Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Jangan Lari, Hadapi


__ADS_3

“Gue balik dulu, besok gue sempetin dateng ke sini sebelum dan sehabis ngantor.” Juan berpamitan setelah memastikan semua kebutuhan Moana untuk beberapa jam mendatang terpenuhi. Stok air mineral, buah-buahan, cairan isotonik, dan masih banyak hal lagi sudah dia tata dengan apik di atas nakas. Posisinya juga dia buat seaman mungkin hingga memudahkan Moana untuk mengambilnya sendiri nanti.


“Thanks, Ju.”


Ucapan terima kasih itu hanya Juan tanggapi dengan anggukan kepala dan senyum tipis yang lebih tulus. Bisa dibilang, itu mungkin menjadi senyum paling tulus yang pertama kali Juan sunggingkan untuk Moana. Tolong jangan lupa, hubungan mereka tidak sebaik ini sebelumnya.


“Ya udah, gue balik. Take a good rest, biar cepat sembuh.”


“Iya, iya. Udah sana balik, badan lo bau asem, nggak ganti baju dari pagi.” Moana mendorong pelan tubuh Juan agar menjauh dari ranjang pasien.


“Gue bau asem juga demi jagain lo, ya.” Juan mencebik, namun tak urung tetap tertawa pendek di akhir kalimatnya. “Kabarin aja kalau butuh apa-apa. Gue bakal usahain buat stand by.” Sambungnya.


Moana mengangguk. Senyum yang dia kulum sejak tadi sudah tidak bisa disembunyikan lagi, maka dia meloloskannya begitu saja. Persetan akan dilihat dengan cara bagaimana senyum itu oleh laki-laki di depannya.


Lalu, tak ada lagi percakapan yang terlempar setelah itu. Usai memastikan ia tidak meninggalkan apa pun—meski memang yang dia bawa hanya dompet—Juan bergegas pergi meninggalkan kamar rawat Moana setelah sekali lagi mengucap pamit.


Di perjalanan menuju lift untuk turun ke lobi, Juan melirik jam di pergelangan tangan kiri. Jarum pendek sudah hampir menyentuh angka 6 sementara jarum panjang tepat menunjuk angka 9. Sebentar lagi—jika jadwalnya tidak berubah—Zahira akan pulang. Dan meskipun sebelum ini hatinya kembali dibuat remuk kala menyaksikan interaksi antara Zahira dengan rekan dokternya, Juan masih ingin hubungan mereka diperbaiki. Ada hal-hal yang masih ingin dia ketahui, dan satu-satunya cara untuk mendapatkan jawaban adalah langsung bertanya kepada yang bersangkutan—Zahira. Juan sendiri juga yakin, Zahira pun punya banyak sekali pertanyaan yang ingin dilontarkan kepadanya.


Menunggu selama 3 menit, pintu lift akhirnya terbuka. Dia masuk ke dalam sana sendirian setelah membiarkan enam penumpang keluar terlebih dahulu. Di dalam lift, tersisa dua orang (semuanya laki-laki) dan Juan memilih untuk berdiri jauh di sudut bagian kanan.


Dari lantai di mana kamar rawat Moana berada menuju ke lantai lobi sebenarnya tidak jauh, hanya terpaut 4 lantai. Namun anehnya, Juan merasa perjalanannya begitu panjang, seakan dia sedang menaiki kereta ajaib yang tujuan akhirnya tidak diketahui oleh siapa pun. Tak ada percakapan yang terjadi di antara dua laki-laki sebelumnya yang berdiri bersebelahan, sedangkan Juan sendiri terlalu sibuk mengarungi pikirannya sendiri untuk sekadar menyadari bahwa dua laki-laki tadi sedang bergandengan tangan.


Kalau ini adalah Juananda Saputra yang hubungan percintaannya dengan Zahira Cassanova sedang baik-baik saja, ia pasti akan dengan sangat julidnya menghakimi pemandangan itu. Namun, karena ini adalah Juananda Saputra yang kepalanya terasa nyaris terbelah dua, dia tidak akan berkomentar apa-apa bahkan meskipun dia menyadari situasinya.


Di waktu jeda ketika pintu lift terbuka dan dua laki-laki tadi keluar secara bersamaan, Juan menarik napas begitu dalam. Serakah sekali ia memborong pasokan oksigen di sekitar ke dalam paru-parunya, seperti sedang mempersiapkan diri sebab ia tahu, mengambil napas tidak akan terasa semudah ini nanti.


Pintu lift kembali terbuka di lantai lobi setelah beberapa detik kemudian. Juan bergegas keluar dengan ayunan langkah yang lebih pasti. Pikirannya masih sama semrawutnya dengan yang semalam—atau pun tadi pagi. Namun, kini, dia akan mengusahakan yang terbaik dan tidak membiarkan emosi kembali menguasai diri.


Melihat Zahira berinteraksi cukup intens dengan rekan kerjanya—orang yang sama yang malam kemarin dia lihat bersama Zahira—membuat Juan sadar bahwa dia belum siap kehilangan perempuan itu. Tidak. Juan mungkin memang tidak akan pernah siap untuk itu.


Menarik napas sekali lagi, Juan memperlebar jarak ayunan langkahnya agar bisa lebih cepat sampai di pintu keluar. Di sana, dia akan menunggu Zahira agar mereka bisa mencari waktu untuk berbicara.


...🥀🥀🥀...


Seharian ini, tidak banyak pekerjaan yang Zahira lakukan. IGD tidak seramai biasanya. Pasien rawat inap yang harus dia kunjungi bersama dokter juga jumlahnya menurun drastis jika dibandingkan dengan hari sebelumnya. Tapi anehnya, Zahira justru merasa kelelahan. Energinya seperti terkuras habis, dan dia tidak tahu apa pastinya yang membuat hal itu bisa terjadi.


“Sabtu sore besok, kamu free nggak?” di tengah perjalanan menuju lobi, Zayyan tiba-tiba bersuara.

__ADS_1


Zahira menoleh sebentar pada laki-laki yang berjalan persis di sebelahnya itu, kemudian kembali melayangkan pandangan ke depan. “Sampai sekarang sih belum ada rencana mau ke mana-mana. Kenapa emangnya, Mas?” tanyanya.


“Kalau free, saya mau ngajakin kamu ke suatu tempat.”


Zahira mengernyit. Jawaban itu Zayyan katakan pas sekali ketika mereka tiba di depan pintu keluar lobi. Membuat ada jeda sedikit bagi Zahira untuk menghentikan langkah dan menoleh sekali lagi sambil menunggu pintu dibuka.


“Ke mana?” tanyanya.


“Ada. Tempat yang kayaknya bakal kamu suka. Itu juga kalau kamu berkenan buat ke sana sama saya, sih.”


Zahira tidak langsung menolak, tidak pula dengan sembrono mengiyakan. Ia menggunakan waktu yang dia miliki untuk berpikir sambil kembali melanjutkan langkah.


Menyadari ajakannya tidak kunjung mendapatkan jawaban, Zayyan kembali bersuara. “Kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa. Jangan terima ajakan saya cuma karena kamu ngerasa nggak enak buat nolaknya.”


Bertepatan dengan momen ketika Zahira hendak membuka mulutnya untuk menjawab, ekor mata perempuan itu sudah lebih dulu menangkap kehadiran sosok yang sedang membuatnya resah gundah gulana. Sesaat, Zahira pikir dia salah lihat. Namun saat dia menolehkan kepala untuk melihat keberadaan laki-laki itu dengan lebih jelas, Zahira tahu bahwa itu benar-benar adalah Juan. Laki-laki itu berdiri beberapa langkah di depan mereka. Tatapannya terlalu sulit untuk Zahira baca, jadi dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang berputar di kepala lelaki itu ketika melihatnya bersama dengan Zayyan saat ini.


Akhirnya, karena tidak ingin memperkeruh suasana dan menyeret Zayyan ke dalam permasalahannya dengan Juan, Zahira pun berinisiatif memisahkan diri dari dokter muda di sampingnya itu sedikit lebih cepat.


“Nanti saya kabarin lagi ya, Mas. Udah ditungguin ternyata.” Tutur Zahira seraya memberikan kode kepada Zayyan tentang keberadaan Juan melalui tatapan mata.


Untungnya, Zayyan cukup peka. Laki-laki itu mengangguk cepat, lalu tersenyum tipis sebelum menjauhkan diri dengan mengambil langkah melebar ke sisi kiri. Meski sebenarnya, tanpa adanya Juan pun, ia memang akan berjalan ke arah sana karena di sanalah dia memarkirkan mobilnya.


“Aku pikir kamu udah pulang,” ucap Zahira begitu dia tiba di hadapan Juan. Ia mengatakan itu dengan tatapan yang jatuh pada kemeja kusut yang kekasihnya kenakan—tanda betapa sudah bekerja kerasnya lelaki itu seharian dalam menunggui perempuan lain. Setelah puas, barulah dia mengangkat kepala, menatap netra kekasihnya. “Gimana keadaan Moana? Udah oke?”


Terlepas dari seberapa besar rasa cemburu yang dia miliki, Zahira masihlah manusia. Dia tidak ingin menyingkirkan sisi kemanusiaan hanya demi memberi ruang bagi egoismenya untuk tumbuh semakin besar. Lagi pula, dia adalah seorang dokter. Tidak etis jika dia masih saja menggebu-gebu dengan perasaannya sendiri ketika seseorang mungkin sedang benar-benar kesakitan.


“Udah oke.” Masih sama seperti yang terakhir kali siang tadi, nada suara Juan kedengaran datar.


“Baguslah.” Balas Zahira. Lalu selama beberapa saat setelahnya, keadaan kembali hening.


Zahira melarikan tatapannya ke arah lain, menyasar lampu-lampu di seberang jalan yang menyala terang, berkilauan dari tempatnya dipasang yang menjulang tinggi sejajar pohon-pohon rindang yang ditanam di sekitar. Embusan angin yang datang menyapa membawa aroma yang tidak asing—aroma hujan. Secara khusus, Zahira tidak memiliki masalah apa pun dengan hujan dan segala hal yang datang bersamanya. Namun di saat-saat hatinya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja, Zahira berharap apa yang jatuh dari atas langit tidak akan membuat kondisinya semakin parah.


“Tadi pagi aku ke rumah Moana buat balikin mobil,” bersama desau angin yang menyapa lebih keras, suara Juan mengudara. Memotong tali keheningan yang mulai membentang cukup lebar.


Itu bukan informasi yang baru bagi Zahira karena dia sudah mendengarnya lebih dulu dari Reno, namun tetap saja, mendengar pengakuan yang terlambat itu membuat sudut hatinya kembali terasa seperti dicubit.


“Kemarin Moana sakit—“

__ADS_1


“Dan kamu anterin dia pulang, makanya mobilnya Moana bisa ada sama kamu.” Zahira menyela. Ia menghela napas rendah, lalu menoleh ke arah Juan yang tak lepas menatapnya. “Kenapa harus bohong?” todongnya. Seharian dipendam sendiri, pertanyaan itu akhirnya tumpah juga.


Di tempatnya, Juan membisu. Kenapa dia harus berbohong? Karena jika dia mengatakan itu adalah mobil Moana, maka dia harus menceritakan lebih banyak hal. Tentang dia yang tidak hanya mengantarkan Moana pulang, tetapi juga sampai menunggui perempuan itu sampai matahari tenggelam. Tentang ia dan Galih yang ada pekerjaan di luar, padahal dia sama sekali tidak kembali ke kantor sampai batas waktu yang sudah ditentukan. Dan masih banyak lagi. Juan harus mengatakan banyak sekali kejujuran yang bisa memicu terjadinya perang dunia, dan dia tidak mau itu terjadi.


Namun kini, ketika kebohongannya terbongkar satu, Juan sadar dirinya sudah tidak memiliki tempat lagi untuk bersembunyi.


“Sejauh mana kamu bohong sama aku, Ju?” seperti seorang bocah yang sudah dijanjikan sebuah mainan baru, Zahira terus menagih. Sorot matanya yang sendu membuat Juan merasakan pilu berpuluh kali lipat lebih parah ketimbang sebelumnya. Sepenuhnya menggerus emosi yang Juan pelihara sejak kemarin hanya karena menyaksikan seorang laki-laki membantu perempuan yang dia cintai agar tidak terjatuh.


“Maaf,” pada akhirnya, Juan hanya bisa berkata lirih. Alih-alih membela diri dengan seribu argumen yang ia miliki di dalam kepala, atau bahkan menyerang balik Zahira dengan adegan jatuhnya perempuan itu semalam, Juan diam seribu bahasa selama bermenit-menit setelah permintaan maaf itu ia gumamkan.


“Chat yang aku kirim ke kamu masih ceklis satu sampai sekarang. Itu tandanya, kamu matiin hape kamu dari semalam. Kenapa? Aku ada salah apa sama kamu? Atau kamu sengaja menghindar dari aku karena kamu takut kebohongan kamu soal mobil itu bakal ketahuan sama aku?”


Secepat kilat, Juan mengangkat kepala. Gelengan keras menyusul setelahnya, pertanda bahwa tidak satu pun dari apa yang Zahira asumsikan adalah benar.


Tidak puas hanya diberi gelengan singkat tanpa penjelasan lebih lanjut, Zahira tersenyum kecut. “Kalau bukan itu, terus apa? Apa yang bikin kamu sampai matiin hape, padahal sebelum ini kamu nggak pernah sampai segitunya? Sikap kamu juga aneh selama perjalanan kita pulang kemarin, Ju. Kamu nggak ngomong apa-apa sama aku. Nggak nanyain gimana hari-hari aku. Dan bahkan, yang lebih parah, kamu nggak anterin aku masuk ke dalam rumah buat ngasih salam ke Abi sama Umi.” tanya Zahira lagi, matanya mulai berkabut.


“Semalaman aku mikirin apa salah aku ke kamu sampai kamu bersikap kayak gitu ke aku, Ju. Kita baru baikan, dan aku nggak ngerasa kita ada masalah apa-apa, jadi aku cuma berusaha ngeyakinin diri aku sendiri kalau kamu mungkin cuma kecapekan. Tapi pikiran positif itu rasanya udah nggak valid lagi sewaktu kamu nggak ngasih kabar apa-apa ke aku, bahkan sewaktu aku chat kamu pagi-pagi buta, aku malah nemuin chat aku cuma ceklis satu.”


Gerombolan kalimat itu meluncur bebas dari bibir Zahira, berbarengan dengan turunnya satu tetes air mata yang kemudian disusul oleh tetes-tetes lainnya. Zahira menangis. Tidak peduli lagi meski mereka masih berada di depan pintu keluar rumah sakit dan orang-orang yang lewat menjadikan dirinya sebagai bahan tontonan.


“Itu bahkan bukan yang paling parah. Di saat chat aku masih belum sampai ke kamu, aku malah nemuin kamu ada di sini, gotong perempuan lain sambil panik—dan ternyata perempuan itu adalah Moana. Kalau kamu ada di posisi aku, Ju, coba kamu kasih tahu apa yang bakal kamu pikirin saat itu?”


Sekali lagi, hanya permintaan maaf yang bisa Juan katakan kepada kekasihnya. Keingintahuannya soal sosok laki-laki yang bersama dengan Zahira kemarin malam, tadi siang, dan beberapa saat yang lalu bahkan sudah tidak lagi tersisa. Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah penyesalan yang terlalu dalam.


“Kalau aku punya salah, atau ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu, kasih tahu, Ju! Kasih tahu aku biar aku ngerti. Biar aku bisa mikir, gimana caranya biar aku bisa perbaiki apa yang salah. Jangan kayak gini. Jangan lari kayak pengecut, Juananda!”


Juan menerima beberapa pukulan yang mendarat di tubuhnya dengan lapang dada. Tak kuasa menahan sesak yang merambat sampai ke tenggorokan, membuatnya merasa tercekik.


“Aku capek, Ju. Kamu selalu aja kayak gitu. Setiap ada masalah, kamu selalu menghindar dari semua orang. Sekali dua kali, aku mungkin masih bisa mengerti. Tapi kalau terus-terusan kayak gini, siapa juga yang akan tahan, Juananda? Siapa yang akan tahan dibikin overthinking terus kayak gini? Siapa?!”


Isak tangis Zahira semakin menjadi. Beruntungnya, tidak banyak orang yang hilir mudik di sekitar mereka. Kalaupun ada, mereka hanya sekadar lewat dan tidak punya minat untuk menaruh atensi lebih banyak pada sosok perempuan yang menangis tersedu-sedu itu.


“Jangan kayak gini, Ju, tolong.” Kontras dengan isak tangisnya yang riuh, permintaan itu justru Zahira katakan dengan suara yang nyaris tak terdengar.


Juan masih tidak bisa mengatakan apa-apa. Seperti dia telah sepenuhnya kehilangan kemampuan berbicara dan satu-satunya hal yang bisa dia lakukan hanyalah menarik tubuh Zahira, memeluknya erat sembari mengusap punggung kecil yang bergetar itu sebagai upaya menenangkan.


Bersamaan dengan tangis Zahira yang semakin lama semakin parah, titik air hujan akhirnya tumpah. Entah karena Tuhan ingin menyamarkan suara tangis Zahira agar tidak didengarkan oleh lebih banyak orang, atau Dia justru sedang ikut bersedih atas apa yang dirasakan oleh umat-Nya hingga Dia pun turut menangis dalam bentuk turunnya hujan lebat itu.

__ADS_1


“Maaf, Za.” Juan berbisik pelan sekali. Entah apakah suara itu sampai ke telinga Zahira karena baik tangisnya ataupun suara hujan yang jatuh kini sama-sama berisik.


Bersambung


__ADS_2