
Pada jalanan yang masih terbilang ramai meski sudah jauh lewat jam pulang kerja, Juan mengoceh. Volume kendaraan yang seakan tumpah ruah ke satu titik membuatnya mau tak mau harus menahan laju mobil, tak bisa memaksakan diri untuk mengebut karena bahkan untuk menyelip saja dia tidak bisa.
Berkali-kali, Juan harus menghentikan laju kendaraannya karena lampu lalu lintas berubah merah. Untuk satu lampu lalu lintas, dia bahkan bisa sampai berhenti sebanyak dua kali saking padatnya jalanan malam ini.
“****!” Juan mengumpat lagi. Kali ini, penyebabnya karena ada pengendara motor ugal-ugalan yang hampir terserempet olehnya. Jika saat ini dia sedang mengendarai mobilnya sendiri, Juan tidak akan keberatan untuk aduk mekanik. Palingan, dia akan dimintai ganti rugi meski si pengendara motor sudah jelas salah karena menyerobot jalan sesuka hati.
Bukankah memang selalu begitu? Selalu banyak manusia di muka bumi ini yang lebih senang memosisikan diri sebagai korban, dalam upaya menarik simpati. Memuakkan, tapi mau bagaimana lagi? Memang sudah begitu adanya sejak zaman dulu kala.
Begitu banyak drama yang harus Juan lewati demi bisa sampai ke rumah sakit menjemput Zahira kekasih tercinta. Namun begitu sampai, dia malah mendapati sebuah pemandangan yang membuat hatinya terasa nyeri.
Tepat sebelum Juan selesai melepaskan seatbelt, matanya tak sengaja menangkap sosok Zahira yang tengah berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Tidak sendiri, perempuan itu berjalan beriringan bersama dengan seorang laki-laki. Apesnya lagi, Juan juga harus melihat adegan klise di mana Zahira tahu-tahu hampir terjerembap ketika hendak membuka pintu dan si laki-laki yang berjalan bersamanya dengan sigap menahan tubuh Zahira.
Untuk Zahira yang tidak jadi terjatuh, Juan bersyukur. Tapi untuk kejadian setelahnya, di mana Zahira malah tidak kunjung melepaskan pegangan laki-laki itu dari lengannya membuat Juan telah tanpa sadar menggenggam erat kemudi. Otot-ototnya, terutama yang berada di sekitar leher dan lengan menegang, mengeras seperti batu yang siap dihantamkan kepada siapa saja sampai berakhir remuk redam.
Di dalam kekalutan itu, Juan mulai menghitung mundur. Tidak banyak-banyak, hanya dimulai dari lima dan akan berakhir di satu. Rencananya begini; kalau Zahira tidak segera melepaskan diri ketika dia selesai menghitung mundur, maka dia akan bergegas turun dari mobil dan menghajar laki-laki yang bersama kekasihnya itu. Apa pun alasannya, apa pun pembelaan yang akan diberikan oleh Zahira nantinya, dia akan tetap menghajar laki-laki itu lebih dulu untuk menyalurkan emosinya.
“Tiga,” Juan mulai menyuarakan hitungannya, di mana angka 5 dan 4 sudah yang sebelumnya hanya dia ucapkan dalam hati.
__ADS_1
“Dua,” masih terus berlanjut. Ada ketakutan yang teramat besar ketika dia hampir menyebut ‘satu’. Tapi, dia tetap melanjutkannya. “Sa—“ dan hitungannya tidak pernah selesai karena sebelum itu, Zahira sudah lebih dulu menarik diri.
Entah harus lega, atau justru kecewa karena dia kehilangan kesempatan untuk meninju seseorang malam ini. Kepala Juan terlalu terasa penuh, pikirannya keruh.
Maka ketika ia melihat laki-laki yang bersama Zahira tadi berjalan ke arah lain, meninggalkan Zahira seorang diri setelah terlihat berbasa-basi, Juan tidak membuang waktu dan bergegas melompat turun dari mobil. Tempat ia memarkirkan mobilnya memang tidak akan terlihat jelas dari arah dalam rumah sakit, jadi dia tidak heran ketika mendapati Zahira tampak terkejut atas kemunculannya dari tengah kegelapan.
“Ju,” Zahira menyapa. Tak lupa membubuhkan senyum manis madu yang di hari-hari biasa, pasti akan segera Juan balas dengan senyum yang tak lelah cerahnya. “Kamu baru sampai? Atau udah dari tadi?”
“Baru.” Juan menjawab singkat. Nadanya ketus, meski dia sudah berusaha untuk tidak memperlihatkan emosinya di depan Zahira saat ini. Masih segar di dalam ingatannya soal pertengkaran mereka terakhir kali, yang berujung pada keterdiaman panjang yang menyiksa nurani. Juan tidak ingin ada gelombang kedua, ia tidak ingin hubungannya dengan Zahira kembali renggang meski itu berarti dia harus berjuang keras melawan egonya sendiri.
“Aku tadi chat kamu, tapi nggak kamu balas.” Zahira mengadu.
“Aku chat kamu dari jam 5. Dan, mobil siapa ini yang kamu pakai?”
Juan menghentikan langkahnya tepat di sisi mobil. Sejenak, dia terdiam. Haruskah dia mengatakan yang sejujurnya pada Zahira bahwa dia sudah tidak ada di kantor jam segitu dan malah berada di rumah Moana, tertidur kala menunggui perempuan itu? Tidak, itu bukan ide bagus. Zahira mungkin akan salah paham.
“Aku ada kerjaan di luar jam segitu. Baru selesai jam 7 dan langsung ke sini buat jemput kamu. Ini mobilnya Galih, aku pinjam karena nggak keburu kalau harus balik ke kantor buat ambil hape sama mobilku.” Juan beralasan. Emosi yang terpupuk banyak setelah melihat adegan tidak menyenangkan tadi seketika lenyap, tergantikan dengan kegugupan tiada tara. Bagaimana jika Zahira curiga?
__ADS_1
“Terus, kalau mobilnya kamu pakai, Galih naik apa?”
“Taksi online.” Kata orang, membuat satu kebohongan selalu akan berakhir menimbulkan kebohongan lainnya. Malam ini, Juan membuktikannya. Dan ke depannya, selagi Zahira masih terus mengungkit soal mobil, ia mungkin akan membuat lebih banyak kebohongan tak berguna.
“Kasihan dong. Padahal nggak apa-apa kalau kamu balik dulu ke kantor, Ju. Aku bisa nunggu, kok.”
Dan biarin kamu lebih lama berinteraksi sama cowok yang tadi, Za? Nggak, makasih. Kamu tahu aku pencemburu. “Nggak apa-apa, Galih juga oke-oke aja. Udah, nggak penting ngomongin dia sekarang. Ayo kita pulang, udah malam.” Juan membukakan pintu, mendorong pelan punggung Zahira agar masuk ke dalam mobil dengan aman. Lalu dia berlari ke seberang, buru-buru duduk di balik kemudi.
“How’s your day? Ada masalah?” tanya Juan setelah dis melajukan mobilnya menjauhi area rumah sakit. Tidak seperti jalanan ke sini yang mengandung banyak sekali rintangan, jalan pulang terasa lebih aman dan lengang.
“Nothing special. Gitu-gitu aja kegiatan aku selama seharian. How about you? Ada problem di kerjaan?” Zahira balik bertanya.
“Nggak ada.” Lagi-lagi, hanya jawaban singkat yang Juan berikan. Setelah itu, hening. Juan tidak lagi bertanya ini itu, hanya terus fokus memandangi jalanan di depannya dengan pikiran yang setengah menerawang.
Keanehan pada diri Juan itu disadari dengan baik oleh Zahira. Perubahan sikap yang terlalu kentara itu sudah cukup untuk memberitahunya bahwa Juan sedang tidak baik-baik saja. Hanya, dia tidak punya keberanian untuk bertanya lebih jauh. Lebih tepatnya, dia tidak ingin mendesak Juan seperti tempo hari, di mana mereka malah berakhir ribut dan saling mendiamkan selama berhari-hari.
Kalau boleh jujur, akhir-akhir ini Zahira merasa lelah dengan semua aktivitas yang dia jalani. Semuanya terasa monoton, terlalu tidak bervariasi untuk dirinya yang suka sekali pada hal-hal baru. Hal itu berdampak banyak pada suasana hatinya yang lebih mudah berubah buruk, dan hanya Juan lah satu-satunya alasan untuknya tetap waras di tengah kondisi yang tidak menyenangkan seperti itu. Jadi sebisa mungkin, Zahira tidak ingin hubungan mereka berjalan ke situasi yang buruk. Pertengkaran hebat mereka tempo hari sudah cukup membuat Zahira ketakutan, ia tidak ingin hal serupa terjadi lagi karena sumpah demi apa pun, ia tidak pernah siap jika ditanya bagaimana jadinya ia tanpa Juananda Saputra.
__ADS_1
Sisa perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam dilewatkan begitu saja dalam keheningan dan atmosfer tidak nyaman yang asing. Sepasang kekasih itu terdiam dengan isi kepala yang sama-sama ribut, sama-sama berusaha keras menekan ego masing-masing hanya supaya hubungan mereka tetap bisa bertahan di tengah terpaan badai yang hebat.
Bersambung