rumah Lidya dan Hardi, terlihat Arcelia tengah duduk bercengkrama dengan ibu mertuanya. Seperti biasa jika mereka berdua sudah duduk dan bertemu, tentu pastinya pembicaraan diantara keduanya seakan tak pernah habis dan tak ada hentinya.


Ya, sepasang mertua dan menantu yang sangat sefrekuensi itu seolah tak ada lelahnya membicarakan berbagai hal. Disela-sela pembicaraan mereka, tiba-tiba Arcelia teringat dan ingin memastikan sesuatu.


" Bun.. apa benar, Bunda merasa senang dengan kehamilanku? Bunda benar bahagia kan? " Tanya Arcelia yang entah kenapa ingin lebih menyakinkan dirinya tentang itu dan ingin mendengar penegasan langsung dari mertuanya.


" Tentu saja. Bunda bahagia, sangat sangat bahagia. Terima kasih ya sayang, sudah mewujudkan keinginan Bunda. " Sahut Lidya mantap seraya memeluk menantunya itu, meski sebenarnya ia merasa sedikit bingung kenapa Arcelia tiba-tiba mempertanyakan hal tersebut.


" Tapi kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu nak? Bunda, Ayah dan keluarga kita yang lain tentu saja akan bahagia, orang tua mana coba yang tidak akan merasa senang mendengar kabar bahagia seperti ini! " Lanjut Lidya membuat Arcelia seketika merasakan kelegaan.


" Ah setidaknya ini sudah lebih dari cukup, mendengar jika Bunda bahagia saja sudah cukup bagiku. " Batin Arcelia lega, setidaknya ini akan sedikit mengurangi rasa kecewa yang sempat menghinggapi dirinya itu.

__ADS_1


......................


__ADS_2