
Sudah beberapa hari ini Arcelia bekerja lembur dan selalu pulang hingga larut malam, ya kegiatan dan kebiasaan lamanya sebelum dia dinyatakan hamil dulu ternyata kini mulai menjangkitinya kembali. Bahkan Devin sendiri, selaku asistennya dibuat heran dan terkadang merasa khawatir mengingat bahwa kini majikannya itu sedang mengandung. Namun, seperti biasa dia yang hanyalah seorang bawahan tentu saja tidak bisa melakukan apapun selain mengangguk patuh dan menuruti perintah atasannya itu.
Entahlah apa yang menjadi alasan Arcelia kembali ke jam kerja gila lamanya itu, yang jelas tentu saja hal ini tidak dapat dihentikan atau dilarang-larang oleh orang lain.
" Dev.. Mana berkas-berkas kerja sama kita dengan perusahaan YK? Berikan padaku! " Titah Arcelia yang masih bersemangat bekerja, meski tahu bahwa hari sudah menggelap dan waktu sudah menunjukan waktu jam kerja sudah selesai beberapa jam yang lalu.
Devin yang akhir-akhir ini juga menjadi harus ikut lembur seperti Arcelia, hanya bisa menghela napas mendengar permintaan Arcelia barusan. Meski dirinya sudah sangat lelah dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya, tapi apalah daya dirinya yang hanya seorang bawahan yang harus mendampingi dan memenuhi perintah majikannya tersebut.
" Iya, baiklah Nona. Tapi apa Tuan Irsyad tidak apa, jika Nona sering lembur seperti ini? Maksudku, apa kandungan Nona akan baik-baik saja dan tidak akan membuatnya merasa khawatir? " Akhirnya Devin pun bisa menyuarakan isi hatinya yang sudah ia pendam selama berhari-hari ini, meski awalnya sedikit ragu namun pada akhirnya ia berhasil memberanikan diri.
Sedangkan Arcelia yang mendengar nama Irsyad disebut seketika mendelik dengan raut wajah yang langsung berubah. Moodnya pun berubah seketika itu juga, entah mengapa mendengar nama laki-laki itu membuatnya menjadi kesal dan ada rasa tak suka yang dia rasakan.
" Cih, jangankan khawatir, dia bahkan sudah dua hari ini tak menghubungiku lagi! Ah, dia benar-benar menyebalkan!! " Pekikan hati Arcelia yang kesal ketika harus kembali mengingat suaminya itu, apalagi mengingat disaat Irsyad terakhir kali menghubunginya waktu itu dia hanya memberitahunya jika dia mungkin akan berada di sana lebih lama.
Ketika itu semakin jengkel dan kesal-lah yang Arcelia rasakan pada suaminya itu, tidak mengerti kah Irsyad bahwa beberapa hari ini dia begitu kesulitan hanya untuk tidur? Bahkan metode gila yang dia lakukan sebelumnya tidak selalu berhasil dan mampu membuatnya terlelap.
" Ck, sudah berikan saja berkasnya padaku! Tak perlu kau jadi membahas yang lain! " Sergah Arcelia yang kesal dan jadi melampiaskan perasaannya itu kepada orang didepannya. Ya, salah Devin sendiri juga kan yang memancingnya dan membuatnya jadi teringat akan hal itu.
__ADS_1
" Ah, i..iya Nona. Ini.. " Ucap Devin dengan terbata segera menyodorkan berkas yang diinginkan Arcelia. Jujur saja dia cukup tersentak kaget tadi, karena tak mengira jika Arcelia akan memberi reaksi seperti itu. Meski sedari awal dia sendiri juga tahu bahwa sikapnya ini salah, karena membahas dan mempertanyakan sesuatu yang bersifat pribadi yang bukan ranahnya dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan mereka.
" Ck, kenapa juga sih aku menanyakan hal seperti itu pada Nona. Jelas-jelas aku tahu, kalau akhir-akhir ini mood Nona memang sering kali tak baik dan dia juga terlihat selalu uring-uringan. " Sesal Devin atas tindakannya tadi, saking lelah dan malasnya ia kembali harus ikut-ikutan lembur hingga akhirnya malah membuat mood atasannya itu memburuk.
Hah.. Jika sudah begini, alamat dia harus mempersiapkan dirinya untuk lebih semangat melakukan lemburnya malam ini. Karena tentu saja jam lemburnya akan semakin bertambah saja kali ini.
°°°°°
Waktu terus bergulir, selepas diantar Devin pulang ke rumahnya, Arcelia langsung membersihkan diri ke kamar mandi. Lelah, memang itu sangat dia rasakan saat ini belum lagi rasa gerah dan lengket di sekujur tubuhnya membuatnya ingin sesegera mungkin menyegarkan tubuhnya yang terlihat sudah semakin berisi itu.
Entahlah sudah berapa banyak berat badannya itu bertambah, Arcelia tidak ingin terlalu mengambil pusing persoalan seperti itu saat ini. Dia juga tidak berusaha mencegah ataupun menahan-nahan dirinya ketika tubuhnya itu terus menginginkan diberi asupan makanan. Ya, entah karena apa semakin besar usia kandungannya, semakin tinggi pula nafsu makannya itu dan semakin sering juga frekuensi dirinya merasakan lapar. Jadi tak heran jika berat badannya itu sekarang mudah sekali naik.
Sampai akhirnya suara notifikasi di ponselnya membuat fokus perempuan tersebut pun terbagi, dilihat dan diraihnya benda pipih berbentuk persegi panjang tersebut. Dalam hati ia sangat berharap jika yang menghubunginya itu adalah Irsyad suaminya, entahlah mengapa ia berharap seperti itu karena tanpa disadari bahkan diminta sekalipun hatinya selalu saja menyisipkan harapan-harapan seperti itu.
Namun lagi dan lagi, dia harus kembali menelan kekecewaan ketika apa yang diharapkan dan kenyataan yang didepannya itu tidak sesuai dan lagi-lagi membuatnya merasa sakit.
"Ck! Sedang apa sih dia, apa yang dilakukannya di sana begitu menyenangkan sampai-sampai dia melupakan anaknya seperti ini! " Gerutu Arcelia setelah meletakan kembali ponselnya dengan perasaan kesal.
__ADS_1
Karena kecewa dan saking kesalnya Arcelia bahkan meninggalkan pekerjaannya itu begitu saja, dia melangkah ke arah balkon kamarnya. Seketika hembusan angin malam yang cukup dingin itu menyapa kulitnya. Tak memperdulikan hal itu, Arcelia memilih mendudukkan dirinya disalah satu kursi yang ada di sana sembari menatapi langit malam dengan perasaan hampa.
Meski dulu dirinya terbiasa sendiri, menghabiskan waktu hanya untuk bekerja dan meniti karirnya hingga membuatnya terbiasa menghadapi rasa sepi dengan tenang. Namun setelah berbulan-bulan menghabiskan waktu bersama dengan Irsyad, jujur saja hal itu sedikit banyak membawa perubahan dan warna tersendiri di kehidupan Arcelia.
Walau tak banyak yang mereka lakukan, bahkan bisa dikatakan hanya perdebatan dan percekcokan-lah yang mengisi dan membersamai hubungan pernikahan mereka ini. Tapi, nyatanya hal itu mampu mengisi ruang kosong dalam hati Arcelia yang selama ini dirinya abaikan.
Ia rindu, rindu dengan semua rasa kesal dan jengkel ketika dirinya harus beradu argumen dengan Irsyad. Entahlah apakah dia itu bodoh atau apa sampai harus merindukan hal seperti dalam hidupnya. Namun perasaan ini sungguh nyata hingga dirinya tak bisa untuk mengabaikannya begitu saja.
" Hikss.. Kau jahat Irsyad! Mengapa begitu tega membuat perasaanku kacau seperti ini. Kau menyebalkan! " Ucap Arcelia dengan terisak dan deraian air mata yang membanjiri wajah lelahnya itu.
......................
Jangan lupa sertakan dukungannya yaaa...
Like, koment, vote, rate dan gifs💖💖
Mohon do'anya juga ya untuk ibu saya yang lagi sakit, semoga segera diangkat penyakitnya dan disehatkan kembali seperti sedia kala🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
Makasih untuk kalian semua saya ucapkan, karena sudah mau untuk nunggu dengan sabar karya saya yang masih jauh dari kata baik ini. Love, love deh pokoknyaa💖💖🤗