Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Di Sana, Dia Hidup


__ADS_3

Mendengar caci maki dari Reno sudah biasa bagi Juan, tetapi kalau segala kata umpatan kasar itu datangnya dari Clarissa, itu adalah yang pertama.


Melalui sambungan telepon, Clarissa mencak-mencak, memprotes keputusan sepihaknya untuk pulang lebih dulu bersama Zahira dan meninggalkan perempuan itu di cafe bersama Reno.


“Tunggu kita ketemu lagi, gue tebas kepala lo, Ju!” Clarissa berseru lagi.


Juan melirik ke arah Zahira yang duduk anteng di kursi penumpang, mengamati bagaimana perempuan itu menatap ngeri pada ponsel miliknya yang dia letakkan di atas dashboard dalam kondisi loud speaker yang aktif.


Wajar, Zahira adalah perempuan lemah lembut yang senantiasa berusaha menghindari konflik. Maka mendengar dan melihat Clarissa berubah menjadi reog jelas membuatnya terkena mental.


“Kamu kok bisa temenan sama cewek kayak gini sih, Za?” Juan berbisik. Entah bisa didengar atau tidak oleh Clarissa yang masih saja mengoceh di seberang.


“Nggak tahu.” Zahira menjawab dengan polosnya. Gelengan kepala yang turut muncul serta-merta membuat Juan gemas. Ingin rasanya dia bawa tubuh Zahira ke dalam dekapan, dia sembunyikan wajah dengan pipi yang mudah memerah itu di dadanya, supaya tidak ada orang lain yang bisa melihatnya.


“Ini gue pulang sama siapa, Juananda ****** Saputra?!”


Oh, Clarissa. Perempuan paling ribet nomor satu di dunia. Ayolah, ada Reno di sana, kenapa harus bersikap seolah dia ditinggalkan sendiri di sebuah tempat yang jauh dari akses ke mana-mana? Lebay sekali!


“Gue udah minta tolong sama Reno buat anterin lo pulang, Ssa.”


“Nggak mau! Gue nggak mau pulang sama dia!”


“Ya udah, naik taksi online kan bisa.”


“Nggak! Gue nggak mau tahu, lo putar balik sekarang!”


“Ndasmu putar balik, gue udah sampai di rumahnya Zahira, tinggal turun doang!”


“Ju, ngomongnya kasar.” Zahira menegur.


Juan yang ditegur hanya menyengir kuda, lalu karena dia enggan mendengar lebih banyak omelan dari Clarissa, sambungan telepon segera diputus secara sepihak. Masa bodoh soal nasibnya nanti, itu akan dia pikirkan setelah pulang dari sini. Yang penting sekarang dia harus mengantarkan Zahira masuk ke dalam rumah. Sebentar lagi maghrib, dan dia sudah kadung berjanji pada bapaknya Zahira untuk mengembalikan putri semata wayangnya sebelum adzan maghrib berkumandang.

__ADS_1


“Kok dimatiin, Ju? Kamu nggak takut nanti Clarissa makin marah?” Zahira bertanya khawatir.


Juan menelengkan kepala, lalu tersenyum tipis. “Semarah-marahnya dia nggak akan sampai bikin kepala aku putus beneran kok, Za, tenang aja.” Lalu ia melepaskan seatbelt yang membalut tubuh tegapnya.


Kemudian, Juan segera turun, tak lupa membukakan pintu untuk sang pujaan hati dan memastikan perempuan itu turun dari mobil dengan selamat.


Keduanya lantas berjalan beriringan memasuki pelataran rumah. Namun, di perjalanan itu, Juan jadi salah fokus pada keberadaan sebuah motor yang kelihatan tidak asing. Sewaktu di dalam mobil, dia terlalu fokus pada ocehan Clarissa sehingga tidak menyadari keberadaan motor yang padahal parkir tidak jauh dari mobilnya itu.


Gugup dan perasaannya menjadi tidak enak, Juan pun merapatkan tubuh ke arah Zahira. Tangan perempuan itu lantas dia genggam, erat sekali seakan takut jika longgar sedikit maka Zahira akan lepas dari genggaman untuk selamanya.


“Assalamualaikum.” Zahira mengucapkan salam kepada penghuni rumah. Juan ikut mengucapkannya, hanya saja dengan suara pelan hingga yang bisa mendengar hanyalah dia dan Zahira saja.


“Waalaikumssalam.” Dari arah dalam, sebuah suara perempuan mengalun dengan lembut, menjawab salam mereka.


Tak berselang lama, muncul seorang wanita berusia akhir 40-an dalam balutan gamis warna ungu dan jilbab syar’i warna hitam. Wanita itu tersenyum lembut, menyambut kedatangan Zahira dan Juan.


Juan mengulurkan tangan, lalu ketika disambut, ia segera melabuhkan kecupan ke tangan wanita yang merupakan ibunda dari Zahira tersebut. Umi Maryam, Juan sering memanggilnya begitu.


“Ayo, masuk.” Umi Maryam menggiring keduanya untuk masuk.


Laki-laki itu bernama Adnan, seseorang yang Juan anggap sebagai musuh bebuyutan karena acapkali kedapatan sedang berusaha untuk merebut hati Zahira. Setahu Juan, Adnan adalah partner in crime bapaknya Zahira untuk pergi ke berbagai kajian selama kurang lebih 2 tahun terakhir. Entah di mana mereka bertemu sebelumnya, Zahira tidak bercerita banyak. Yang jelas, di hari pertama Juan bertemu dengan Adnan, dia sudah merasa tidak suka.


“Duduk, Ju, Umi ke dapur dulu ambil minuman buat kamu.” Ujar Umi Maryam mempersilakan Juan duduk.


Juan menurut saja. Dia ikut duduk di sofa yang sama dengan Adnan, menerapkan jarak yang jauh karena sejujurnya dia enggan sekali kalau harus bersinggungan dengan laki-laki itu.


“Aku juga mau ke atas ya, Ju, mau mandi.” Pamit Zahira yang hanya ditanggapi Juan dengan anggukan kepala.


Saat dua laki-laki yang menaruh hati pada satu perempuan yang sama ada di satu waktu dan tempat, apa yang bisa diharapkan selain tensi yang buruk dan keheningan yang begitu panjang?


Begitu juga yang terjadi dengan Juan dan Adnan sekarang ini. Karena dasarnya Juan sudah tidak suka dengan Adnan dan dia bukan tipikal muka dua yang bisa baik di depan jahat di belakang, maka Juan tidak berniat sama sekali untuk berbasa-basi. Dia lebih memilih untuk memainkan ponselnya, pura-pura sibuk padahal yang dia lakukan hanyalah scroll sosial media yang sudah jelas isinya tidak berbobot.

__ADS_1


Sementara Adnan, lelaki yang pembawaannya lebih tenang dan kalem itu hanya diam di posisinya, tidak melakukan apa-apa sampai kemudian seorang pria paruh baya muncul dari tangga, menyapa mereka berdua.


Juan segera menyimpan ponsel yang sedari tadi dia tekuri, secepat kilat bangkit dan menyambar tangan pria itu lalu menciumnya. Adnan melakukan hal serupa tak lama setelahnya, membuat Juan tak kuasa menahan diri melemparkan side eye andalannya.


“Asyik jalan-jalannya, Ju?” tanya Abi Hamzah, bapaknya Zahira.


“Asyik, Bi, Zahira juga kelihatan happy.” Juan menyahut. Lalu mereka bertiga kembali duduk sebelum melanjutkan perbincangan.


“Syukur alhamdulillah kalau gitu, Abi senang dengarnya. Akhir-akhir ini Zahira sibuk di rumah sakit sampai jarang pulang, kadang kasihan lihatnya.”


Juan baru akan mangap, tapi sayang seribu sayang, dia sudah lebih dulu disalip oleh Adnan yang dengan seenak jidatnya menyeletuk.


“Nanti kalau udah jadi dokter beneran juga bakal lebih sibuk, Bi.”


Jelas saja Juan langsung melirik tajam ke arah lelaki itu. Padahal kan konteksnya yang sedang diajak bicara oleh Abi itu adalah dirinya, kenapa si Adnan Bagong ini nimbrung tanpa izin? Menyebalkan sekali.


Lebih menyebalkan lagi karena Abi malah terkekeh menanggapi celetukan Adnan sambil mengangguk, seolah mengiyakan apa yang lelaki itu katakan.


Sadar bibir Juan sudah maju 5 senti, Abi Hamzah mengulum senyum. Ia tahu kekasih putrinya ini memang gede sekali ambeknya, segede otot-otot di badannya. Meski begitu, Abi Hamzah tahu Juan adalah pribadi yang baik. Mungkin hanya sedikit kurang didikan saja, tapi Abi Hamzah percaya Juan masih bisa diperbaiki, masih bisa dituntun untuk berjalan menuju ke arah yang lebih baik.


“Kalau kiranya Zahira terlalu sibuk di rumah sakit dan nggak bisa ketemu kamu di luar, nggak apa-apa loh kalau kamu samperin dia. Pasti tetap ada spare waktu untuk istirahat toh? Bisa gunakan itu untuk ngobrol.”


Mendengar itu, Juan yang awalnya cemberut langsung berubah sumringah. “Boleh, Bi?” tanyanya antusias.


“Ya boleh-boleh aja harusnya. Toh kalian ketemu di waktu istirahatnya Zahira, kan, bukan waktu dia lagi sibuk ngurusin pasien.” Dengan bijaknya, Abi Hamzah berkata demikian.


Senyum Juan terkembang. Ini adalah salah satu alasan mengapa dia keras kepala mempertahankan hubungan beda agama dengan Zahira. Sebab Umi dan Abi menerimanya dengan baik, tetap memperlakukannya selayaknya sesama manusia meski keyakinan yang mereka anut berbeda, dan yang lebih penting, keduanya mampu memberikan kasih sayang orang tua yang sebelumnya tidak dia dapatkan dengan benar dari kedua orang tuanya sendiri.


Di keluarga Zahira, ia merasa hidup. Itu poin pentingnya.


“Makasih, Bi, sarannya. Nanti Juan akan sering-sering samperin Zahira.” Itu dikatakan oleh Juan seraya melirik Adnan, seolah meledek lelaki itu dan hendak dengan bangga mendeklarasikan posisinya yang masih tinggi di keluarga Zahira.

__ADS_1


Kalau lirikan mata itu diterjemahkan ke dalam kalimat, mungkin bunyinya akan seperti ini: “Lo lihat, Adnan Bagong? Abi masih merestui. Jadi lo jangan berharap untuk menggeser posisi gue!”


Bersambung


__ADS_2