Mengandung Anak Musuhku

Mengandung Anak Musuhku
52. Perkataan Pedas


__ADS_3

Pagi hari masih diruang kamar inap milik Arcelia, Irsyad yang kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh dan sudah pasti merasakan kantuk yang teramat karena selama diperjalanan tadi dia tidak sempat tertidur karena mengkhawatirkan Arcelia, dan tanpa direncanakan pada akhirnya Irsyad pun tertidur dengan posisi duduk disebelah ranjang Arcelia. Kedua tangannya terlihat masih menggenggam erat tangan Arcelia yang tak terpasang selang infus.


Tepat ketika cahaya matahari berhasil menerobos masuk ruang inap tersebut, terlihat Arcelia mengerjapkan matanya dapat ia rasakan kehangatan yang berasal dari tangan kanannya. Entahlah apa itu, namun ia merasa dan sangat nyaman dan tenang dengan kehangatan yang dirasakannya itu.


Perlahan matanya pun mulai terbuka dan terlihat sedang menyesuaikan dengan cahaya pagi hari itu, masih terasa sedikit pusing ia rasakan setelah membuka matanya secara sempurna. Namun karena rasa penasarannya dengan kenyamanan tangan seseorang menggenggam tangannya, matanya yang semula masih menatap langit-langit kamar pun akhirnya ia alihkan kearah sisi kanan tempat yang ia yakini seseorang yang tengah menggenggamnya itu berada di sana.


Deg..


Arcelia terlihat tertegun ketika melihat seseorang itu adalah orang yang sudah lama ia tunggu-tunggu kehadirannya, ada perasaan lega dan secercah bahagia ia rasakan kala melihat laki-laki itu kembali ada dihadapannya. Namun, kesal dan amarah juga menyerang perasaannya bersamaan bahkan jauh lebih mendominasi dan rasanya ingin sekali segera ia luapkan.


Cih, baru ingat dia sekarang? Ini bahkan sudah hari keempat dirinya dirawat dan berada dalam ruangan pengap ini. Kemana saja dia selama ini? Apa dia baru sadar akan keberadaan dirinya dan anaknya ini? Ataukah baru sekarang dia punya waktu untuk mereka? Ya mungkin itu benar. Dirinya dan anak dalam kandungannya ini hanya akan selalu mendapatkan sisa dari waktu yang begitu sibuk dan sangat berharga milik laki-laki itu.


Dengan perasaan muak bercampur benci dengan kenyataan itu, Arcelia pun menepis kasar tangan besar dan hangat yang sejak tadi menggenggamnya itu. Hingga laki-laki yang sejak tadi masih setia tertidur itupun tersentak dan seketika bangun dari tidurnya.


Tatapannya langsung ia tujukan pada sesosok wanita yang ternyata dia pun sudah bangun.

__ADS_1


" Lia, kau sudah bangun? Bagaimana tidurmu, apa kau tidur dengan nyenyak? " Tanya Irsyad begitu matanya bertemu dengan kedua bola mata yang sangat dirindukannya itu.


Jujur saja, Irsyad sangat merindukan istrinya itu meski setiap bertemu dan bersama hanya tatapan permusuhan dan pertikaian-lah yang didapatkannya. Tapi mungkin justru karena hal itulah ia merindukan sosok istrinya itu, rindu mendebatkan argumen dan tentang segala hal yang selalu menjadi penghangat dalam hubungan pernikahan mereka. Dan tanpa disadarinya, hal-hal semacam itu yang dilaluinya bersama Arcelia nyatanya sudah berhasil mengisi dan memenuhi lorong-lorong kecil dalam dirinya dan melengkapi kehidupannya.


Bersitatap dengan Irsyad dan mendapat pertanyaan seperti itu, seketika membuat Arcelia memalingkan wajahnya pada arah lain. Rasanya semakin sebal saja dia mendengar suara laki-laki itu.


" Cih, sok perhatian dan peduli! Setelah semua yang terjadi, apa dia mulai menyesal? Apa tadi dibilang, tidurku nyenyak apa tidak? Haha.. Ingin rasanya aku tertawa, memang sejak kapan dia peduli soal aku tidur nyenyak apa tidak! Miris sekali. " Gerutu Arcelia dalam hati, hatinya berdenyut nyeri kala menyadari begitu acuhnya Irsyad selama ini padanya.


Bahkan kemarin, Irsyad tanpa mau repot tidak menghubungi atau sekedar hanya untuk mengabarinya. Begitu tak berartinya kah dirinya bagi Irsyad? Tak pernah adakah dirinya dalam kehidupan laki-laki itu?


" Lia.. " Seru Irsyad lagi karena tak kunjung mendapat sahutan seraya menyentuh lengan Arcelia, berharap agar Arcelia kembali untuk menatapnya. Ia masih rindu dan masih ingin memandangi wajahnya meski sekarang masih saja wajah itu terlihat pucat.


" Ck, jangan menyentuhku! " Tegasnya kembali menepis tangan Irsyad yang sudah lancang memegangnya.


" Untuk apa kau datang kemari? " Tukasnya lagi sengaja dengan nada tajam karena sudah tak bisa memendam kekesalannya lagi.

__ADS_1


" Tentu saja untuk melihat keadaanmu. Bagaimana, apa sekarang kau sudah merasa lebih baik? Dan kenapa bisa sampai seperti ini? " Ucap Irsyad dengan beberapa pertanyaan yang masih banyak belum ia ungkapkan. Ya, Irsyad tidak mengerti mengapa Arcelia tiba-tiba saja mengalami semua hal ini, padahal ketika ia tinggal waktu itu Arcelia sehat-sehat saja tuh.


" Cih! Tentu saja karenamu, semua ini terjadi karena dirimu bodoh! " Ingin rasanya Arcelia meneriaki Irsyad seperti itu, tapi ia urungkan karena tersadar jika dirinya juga ikut andil dalam kemalangan yang menimpah dirinya itu.


" Ck, jangan sok peduli kau padaku! Kau pikir aku akan percaya, jika kau saat ini tengah mengkhawatirkan ku? " Tandas Arcelia akhirnya memilih menyahuti pertanyaan Irsyad yang lain, masih dengan nada ketus dan menusuk.


" Tidak perlu berakting Irsyad, aku sedang tidak membutuhkan semua itu darimu saat ini. Kemarin kau pergi sesukamu tanpa memperdulikan hal lain, bukan? Dan sekarang, kau datang dengan seolah membawa rasa bersalah yang entah itu nyata atau bukan, aku tidak tahu dan tidak mau tahu juga. Tapi Irsyad, haruskah aku peduli dengan kehadiranmu sekarang? Bukankah itu sudah sangat terlambat, hmm? " Tambah Arcelia dengan kata-kata lebih kejam dan tanpa mau peduli dengan perasaan lawan bicaranya.


Perkataan pedas Arcelia barusan membuat Irsyad menatap wajah Arcelia intens, ditengah rasa bersalah, menyesal juga sangat khawatir dengan kondisi istrinya itu. Arcelia justru bertingkah seperti ini, jika dirinya tidak ingat akan keadaan lemah Arcelia saat ini juga akan kebodohan dan keegoisan dirinya itu. Mungkin Irsyad pun akan ikut meneriaki Arcelia, tentang begitu keras kepala dan cerobohnya tindakan Arcelia yang secara tidak langsung yang membuatnya sampai dalam kondisi seperti sekarang ini.


Ya, Irsyad tahu semuanya. Devin sudah mengatakan segalanya pada Irsyad saat dia menghubunginya kemarin, mengenai kegiatan dan kegilaan Arcelia selama dia tinggal pergi beberapa hari lalu. Mau dikatakan apapun Irsyad sadar, ia salah karena meninggalkan dan menelantarkan istri yang sedang mengandung hanya untuk memenuhi kepuasan dirinya semata dan bersenang-senang.


Tapi tindakan Arcelia pun tak bisa dibenarkan bukan? Meski Irsyad tidak tahu apa alasan Arcelia melakukan semua itu, padahal dia sendiri tahu jika dirinya sedang hamil dan tidak boleh sampai kelelahan dan mengalami stres berat. Tapi dengan bodoh dan sengaja dia melakukan semua pantangan itu dan sampai berakibat seperti saat ini.


......................

__ADS_1


__ADS_2