Mengandung Anak Musuhku

Mengandung Anak Musuhku
49. Cemas


__ADS_3

Sepuluh hari sudah Irsyad meninggalkan Arcelia dan pergi bersenang-senang bersama teman dan para sahabatnya itu. Rasanya sangat menyenangkan dan terasa memuaskan baginya, bagaimana tidak jika selama berbulan-bulan ini ia harus menahan dan mengentikan hobinya itu.


Ya, semenjak Arcelia diketahui tengah mengandung anaknya secara tidak langsung ia seakan tertahan hanya untuk sekedar duduk, nongkrong bersama para sahabatnya itu. Bukan karena apa-apa ia menurut begitu saja, tapi sang ibu lah yang selalu mengawasi dan mewanti-wanti dirinya untuk selalu menjaga Arcelia dan memenuhi segala kebutuhannya. Dikhawatirkan ketika Irsyad tidak ada, Arcelia mengidam atau mungkin membutuhkan sesuatu sehingga Irsyad harus selalu stand by di samping Arcelia, ya begitulah kira-kira perkataan ibunya saat itu.


Dan kini, seakan menemukan kembali kebebasannya Irsyad seakan begitu lupa waktu dan bahkan tidak mengingat hal lainnya lagi. Apalagi dengan ditambahnya bertemu dengan teman-teman sekolahnya dulu, seolah sekarang ia tengah melakukan reuni akbar dadakan itu. Teman kerja dan teman kuliahnya pun dengan mudah berbaur dan akrab satu sama lain dengan teman-teman SMAnya itu sehingga tidak membuat kecanggungan ataupun ketidaknyamanan di sana.


Sungguh, inilah kehidupan dan kebahagiaan yang diinginkannya, bisa bebas dan bersenang-senang dengan hati lapang dan tanpa sebuah beban lagi, setelah melalui hari-hari melelahkan karena berkutat dengan tumpukan tugas dan pekerjaannya.


Mengenai Arcelia tentu saja ia tidak bisa lupa begitu saja, bagaimana pun ia kan memang memiliki tanggung jawab terhadapnya. Terlebih teman-temannya itu tidak ada habisnya membahas perkara Arcelia dengan dirinya, jika mana mungkin kan dia bisa lupa pada perempuan cantik itu.


Namun meski seperti itu, sangat disayangkan Irsyad tidak bisa hanya untuk sekedar bertukar kabar dengannya. Bukan tak ingin dan tak ingat, seperti yang tadi dikatakannya bahwa ia justru terus saja teringat akan istrinya itu, tapi ya mau bagaimana lagi kondisinya tidak memungkinkan. Mana bisa kan Irsyad menghubunginya, sedangkan di tempatnya kini ia tak bisa hanya untuk sekedar mendapatkan sinyal?


Tapi, tak apa. Lagi pula Irsyad sebentar lagi pun akan pulang, ya sekitar dua hari lagi dirinya akan kembali ke kota M. Dia hanya berharap semoga ketika nanti dirinya itu pulang, tidak mendapat omelan dari ibunya. Ah.. Kalau bisa, dia juga akan berdoa semoga ibunya itu bahkan tidak akan mengetahui mengenai kepergiannya ini, mengingat bisa terbilang cukup lama juga ia pergi. Duh, jadi cemas sendiri kan sekarang Irsyad. Takut-takut begitu sampai justru diterkam dengan amukan ibu kandungnya itu.

__ADS_1


" Aah.. Tidak, semoga saja tidak! Lagi pula, aku tinggal beralasan saja jika ingin karena pekerjaan. Lah, emang benar karena pekerjaan kan awalnya? Hanya saja sedikit ku tambah saja waktunya untuk bersenang-senang wkwk " Gumam Irsyad dalam sudah kembali percaya diri, karena menemukan cara menghadapi dan menjawab omelan ibunya nanti.


°°°°°


Setelah selesai dengan semua kegiatan dan acara kumpul-kumpul dengan para kawannya, kini Irsyad sudah kembali berada di sebuah hotel tempat dirinya menginap selama berada di kota tersebut. Setelah melalui hari-hari melelahkan namun menyenangkan itu, pertama-tama yang dilakukannya adalah membersihkan dirinya dan sedikit merilekskan otot-otot tubuhnya itu barang sejenak.


Wangi segar shampo dan sabun mandi menguar kala Irsyad keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan berseri, masih lengkap dengan lilitan handuk ditubuhnya dan sebuah handuk kecil yang terlihat ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Irsyad berjalan kearah sofa dimana didepannya terdapat sebuah meja yang sudah dipenuhi oleh berbagai makanan yang tadi sempat dipesannya.


Karena rasa laparnya yang sudah mendera sejak tadi Irsyad pun langsung saja melahap makanannya itu saat itu juga, apalagi makanan yang tersaji di sana terlihat begitu lezat dan menggiurkan sehingga membuat perutnya semakin keroncongan dan enggan hanya untuk sekedar berganti pakaian saja.


Dan dikarenakan hal itu juga ia jadi teringat akan ponselnya dan ingin kembali ia nyalakan, ya pasti akan akan ada banyak yang menghubunginya terlebih jika itu berkaitan dengan setumpuk pekerjaannya. Namun entahlah, disudut hatinya yang lain ia juga menaruh sedikit harapan jika Arcelia, istrinya itu menghubunginya, menanyakan keadaan dan kepulangannya bahkan menyisipkan kata rindunya yang jelas saja semua itu mustahil terjadi dan Irsyad sangat tahu akan hal itu.


Dan benar saja, begitu ponselnya berhasil menyala ada begitu banyak notifikasi yang bermunculan, mulai dari pesan hingga beberapa panggilan tak terjawab di sana. Meski cukup banyak, tapi ada satu pengirim yang menarik perhatiannya dan segeralah dibukanya pesan itu.

__ADS_1


Nama kontak pengirim yang Irsyad namai 'Sekretaris Devin' itu jelas saja mengalihkan fokusnya pada yang lain, karena jika laki-laki yang merupakan tangan kanan istrinya itu sudah menghubunginya tentu yang dibahas adalah mengenai wanita cantik yang tengah dipikirkan olehnya itu.


Masih ingat bukan, jika Irsyad sudah pernah meminta dan memerintahkan Devin untuk memberitahu dan melaporkan tentang semua kegiatan yang dilakukan istrinya itu? Ya, setelah permintaannya itu, Devin pun kerap kali menginfokan berbagai hal yang berkaitan dengan yang istrinya lakukan diluar rumah memang hanya berupa gambaran besar saja namun itu cukup bagi Irsyad.


Dan kali ini, kira-kira apa ya yang akan dilaporkan oleh Devin padanya. Karena sudah penasaran ia pun segera membacanya satu-persatu dengan teliti hingga tak ada satu kata pun yang terlewat ia baca. Awal mula ia sedikit heran bahkan sampai mengerutkan keningnya beberapa kali saat membaca isi pesan tersebut, terkadang juga berdecak kesal dengan raut yang tak enak untuk dipandang ketika membaca dan mengscrollnya terus kebawah.


Hingga pada akhirnya ia pun terjengkit kaget, bahkan sampai berdiri dari duduknya ketika membaca kelanjutan isi pesan itu. Dengan wajah panik dan kilatan amarah Irsyad tergesa memakai pakaiannya segera dan memesan tiket kepulangan yang paling cepat untuk hari itu juga.


Rasa cemas dan khawatir tentu saja seketika itu juga menyergapinya, dia benar-benar tak habis pikir mengapa sampai hal seperti ini bisa terjadi?


Belum lagi, membaca omelan dari ibunya yang pasti sudah beberapa kali mencoba menghubungi dan memberitahunya mengenai hal ini. Ah.. Sudah dapat terbayangkan akan seperti apa marah ibunya nanti padanya, tapi terlepas dari hal itu rasa cemas dan takutnya terhadap istrinya jauh lebih besar saat ini.


Dengan gerakan cepat Irsyad melesat keluar dari hotel tersebut dan langsung memasuki taksi yang tadi sempat dipesannya itu mengarah kearah bandara, ya tunggulah ia masih mendapatkan tiket untuk pulang saat itu juga.

__ADS_1


Selama diperjalanan Irsyad pun tak menyia-nyiakan waktunya, dia berinisiatif menghubungi dan menanyakan langsung detailnya pada Asisten pribadi istrinya itu. Dia ingin tahu bagaimana hal itu sampai bisa terjadi dan menimpa istrinya?


......................


__ADS_2