
Sampai di kantor pun, keadaan Moana masih tidak membaik. Setibanya di ruang kerja, perempuan itu malah menggolekkan kepala di atas meja seraya memejamkan mata, membuat Juan yang posisi meja kerjanya memang persis di sebelah semakin terlihat khawatir.
Juan bukan satu-satunya, Galih juga tampak gelisah di kursinya, berkali-kali mendorong kursinya keluar dari meja, hanya untuk sekadar memeriksa apakah Moana masih bernapas. Kalau Lukas, sudah tidak perlu ditanya lagi. Lelaki itu memang sepertinya tidak memiliki hati nurani.
“Nggak bisa gini,” Juan ragu-ragu berdiri, membuat Galih praktis mendongak menatapnya. “Balik aja, Mo, biar gue yang mintain izin.” Sambungnya. Galih juga turut mengangguk.
“Gue nggak apa-apa, Ju. Istirahat bentar juga paling baikan.” Moana dengan suara lemah menjawab. Matanya masih saja terpejam, menjadi bukti valid bahwa kondisinya sama sekali tidak baik-baik saja seperti apa yang bibirnya ucapkan.
“Istirahatnya di rumah aja.” Pungkas Juan. Kemudian dia berlalu keluar dari ruangan, melangkah cepat untuk mengurus perizinan agar Moana bisa pulang cepat.
Proses pengajuan izin tidak memakan waktu lama karena alasannya sudah jelas dan masuk akal. Juan juga sekalian mengajukan izin untuk mengantar Moana pulang dan sebagai gantinya dia akan pulang dari kantor lebih terlambat untuk mengganti jam yang dia pakai untuk mengantar Moana.
Setelah kesepakatan dicapai, Juan kembali ke ruang kerja, langsung menghampiri Moana dan menggeret lengan perempuan itu agar segera bangun dari posisi setengah rebah yang tidak nyaman.
“Ayo, gue anterin pulang.” Ucap Juan. Tapi karena gerakannya yang tiba-tiba plus tubuh Moana yang sepertinya memang masih lemah membuat perempuan itu terhuyung. Juan dengan sigap menangkap tubuh Moana agar tidak terjerembab. Untuk kali ini saja, dia akan membiarkan Moana berada cukup dekat dengannya secara fisik.
“Masih kuat jalan nggak?” Galih menyela. Lelaki itu sudah dengan sigap membereskan barang-barang milik Moana, memasukkannya ke dalam tas lalu memegangi tas tersebut.
“Bisa, kok.” Moana menarik diri dari Juan, berusaha berdiri di atas kakinya sendiri. Namun pening yang terasa di kepala membuat sekelilingnya seakan berputar hingga mau tak mau dia kembali merapatkan tubuhnya ke arah Juan. Ia mencengkeram lengan lelaki itu, mencari pegangan. “Kayaknya nggak bisa, deh.”
Galih dan Juan berpandangan sesaat, lalu Juan menghela napas kasar sebelum membuat keputusan besar. Tanpa aba-aba, dia menyambar tubuh Moana, mengangkatnya dalam satu kali sentakan. “Tolong tasnya.” Pintanya kepada Galih yang langsung dituruti oleh lelaki itu dengan memberikan tas milik Moana. “Thanks. Gue jalan dulu anterin Moana, nanti gue balik lagi.” Pamitnya, lalu dia membawa Moana yang dia bopong keluar dari ruang kerja mereka.
__ADS_1
Adegan bopong-membopong itu sudah pasti menjadi bahan tontonan. Beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka di koridor bahkan sampai menghentikan langkah dan kepala mereka bergerak mengikuti ke mana arah langkah Juan pergi. Mereka baru mengalihkan pandangan dan melanjutkan langkah setelah Juan dan Moana masuk ke dalam lift.
“Lo parkir di sebelah mana?” tanya Juan setelah mereka sampai di basement.
“Deket mobil lo.” Jawab Moana pelan. Seperti memanfaatkan keadaan, perempuan itu menyandarkan kepala di dada bidang Juan, kedua tangannya mengalung di leher lelaki itu begitu erat.
Juan tidak bertanya lagi, langsung saja berjalan menuju tempat di mana mobil Moana diparkirkan. Pintu mobil dibuka, tubuh Moana diturunkan pelan-pelan, didudukkan ke kursi penumpang dan dia pasangkan seatbelt dengan aman. Sudahnya, Juan berlari ke sisi mobil yang lain, langsung duduk di balik kemudi dan tanpa banyak bicara langsung menginjak pedal gas.
Jalanan di jam-jam setelah makan siang untungnya dalam keadaan lengang sehingga Juan bisa sedikit mengebut agar lebih cepat sampai di kediaman Moana. Di sela-sela kegiatan menyetir yang mengharuskannya fokus ke arah jalanan, Juan sesekali melirik ke kursi penumpang. Hanya untuk menemukan kondisi Moana yang tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Kepala perempuan itu bersandar di kaca, matanya kembali terpejam.
“Lo yakin nggak mau ke rumah sakit dulu? 2 kilometer lagi ada rumah sakit, kita belok dulu?” tanyanya sekali lagi.
Empat puluh menit perjalanan, mereka akhirnya tiba. Gerbang yang tinggi menjulang membingkai bangunan rumah Moana menjadi penghalang untuk mobil bisa langsung masuk. Maka Juan pun berhenti sejenak.
“Klakson aja?” tanyanya, merujuk pada perintah untuk membukakan gerbang yang ditujukan kepada asisten rumah tangga yang stan by.
Namun, Moana menggeleng. Dengan gerakan lambat tak bertenaga, perempuan itu menegakkan kembali posisi duduknya. “Di rumah lagi nggak ada siapa-siapa. Mbak gue lagi izin pulang kampung, Mami sama Daddy ke Paris kemarin, baru bakal balik seminggu lagi.”
“Kenapa nggak bilang dari tadi?!” Juan berteriak di dalam hati. Kendati demikian, dia tetap turun dari mobil, dengan sabar menerima kunci gembok dari Moana lalu membuka gerbang sendiri.
Sekembalinya ia ke dalam mobil, Juan tidak mengatakan apa pun. Langsung saja dia injak pedal gas dan dengan terampil ia memarkirkan mobil Moana ke garasi, mengisi slot kosong di antara dua mobil mewah lain yang terparkir lebih dulu.
__ADS_1
“Ayo,” Juan membukakan pintu, tangannya sudah kebiasaan stand by di atas pintu sebagai upaya menghindarkan siapa pun terkantuk saat sedang turun.
Sebelum mencapai pintu depan rumah Moana, Juan menghentikan langkah. Ia menoleh ke arah Moana yang berpegangan erat di lengannya. “Gue antar sampai sini aja kali ya, Mo? Nggak enak kalau harus masuk. Kan, lo di rumah sendirian. Takutnya jadi fitnah.” Ujarnya.
Mendengar itu, Moana langsung menjauhkan dirinya dari Juan. Terpaksa dia menyunggingkan senyum seraya mengangguk lemah. “Ya udah, nggak apa-apa.” Lalu ia berjalan mendekati pintu, menciptakan jarak selebar-lebarnya dengan Juan. “Makasih, ya, Ju, hati-hati di jalan.”
“No prob.” Juan kemudian berbalik, hendak mengayunkan langkah ketika sebuah suara menggema begitu lantang di kepalanya. Tiba-tiba, satu sisi dirinya yang masih dipenuhi rasa kemanusiaan datang, berlagak sok pahlawan dengan mengatakan bahwa seharusnya ia mengantar Moana setidaknya sampai ke dalam rumah dan memastikan perempuan itu berbaring dengan baik di atas ranjang.
“Ah, sialan.” Juan mengumpat pelan. Akhirnya, dia berbalik lagi, urung menarik langkah dan kembali menatap Moana yang masih berdiri di depan pintu.
“Kenapa, Ju?” tanya Moana heran.
“Gue anterin lo sampai ke kamar.”
Itu adalah kabar bahagia untuk Moana, tapi berhubung dia sedang mendalami peran sebagai seseorang yang sedang dalam keadaan lemah, Moana susah payah menahan senyum.
“Gue bisa sendiri, Ju.”
“Nggak, gue anterin. Ayo.” Juan kembali menyambar lengan Moana, menuntunnya masuk ke dalam rumah. Dalam pikirannya, dia hanya ingin bersikap sebagai manusia yang beradab. Juan tidak tahu, bahwa bagi Moana, itu adalah sesuatu yang lain.
Bersambung
__ADS_1