
Seegois apa pun Juan, ia tetap akan memaksa diri untuk mengalah jika lawannya adalah Zahira. Tidak boleh merokok? Dia lakukan. Tidak boleh minum minuman keras karena di dalam ajaran agama perempuan itu segala hal yang mengandung alkohol adalah haram? Dia lakukan. Tidak boleh bicara kasar dan harus lebih banyak bersabar? Dia lakukan.
Semua. Semua hal yang menurut perempuan itu baik pasti akan Juan turuti dengan senang hati, tanpa adanya keberatan yang mengindikasikan sebuah keterpaksaan. Cinta Juan kepada Zahira bukan hanya besar, tetapi juga tulus, hingga ketulusan itu berhasil menyingkirkan lebih dari setengah hal buruk yang sebelumnya ada di dalam diri Juan.
Namun, saat satu kata terlarang terucap dari bibir Zahira, segala cinta yang tumpah ruah itu seakan tidak lagi bermakna. Juan bak kehilangan arah, kehilangan tujuan dan yang lebih parah—dia kehilangan dirinya sendiri.
Tiga hari sudah berlalu sejak ia menutup telepon secara sepihak. Sejak itu, tidak ada satu pun pesan yang dia kirimkan kepada perempuan itu. Meski besar sekali dorongan di dalam dirinya untuk tahu bagaimana kabar Zahira selama tiga hari tak bersua, ia menekan keinginan itu sampai ke dasar paling dalam di lubuk hatinya. Seseorang yang dia tempatkan di rumah sakit juga sudah dia tarik mundur, sadar bahwa usahanya untuk menjaga kekasihnya ternyata hanya menghasilkan sesuatu yang buruk.
Juan tidak melakukan semua itu karena dia marah kepada Zahira. Ia hanya... sedang merenungi dirinya sendiri. Mencari di mana letak cacat yang membuat Zahira mampu berpikir demikian terhadap dirinya. Apakah ada sikapnya yang berlebihan terhadap perempuan lain selain kekasihnya itu, sehingga timbul rasa cemburu yang pada akhirnya membuat Zahira berpikir bahwa ia telah mendua? Atau apa? Juan hanya sedang ingin mencari tahu di mana letak salah di dalam dirinya.
“Ren,” usai mengembuskan napas yang terasa begitu berat, ia bersuara. Kepalanya lalu mendongak, menatap hamparan langit malam yang pekat nan suram tanpa adanya taburan bintang-bintang. Sang rembulan yang seharusnya tampak utuh pun tak mendapatkan kesempatan untuk memamerkan kecantikannya sebab awan mendung menggulung seluruh bagiannya hingga tak bersisa. “Lo sama Clarissa pernah berantem sehebat apa sebelum akhirnya putus?”
Adanya pertanyaan tiba-tiba itu membuat Reno yang masih sibuk mengurusi pekerjaannya seketika berhenti. Laptop di atas pangkuan ia geser, ia letakkan ke atas meja bundar sementara tatapannya langsung tertuju pada Juan yang duduk di seberang. “Lo sama Zahira lagi berantem?” daripada jawaban, Reno malah mengajukan sebuah pertanyaan.
Juan tidak lantas menjawab, malah mengembuskan napas panjang lalu menunduk, menatapi jemari kakinya yang telanjang. Lantai balkon yang berwarna kebiruan tempat kedua telapak kakinya berpijak memang dingin, namun dinginnya masih tidak mampu menyaingi kondisi hatinya yang bahkan sudah nyaris membeku.
“Ju?” Reno menagih. Selama beberapa tahun ini, ia adalah saksi betapa romantis dan adem ayemnya hubungan Juan dengan Zahira. Bahkan bisa dibilang, mereka hampir tidak pernah bertengkar. Sekalipun iya, itu hanya sebuah pertengkaran kecil yang akan berakhir hanya dengan sebuah pelukan. Mereka hanya sama-sama lelah, sama-sama sibuk sehingga percikan-percikan kecil itu mampu tercipta. Melihat kondisi Juan yang sudah mirip cangkang kosong tak bertuan sekarang ini membuat Reno tahu bahwa masalahnya kali ini pasti serius. “Kalian berantem karena apa?”
“Zahira nuduh gue selingkuh.”
Kicep. Selama beberapa saat, Reno tak mampu menggerakkan lidahnya untuk menyahut. Sama seperti Juan, ia juga tidak mengerti mengapa tuduhan itu bisa datang, terlebih dari seorang Zahira yang sebagian otaknya hanya berisi hal-hal positif saja.
“Zahira nuduh lo selingkuh? Atas dasar apa?”
__ADS_1
Itu juga yang ingin Juan tahu, namun dia tidak mendapatkan jawabannya. Maka ia pun menggeleng lemah. “Lo ingat pas kita samperin Zahira ke rumah sakit setelah balik dari McD?”
“Ingat.”
“Di sana, gue ketemu sama tiga cowok, gue yakin mereka teman sejawatnya Zahira yang juga lagi koas di sana. Dan lo tahu mereka lagi ngapain?”
Reno tidak tahu, jadi dia menggeleng. “Ngapain?”
“Mereka lagi jelek-jelekin Zahira. Mereka ngomong hal-hal buruk soal Zahira yang padahal nggak ada satu pun yang bener.”
“Terus, apa hubungannya kejadian itu sama Zahira yang malah nuduh lo selingkuh?” sebab sejujurnya, Reno memang betulan tidak mengerti. Pasti ada bagian di mana kejadian itu berlanjut pada kejadian lain sehingga membuat Zahira mengambil kesimpulan sendiri.
“Gue sakit hati banget dengar omongan tiga cowok itu, Ren, tapi gue juga nggak tega kalau harus kasih tahu Zahira. Dari situ, gue jadi lebih rajin nanyain kondisi Zahira, make sure kalau dia oke selama di rumah sakit karena gue takutnya cowok-cowok bajingan itu mulai ganggu Zahira secara terang-terangan. Dan yah, gara-gara itu Zahira mikir gue lagi nyembunyiin sesuatu. Katanya karena sikap gue berubah dan dia ngira kalau gue ... selingkuh.”
Kalau ini adalah orang lain, Reno akan dengan tenang memberi saran untuk segera meluruskan kesalahpahaman ini agar tidak semakin melebar ke mana-mana. Tetapi karena ini adalah Juan dan Reno sangat tahu lelaki itu paling anti dengan yang namanya perselingkuhan, maka yang ia bisa lakukan untuk pertama kali adalah menepuk-nepuk pelan punggung Juan.
“Apa gue emang seberengsek itu ya, Ren, sampai Zahira bisa mikir kalau gue selingkuh?” tatapan Juan teramat sendu, membuat Reno pun turut bisa merasakan kepiluan di hati sepupunya itu. “Apa gue emang seenggak worth it itu buat Zahira?”
Reno menggeleng keras, “Lo nggak berengsek, Ju. Gue yakin Zahira juga nggak bermaksud buat nuduh lo kayak gitu.”
“But she did.”
“She didn’t meant it, Bro.” Reno berusaha meyakinkan. “Gue tahu lo kecewa, itu nggak masalah. Rasa kecewa lo itu berdasar dan valid, jadi lo boleh luapin itu. Tapi, Ju, coba lo geser sedikit aja perspektif lo dari sisi Zahira. I mean, dia sibuk, saking sibuknya bisa sampai berhari-hari nggak pulang dan bikin kalian juga jadi jarang bisa ketemu. Komunikasi kalian juga cuma sekedarnya, nggak kayak orang-orang yang ibaratnya bisa 24 jam seminggu nyediain waktu buat pacarnya.” Untuk membuat Juan memahami ucapannya tanpa berniat membuat lelaki itu merasa perasaannya tidak divalidasi, Reno memberikan jeda.
__ADS_1
“Dengan kondisi yang kayak gitu, Ju, mungkin banget kalau Zahira jadi mempertanyakan dirinya sendiri. Dia juga mungkin bertanya-tanya, apa dia pantas buat lo, apa sedikit waktu yang dia punya itu pantas buat dapat balasan cinta yang segitu gedenya dari lo. Dari pertanyaan-pertanyaan itu, bukan nggak mungkin kan kalau Zahira jadi punya kekhawatiran soal hubungan kalian?” Reno menjeda lagi, hanya untuk mengambil napas dalam-dalam karena ternyata berbicara dengan Juan cukup banyak menguras energi.
“Belum lagi fakta soal Moana, Ju. Gue yakin Zahira itu sebenernya tahu soal Moana, dia nggak buta, dan asal lo tahu, perempuan itu perasaannya jauh lebih peka daripada kita. Dia juga pasti sama cemburunya, sama khawatirnya, takut kalau-kalau Moana mungkin bisa dapat chance buat deket sama lo since kalian ada di satu divisi yang sama, yang otomatis bikin kalian harus ketemu tiap hari. Prosentase kalian ketemu bahkan lebih banyak daripada kesempatan lo sama Zahira.”
Telinga Juan terbuka lebar untuk mendengarkan semua yang Reno katakan, berbanding terbalik dengan bibirnya yang justru terkatup rapat.
“Gue tahu lo kesel dan kecewa karena mikir Zahira nggak percaya sama lo. Tapi, Ju, biarin rasa kecewa itu tumbuh terlalu besar juga nggak akan bawa hubungan kalian ke arah yang lebih baik. Lo nggak mau hubungan yang udah lo jaga susah payah berakhir gitu aja, kan?”
Jelas, Juan menggeleng keras. Gila saja kalau dia rela hubungan ini berakhir hanya karena obrolan singkat di satu malam. Tidak boleh begitu. Perjuangannya untuk sampai di titik ini tidak main-main, jadi paling tidak, akhirnya juga jangan sampai seburuk itu.
“Gue sayang banget sama Zahira, Ren.”
“I know,” Reno mengangguk-anggukkan kepala. “Makanya, sekarang coba lo ambil hape lo, terus hubungin Zahira. Ajak dia ngobrolin soal ini dengan kepala dingin. Yang kayak gini nggak boleh dibiarin berlarut-larut karena semakin disimpan, bakal semakin kusut.”
“Tapi gue nggak tahu harus mulai dari mana,”
“Mulai dari lihat hape lo. Gue yakin di sana ada banyak banget chat yang Zahira kirim dan sama sekali nggak lo baca. Lo kan emang gitu, suka nggak mau ngeliat hape kalau lagi marah. Semua orang juga jadinya lo cuekin.” Ujar Reno, paham sekali pada tabiat sepupu yang hanya lebih muda darinya satu bulan itu. “Buruan, sebelum terlambat.” Imbuhnya, lalu mendorong tubuh Juan agar si sepupu bongsornya itu segera bergerak mengambil tindakan.
Setelah berpikir selama beberapa saat, Juan akhirnya menuruti saran dari Reno. Dengan langkah lebar dia kembali masuk ke dalam kamar, kalang kabut mencari keberadaan ponsel yang sudah berhari-hari tidak dia sentuh bahkan untuk sekadar mengecek soal pekerjaan.
Begitu ponsel didapat, Juan kembali terdiam sebentar, mengumpulkan segala keberanian sebelum men-dial nomor Zahira sambil mempersiapkan apa-apa saja yang ingin dia sampaikan kepada kekasih tercintanya itu.
Bersambung
__ADS_1