Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Kidnapped


__ADS_3

Satu minggu berlalu, Juan mulai bisa beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di dalam hidupnya. Mulai dari tempat tinggal yang tidak sebesar rumah terdahulu dan hanya ada dia seorang diri di dalamnya, pergi ke mana-mana naik kendaraan umum atau taksi online, pergi mengunjungi cafe miliknya untuk menyaksikan secara langsung proses penjualan, sampai meluangkan waktu di malam hari untuk mendengarkan materi ceramah yang disampaikan oleh pemuka agama rekomendasi Abi Hamzah.


Waktu satu minggu memang kelihatan baru sebentar untuk mencapai kepada sesuatu yang besar, namun Juan percaya tidak ada satu langkah pun yang tidak patut untuk diapresiasi. Dia percaya, tidak ada usaha yang sia-sia.


“Nanti sore?” tanyanya, kepada Zahira melalui sambungan telepon.


Saat ini, dia sedang berada di cafe, mengecek stok bahan-bahan di dalam kulkas dan lemari penyimpanan. Biasanya, dia sudah mempercayakan semuanya kepada Albert, orang kepercayaannya. Tapi karena sekarang dia punya banyak waktu luang, dia akan mulai memberikan perhatian kepada salah satu sumber uangnya ini sedikit lebih banyak.


“Iya. Aku mau ajakin kamu mampir ke warung soto yang baru buka, yang dekat persimpangan itu loh, Ju.”


Pertama-tama, Juan menaikkan sebelah alisnya. Agak merasa heran karena tidak biasanya Zahira begitu menggebu-gebu untuk mencicipi sesuatu. Tapi kemudian, dia tersenyum sambil menganggukkan kepala meski tahu Zahira tidak akan bisa melihatnya. “Ya udah, nanti aku jemput kamu. Tapi sementara naik taksi dulu, ya, soalnya aku belum ada waktu buat ke dealer beli mobil baru.” Katanya mengiyakan. Memang tidak sulit untuk membuatnya setuju pada Zahira. Ibarat kata, jika perempuan itu meminta dipetikkan bintang di langit, Juan pasti akan mengiyakan meski setelah itu akan kebingungan bagaimana cara merealisasikannya.


“Yey! Makasih, Juju!”


Girangnya Zahira membuat senyum Juan semakin lebar. Ini hanya soal minta dijemput dan diajak makan soto ayam, belum hal-hal besar yang lainnya. Bayangkan nanti ketika mereka sudah menikah, dan Zahira sedang mengandung buah hati mereka. Ketika ngidam melanda dan perempuan itu mulai menginginkan sesuatu yang agak tidak masuk akal, namun Juan berhasil memenuhinya, akan betapa senangnya dia.


Ah... Mengkhayal itu memang paling nikmat pemirsa. Apalagi untuk pengangguran pemula seperti Juan yang butuh banyak sekali distraksi agar tetap waras.


“Sama-sama, Sayang.” Ucap Juan dengan begitu lembutnya.


“Ya udah, aku lanjutin kerjaan aku dulu, ya. Nanti pas jam makan siang, aku telepon kamu lagi. Bye, Juju. I love you.”


“I live you—“ too. Juan melanjutkan di dalam hati karena telepon sudah keburu ditutup. Tapi tidak apa-apa. Memang jarang-jarang Zahira mau mengatakan I love you lebih dulu, makanya perempuan itu mungkin malu sehingga langsung menutup telepon sebelum mendengar balasannya.


“Nah, kalau gini kan, bisa lebih semangat buat kerja.” Ucap Juan seraya menatap layar ponselnya yang padam.


Semangat sudah datang berkali-kali lipat lebih banyak. Juan memulai kembali pekerjaannya dengan lebih ikhlas, sambil sesekali bersenandung lagu cinta yang merdunya sampai juga ke telinga Albert yang baru saja kembali dari depan.


“Happy amat kelihatannya, Bro?” tanya Albert seraya mengulum senyum. Lelaki berkaus oranye dengan tulisan "Hotter than your ex, better than your next" itu kemudian berjalan mendekati Juan, merebut buku daftar stok bahan-bahan makanan.


“My Baby said she loves me.” Adu Juan.


Mendengar itu, Albert terkekeh pelan seraya melanjutkan sisa pekerjaan yang dia rebut dari tangan Juan.

__ADS_1


“It’s rare, Al. Dia hampir nggak pernah ngomong gitu ke gue.” Sambung Juan.


“Yeah, good for you.” Selesai mencentang daftar terakhir, Albert menutup buku lalu meletakkannya di atas kulkas. “But, you need to know bahwa ngomong kayak gitu di depan jomblo adalah bentuk ria yang paling dilaknat sama Tuhan.” Sambungnya seraya melipat tangan ke depan dada.


“Gue nggak dengan sengaja pamer ke lo, ya, Albertus Soegijapranata. Lo yang nanya duluan ke gue, gue cuma jawab sejujurnya.”


Melihat raut wajah Juan yang cemberut, Albert kembali tertawa. Tangan besarnya lalu menepuk-nepuk pundak Juan. “I know, I know. Gue turut senang kok kalau hubungan lo sama that pretty girl berjalan lancar.”


“Zahira.” Juan mengoreksi. “Gue berkali-kali kasih tahu lo kalau nama dia adalah Zahira. Zahira Cassanova.”


“But pretty girl suits her better.” Goda Albert seraya menaikturunkan alisnya. Lelaki yang saat ini merubah warna rambutnya yang sudah panjang mencapai leher menjadi warna putih blonde itu memang gemar sekali menggoda Juan. Sebab menurutnya, Juan justru tampak lucu ketika sedang merajuk. Ekspresinya yang cute kontras sekali dengan badannya yang kekar berotot seperti Hercules.


“Lo naksir ya, sama Zahira? Ayo, ngaku.” Tuduh Juan tiba-tiba.


Alih-alih tersinggung dan bilang tidak, Albert malah menganggukkan kepala. Sengaja sekali memancing keributan.


Dan, yah, berhasil. Pagi itu mereka jadi bergelut heboh di dapur. Tidak peduli meski beberapa karyawan mulai berdatangan dan bersiap untuk bekerja. Juan mengandalkan otot, sedangkan Albert lebih mengandalkan ketangkasan untuk menghindari serangan Juan.


“Sini lo! Apa-apaan lo naksir sama cewek gue!”


“Bajingan!”


...🍁🍁🍁...


Riang gembira, sudah seperti anak TK yang hendak pergi tamasya ketika Juan mengayunkan langkahnya turun dari taksi. Sambil menenteng ponsel dan sebotol air mineral serta menyampirkan hoodie ke bahu, dia menghampiri Zahira yang sudah menunggu di depan pintu.


Hari masih begitu terang, sebab jam memang baru menunjukkan pukul tiga dan langit di atas mereka kebetulan sedang cerah. Sang Surya pun agaknya masih bermalas-malasan untuk bergerak sedikit demi sedikit ke sisi peraduan sehingga ia masih bertakhta cukup tinggi di tempatnya.


“Zaza!” sapanya riang, seraya melambaikan tangan.


Yang disapa balik melambaikan tangan dengan senyum yang disunggingkan sempurna, membuat Juan semakin bersemangat untuk memangkas jarak yang tersisa.


Namun, ketika dia hendak berlari mendekat, seseorang tiba-tiba saja menarik lengannya secara paksa, membuat tubuh besarnya oleh ke belakang dan nyaris jatuh bergedebuk di atas aspal yang keras.

__ADS_1


Juan tidak punya waktu untuk meronta, apalagi sampai meloloskan diri karena tiba-tiba saja, seseorang yang lain memasangkan penutup kepala sehingga terhalangilah pandangannya.


Setelahnya, Juan merasakan ada dia tangan yang sama kekarnya menyeret tubuhnya masuk ke dalam... mobil. Dia hanya bisa merasakan bahwa pantatnya kemudian jatuh ke atas jok yang empuk dan tidak lama setelahnya, pintu ditutup dengan kasar hingga menimbulkan suara debaman yang keras. Di sisi kanan dan kiri tubuhnya, ada dua orang yang masih saja memegangi lengannya, mengantisipasi agar dia tidak banyak bergerak atau bahkan berusaha kabur.


“Woy! Bajingan! Lepasin!” dari dalam penutup kepala, Juan berteriak semampunya. Napasnya mulai susah karena oksigen yang dia hirup tidak bisa sebanyak sebelumnya, dan dia juga tidak yakin apakah apa yang dia katakan bisa sampai dengan jelas ke telinga para penculik yang saat ini membawa dirinya.


“Lepasin!”


“Sialan! Kalian mau apa?! Gue ini fakir miskin, nggak punya apa-apa!”


“Anj—“


“Mending lo diam.”


Seperti dihipnotis, Juan betulan berhenti berontak. Tapi, bukan karena dia merasa takut. Dia diam karena otaknya sedang memproses suara milik siapa yang dia dengar barusan. Kedengaran tidak asing.... hmm.


Wah. Juan berkata dalam hati, lalu sedetik setelahnya, dia kembali bergerak kesetanan hingga membuat dua orang yang menahan lengannya kewalahan. Tak hanya terus bergerak, Juan juga kembali berteriak.


“Lepasin gue!!!”


“Awas lo ya, gue bakal bikin perhitungan!!!”


“Yak! Sialan!!!”


Bersambung


🍁


🍁


🍁


Hayooo. Kira-kira si Juan diculik sama siapa yaaa?

__ADS_1



Kalau ganteng gini sih, kayaknya aku yang udah nyulik dia...


__ADS_2