Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Jangan Tinggal di Masa Lalu


__ADS_3

Sejak bertemu kembali dengan Biru, Juan jadi lebih sering melamun. Dia jadi lebih sering mengundang kembali kenangan yang telah dia lewati bersama Baskara dan teman Pain Killer selama bertahun-tahun silam. Bagaimana sosok Baskara yang ceria dan berjuluk mood maker selalu mampu membuat suasana menjadi meriah. Bagaimana Baskara dengan otak cerdasnya selalu mampu membawa mereka keluar dari kesulitan dan memaku posisi di tempat yang aman. Juga, bagaimana Baskara yang selalu memasang badan paling depan untuk memastikan mereka semua aman dari segala gangguan.


Mendengar penuturan Biru tentang kacaunya hidup Baskara selama masa pelarian membuat hati Juan ngilu. Membayangkan senyum cerah yang biasa dia maki ribuan kali—namun di saat yang bersamaan dia syukuri—menghilang dari wajah Baskara membuat Juan seakan merasakan tikaman yang datang bertubi-tubi ke jantungnya yang berdetak lemah. Lalu, dia mulai meyakini satu hal; peristiwa yang terjadi dari 5 tahun silam bukanlah sekadar peristiwa pembunuhan. Ada hal-hal lain yang lebih besar dari itu, yang sayangnya tidak satu pun di antara Baskara ataupun Fabian yang bersedia untuk membaginya.


"Ju," dalam keriuhan yang hanya terjadi di dalam kepala Juan, Zahira datang menyelamatkan. Telapak tangannya yang halus menyentuh punggung tangan Juan yang tergeletak lemas di meja teras. Netranya yang teduh menatap wajah sayu Juan yang jauh dari kata baik. "Ada masalah apa?" tanyanya tak kalah lembut.


Juan menarik diri dari isi kepala yang amburadul, balik menatap Zahira kemudian mengembuskan napas panjang yang sarat akan keputusasaan. "Di sini," dia menunjuk kepalanya sendiri. "Ribut banget, Za. Rasanya kayak ada ribuan lebah yang bersarang di sana, bikin suara-suara yang bikin aku pusing bukan main."


"Sini." Tanpa banyak bicara, Zahira meminta Juan mendekatkan kepalanya. Lalu dengan tangannya yang lain, perempuan itu mengusap kepala Juan dengan lembut, perlahan-lahan, seperti dia sedang berusaha untuk mengeluarkan koloni lebah yang mengganggu isi kepala kekasihnya. "Mereka cuma singgah, nggak akan lama kok." Tuturnya beberapa lama kemudian.


Ketika Zahira hendak menarik tangannya dari kepala Juan, Juan menahannya. "Do it again, Za. Please." Mohonnya. Karena secara ajaib, pening di kepalanya perlahan-lahan berkurang ketika Zahira mengusap kepalanya perlahan-lahan.


Zahira tidak keberatan. Dia melakukan apa yang kekasihnya minta dengan ketulusan yang tidak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata. Meski tanpa bicara, meski tanpa kalimat-kalimat penenang, Zahira tetap mampu membuat Juan merasa aman. Itulah kelebihan seorang Zahira Cassanova, yang Juan tahu tidak akan bisa dia temukan pada diri orang lain.


Berlama-lama dengan adegan usap kepala, Juan akhirnya meminta Zahira untuk berhenti.

__ADS_1


"Better?" tanya Zahira.


"Iya." Juan membalas.


"Udah bisa cerita? Atau kamu tetap mau simpan semuanya sendiri?" tanya yang perempuan lagi.


Sejenak, Juan berpikir. Kemudian, dia memutuskan untuk menceritakan semuanya dari awal. Tentang pertemuannya dengan Sabiru, sampai hal-hal apa saja yang disampaikan oleh Sabiru soal Baskara selama masa pelarian mereka.


Zahira mendengarkan dengan saksama. Tak sekalipun dia pernah memotong ucapan Juan. Dia hanya akan berbicara ketika Juan mulai memintanya untuk turut mengeluarkan isi kepala.


"Aku ngerasa bersalah karena nggak bisa ada di sisi dia sewaktu masa-masa sulitnya, Za." Penyesalan itu nyata adanya. Jika boleh meminta, Juan ingin memohon agar dirinya bisa diberi kesempatan untuk bisa mendampingi Baskara selama masa sulit bertahun-tahun silam.


"Itu pilihan yang udah Baskara ambil, Ju, kita harus bisa menghormati itu." Dengan bijaknya, Zahira berkata demikian. "Terkadang, ada beberapa orang yang memang butuh buat menepi supaya dia bisa sembuh dari apa yang udah bikin dia sakit. Jakarta, Pain Killer, Neosantara. Tiga hal itu mungkin akan bikin dia semakin sulit buat sembuh, kalau dia nggak punya keberanian buat pergi ninggalin ketiganya untuk sementara waktu."


"Dan kamu lihat? Dia sekarang kembali. Itu artinya, sejauh apa pun dia pergi, dia nggak benar-benar berniat buat meninggalkan kamu. Dia pergi buat nyembuhin diri, dan ketika dia kembali, bukannya itu artinya dia udah sembuh dan bisa memulai semuanya kembali?"

__ADS_1


"Jadi, Ju, alih-alih terus ngerasa sedih dan bersalah atas sesuatu yang nggak bisa kamu kendalikan, kenapa kamu nggak mempersiapkan diri buat menyambut dia lagi? Kenapa kamu nggak mempersiapkan diri kamu pada versi terbaik untuk bisa jadi teman yang lebih baik ketimbang kamu yang bertahun-tahun lalu? Hidup ini berjalan, Ju, kita nggak boleh tinggal di masa lalu."


Tidak boleh tinggal di masa lalu.


Juan mulai merenungi kalimat itu lebih banyak ketimbang hari-hari sebelumnya. Sekian tahun berlalu, nyatanya dia memang masih kerap menemukan dirinya terjebak di dalam kenangan buruk dari masa bertahun silam. Dia masih sesekali menyesali apa yang terjadi, masih sering berharap bahwa semua hanya mimpi dan dia hanya perlu bangun untuk membuat mimpi buruk itu pergi.


Akan tetapi, jika semua ini hanya mimpi, apakah itu artinya bagian-bagian baik di mana dia bisa berjalan sejauh ini untuk sampai pada Zahira juga merupakan bagian dari mimpi itu sendiri?


Pada akhirnya, yang bisa Juan lakukan adalah berusaha menerima. Segalanya. Segala hal yang telah terjadi dan seharusnya dia tinggalkan jauh di belakang.


Zahira benar. Dia tidak bisa terus tinggal di masa lalu, membawa penyesalan yang dia tahu tidak akan mengubah apa pun. Karena sekalipun ia kembali ke masa itu, tidak akan ada yang bisa dia lakukan untuk menghentikan niatnya melarikan diri.


Sekarang, Juan hanya bisa mengusahakan yang terbaik untuk menyambut kepulangan Baskara, seperti apa yang telah Zahira sampikan sebelumnya. Sekaligus juga menyiapkan diri untuk menyambut kepulangan Fabian, yang entah kapan akan menjadi realita.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2