Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Bocor


__ADS_3

Setiap kembali ke kantor, topeng yang Juan pakai harus ekstra tebal, kesabarannya pun harus seluas samudra kalau dia ingin tetap dilihat sebagai seseorang yang profesional. Bahkan meskipun bayang-bayang wajah menjengkelkan Moana semalam masih terlintas jelas di kepala, ia tetap menyunggingkan senyum puas seraya bertepuk tangan paling meriah untuk mengapresiasi hasil kerja Moana yang memang tidak perlu diragukan lagi.


“Good job,” ucapnya sebagai sentuhan terakhir setelah tepuk tangan meriahnya usai. Anggota tim di divisi mereka yang lain pun turut melakukan hal yang sama. Untuk hal pekerjaan, mereka memang tidak akan segan-segan untuk memberikan apresiasi jika hasil kerjanya memang memuaskan. Mungkin terkecuali Lukas, semua orang di divisi ini sudah pernah mendapat tepuk tangan yang sama di beberapa kali pertemuan.


“Kalau gitu, gimana kalau kita makan di luar buat ngerayain suksesnya project kita kali ini?” usulan itu datang dari Galih. Si koplak Lukas menjadi yang pertama mengangguk setuju, padahal ada atau tidak adanya dia pun, yang lain tidak akan terlalu peduli.


“Boleh. Gue yang traktir.” Sahut Moana dengan senyum yang masih terkembang.


“Nope. I’ll pay the bill.” Sebelum yang lain mengangguk setuju atas ide Moana, Juan segera menyela. “Pilih aja mau di mana, nanti kabarin gue. Sekarang, gue mau ke Pak Reno dulu buat kasih report.” Kemudian Juan mengangkat bokongnya dari kursi kerja sambil membawa map berisi berkas laporan. Saking lamanya ia duduk di sana, kursi empuk itu sampai amblas. Kalau disentuh, pasti rasanya juga panas.


“Ju,” sebelum mencapai pintu, Juan terpaksa berhenti dan menoleh kembali ke arah Moana. “Ikut. Gue mau ke purchasing.”


Letak ruangan Reno dengan divisi purchasing yang Moana sebut berada di satu lantai, jadi Juan tidak keberatan untuk menganggukkan kepala. Sebab ketika konteksnya masih dalam hal pekerjaan, ia benar-benar akan menyingkirkan segala macam perasaan pribadi yang ada.

__ADS_1


Berjalanlah mereka beriringan menuju lift, naik dua lantai untuk sampai ke ruangan yang mereka tuju masing-masing. Selama di dalam lift, mereka tidak saling diam. Selalu ada hal-hal terkait pekerjaan yang mereka obrolkan. Di luar sikap menyebalkannya yang terlalu ngegas mendekati Juan yang sudah jelas-jelas punya kekasih, Moana memang rekan kerja yang asyik.


Sampai tibalah mereka di lantai yang dituju dan harus berpisah karena tujuan mereka berada di arah yang berbeda. Juan menjadi yang pertama mengucapkan salam perpisahan karena ruangan Reno sudah ada di depan mata, sementara Moana masih harus berjalan menyusuri lorong untuk sampai ke tujuannya.


Mereka berpisah, dan detik ketika Juan membuka pintu ruangan Reno, topeng tebal yang dia pakai sejak tadi akhirnya dilepaskan juga. Ia melangkah mendekati meja kerja Reno dengan muka yang ditekuk, praktis membuat Reno yang sudah mengangkat kepala sejak pintu ruangannya dibuka menghela napas seraya meletakkan berkas yang sedang dia pelajari ke atas meja.


“Kenapa lo?” tanya Reno.


Juan lebih dulu menyerahkan berkas laporan, sebab itu adalah kewajiban yang utama. Setelah itu, barulah dia buka suara, mengeluarkan unek-unek yang menumpuk memenuhi kepala.


“Gue tawarin buat pindah divisi nggak mau. Kalau Moana emang kerjanya bagus di divisi lo, ya lo aja yang pindah. Daripada tiap habis kerja bareng lo malah uring-uringan kayak gini.” Belum menyerah Reno menawarkan solusi tersebut. Sejak Moana dengan gencar menunjukkan tanda-tanda hendak mendekati Juan, ia sudah menawarkan solusi tersebut, namun Juan selalu menolak dengan alasan profesionalitas. Ya benar, sih. Tapi kalau ujung-ujungnya Juan jadi lebih banyak mengeluh, Reno juga jadi pusing sendiri akhirnya. “Mumpung gue masih punya wewenang, nih. Mana tau tiba-tiba jabatan gue diturunin jadi office boy, kan, nanti udah nggak bisa nawarin lo solusi kayak gini lagi.”


Bukan mereda, Juan malah makin merengut. “Nanti deh, tunggu evaluasi akhir tahun.”

__ADS_1


“Masih 3 bulan lagi, emang masih kuat lo? Lagian kenapa harus nunggu evaluasi akhir tahun, deh?” Reno tidak mengerti. Meski sering disebut sebagai kembar tak identik oleh orang-orang, dia kadang juga merasa tidak mengerti dengan pola pikir seorang Juananda Saputra yang sama rumitnya dengan isi pikiran perempuan.


“Biar gue bisa dapat nilai jelek, lah. Nanti lo manipulasi hasil evaluasi kerja buat gue, biar ada alasan gue dipindahin ke divisi lain.”


“Lah, si kocak!” seru Reno tak habis pikir. “Lo rela penilaian lo jelek? Ya ngapain? Nggak perlu kayak gitu juga gue bisa langsung pindahin lo ke divisi lain. Tinggal bilang, mau pindah ke mana? Purchasing? Logistik? Atau mau jadi sekretaris gue aja sini, biar bisa bantuin gue adu bacot sama Clarissa?”


Sekian lama berdiri, Juan akhirnya mengeret kursi lalu duduk di depan meja kerja Reno. “Kalau lo asal mindahin gue tanpa alasan yang jelas, nanti anak-anak di divisi gue tahu kalau alasannya adalah Moana. Gue nggak mau lah, anjir. Bisa turun reputasi gue di mata mereka.” Juan seraya menggelengkan kepala. “Nggak. Nggak bisa kayak gitu.”


Pasrah sudah Reno dengan keputusan yang menurutnya tidak masuk akal itu. Masih ada waktu 3 bulan, mungkin masih bisa mengompori Juan agar terima saja dipindahkan tanpa perlu memanipulasi hasil evaluasi tahunan. Masalahnya, evaluasi tahunan itu akan sampai ke seluruh jajaran direksi, termasuk ayahnya dan ayah Juan. Kalau sudah begitu, yang ada Juan akan dirujak karena dinilai menjelekkan nama keluarga. No, Reno tidak tega harus melihat sepupu bongsornya mengalami nasib buruk seperti itu.


Menit selanjutnya, tidak ada lagi yang bicara. Juan sudah tidak mengeluh dan Reno pun mulai sibuk membolak-balik kertas berkas laporan, menelitinya dengan sungguh-sungguh agar tidak ada yang terlewat.


Mereka berdua fokus dengan kegiatan dan pikiran masing-masing, sampai tidak sadar kalau Juan belum menutup pintu dengan benar sehingga obrolan mereka bisa didengar jelas oleh Moana yang berdiri di luar ruangan. Perempuan itu hanya beralasan hendak pergi ke divisi purchasing, sesungguhnya ia hanya ingin mencuri waktu untuk bisa berbincang dengan Juan meski yang mereka obrolkan hanya seputar pekerjaan.

__ADS_1


“So, lo bukan tipikal yang suka dipepet, ya, Ju? Oke, gue akan rubah strategi mulai sekarang. Let’s see, sampai kapan lo bisa nolak kehadiran gue dan mempertahankan hubungan beda agama lo yang bahkan nggak direstui itu.” Gumam Moana, beserta segudang rencana yang sedang dia susun di kepala.


Bersambung


__ADS_2