Mengandung Anak Musuhku

Mengandung Anak Musuhku
30. Dua garis?


__ADS_3

Dengan hati yang berdebar, kedua tangannya pun sudah bergetar dan mengeluarkan keringat dingin. Arcelia berdiri dengan harap-harap cemas menunggu hasil yang akan muncul dari benda pipih kecil itu, baru dua menit berlalu namun terasa sangat lama bagi Arcelia.


Sambil menunggu Arcelia pun tak henti-hentinya merapalkan do'a-do'a dan berharap jika hasil yang nanti akan muncul itu akan sesuai dengan keinginannya. Yang akan secara otomatis menepis semua rasa takut dan kekhawatirannya, dan mengembalikan kehidupannya yang tenang dan normal seperti sediakala.


Setelah beberapa saat, akhirnya benda pipih itupun menunjukan sebuah hasil yang sejak tadi ditunggu Arcelia.


Deg!


Dua garis?


Apa tidak salah? Arcelia memegangnya dengan tubuh yang sudah terguncang hebat, kedua lututnya seketika lemas seperti jelly. Tangan yang memegang benda itupun tiba-tiba melemas sehingga tanpa sadar terlepaslah benda pipih itu dari tangan Arcelia.


Tlak..


Dan tak lama kemudian disusul dengan tubuhnya yang juga ambruk jatuh terduduk dilantai kamar mandi yang dingin, tatapan matanya kosong seolah masih belum bisa mencerna semua kenyataan yang baru saja ia dapatkan itu.


" A..aku hamil?! " Gumamnya dengan sangat lirih.


" Aaa.. Bagaimana ini, ucapan apoteker itu ternyata benar. Bahwa aku hamil, a..aku.. " Ucap Arcelia terputus-putus saking dia tidak percaya.


" Tidak, tidak, ini tidak mungkin! Bagaimana bisa ini terjadi. I.. Ini pasti salah, ya pasti ada yang salah dengan benda itu. " Ujar Arcelia berusaha mengelak sembari menatap testpack yang sudah teronggok mengenaskan itu dengan tatapan permusuhan.


Di sana terlihat dengan jelas kedua garis yang menyatakan bahwa Arcelia kini memang tengah mengandung, dan dari hal itu saja sebenarnya sudah dapat dipastikan bahwa itu benar dan valid.


" Tenangkan dirimu Lia, alat ini belum tentu akurat. Masih ada hal lain yang harus kau lakukan untuk mendapatkan hasil yang jauh lebih meyakinkan. " Arcelia tetaplah Arcelia yang selalu mencari cara lain untuk bisa mendapatkan yang diinginkannya itu. Bahkan meski akal sehat dirinya sekalipun, mengatakan bahwa ini hanya berkemungkinan sangat kecil tapi dia tetap saja berharap pada kemungkinan kecil itu.


Arcelia kembali berdiri seraya menyeka air mata yang entah sejak kapan sudah berhasil membasahi wajah cantiknya itu, keringat dingin yang muncul akibat kepanikan dirinya tadi pun tak lupa juga ia seka.

__ADS_1


Dibasuhnya wajahnya itu berupaya menghilangkan jejak-jejak air matanya, ia tatap wajah ayu didalam cermin itu dengan sebuah senyuman dan kemudian dia berucap.


" Benar Lia tenanglah, masih ada kemungkinan untukmu. Jangan menyerah dengan mudah seperti ini! " Ucapnya meyakinkan diri sekaligus menyemangati dirinya.


Selepas itu, Arcelia memilih untuk berendam air hangat tak lupa juga ia menambahkan beberapa tetes aromaterapi kedalamnya, cara ini adalah salah satu cara paling efektif yang mampu mengembalikan ketenangan dirinya juga membuatnya kembali berpikiran jernih.


Hmm.. Tenang dan nyaman seketika itu yang Arcelia rasakan.


Dimainkannya busa-busa yang terapung itu sesaat sebelum akhirnya Arcelia memilih untuk memejamkan matanya seraya berendam itu.


Brug... Brug... Brug...


Baru beberapa menit lalu Arcelia rasanya menemukan kembali kehidupan penuh kedamaiannya, namun seketika itu juga semuanya lenyap kala seseorang di sana menggedor pintu kamar mandi dengan brutalnya.


" Liaa... Buka pintunya! " Seru orang dibalik pintu tanpa menghentikan tangannya yang terus menggedor pintu, hingga menimbulkan suara yang cukup bising di pagi hari yang cerah ini.


Dan karena dia enggan pergi keluar dan menggunakan kamar mandi yang lain, akhirnya membuatnya rela menunggu sambil merebahkan kembali dirinya di atas ranjang. Hingga setelah beberapa saat, Arcelia yang dia pikir akan segera selesai itu tak juga nampak ada tanda-tanda akan keluar sedangkan dirinya sudah semakin terdesak dan terjadilah aksi ketidaksabarannya itu.


" Ck, apalagi sih orang itu! Mengganggu saja. " Gerutu Arcelia yang berada didalam bathtub bahkan terlihat enggan untuk beranjak dari sana.


" Apa?! Kau mau apa? Jangan membuat keributan pagi-pagi begini! " Seru Arcelia dengan sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Irsyad diluar sana.


Ah.. Kesal juga jadinya karena acara me timenya terganggu dan berantakan, mau tak mau Arcelia pun beranjak dan mulai membersihkan tubuhnya.


Brug... Brug...


" Ck! Lia cepatlah, aku sudah tidak tahan ini! " Teriak Irsyad semakin mendesak Arcelia yang tentu saja membuat Arcelia jadi kelimpungan sendiri didalam.

__ADS_1


" Iya, iya sebentar lagi! " Sahut Arcelia mempercepat membasuh tubuhnya.


" Lagi pula kenapa tidak ke kamar mandi yang lain sih! " Tambah Arcelia terlanjur kesal karena dirinya jadi terburu-buru bahkan tidak menikmati waktu berendamnya dengan baik.


Disambarnya kimono handuk miliknya, seraya mengenakannya Arcelia pun membuka kunci pintu karena suara teriakan Irsyad yang tanpa henti terus mendesaknya dan membuat dirinya menjadi jengah sendiri.


" Ck, lamban sekali kau. Minggir! Menghalangi jalan saja. " Ujar Irsyad ketika pintu kamar mandi terbuka dan langsung menyelonong masuk begitu saja bahkan saking tergesa-nya ia sedikit mendorong tubuh Arcelia keluar.


" Dih.. Tidak sadar diri, bahkan kau mandi jauh lebih lama dari ini. Sesekali cobalah kau berkaca! " Teriak Arcelia tak terima dikatai lamban bahkan disingkirkan dengan tidak hormat seperti itu.


Tidak ada sahutan dari Irsyad yang terdengar hanyalah suara pintu yang kembali terkunci, Arcelia yang kesal terus menggerutu disepanjang langkahnya menuju ruang ganti.


" Tidak tahu diri, bukankah seharusnya aku yang marah dan memaki-makinya tadi. Bahkan.. Ah! Air berendam-ku yang malang, belum juga aku menikmati sensasinya dengan benar tadi. " Berucap sambil mengeringkan rambutnya didepan cermin.


" Aaa.. Dasar menyebalkan! Pagi-pagi sudah merusak moodku saja. Coba saja tadi dia yang ada di posisiku, mana mungkin dia mau mendengar dan mengalah secara sukarela seperti diriku ini. Ah, yang ada justru dia yang akan marah dan memakiku seharian penuh. " Diliriknya jam dinding memastikan bahwa dirinya masih memiliki banyak waktu lenggang sebelum nanti harus menghadiri pertemuan paginya, karena sebelum pergi ke kantor Arcelia berencana untuk pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.


" Ckckck, lihat dia sekarang, aku sudah selesai bersiap pun dia masih di kamar mandi. Entah berapa lama waktu yang harus dia habiskan hanya untuk sekedar mandi. " Cibir Arcelia menatap pintu kamar mandi yang masih setia terkunci itu.


Arcelia terlihat sudah rapi dengan stelan kerjanya, meraih handbag-nya dan bersiap turun ke bawah untuk menikmati sarapannya terlebih dahulu. Tapi, disaat akan meraih handle pintu Arcelia terlihat kembali berbalik seraya mengerutkan keningnya.


" Apa ada yang tertinggal yaa? " Tanyanya pada dirinya sendiri, entahlah tiba-tiba ia merasa seperti melupakan sesuatu. Tapi setelah ia cek lagi semua lengkap, penampilannya pun sudah nampak sempurna seperti biasanya.


" Ah sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja. " Ucapnya sambil berlalu meninggalkan kamar tidurnya.


Sedangkan didalam kamar mandi, kening Irsyad mengkerut menatap sebuah benda yang teronggok dilantai kamar mandi.


" Benda apa itu? " Gumamnya seraya melangkah mendekat kearah benda pipih itu berada dan kemudian meraihnya.

__ADS_1


......................


__ADS_2