Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Yang Tak Terpisahkan


__ADS_3

Moana menggerutu dengan tatapan kesal ke arah layar ponselnya yang tak berdosa. Ia berkali-kali mengirimkan pesan kepada Juan, namun tak satu pun dari sekian banyak pesan yang dia kirimkan dibalas oleh lelaki itu. Teleponnya juga tidak diangkat sama sekali. Padahal kemarin, sebelum pulang, Juan sendiri yang bilang bahwa dia bisa menelepon lelaki itu saat membutuhkan sesuatu. Tapi apa ini? Kenyataannya Juan tetap tidak ada untuknya.


“Bangsat!” Moana mengumpat. Ponsel dia lempar ke atas nakas, lalu dia kembali berbaring dan menatap tajam langit-langit kamar rawat inapnya yang kosong melompong.


“Gue harus sekarat kayak gimana lagi, sih, biar Juan stand by di sisi gue? Padahal gue juga udah hampir mati kemarin!” gerutunya. Kakinya menendang-nendang udara, begitu anarkisnya. Sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang sedang sakit.


Puas mereog, Moana bangkit lagi. Dipandanginya jarum infus yang menancap di punggung tangan kirinya. Ide buruk muncul di kepala. Menimbulkan senyum mengerikan terbit membingkai wajah pucatnya. Bagaimana jika dia mencabut paksa jarum itu, hingga membuat darah mengucur dari tangannya dan pihak rumah sakit tidak punya pilihan lain selain menghubungi Juan agar lelaki itu segera datang ke sini?


Namun, sebelum rencana licik itu sempat terlaksana, pintu kamar rawatnya sudah lebih dulu terbuka. Membuatnya urung mencabut jarum yang sudah berhasil dia pegang.


Seketika itu, senyum Moana terbit cerah sekali kala menemukan Juan muncul dari balik pintu dengan membawa tentengan. Lelaki itu terlihat seribu kali lebih tampan dalam balutan kemeja putih yang lengannya digulung sampai ke siku dan dua kancing teratasnya terbuka. Surai legamnya ditata rapi, wajahnya tampak berseri-seri.


“Gue bawain bubur ayam.” Ucap lelaki itu seraya mengangkat kantong di tangan. Senyumnya juga terkembang, membuat mata sipitnya seperti menghilang.


Moana senang sekali. Kekesalannya karena merasa diabaikan seketika sirna dan dia menyambut kedatangan Juan dengan penuh sukacita.


“Gue kira lo nggak akan datang, soalnya chat gue nggak lo balas dan lo juga nggak angkat telepon gue sama sekali.” Ucap Moana sambil memberengut.


Juan menarik kursi, lalu duduk setelah meletakkan bungkusan yang dia bawa ke atas nakas. “Gue nggak ngecek hape. Lagian, gue udah janji bakal datang, kan, kemarin.” Ujar lelaki itu.


Mendengar itu, makin kepedean saja si Moana. Dia kira, Juan sudah mulai banyak peduli kepadanya. Tidak tahu saja dia, bahwa di balik pintu kamar rawat, ada Zahira yang menunggu kekasihnya untuk segera kembali ke dalam pelukannya.


“Gimana keadaan lo? Udah oke?” tanya Juan seraya memperhatikan Moana dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Kalau tadi Moana bisa dengan leluasa menggerakkan badannya bahkan sampai bisa menendang udara dengan begitu anarkisnya, di depan Juan, perempuan itu berlagak lemah. Raut wajahnya dibuat melas, satu tangannya terangkat memegangi kepala.


“Masih lemas, Ju. Masih suka ngerasa pusing juga.” Keluhnya.


Namun, alih-alih merasa iba, Juan hanya manggut-manggut saja. Acuh tak acuh pada keluhan yang Moana sampaikan kepadanya.


Lalu, Juan meraih bubur ayam yang dia bawa, membuka pembungkusnya dan menyodorkan makanan yang masih mengepulkan asap itu ke arah Moana. “Nih, makan dulu, biar nanti bisa minum obat.” Titah lelaki itu.

__ADS_1


Moana menerimanya, namun masih dengan bibir yang cemberut karena sikap manjanya tidak ditanggapi dengan semestinya oleh Juan.


“Galih bilang, anak-anak mau ikut jenguk ntar sore. Nggak apa-apa, kan?” tanya Juan.


Moana yang baru hendak menyuapkan bubur ayam seketika urung. Cukup lama ia terdiam, sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. Kalau boleh jujur, dia malas sekali bertemu dengan teman-teman kantornya sekarang, terutama si biang kerok Lukas. Dia masih teringat perkataan laki-laki itu yang menyuruhnya untuk menyerah mengejar Juan. Cih! Enak saja. Dia pikir, dia siapa bisa menyuruh sesuka hati?


“Mo?” Juan mengguncang pelan lengan Moana saat mendapati perempuan itu malah terlihat melamun.


Moana menoleh, lalu mendesah panjang. “Ya, ya, terserah aja deh.” Ucapnya pasrah. Tidak mungkin juga dia menolak mentah-mentah kehadiran rekan kerjanya, dan berkata jujur bahwa dia ingin hanya Juan saja yang datang menjenguk. Bisa-bisa usahanya untuk mendekati Juan secara perlahan akan gagal.


“Ya udah, lo habisin buburnya, gue mau cabut.” Pamit Juan yang sontak membuat Moana membelalak.


“Buru-buru amat? Jam masuk kantor masih lama.” Protes Moana.


“Gue udah ditungguin sama cewek gue. Mau nge-date dulu bentar sebelum dia kerja.”


Oh, sialan. Jadi ini alasannya Juan senyum cerah banget dari tadi? Moana mendumal di dalam hati. Lagi-lagi, realita membuat hatinya patah untuk yang kesekian kali. Dia pikir, senyum cerah Juan itu disuguhkan untuk dirinya. Rupanya, tetap saja, masih si Zahira itu yang menjadi pemenangnya.


Ingin rasanya Moana berteriak, mengamuk, memorak-porandakan segala hal yang ada di sini untuk menyalurkan sakit hati. Namun urung, karena dia harus tetap menjaga image. Akhirnya, yang bisa dia katakan hanya ‘Ya udah’. Dan dia pasrah saja melihat Juan bangkit, melangkah lebar keluar dari ruang rawatnya yang pengap dan bau obat.


“GUE HARUS KAYAK GIMANA LAGI, ANJING?!” Dan seharusnya, Moana mulai mempertimbangkan untuk berhenti. Karena di luar sana, Juan dan Zahira sedang berjalan beriringan dengan tangan yang bergandengan. Bahkan setelah badai dahsyat yang membuat mereka tersedu-sedu sekalipun, mereka masih tetap kembali bersama.


Lantas, apa yang bisa Moana harapkan dari laki-laki yang sudah terlanjur menjadikan seorang perempuan lain sebagai tujuan hidupnya?


...🍁🍁🍁...


Di koridor rumah sakit yang masih sepi, Zayyan menghentikan langkah. Sembilan meter di depannya, Zahira berjalan ke arahnya bersama seorang laki-laki. Tangan mereka saling bergandengan, bibir mereka sama-sama tersenyum cerah.


Zayyan tahu laki-laki itu adalah kekasih Zahira. Meski tidak pernah mendengar secara langsung perempuan itu mengenalkan lelaki itu sebagai kekasihnya, Zayyan sudah sering mendengar cerita tentang laki-laki tampan dan berotot itu dari kawan sejawat Zahira. Yang banyak di antara hal-hal yang dia dengar justru hal-hal yang buruk. Seperti bahwa lelaki itu merupakan play boy semasa kuliah, hobi nongkrong di kelab malam dan mabuk-mabukan, serta masih banyak lagi. Di mana hal-hal tersebut jauh sekali dengan karakter Zahira yang kalem dan tidak neko-neko.


Akan tetapi, sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan, Zayyan tidak ingin menghakimi. Selama dia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa lelaki itu menyakiti Zahira, dia hanya akan berpura-pura tidak mendengar apa pun. Karena bukankah cinta yang sesungguhnya adalah menjaga? Bukankah cukup dia memastikan Zahira tetap aman, entah dengan siapa pun perempuan itu ingin menghabiskan sisa hidupnya?

__ADS_1


“Pagi, Mas Zayyan.”


Zayyan membalas sapaan itu dengan senyuman. “Pagi, Za.”


“Pagi, Bro!” dan untuk sapaan yang berasal dari kekasih Zahira itu, Zayyan juga membalasnya dengan cara yang sepadan.


“Pagi,” masih dengan senyum tulus yang tidak dibuat-buat.


“Mas Zayyan udah sarapan? Saya sama Juan kebetulan mau ke kantin buat sarapan. Mau gabung?” Zahira menawarkan.


Jujur saja, Zayyan memang belum sempat sarapan. Dia datang ke rumah sakit dengan terburu-buru karena rekan dokternya menelepon, minta dibantu menangani pasien. Dan sekarang, dia kelaparan. Namun, apakah boleh dia mengganggu acara sarapan dari sepasang kekasih ini?


“Boleh.” Seperti tahu apa yang sedang dia pikirkan, kekasih Zahira tahu-tahu menyeletuk begitu. Zayyan jelas terkejut, dan dia sama sekali tidak berusaha menyembunyikan keterkejutannya itu.


“Boleh, Mas. Ayo.” Zahira ikut-ikutan menimpali.


Akhirnya, Zayyan iyakan ajakan itu setelah meyakinkan diri bahwa itu bukan sekadar ajakan basa-basi. Mereka bertiga berjalan menuju kantin, masih dengan Zahira dan kekasihnya yang saling bergandengan tangan dan Zayyan berdiri di samping mereka seperti seekor nyamuk yang keberadaannya tidak terlalu berarti banyak.


Sampai di kantin rumah sakit, keadaan masih cukup sepi. Maklum, masih pagi. Belum banyak petugas medis yang datang dan kebanyakan dari keluarga pasien rawat inap yang menunggui anggota keluarga mereka lebih suka membeli makanan dari luar rumah sakit karena bosan dengan menu yang itu-itu saja.


“Kita duduk di sini aja lah, ya.” Ucap kekasih Zahira—yang Zayyan baru tahu kalau namanya adalah Juan.


“Boleh.” Zahira menyahut. Lalu tanpa menunggu lama, perempuan itu duduk di kursi yang sudah ditarikkan oleh kekasihnya lebih dulu.


Kemudian, lelaki itu bergerak cekatan mengurus pesanan. Bukan hanya milik Zahira, tetapi juga milik Zayyan. Dari sana, Zayyan akhirnya mengerti kenapa Zahira bisa jatuh cinta pada kekasihnya meski hampir semua orang di sekitar mengatakan hal buruk tentang lelaki itu.


Bagaimana Juan memperlakukan Zahira dengan begitu lembut, memastikan perempuan itu tidak mengalami kesulitan apa pun dengan makanannya, juga hal-hal sesepele mengusap jejak makanan yang mengotori sudut bibir perempuan itu. Juan memperlakukan Zahira bak ratu, dan Zayyan merasa bersyukur akan hal itu. Karena setidaknya, dia tahu Zahira telah memilih laki-laki yang mencintainya dengan begitu besar.


Pagi itu, meski harus menjadi obat nyamuk untuk Zahira dan kekasihnya, Zayyan tidak merasa keberatan. Dia dengan senang hati menjadi saksi betapa merekahnya senyum Zahira, juga betapa tulusnya tatapan yang Juan berikan kepada perempuan itu.


Dan dalam suasana hati yang baik itu, Zayyan kembali mengulangi doanya. Doa yang sama, yang selalu dia panjatkan kepada Tuhan untuk perempuan yang dia cintai diam-diam—Zahira. Doa yang bunyinya; “Ya Tuhan, dengan siapa pun dia berakhir, tolong pastikan ia berakhir dengan laki-laki yang terbaik. Yang mencintainya. Yang bersedia menjaganya dengan sepenuh hati. Yang mampu memberikan jaminan rasa aman untuknya sampai nanti dia mati. Karena, jika saya tidak cukup pantas untuk menjadi seseorang itu, maka dia tetap harus mendapatkan yang terbaik.”

__ADS_1


Doa yang tulus, datang dari hati yang setulus itu tanpa mengharapkan cintanya terbalas. Dan semoga, doa-doa baik itu berbalik membawa kebahagiaan kepada Zayyan yang sudah dengan lapang dada menerima keadaan.


Bersambung


__ADS_2