Mengandung Anak Musuhku

Mengandung Anak Musuhku
55. Ingin pulang!


__ADS_3

Sudah dua hari ini Irsyad menunggui istrinya di rumah sakit, namun semakin ke sini tingkah Arcelia justru semakin menyebalkan dan hampir selalu berhasil menyulut emosinya. Jika sedang dalam keadaan normal Irsyad pun biasanya akan meladeni dan membalasnya dengan tak kalah menyebalkannya bahkan seringkali berujung dengan perdebatan dan pertengkaran diantara keduanya.


Tapi sekarang keadaannya berbeda, Irsyad harus benar-benar bisa mengendalikan dirinya dan mengontrol emosinya. Jangan sampai dirinya terpancing dan membuat keadaan semakin runyam, bukannya Arcelia cepat pulih justru malah menambah permasalahan baru.


" Ayolah Lia, jangan seperti anak kecil begini. Kau perlu makan dan meminum obatmu, kau mau segera pulih bukan? " Bujuk Irsyad dengan sedemikian rupa ia membujuk Arcelia agar mau memakan sarapannya.


Entahlah, ada apa lagi dengan tingkahnya kali ini. Jika kemarin Arcelia menolak keras saat hendak disuapi oleh Irsyad dan lebih memilih memakan buburnya sendiri, tapi setidaknya syukurlah dia masih mau makan dan meminum obatnya secara teratur. Namun kali ini apa lagi? Kenapa sih harus rumit dan penuh teka-teki seperti ini?


" Apa kau bosan dengan makanan rumah sakit, hmm? Jika itu yang jadi permasalahannya, aku akan membelikan makanan dari luar saja bagaimana? Kau sedang ingin makan apa sekarang? " Tanya Irsyad dengan penuh kesabaran dan perhatian ia mencoba untuk mengerti keinginan istrinya itu.


Arcelia masih tampak diam dan enggan untuk menyahuti Irsyad, terlihat dia justru meraih ponselnya dan mulai mengotak-atik benda pipih-nya itu.


Irsyad semakin kehabisan stok sabarnya, namun berusaha tetap ia tahan dan mengalihkannya dengan menarik dan menghembuskan napasnya perlahan.


" Tuhan.. Dengan cara apa lagi aku harus membujuknya? Dia seolah sengaja terus mengujiku. " Keluhnya dengan menatap nanar Arcelia bersamaan dengan helaan napas lelahnya.


Ingin sekali rasanya Irsyad merampas benda yang ada ditangan Arcelia itu sekarang, jika perlu dia akan melemparnya dan membuat benda itu hancur sampai berkeping-keping seketika itu juga. Namun, lagi-lagi bukan itu jalan keluar yang baik untuk permasalahannya saat ini, dan justru dia yang seharusnya lebih berusaha lagi dalam menghadapi dan menerjemahkan apa yang diinginkan oleh istrinya itu.

__ADS_1


" Lia.. Sebenarnya kau itu ingin apa? Bicaralah, aku akan berusaha memenuhinya. Asal setelah itu kau makan ya.. " Ujar Irsyad lagi mencoba mengajukan penawaran yang semoga saja kali ini caranya itu bisa berhasil membuat istri keras kepalanya itu mau makan.


Dan syukurlah, setelah mendengar perkataan Irsyad barusan Arcelia terlihat sedikit tertarik, terlihat dari gerakan jarinya yang sejak tadi menari-nari dipermukaan layar ponselnya itu berhenti. Bahkan lebih bersyukurlah lagi karena setelah sekian purnama, wanita cantik itu akhirnya mau menoleh dan melihat kearah dirinya saat ini. Arcelia terlihat tengah menimbang dan mencari kesungguhan dari perkataan Irsyad tadi dengan menatap wajah laki-laki itu lekat.


" Sungguh, aku tidak sedang membohongimu sekarang. Jadi bicaralah, apa yang sedang kau inginkan sekarang? " Seolah paham dengan tatapan istrinya, Irsyad kembali bertanya dengan berusaha untuk lebih meyakinkannya.


Dan dengan sedikit senyum miring akhirnya Arcelia berkata " Aku ingin pulang! Aku ingin keluar dari sini hari ini juga! Apa kau bisa mengabulkan keinginanku itu, heh?! " Tantang Arcelia dengan menatap dan memberi senyuman meremehkan pada Irsyad.


" Hufft.. Seharusnya aku sudah bisa menduga hal ini, tapi ya sudahlah.. Sekarang mari kita coba saja untuk memenuhi keinginannya itu! " Batin Irsyad dengan membalas tatapan Arcelia, meski sebenarnya sedikit kesal ia rasakan karena nada bicara dan senyuman mengejek Arcelia tapi tidak apa-apa asal dia mau makan itu sudah cukup untuknya.


" Ya, baiklah. Tapi sebelum itu kau harus memakan sarapan mu dulu dan minum obat, baru setelahnya aku akan tanyakan mengenai keinginanmu itu pada dokter. " Putus Irsyad seraya meraih kembali mangkuk bubur dari nakas dan mulai menyodorkan sesendok bubur kearah mulut Arcelia.


°°°°°


Setelah selesai menyuapi Arcelia dan memberinya obat, seperti yang dikatakannya tadi Irsyad pun pergi menemui dokter yang menangani Arcelia. Untuk bertanya sekaligus berkonsultasi mengenai apa yang diinginkan oleh sang istri. Kalau boleh jujur Irsyad sebenarnya lebih menginginkan agar Arcelia tetap diberi perawatan disini saja dulu, selain karena lebih terjamin dan terpercaya untuk membantu Arcelia agar segera kembali pulih dan sehat.


Terlebih Irsyad juga masih sangat cemas dan mengkhawatirkan kondisi Arcelia sekaligus anak dalam kandungannya, dia tidak mau jika sesuatu sampai terjadi jika Arcelia memaksakan untuk pulang saat ini juga. Tapi, Irsyad akan tetap coba menanyakannya dulu pada dokternya semoga apapun itu yang diputuskan oleh dokter adalah yang terbaik untuk kesehatan Arcelia dan calon bayi mereka.

__ADS_1


Sedangkan kini Arcelia yang berada dikamar, selepas perginya Irsyad tadi yang akan menemui dokter, dia yang baru saja meminum obatnya dan diminta untuk kembali beristirahat lagi oleh Irsyad pun kini terlihat gelisah karena menahan sesuatu.


Ya, tiba-tiba saja dia merasa ingin buang air kecil tetapi ia bingung harus bagaimana sekarang, karena sejak beberapa hari terakhir biasanya dia selalu dibantu untuk bisa sampai dikamar mandi. Bukan karena dia manja atau apa, tapi memang seperti itulah yang harus dilakukan. Akibat dari pendarahan yang dialaminya kemarin, membuatnya harus bedrest total dan tidak boleh terlalu banyak bergerak.


Tapi bagaimana jika keadaannya sekarang malah seperti ini, menahan hajatnya sampai menunggu Irsyad kembali jelas saja itu tidak mungkin. Selain dirinya yang memang sudah tidak dapat menahannya, tentu karena Irsyad pun pastinya akan masih lama dengan urusannya itu.


Sebenarnya bisa saja Arcelia juga memanggil suster dengan hanya menekan sebuah tombol yang ada di sana, akan tetapi itu juga akan memerlukan waktu lagi sedangkan seperti yang tadi dikatakannya Arcelia sudah benar-benar tidak bisa menahannya.


Hingga akhirnya Arcelia pun terpaksa turun dari ranjangnya sendiri lengkap dengan membawa tabung infusnya, dengan langkah kecil dan sangat perlahan Arcelia melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


Cukup lama Arcelia berada di dalam kamar mandi selain karena dia yang melakukan segalanya dengan pelan dan lambat, dia juga terlihat begitu kerepotan karena harus melakukannya dengan terus memegangi tabung infus miliknya itu.


" Ck, sungguh merepotkan! Lagipula kapan sih aku bisa segera terbebas dari infusan ini, rasanya ini sangat menyebalkan! " Gerutunya dengan kesal, ia pun berjalan perlahan keluar kamar mandi untuk kembali ke ranjangnya.


Tapi begitu dia berhasil keluar kamar mandi, suara yang memekakkan telinganya terdengar menyapa membuatnya terlonjak kaget bahkan hampir saja dirinya terjungkal kebelakang saking kagetnya.


" ARCELIA!! APA YANG KAU LAKUKAN?!! " Teriakan Irsyad begitu menggema memenuhi seisi ruang rawat inap itu.

__ADS_1


......................


__ADS_2