
Kedai McDonald’s dekat persimpangan menuju arah jalan pulang menjadi destinasi yang tepat untuk dikunjungi setelah melewati hari yang panjang nan melelahkan. Juan memarkirkan mobilnya di slot yang tersedia, begitu semangat turun dari mobil seraya berkali-kali berteriak kepada Reno agar lelaki itu segera turun menyusul dirinya yang sudah hampir mencapai pintu masuk.
Jam 8 lewat 16, sudah cukup malam untuk ukuran orang-orang yang baru pulang kantor seperti dirinya dan Reno. Maka Juan bersyukur ketika mendapati banyak meja kosong sehingga ia bisa lebih leluasa memilih di mana dia hendak menikmati makanan yang dia pesan.
Pilihannya jatuh pada meja kosong di dekat jendela kaca besar yang mengarah ke jalanan. Di seberang, ada sebuah mal ternama yang selalu ramai dikunjungi orang-orang dari berbagai kalangan usia. Di bagian tertinggi gedung mal itu terdapat bioskop yang tidak pernah sepi meski film yang diputar hampir selalu masih sama selama seminggu berturut-turut. Juan pernah mengajak Zahira nonton di sana sekali, dan tempatnya memang senyaman itu sehingga tidak heran kalau para kawula muda tidak keberatan merogoh kocek cukup dalam untuk menonton sebuah film dengan durasi kurang dari 2 jam.
Juan meletakkan ponsel di atas meja, menggeret lengan Reno dan menyuruh lelaki itu untuk duduk di sana agar tempat pilihannya itu tidak diserobot oleh orang lain. Setelahnya, dia berjalan riang menuju counter, siap memesan.
Selera Reno tidak berubah dari dulu, jadi Juan tidak perlu repot-repot bertanya ingin memesan apakah lelaki itu malam ini. Maka dengan begitu lancarnya, ia menyebutkan semua pesanan kepada pelayan yang berdiri di balik komputernya.
Waktu yang dibutuhkan untuk dia bisa mendapatkan semua yang dia pesan kurang dari 5 menit. Bisa jadi karena pelanggan yang datang tidak terlalu banyak, atau bisa juga karena memang restoran cepat saji ini memiliki servis yang luar biasa untuk memuaskan setiap pelanggan mereka.
Satu nampan berisi 2 Big Mac, 2 French Fries, 1 Iced Hazelnut Latte, 1 Iced Vanilla Latte dan 2 botol air mineral ukuran 750ml itu dia bawa menuju meja yang telah ditempati Reno, lalu ia menurunkan satu persatu muatan dengan sabar, sama sekali tidak terlihat gegabah walau sebenarnya rongga mulutnya sudah penuh sekali dengan air liur, tergoda aroma lezat yang menguar dari Big Mac yang masih hangat.
“Thanks,”
“No prob.” Juan menyahut seraya mengerlingkan matanya genit. Kalau sedang mode gelud, dia hanya akan berakhir dicaci-maki atau bahkan mendapatkan toyoran dari Reno. Tapi berhubung mereka sedang dalam mode bestie, lelaki itu hanya terkekeh singkat seraya menggelengkan kepala pelan.
“Zahira masih di rumah sakit jam segini?” tanya Reno sebelum dia menggigit Big Mac yang ukurannya tidak manusiawi.
Berhubung diingatkan soal kecintaannya, Juan yang semula sudah mangap pun akhirnya merapatkan kembali bibirnya. Ponsel di atas meja lalu dia sambar, secepat kilat dia men-dial nomor Zahira untuk tahu di mana keberadaan kekasihnya tersebut.
“Halo?”
“Halo, sayangku, cintaku, kasihku. Kamu di mana?”
Geli! Reno menunjukkan gestur hendak muntah setelah mendengar panggilan yang super lengkap bin alay bin lebay itu. Namun dia berakhir terkekeh dan kembali melahap Big Mac-nya.
__ADS_1
“Di rumah sakit, Ju. Kenapa, ya?”
“Nggak pulang lagi malam ini?”
“Enggak. Aku jaga malam. Kenapa, Juju?”
Saat panggilan sayang itu keluar, Juan tidak lagi berusaha menahan senyumnya. Big Mac yang semula tampak menggoda tiba-tiba saja kehilangan pesonanya. Ia lantas dibiarkan teronggok kembali di atas nampan, menangis tak berdaya. “Juju cuma mau nanya, Zaza udah mam atau belum?” dengan gaya bicara seperti bocah yang baru belajar menghafalkan beberapa kata.
Kali ini, Reno tidak tahan pada sensasi geli yang membludak di perutnya. Alhasil, nyemburlah ia. Beberapa potong daging dari dalam Big Mac yang belum sempurna ia kunyah muncrat, melayang-layang di udara sebelum akhirnya mendarat sempurna di punggung tangan Juan yang berada di atas meja.
Tatapan maut hadir sebagai konsekuensinya, dan Reno hanya bisa cengengesan kala mengelap hasil karya seni yang ia buat di tangan Juan mumpung si empunya masih menunggu jawaban dari Zahira cantikku cintaku tersayang dari seberang.
“Belum. Satu jam lagi baru rencana mau nyari makan sama teman-teman yang lain.”
Semburan Reno masih menyisakan rasa jijik untuk Juan, namun dia berusaha keras melupakannya karena toh sepupunya itu sudah berusaha untuk memperbaiki kesalahannya. “Aku lagi di McD sama Reno sekarang, lagi makan Big Mac. Kalau kamu emang belum beli makan, aku beliin aja ya dari sini? Triple Cheesburger, French Fries, Apple Pie sama Iced Cafe Matcha Fushion. Mau?”
“Ya enggak, lah. Masa buat kesayangan aku ngerepotin sih, Za. Mau, ya? Nanti aku sekalian bawain camilan yang lain deh buat kamu bagi-bagi juga ke teman-teman.”
Beberapa detik, di ujung sana hening. Tampaknya, Zahira si anak manis itu sedang berpikir keras. Ingin menolak, tapi Juan kelihatan niat sekali untuk membawakannya makan malam. Ingin menerima, tapi tidak enak karena harus menyuruh kekasihnya itu pergi ke rumah sakit yang jaraknya lumayan jauh.
Tapi pada akhirnya, Zahira tetap menerima tawaran Juan. Membuat lelaki itu berjingkrak kesenangan.
“Gitu, dong. Itu baru namanya pacar aku. Ya udah, aku sama Reno habisin makanan kami dulu, ya, nanti habis itu kami langsung otw ke rumah sakit.”
“Iya, Ju, makasih, ya.”
“Sama-sama, Sayangku. Bye bye!”
__ADS_1
“Simi-simi, Siyingki. Si anying.”
Juan hanya terkekeh mendengar Reno yang sewot sendiri meledek caranya berkomunikasi dengan Zahira.
“Iri aja lo, dasar jomblo.”
“Sialan.”
Tidak ada sahutan. Juan mulai asyik melahap Big Mac yang sempat teranggurkan karena dia sibuk berbincang dengan Zahira.
Meskipun Reno mulai makan lebih dulu, nyatanya Juan tetap menjadi yang pertama menghabiskan Big Mac miliknya. Bahkan ketika milik Reno masih sisa seperempat, Juan sudah mulai melahap French Fries yang tak kalah menggoda.
“Anyway,” dengan mulut setengah penuh, Reno buka suara. “Lo masih nyaman nggak sih kerja bareng si Moana? Atau lo mau gue pindahin dia ke divisi lain aja? Soalnya gue lihat-lihat, dia makin gencar aja deketin lo.”
“Masih aman.” Juan menyahut, lalu menyambar Iced Vanilla Latte miliknya dan menyedotnya tiga kali. “Dia juga cuma rese sewaktu di luar jam kerja aja, kok. Kalau pas di kantor mah dia nggak pernah aneh-aneh. Justru nih, ya, kalau nggak ada dia di divisi gue, nggak akan ada yang bisa bikin si Adrian Lukas yang gila itu kicep.”
“Si gemblung itu masih suka gangguin lo sama anak-anak?”
“Semua orang juga dia gangguin. Mau orang lama atau orang baru, nggak ada yang lewat dari keusilan dia.”
Reno mendesah panjang. Inilah kenapa dia tidak setuju ketika ayahnya memasukkan si Adrian Lukas yang otak udang itu ke dalam perusahaan. Membantu tidak, jadi beban tim saja kerjaannya. “Bokap gue emang sinting, sih, udah masukin manusia macam Lukas ke perusahaan.”
“Rahasia dia lebih penting daripada sekadar kehilangan beberapa juta buat ngegaji itu manusia.” Celetuk Juan. Lukas memang masuk ke dalam perusahaan karena ayahnya Reno secara khusus memasukkannya. Itu adalah imbalan yang dirasa pantas untuk aksi tutup mulut atas skandal perselingkuhan yang terjadi antara ayahnya Reno dengan seorang perempuan beristri. Yeah, lagi dan lagi si tua bangka itu berselingkuh.
“Bajingan emang.” Reno mendumal pelan. Lalu sisa obrolan mereka tidak jauh-jauh dari soal pekerjaan. Sesuatu yang jarang terjadi karena biasanya mereka lebih suka mengobrolkan soal hobi ataupun kisah asmara mereka masing-masing.
Bersambung
__ADS_1