Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Duduk di Sini, Kita Bicara


__ADS_3

Di dalam taksi yang membawa tubuh setengah kuyup mereka menerobos derasnya hujan, Zahira dan Juan masih tidak memulai percakapan apa-apa. Alunan musik sendu yang diputar melalui radio seperti memberikan penegasan lain bahwa sepasang kekasih yang sedang ia temani itu tengah dirundung pilu, diterpa badai kesedihan yang dahsyat dan tidak ada di antara mereka yang tahu kapan keadaan akan membaik.


Zahira menoleh sedikit ke arah Juan setelah sejak tadi melemparkan pandangan ke luar jendela, di mana titik-titik air yang tampias mengenai kaca jendela itu menjadi saksi betapa ia sebenarnya masih menangis begitu deras di dalam hati. Melalui ekor mata, Zahira menemukan kekasihnya menunduk begitu dalam, kedua tangan lelaki itu saling bertaut di atas pangkuan dan sayup-sayup ia bisa mendengar helaan napas gusar lolos darinya.


“Kenapa?” ia ingin bertanya begitu sekali lagi—karena Juan memang belum memberikan penjelasan apa-apa hingga ketika lelaki itu menyetop sebuah taksi. Namun, Zahira seperti tidak memiliki daya. Ia sudah kehilangan banyak sekali energi untuk menangis. Belum lagi sesak yang semakin menjalar ke mana-mana, membuatnya semakin tidak bisa berkata-kata dan rasanya malah ingin kembali menumpahkan air mata.


Sementara itu, kepala Juan juga tidak kalah berisiknya. Pertanyaan “Kenapa?” juga hilir mudik di sana, namun dengan konteks yang berbeda. Jika Zahira mempertanyakan mengapa Juan harus berbohong, maka Juan justru mempertanyakan kepada dirinya sendiri perihal mengapa ia masih begitu bodoh mengendalikan emosi. Usianya sudah hampir memasuki kepala 3, tapi kebiasaan lari dari masalah yang dia bawa sejak kecil masih belum juga bisa ditinggalkan dan bahkan sampai membuat gadis kecintaannya terluka.


Di ujung keputusasaan itu, Juan kembali menghela napas panjang. Ia mengangkat kepala, melayangkan tatapan jauh ke depan pada jalanan yang padat di tengah guyuran hujan. Pendar lampu jalanan yang beradu dengan sinar lampu mobil yang berjalan dari arah berlawanan membuat kondisi kepala Juan semakin tidak keruan. Rasa-rasanya, ia ingin berteriak. Memaki dirinya sendiri dengan umpatan paling buruk di dunia sebagai ganjaran karena sekali lagi, dia telah menyakiti Zahira. Namun, Juan sadar, tak peduli seberapa banyak dia memaki diri sendiri, apa yang sudah terjadi tidak dapat diubah. Hati Zahira tetap terluka, dan dia adalah pelakunya.


Setelah merayap di jalanan yang basah dan licin, taksi akhirnya menepi. Perputaran roda-rodanya melambat, lalu sepenuhnya berhenti. Sang pengemudi mengonfirmasikan ketibaan mereka, Juan segera membayar ongkos dan bergegas turun setelah mengucapkan terima kasih. Ia bergerak secara terburu-buru, bukan hanya karena gerimis masih turun tipis-tipis, tetapi juga agar ia bisa berlari ke sisi mobil yang lain dan membukakan pintu mobil untuk Zahira.


Tapi seakan belum usai badai nestapa yang merundung hatinya, Juan kembali dibuat meringis saat Zahira sudah lebih dulu membuka pintu untuk dirinya sendiri. Perempuan itu bahkan tidak mau menatapnya, lebih memilih berlalu memasuki gerbang rumah setelah mengucapkan terima kasih kepada sopir taksi yang telah mengantarkan mereka.


Juan kembali mematung, enggan beranjak dari posisinya berdiri bahkan setelah taksi kembali melaju dan langkah Zahira hampir mencapai pintu rumahnya.


“Nggak mau masuk?” tanya Zahira, sedikit ketus setelah tangan perempuan memegang kenop pintu. Sorot yang berpendar dari sepasang netra cantik itu tampak asing, sekali lagi menambah goresan di hati Juan yang sudah lebam-lebam.


Gerimis perlahan berubah menjadi hujan deras, seperti langit sengaja memberitahu bahwa badai ini belum akan usai, bahwa perjalanan mereka untuk menuju kata damai masih sangat jauh dan Juan mungkin akan banyak terjatuh di sepanjang perjalanannya.


Dengan kondisi hati yang porak-poranda, kepala yang riuh dan tubuh yang remuk, Juan berjalan menghampiri Zahira yang masih menunggu di ambang pintu yang kini telah terbuka. Setelah itu, dia mengekor di belakang Zahira tanpa berniat mendahului ayunan langkah yang kekasihnya ambil.


“Assalamualaikum,” Zahira mengucapkan salam dengan suara yang parau.


“Waalaikumssalam.” Suara Umi Maryam menyahut tak lama setelahnya, disusul kemunculan sosok wanita itu yang masih mengenakan mukena. “Eh, ada Juan juga.” Sambungnya kala menemukan eksistensi Juan di belakang tubuh Zahira.


“Abi di mana?” tanya Zahira setelah mencium tangan ibunya.


“Ke masjid, belum pulang.” Jawab Umi Maryam. Zahira hanya mengangguk singkat, lalu pamit naik ke kamarnya untuk membersihkan diri.


“Ya udah, jangan lama-lama, kasihan Juan.” Pesan Umi Maryam yang tidak dijawab sama sekali oleh Zahira. Perempuan itu terus melanjutkan langkahnya dengan mantap, seakan tidak peduli meski ketika dia akhirnya berbalik nanti, Juan sudah tidak ada di tempatnya.


“Duduk, Ju.” Umi Maryam mempersilakan Juan untuk duduk di sofa ruang tamu. “Mau minum apa? Teh hangat atau kopi?” tawarnya kemudian.


Juan berusaha mengulaskan senyum, lalu menggeleng pelan. “Nggak usah repot-repot, Umi. Air putih aja.” Ucapnya.


Umi Maryam balas tersenyum seraya mengangguk. “Ya udah, tunggu di sini, biar Umi Ambilkan air putih buat kamu.” Kemudian wanita itu berlalu dari hadapan Juan, mengayunkan langkah santai menuju dapur tanpa tahu bahwa di balik punggungnya, Juan kembali menggerayangi dadanya sendiri. Meraba luka tak kasat mata yang hampir-hampir membuatnya kehilangan nyawa.

__ADS_1


Luka yang hanya Zahira seorang yang mampu menyembuhkannya.


...🍁🍁🍁...


Setengah sembilan, usai memainkan peran sebagai calon mantu idaman di hadapan Umi Maryam dan Abi Hamzah, Juan melipir ke teras depan. Izinnya untuk menghirup udara segar, padahal sebenarnya, dia sedang ingin meraup oksigen sebanyak-banyaknya karena sedari ia tergabung dalam obrolan bersama keluarga ini, Zahira sama sekali tidak menyahuti. Perempuan itu hanya akan sesekali menyunggingkan senyum palsu dan terkekeh kecil untuk setiap lelucon receh yang Abi Hamzah lontarkan. Tidak ada kontak mata yang terjadi di antara mereka. Perempuan itu sepenuhnya menghindari dirinya.


“Abi nanya, kamu mau pulang jam berapa?” Dari belakang tubuhnya, Zahira muncul dengan raut wajah yang terlalu sulit untuk dibaca. Masih sama seperti tadi, perempuan itu enggan menatapnya dan lebih memilih melabuhkan tatapannya pada tiang lampu taman di halaman.


“Kita harus ngobrol dulu.” Juan menyahut. Namun Zahira masih enggan mengalihkan tatapannya.


“Soal apa?” tanya perempuan itu. Meski kursi di samping Juan masih kosong, ia bersikeras untuk tetap berdiri di sisi pintu.


“Soal Moana, soal kenapa aku matiin hape, semuanya. Semua yang bikin kita jadi kayak gini.”


Yang pertama kali Juan terima adalah tarikan napas yang begitu dalam dan embusan panjang yang seperti tidak bertepi. Lalu, momen ketika Zahira akhirnya mau menoleh dan memaku tatap dengannya, Juan sadar bahwa mungkin sebaiknya memang perempuan itu mengalihkan tatapannya ke arah lain saja. Sebab sorot mata asing itu masih ada di sana. Menimbulkan goresan baru di hati Juan, padahal yang lama pun belum sepenuhnya kering.


“Ya udah, explain.” Kata Zahira.


“Duduk dulu, sini.” Juan menarik kursi yang semula berada di sampingnya, memindahkannya hingga persis berada di depannya.


Zahira memandangi kursi kayu yang Juan sediakan selama sepuluh detik penuh, mempertimbangkan kemampuan dirinya untuk duduk di sana dalam kurun waktu yang tidak ditentukan. Kemudian, sebab ia mengerti bahwa kabur tidak akan pernah menyelesaikan apa pun, Zahira akhirnya menuruti keinginan Juan. Dia duduk di kursi itu, namun terlebih dahulu menariknya mundur untuk memberikan jarak yang lebih banyak agar lutut mereka tidak saling bersinggungan.


“First of all, aku minta maaf.”


“Lewatin aja sesi minta maafnya, Juan, waktu kita nggak banyak.”


“Stop talking about the time.” Juan tidak setuju, ia juga menggeleng begitu keras. “Ini harus benar-benar clear, jadi aku nggak peduli meski obrolan kita makan waktu sampai besok pagi.”


“Itu artinya kamu egois.”


“I am.” Juan membenarkan. Karena dia memang begitu. “Lebih baik aku jadi egois buat beberapa jam ke depan, daripada kita berakhir nggak nyelesaiin apa-apa.”


Dan sekali lagi, Zahira menghela napas panjang. “Lanjutin,” titahnya.


“Again, I’m so sorry. Aku minta maaf karena terpaksa bohong sama kamu soal Moana. I don’t meant it, Za. Sedari awal, aku udah niat buat cerita semuanya ke kamu, but—“


“But you didn’t,” Zahira menyela. “Jangankan cerita, kamu bahkan nggak ngajak aku ngomong selama perjalanan kita pulang.”

__ADS_1


“Itu juga yang harus kamu tahu alasannya.”


Mendengar itu, Zahira menaikkan sebelah alisnya. Meski begitu, dia tidak mendebat dan hanya menunggu Juan melanjutkan ucapannya.


“I saw you with another guy last night, dan aku cemburu. Semua cerita yang mau aku bagiin ke kamu hilang gitu aja dari kepala karena aku kadung nggak bisa ngontrol emosi aku, Za. He touched you, dan kamu nggak berusaha buat menghindar.” Bersamaan dengan ungkapan hati itu, bayangan adegan kemarin malam kembali berputar jelas dalam ingatan. Juan menggigit bibir bawah, dadanya kembali terasa sakit.


Enam detik penuh, Zahira terdiam. Dia sedang mencerna penuturan Juan barusan. Mengingat-ingat kembali ada bersama siapa dia kemarin malam, dan lelaki mana yang Juan bilang menyentuhnya tapi dia tidak berusaha untuk menghindar. Karena, Zahira bukan tipikal yang membiarkan orang lain menyentuhnya sesuka hati meski sesama perempuan sekalipun.


“Siapa?” Zahira pikir, dia menanyakan itu kepada dirinya sendiri, dan hanya di dalam hati. Namun saat sebuah jawaban keluar dari bibir Juan, ia tahu pertanyaan itu telah dia lontarkan dengan gamblang di depan kekasihnya.


“Cowok yang bareng sama kamu keluar dari rumah sakit tadi. Yang juga makan siang bareng kamu di ruang istirahat.”


Seketika itu, napas Zahira seperti berhenti. Nama Zayyan muncul pertama kali di kepalanya, dan memang, itulah jawabannya.


“Mas Zayyan? C’mon, He’s just a fri—“


“I know.” Juan menyerobot. “Aku tahu kalian cuma teman. Dia juga cuma bantuin kamu yang hampir jatuh kemarin malam. Demi Tuhan, aku tahu, Zahira.” Ia menyambung dengan begitu frustrasinya.


Ada jeda cukup lama setelahnya. Tidak ada suara yang keluar dari bibir keduanya. Yang ada hanya tatapan mata yang beradu seakan mereka sedang mengobrol dari sana.


“Aku juga maunya jadi pacar yang baik, Za. Yang nggak ngelarang kamu temenan sama siapa pun, yang nggak kabur-kaburan waktu lagi ada masalah, yang nggak cemburuan dan posesif mampus. Aku mau jadi seseorang yang sesuai sama apa yang kamu mau. I’m trying, tapi masih selalu gagal karena akhir-akhir ini aku selalu ngerasa nggak baik buat kamu. Apa pun yang aku lakuin, sebanyak apa pun hal yang udah aku kasih ke kamu, semuanya selalu kelihatan kurang di mata aku sendiri. Dan cowok-cowok yang ada di sekeliling kamu itu, aku ngelihat hal-hal yang kurang dari aku di diri mereka.” Juan memberikan pengakuan pertama setelah hening yang berkuasa cukup lama.


“Adnan sholeh, dia bisa jadi partner ibadah buat Abi dan itu kadang-kadang bikin aku mikir kalau dia juga bisa jadi imam yang baik buat kamu. Aku insecure sama ketaatan dia dalam beragama, dan sebagai pelampiasan dari rasa insecure itu, aku selalu nyelipin kata-kata ejekan buat dia. Tapi, Za, setiap kali pulang ke rumah, aku nggak habis-habisnya muji gimana Adnan masih bisa bertahan dengan keimanan dia di tengah gempuran manusia-manusia doyan maksiat di luaran sana.”


“Terus, soal cowok yang sama kamu di rumah sakit. Aku beberapa kali lihat kalian interaksi sama kamu sebelum kejadian semalam, kalian kelihatan akrab. Dan, ya, aku insecure lagi karena di mata aku, dokter muda itu kelihatan jauh segala-galanya lebih baik dibandingkan sama aku. Kalian seprofesi, yang mana aku tahu obrolan kalian bisa lebih nyambung dan kalian bisa lebih tahu kondisi masing-masing karena kalian kerja di bidang yang sama. Kalau dipikir-pikir, dia juga lebih mapan. Karirnya lebih stable daripada aku yang cuma manfaatin koneksi keluarga. Sekali perusaahan keluarga kami bangkrut, hidup aku porak-poranda. Aku nggak punya pegangan, Za.”


Zahira masih tidak mengatakan apa pun ketika Juan kembali terdiam memberikan jeda. Dia hanya terlalu bingung, tidak tahu harus menanggapi pengakuan Juan dengan kalimat seperti apa. Yang dia tahu, Juan pencemburu. Sejak awal pacaran, lelaki itu memang sudah menampakkan gejala cemburu akut. Dan karena dia mencintai Juan sebanyak itu, Zahira tidak pernah mempermasalahkan kecemburuan Juan tersebut selagi tidak ada hal-hal buruk yang menyusul setelahnya.


Zahira tidak pernah menyangka bahwa kecemburuan itu berasal dari rasa insecure. Ia tidak pernah tahu bahwa kekasih yang di matanya lebih dalam segala aspek, ternyata justru memandang kurang dirinya sendiri. Tak ubahnya badai yang menerpa ketika langit sedang dalam keadaan cerah, fakta itu menampar Zahira begitu hebatnya. Jadi, selama lima tahun bersama, apa yang dia ketahui tentang kekasihnya ini?


“Aku tahu, itu semua nggak bisa dijadiin pembenaran buat sikap aku yang pengecut dan cenderung kenakan. Biar gimana pun, kabur pas lagi ada problem bukan sikap seorang gentleman dan seharusnya aku cari cara buat nyingkirin rasa insecure itu, bukan malah aku pelihara sampai jadi besar. Aku cuma ... cuma nggak tahu gimana caranya, Za. Ketakutan aku kalau suatu saat aku bakalan kehilangan kamu udah bikin otak aku jadi tumpul.”


Usai mengatakan itu, Juan meraih kedua tangan Zahira, membawanya ke atas pangkuan. “Aku emang banyak kurangnya, Za, aku minta maaf. Tapi tolong maafin pacar kamu yang tolol minta ampun ini, dan kasih dia kesempatan sekali lagi buat perbaiki pola pikirnya yang aneh. Tolong jangan ngeluh capek dulu, Za. Please kasih aku waktu buat perbaiki semuanya. Sekali lagi aja. Kalau setelah pulang dari sini, aku bikin kesalahan yang sama, kamu boleh langsung pergi.”


Meski di dalam hati, Juan berteriak sekencangnya untuk mencegah hal itu terjadi. Zahira adalah pusat dunianya sekarang. Kalau perempuan itu benar-benar pergi, dia tidak akan punya alasan untuk tetap tinggal di dunia yang bajingan ini. Maka jalan satu-satunya adalah dengan berubah menjadi lebih baik, dan Juan telah bersumpah akan benar-benar melakukannya.


“I’m nothing without you, Za. Satu kali lagi kesempatan, dan aku akan bikin kamu nggak menyesal udah milih aku sebagai pemilik hati kamu.” Dan bersama bukan purnama yang hampir habis tertutup mendung, Juan masih menanti jawaban dari kekasihnya. Menanti nasib seperti apa yang akan dia jalani sepulangnya ia dari sini. Akankah pengampunan dan kesempatan kedua yang dia dapatkan, atau justru dia harus menelan kenyataan pahit bahwa sudah terlalu terlambat untuk meminta sebuah kesempatan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2