
Disebuah gedung, tempat dimana Arcelia akan melakukan sebuah pertemuan dengan pihak perusahaan milik Richard. Terlihat Arcelia berjalan dengan sedikit tergesa memasuki gedung tersebut didampingi oleh Devin yang berjalan disebelahnya, disaat dirinya tadi tengah sarapan sang asisten menginformasikan bahwa pertemuan tersebut akan diadakan lebih awal.
Tentu saja hal itu membuat Arcelia sedikit pontang-panting untuk bisa tetap menghadiri pertemuan tersebut dengan tepat waktu. Meski sebenarnya dia kesal, karena pihak Richard seenaknya mengubah jadwal pertemuan mereka disaat waktu sudah mepet seperti ini.
Ah.. Devin saja sampai sedikit ragu dan takut-takut ketika tadi akan memberitahu Arcelia. Bukan tanpa alasan, karena selama dirinya bekerja bersama Arcelia hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Dan biasanya Arcelia lah yang selalu menjadi pihak penentu kapan dan dimana pertemuan itu akan berlangsung, Devin sangat hapal bagaimana karakter dari atasannya tersebut yang sangat tidak mungkin untuk diatur dan diperlakukan seenaknya seperti sekarang ini.
Mengingat hal tersebut Devin menduga mungkin saja ini akan mempengaruhi kerja sama diantara mereka, bahkan Devin sudah mempersiapkan kemungkinan terburuknya jika Arcelia tiba-tiba saja ingin membatalkan kerja sama ini secara sepihak. Tapi diluar dugaannya, karena ternyata Arcelia bisa menyikapi ini dengan tidak terlalu buruk. Meski tetap dirinyalah yang menjadi sasaran akan kekesalan dan omelan dari perempuan cantik itu.
" Ah.. Maaf kami datang sedikit terlambat. " Ucap Arcelia ketika dirinya baru memasuki ruang rapat, terlihat dia juga masih menetralkan deru napasnya yang memburu.
" Tidak masalah, justru saya meminta maaf karena memajukan jadwalnya secara mendadak seperti ini. " Sahut Richard beranjak dari duduknya dan menyambut Arcelia dengan perasaan bersalah.
Arcelia pun nampak tak ingin terlalu memperpanjang masalah hingga membalas ucapan Richard tersebut hanya dengan sebuah senyum tipisnya, tak ingin mengulur waktu lagi dia pun meminta agar rapat segera dimulai.
__ADS_1
Dan akhirnya mereka pun berembug memulai rapat dengan keseriusan dan keprofesionalan masing-masing, saling menyumbang dan memberikan berbagai ide dan kontribusi demi kelangsungan kerja sama mereka yang diharapkan berjalan dengan baik. Tak sampai di sana, mereka pun pergi untuk melihat dan meninjau secara langsung segala pengerjaan dan pengolahannya, Arcelia terlihat sangat bersyukur dihari pertama penggarapan mereka ini setidaknya semuanya bisa dikatakan berjalan dengan lancar dan baik sesuai dengan yang diharapkannya.
Hingga tak terasa waktu sudah merangkak menuju siang hari, selain itu juga karena Arcelia yang tersadar ketika perutnya mulai berbunyi, berontak untuk minta segera diisi. Ya, semenjak dirinya mengandung, janin yang kini tumbuh di rahimnya itu seolah menjadi alarm dan pengingat agar dirinya selalu makan dengan tepat waktu.
Dan Arcelia yang hanya bisa pasrah mengikuti keinginan tubuhnya tersebut, setelah sebelumnya pernah abai dan membiarkannya begitu saja. Hingga berujung lah dengan dirinya yang tersiksa sendiri karena merasakan lemas serta pusing yang teramat, sampai tak bisa memfokuskan diri dengan pekerjaannya.
" Nona.. mari makan siang terlebih dahulu, saya sudah mereservasikan meja disebuah resto sekitar sini. " Devin yang memang sudah mengetahui kebutuhan atasannya yang sebenarnya berubah akhir-akhir inipun, langsung peka dan menjalankan tugasnya tanpa harus diminta kembali.
" Oh ya benar, ini sudah waktunya untuk makan siang ya. Maaf Nona Arcelia, saya sampai lupa waktu saking bersemangatnya. " Richard ikut menyambar menyahuti, setelah sebelumnya mengecek jam dipergelangan tangannya.
" Begini saja, bagaimana jika makan siang kali ini saya yang akan mentraktir anda, Nona? " Tambahnya lagi setelah sesaat yang lalu sejenak berpikir, agar pertemuan mereka tidak hanya sampai di sana.
" Tidak perlu seperti itu Tuan Richard, jika berkenan anda bisa bergabung untuk makan siang bersama kami. Namun, tidak dengan tawaran traktiran anda! " Sahut Arcelia yang merasa sudah sangat lapar dan bingung juga jika harus meninggalkan rekannya begitu saja.
__ADS_1
Meski sedikit kecewa dengan penolakan Arcelia, tapi akhirnya ia mengangguk juga dan ikut pergi ke sebuah resto yang sama dengan dituju oleh Arcelia. Ya, setidaknya ia masih bisa untuk makan siang bersama dengannya, meski niat baiknya itu ditolak mentah-mentah oleh Arcelia.
Walau seperti itu Richard tidak tersinggung, dia tahu dan paham seperti apa wanita yang bersamanya saat ini. Dia merupakan sosok wanita yang tegas dan mandiri, tentu saja tawaran receh itu akan ditolak olehnya yang sangat independen dengan kekayaannya yang tak perlu untuk diragukan lagi.
" Ya, baiklah. Tapi saya tetap berharap, lain kali Nona bersedia menerima tawaran saya tersebut. " Ujar Richard yang ternyata masih keukeh dengan keinginannya itu.
Dengan senyum canggung Arcelia menanggapi ucapan Richard tersebut, dan tak menunggu lama lagi mereka pun pergi menuju resto yang dimaksud Devin sebelumnya.
Arcelia sudah nampak tidak bisa mengendalikan rasa laparnya itu, sedari tadi perutnya sudah meronta dan bertalu untuk minta diisi. Bahkan ketika sudah berada didalam mobil sekalipun, perutnya tak henti-hentinya berbunyi yang mungkin saja bisa terdengar oleh orang lain. Tapi, Arcelia tak memperdulikannya lagi pula hanya ada Devin yang saat ini sedang menyetir didalam mobil tersebut.
Selain itu juga, Devin tidak akan mempermasalahkannya karena dia yang juga sudah tahu jika atasannya seperti itu dikarenakan atasannya yang tengah berbadan dua.
" Aduh nak, kau sabar dan tenang dulu. Mommy pasti akan segera memberimu makan. " Seru Arcelia pada sang janin seraya mengelus-elus perutnya yang meski belum terlihat, namun Arcelia bisa merasakan sedikit perubahan pada perutnya itu.
__ADS_1
......................