
Kedatangan Adnan yang tak diundang membuat senyum semringah Juan menghilang. Bahkan semangatnya yang menggebu-gebu untuk menemani Abi Hamzah mengganti pot-pot tanaman yang sudah usang pun turut terkikis habis tak bersisa. Kini, Juan terduduk lesu di teras, menikmati kesendirian sebab Abi Hamzah lebih memilih berbincang dengan Adnan di dalam rumah sementara Zahira sibuk membantu Umi menyiapkan makan siang.
Juan sendiri tidak mengerti, kenapa si Adnan Bagong itu gemar sekali datang ke rumah Zahira. Ini hanya pas kepergok olehnya. Pas tidak? Entah sudah seberapa sering. Apakah kajian yang diikuti oleh Abi Hamzah memang sesering itu, atau ini semua betulan hanya akal-akalan si Adnan supaya bisa mendekati Zahira diam-diam?
“Kurang ajar.” Juan mendengus sebal. Ia menegakkan punggung, melongok ke arah pintu untuk mengecek apa yang sedang dilakukan oleh si Adnan Bagong bersama Abi Hamzah di ruang tamu sama.
Jarak mereka cukup jauh sehingga Juan tidak bisa mencuri dengar percakapan macam apa yang terjadi. Namun dari ekspresi wajah Abi Hamzah yang semringah, sepertinya itu adalah sebuah obrolan yang menyenangkan.
Dilanda kesal yang tak terbendung, Juan masih harus menambah kekesalannya karena ponsel yang dia tinggalkan di atas meja tahu-tahu berdering. Kalau yang menelepon adalah Reno untuk sekadar menanyakan kapan ia pulang, sih, mungkin Juan masih akan sudi mengangkatnya meski harus sambil mencak-mencak.
Masalahnya, yang sekarang ini tertera di layar ponselnya adalah nama Moana, dan dia yakin 100 persen apa yang akan perempuan itu katakan adalah omong kosong tidak penting.
Kendati demikian, Juan tetap mengangkat teleponnya. Dengan malas, dengan tidak adanya topeng yang berusaha dia kenakan sama sekali, dia menyapa Moana dengan ala kadarnya.
Di ujung telepon, suara Moana kedengaran girang. Seperti perempuan itu baru saja mendapatkan keberuntungan paling besar di dalam hidupnya, dan ia sedang melakukan perayaan untuk itu.
“Gue lagi di rumah cewek gue, kenapa?” jawaban itu dia berikan merujuk pada pertanyaan Moana sebelumnya yang berbunyi; “Lo lagi di mana, Ju?”
“Yah ... lagi nggak di rumah, ya? Padahal gue lagi on the way ke rumah lo sama nyokap gue.” Lenguhan kecewa yang sama sekali tidak penting untuk Juan. Malahan, dia rasanya muak sekali harus mendengar itu di saat kondisi dadanya sedang penuh dengan emosi. “Pulang jam berapa? Biar gue tunggu.”
“Malam.”
“Ya malamnya jam berapa?”
“Pokoknya malam. Gue ada acara sama calon mertua gue, tergantung selesai acaranya jam berapa, baru gue pulang.” Malas-malasan, Juan menyalakan loud speaker. Dia letakkan ponsel ke atas meja, lalu menoleh ke arah Zahira yang baru beberapa detik muncul dari balik pintu.
__ADS_1
“Duduk,” titahnya dengan suara pelan, supaya si cerewet Moana tidak mendengar dan salah sangka mengira ia sedang berbicara dengan perempuan itu. “Umi udah selesai masaknya?” lanjutnya setelah Zahira duduk di seberang.
“Udah, makanya aku ke sini mau manggil kamu buat makan siang.” Tutur Zahira. Matanya melirik ke arah ponsel yang masih menyala, sedangkan rungunya bisa mendengar jelas suara Moana yang memanggil-manggil nama Juan. “Itu ladenin dulu.” Ucapnya kemudian.
“Males.” Juan mengatakan itu tanpa suara, hanya melalui gerak bibirnya saja. Dan dari respons Zahira yang menggelengkan kepala pelan, ia tahu perempuan itu mampu memahami maksudnya.
“Halo, Ju? Lo masih di sana, kan? Halo?”
Zahira mencolek lengan Juan untuk segera merespons Moana, namun laki-laki itu malah mendorong ponsel ke arahnya. Melalui gerakan tangan, Juan seakan hendak berkata; “Kamu aja yang jawab, aku males.” Sehingga Zahira mau tak mau meraih ponsel itu dan mulai berbicara dengan Moana.
“Halo, Moana.” Sapanya. Kalem dan anggunly. Kalau ini perempuan lain, sudah pasti akan terjadi perang dunia ketiga.
“Oh, Zahira, ya? Kok lo yang ngomong, Juannya ke mana?”
“Boleh kasih ke Juan lagi, nggak? Gue perlu ngomong sama dia.”
Zahira melirik ke arah Juan, namun lelaki itu menggeleng keras seraya menyilangkan lengan di depan dada membentuk huruf X.
Maka Zahira tidak punya pilihan lain. Terpaksa sudah dia berbohong. “Juan lagi ke toilet, katanya kebelet poop. Kamu mau nanyain soal kerjaan, ya? Mau disampein lewat aku aja?” lihatlah betapa positif thinking-nya Zahira Cassanova ini. Mana ada rekan kerja yang menghubungi di luar jam kerja untuk menanyakan urusan pekerjaan? Kadang-kadang, Juan juga merasa gemas sendiri dengan kekasihnya itu. Padahal lebih oke kalau Zahira bisa berubah menjadi reog sesekali saat menghadapi pengganggu hubungan mereka seperti si Moana ini.
“Oh, nggak usah, deh. Nanti gue telepon dia lagi aja kalau dia udah kelar poop.”
“Oke, deh.” Dan begitu saja, telepon ditutup secara sepihak oleh Moana.
Juan kesal sekali. Kalau tadi kepada Adnan level kesalnya masih setengah, dengan Moana levelnya bahkan jauh lebih tinggi—sudah hampir mentok. Kalau saja Juan tidak menjunjung tinggi profesionalisme dan kerjanya Moana memang tidak bagus, mungkin ia akan menerima tawaran Reno untuk memindahkan perempuan itu ke divisi lain agar mereka tidak perlu saling bertemu di kantor.
__ADS_1
“Harusnya kamu marah-marah.” Juan menerima kembali ponselnya. “Emang kamu nggak cemburu apa, Za, lihat ada cewek lain yang nelponin aku kayak gitu? Dia bahkan kayak nggak ngehargain posisi kamu sebagai pacar aku.”
“Emang kalau aku marah-marah, dia bakal berhenti deketin kamu? Enggak, kan? Satu-satunya kunci kan ada di kamu. Tergantung, kamu mau respons dia atau enggak.”
“Tetap aja, lah. At least kamu ada effort buat kasih unjuk ke dia kalau aku itu punya kamu.”
“Nggak perlu dikasih lihat juga harusnya dia udah tahu, kan? Tapi apa? Dia masih ngegas aja tuh deketin kamu. Artinya apa? Ya dia nggak peduli. Dia nggak mau tahu dan yang dia pikirin, yang dia fokusin itu cuma kamu. Mungkin karena dia mikir aku cuma pacar kamu?”
“Ya udah,” Juan tiba-tiba menegakkan punggungnya. “Ayo kita nikah. Biar si Moana nggak bisa gangguin aku lagi. Sekalian tuh, si Adnan. Biar dia juga nggak bisa gangguin kamu lagi kalau tahu kamu udah punya suami.”
“Ngawur.” Zahira menggeplak lengan Juan. “Kamu pikir nikah itu gampang?”
“Gampang.” Ucap Juan dengan entengnya. “Tinggal ke KUA, daftar, akad, terus sah. Beres.”
Zahira geleng-geleng kepala. “Nggak segampang itu. Soal agama gimana? Kalaupun kamu pindah, ngurusin berkas-berkasnya emang nggak susah? Restu mamamu gimana? Cita-cita aku?”
“Ah, elah.” Juan mendesah panjang. Kalau sudah menyangkut soal itu, ia juga buntu. “Terus gimana? Gimana caranya biar para pengganggu itu berhenti gangguin kita?”
“Cuekin aja.” Singkat, padat, jelas, tapi tidak semudah itu untuk melakukannya. “Fokus aja sama kita berdua, ngapain fokus ke orang lain, sih? Selama aku sama kamu masih teguh sama perasaan kita masing-masing, mau ada seribu satu gangguan yang dateng pun harusnya nggak masalah, kan?”
Juan tidak menjawab, malah sibuk mengacak-acak rambutnya yang memang sedari awal sudah berantakan. Mukanya kusut, sekusut kaus milik Abi Hamzah yang dia pinjam dari semalam.
Memang kedengarannya mudah. Memang kedengarannya simpel saja. Tapi siapa sih yang bisa menjamin kalau perasaan mereka tetap akan stay pada tempatnya? Siapa yang bisa menjamin kalau salah satu di antara mereka tidak akan goyah, jika para pengganggu itu tidak segera dibuat enyah?
Bersambung
__ADS_1