Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Unexpected


__ADS_3

Terkejut, terbengong, terheran-heran. Kira-kira, seperti itulah reaksi yang bisa Zahira tunjukkan ketika menemukan seorang tamu tak diundang berdiri di depan pintu rumahnya. Pagi-pagi sekali, masih pukul 8 pagi.


Bingung dan canggung menjadi satu, namun dia tetap memperlakukan tamu itu dengan sebaik mungkin. Dia sambut menggunakan senyum, dia ajak masuk ke dalam rumah, dia persilakan duduk di sofa ruang tamu, lalu dia juga pamit undur diri untuk datang membawakan minuman dan camilan ala kadarnya. Tak lupa, dia juga menyeret Abi dan Umi untuk turut serta menemui tamu tersebut, agar dia tidak sendirian dalam meresapi kebingungan ini.


“Selamat pagi.” Sapa Si Tamu ketika Abi dan Umi menghampiri.


“Selamat pagi, ibunda Juan?” tanya Abi memastikan. Sebelum ditarik ke sini, Abi memang sempat bertanya lebih dulu siapa tamu yang datang hingga putrinya yang biasa terlihat tenang menjadi tampak kepanasan.


“Betul. Saya Chyntia, ibunya Juan.” Perempuan bergaun hijau pendek di bawah lutut membenarkan.


Zahira sudah ketar-ketir sekali, dia takut kedatangan ibunda Juan ke sini adalah untuk menegaskan kepada dirinya dan juga Abi serta Umi agar hubungannya dengan Juan yang sudah terjalin selama 5 tahun ini tidak dilanjutkan lagi. Adegan dari drama-drama yang pernah dia tonton di masa sekolah dulu bermunculan, membuat perasannya semakin gelisah karena setelah pembenaran itu, ibunda Juan tidak kunjung berbicara lagi.


Kepanikan Zahira semakin menjadi-jadi saat dia melihat adanya pergerakan di mana ibunda Juan mulai memperhatikan setiap sudut di ruang tamu. Mulai dari dinding, perabotan, hingga pigura foto wisudanya beberapa tahun lalu yang terpajang di sana tak luput dari perhatian perempuan itu. Dalam sudut pandang Zahira, apa yang dilakukan oleh ibunda Juan itu adalah sebuah bentuk seleksi—untuk makin memantapkan diri bahwa Zahira memang tidak selevel dengan putranya.


“Jadi, Bu, kalau boleh tahu, ada keperluan apa ya Ibu datang ke sini pagi-pagi sekali?” untungnya, Abi degan cepat memberanikan diri untuk bertanya.


Ibunda Juan menghentikan aktivitasnya, lalu menatap Abi Hamzah dengan sorot mata asing yang tidak siapa pun di sana mampu menerjemahkannya.


Tak kunjung muncul jawaban, malahan, ibunda Juan meminta izin melakukan hal lain yang semakin membuat mereka gugup tidak keruan.


“Boleh saya minum dulu tehnya?”


Kali ini, Umi yang menjawab, “Boleh, silakan diminum.” Sambil menyunggingkan senyum tipis yang semoga sampai kepada ibunda Juan dengan niat tulus yang sama.


Chyntia pun meraih cangkir berisi teh hangat yang sebelumnya disajikan oleh Zahira. Seperti sudah menjadi kebiasaan, cangkir itu lebih dulu dibawa mendekati hidung untuk dia hirup aromanya sebelum cairan berwarna kemerahan itu menyentuh ujung lidahnya.


Hangat yang perlahan-lahan menyebar ke seluruh bagian di tenggorokan setelah teh berhasil ia minum membuat Chyntia bisa sedikit merasa lega. Sejujurnya, sama seperti keluarga Zahira yang deg-degan menanti jawaban, dia pun sama gugupnya untuk memberikan jawaban yang mereka inginkan.


Tiga kali menyesap, cangkir teh Chyntia turunkan kembali ke atas meja. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian menatap tiga orang Tuan rumah secara bergantian sebelum tatapan terakhirnya dia labuhkan kepada Abi Hamzah yang duduk di sebelah kiri Zahira, mengapit putrinya.


“Maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk melamar putri Bapak, Zahira, untuk menjadi istri anak saja, Juan.” Tutur Chyntia dalam satu kali tarikan napas.


Ketiga orang di hadapannya terlihat speechless. Mereka kompak terdiam sebelum mulai menunjukkan gerak-gerik saling melirik kepada satu sama lain, mungkin sedang bertanya apakah ini nyata atau mereka hanya sedang kompak bermimpi.


“Maaf?” setelah beberapa waktu, Abi Hamzah kembali bicara.


Chyntia menarik napas lagi, “Saya mau melamar Zahira, Pak. Untuk menjadi istri Juan, menjadi menantu saya.” Dengan menahan rasa greget, Chyntia mengulangi.


Sebenarnya, dia tidak begitu heran melihat reaksi dari Zahira dan kedua orang tuanya. Mengingat selama ini dia memang kekeuh sekali menentang hubungan pacaran Juan dengan Zahira. Lebih dari sekadar terkejut, Zahira dan kedua orang tuanya mungkin merasa kebingungan.

__ADS_1


“Lima tahun bukan waktu yang sebentar, jadi saya pikir sudah waktunya mereka beranjak ke jenjang yang lebih serius lagi.” Sambung Chyntia, ketika tidak ada satu pun dari ketiga orang itu yang menyahuti ucapannya.


“Maaf, Tante.” Ini suara Zahira. Setelah mengumpulkan keberanian, dia akhirnya mau buka mulut. “Tante begini karena dipaksa sama Juan, ya? Juan ada ngancam Tante ini itu, ya?” tanyanya.


Namun mendengar hal itu, Chyntia langsung menggeleng, dan malah menebarkan senyum yang sebelumnya tidak pernah Zahira lihat sebelumnya.


“Juan emang suka absurd, tapi dia nggak akan sampai ngancem yang macam-macam buat dapetin apa yang dia mau.” Turut Chyntia. “Yang soal dia kabur dari rumah, itu juga cuma alasan aja. Dia aslinya udah punya rumah itu, dan emang udah mau pindah ke sana. Kebetulan aja momennya pas, jadi dia pakai alasan berantem sama saya supaya bisa pindah lebih cepat.” Lanjutnya.


Kembali, Zahira tak menyahut. Masih tidak percaya kalau kedatangan ibunda Juan ke sini adalah untuk melamarnya, dan itu pun atas kemauan sendiri, bukan atas dasar paksaan dari Juan yang memang sudah heboh sekali minta menikah.


“Mohon maaf sebelumnya,” Umi Maryam kembali menyela. “Tapi, apa Ibu yakin? Ya, bukan apa-apa, tapi seperti yang ibu lihat, kami ini bukan dari keluarga yang berada. Bisa dibilang, kami jauh sekali levelnya dari keluarga Ibu.” Bukan maksud merendahkan keluarga mereka sendiri, tapi Umi Maryam tahu bahwa restu yang tak kunjung didapat untuk hubungan Juan dan Zahira adalah karena perbedaan status sosial dan ekonomi mereka. Jadi daripada ada yang tidak baik nantinya, lebih baik diluruskan semuanya sejak awal. Secinta apa pun Zahira kepada Juan, dan seingin apa pun Umi Maryam dan Abi Hamzah untuk menjadikan Juan sebagai mantu, ia tetap meyakini bahwa restu orang tua itu adalah yang utama.


“Tapi Juan nyaman berada di sini. Saya dengar banyak sekali cerita soal keluarga ini dari mulut Reno, sepupu Juan. Dia bilang, Juan sering cerita soal bagaimana kalian mau menerima anak saya yang urakan, mengayomi dia tanpa sedikit pun pernah memandang sebelah mata. Bahkan, ketika kalian yang taat agama ini tahu bahwa Juan memiliki keyakinan yang berbeda, kalian tetap menerimanya dengan baik, tetap membimbingnya menjadi pribadi yang lebih baik.”


“Sebagai ibu, saya tentu ingin anak saya mendapatkan yang terbaik. Dan dalam pandangan saya saat ini, tidak ada yang lebih baik ketimbang Zahira untuk bisa menjadi istri bagi anak saya. Tidal ada pula yang lebih baik untuk menjadi orang tua kedua bagi anak saya selain Bapak dan Ibu. Itu sebabnya, saya dengan mengumpulkan segala keberanian datang ke sini untuk melamar Zahira.”


Katanya, sekeras apa pun bongkahan batu, ia tetap akan lapuk jika air hujan terus turun menetes ke atasnya. Zahira tahu itu bukan hanya sekadar peribahasa semata, dia tahu hal-hal di muka bumi ini bisa berjalan terbolak-balik sesuai dengan seberapa besar usaha kita, juga pada bagaimana Tuhan memberikan izinnya.


Namun, tetap saja, Zahira masih tidak menyangka bahwa momen di mana dia akhirnya diterima oleh ibunda Juan akan datang juga. Terlebih lagi, momen itu datang di saat yang tak terduga, tepat sehari sebelum hari ulang tahunnya. Yang mana ini bisa menjadi kado ulang tahun paling manis yang akan dia terima sepanjang hidupnya.


“Sama seperti manusia pada umumnya, Juan juga masih memiliki banyak sekali kekurangan. Jadi saya harap, Zahira mau menerima kekurangan itu dan membantu Juan untuk mengubah kekurangan-kekurangan tersebut menjadi sebuah kelebihan.” Chyntia memberanikan diri bergerak maju, lalu dia raih tangan Zahira, mengoper kepadanya sebuah kotak beludru berisi cincin bertakhta kan sebuah permata yang cantik.


Mendengar Chyntia menyebut dirinya sendiri dengan sebutan ‘mama’, Zahira makin tidak bisa menguasai dirinya. Dasarnya dia ini memang cengeng dan gampang terbawa suasana, dia malah mewek alih-alih mengambil cincin dan berkata ‘iya’.


Tapi seolah sudah paham pada tabiat calon mantunya yang doyan menangis, Chyntia tidak terlihat kebingungan sama sekali. Perempuan itu malah bergerak lebih dekat, meraih tubuh Zahira lantas dia peluk seraya dia tepuk-tepuk punggung kekasih putranya itu pelan-pelan.


“Maaf, ya, Bu. Anaknya memang cengeng.” Umi Maryam yang merasa tidak enak pun bersuara.


Chyntia tidak menjawab, hanya tersenyum tipis dan lanjut menemani Zahira menangis.


“Anaknya perasa dan cengeng, jadi Mama harus hati-hati kalau bersikap. Kalau lamaran ini gone wrong, Reno nggak tahu lagi deh harus bantuin Mama kayak gimana lagi.”


Itu peringatan yang Reno berikan sebelum Chyntia datang ke sini. Anak itulah yang membantunya pergi memilih cincin tanpa sepengetahuan Juan. Reno juga bilang Juan sebenarnya sudah menyiapkan cincin untuk melamar Zahira, tapi belum mendapatkan momentum yang pas untuk melakukannya. Jadilah Chyntia bergerak lebih dulu. Dia tidak mau Juan terlalu lama dan mereka akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Zahira.


Bukan tanpa alasan kenapa Chyntia tiba-tiba bisa datang ke rumah Zahira untuk melamar. Ini bukan cerita dongeng di mana sihir dan segala macamnya masih berlaku kuat untuk mengubah hati manusia yang sedingin salju menjadi sehangat kayu perapian hanya dalam waktu satu malam. Tidak, tidak begitu.


Ada alasan yang menurut Chyntia sangat logis untuk menjadikan Zahira sebagai menantu, meskipun awalnya dia menolak mentah-mentah ide itu.


Tepatnya delapan hari sebelum hari ini, Chyntia berhasil menangkap sebuah momen yang menyentuh bagian hatinya yang terdalam, yang bahkan tidak berhasil disentuh oleh siapa pun selama ia hidup.

__ADS_1


Siang itu, dia datang ke rumah sakit dengan menyetir mobilnya sendiri. Niatnya adalah untuk melakukan check up rutin berdasarkan anjuran Dokter Yohanes. Kala itu, karena dia terlalu malas untuk turun ke basement, dia pun lebih memilih untuk memarkirkan mobilnya di parkiran depan rumah sakit.


IGD tampak sibuk sekali siang itu. Beberapa brankar didorong secara bergantian memasuki area gedung, di mana di atas brankar-brankar itu tergeletak beberapa orang yang memiliki luka parah di sekujur tubuh mereka, terutama di bagian kepala. Dan karena ia enggan untuk masuk ke dalam rumah sakit berbarengan dengan para pasien yang tengah berjuang untuk hidup mereka, Chyntia pun memutuskan untuk menunggu terlebih dahulu di dalam mobil.


Brankar-brankar masih terus bermunculan, membuatnya berasumsi bahwa mungkin saja telah terjadi kecelakaan beruntun dan para pasien itu adalah bagian dari mereka yang terlibat. Namun, selama beberapa detik kemudian, perhatian Chyntia sudah tidak lagi tertuju pada petugas medis yang bergerak cepat memindahkan brankar ke dalam bangunan rumah sakit.


Kehadiran seorang bocah berpakaian lusuh dan tidak mendengarkan sandal berhasil membuat Chyntia terpaku. Anak laki-laki sekitar usia 8 atau 9 tahun itu berjalan terseok-seok menyusul para petugas medis yang berlarian lalu-lalang. Di dalam gendongan anak itu, ada seekor kucing yang tidak kalah lusuhnya. Bagian kepala dan kakinya terluka, kemungkinan adalah korban tabrak lari.


Bocah laki-laki tadi menghentikan langkah, tampak kebingungan karena orang-orang terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ketika dia mencoba menyetop seorang petugas medis yang lewat, Chyntia menyaksikan anak itu hanya diabaikan setelah diajak bicara sebentar. Bahkan, satpam rumah sakit yang sebetulnya tidak bekerja banyak pun turut mengacuhkan si bocah. Entah karena penampilannya yang lusuh atau karena keberadaan si kucing yang tidak terlalu penting baginya.


Hati Chyntia tergerak. Kala itu, dia hanya tiba-tiba teringat pada Juan yang juga menyukai kucing. Meskipun kenyataannya putranya itu memiliki alergi terhadap bulu kucing, hal itu tetap tidak mengurangi rasa suka Juan terhadap makhluk berbulu itu. Saking sukanya, Juan sampai minta dibuatkan rumah penampungan untuk kucing-kucing liar yang dia temukan di jalanan. Rumah penampungan itu akhirnya dibangun agak jauh dari Rumah Besar, dan Juan akan sesekali datang berkunjung ke sana untuk sekadar memberikan makan. Sampai saat ini, mungkin sudah ada sekitar 60 ekor kucing yang tinggal di rumah singgah itu.


Dengan berbekal sedikit rasa kemanusiaan, Chyntia hendak turun. Uang yang dia miliki di dalam kartu debit miliknya mungkin bisa membantu anak kecil itu menyelesaikan masalah dengan kucingnya.


Akan tetapi, baru saja tangan Chyntia menyentuh handle pintu mobil, dia sudah dibuat urung.


Seorang perempuan berkerudung dengan jas dokter melekat di tubuhnya keluar dari dalam rumah sakit. Membelah lalu-lalang petugas medis lain yang sedang sibuk menangani pasien gawat. Ia lalu berjalan mendekati si bocah laki-laki, berjongkok demi menyamakan posisi tubuh dengan si anak dan barulah mengajak anak itu berbicara.


Setelah berbincang selama beberapa saat, perempuan tadi mengajak si anak masuk ke dalam rumah sakit. Dia bahkan berbicara kepada si satpam yang tampak keberatan dengan tindakannya tersebut, terlihat meyakinkan sebelum membawa anak itu pergi bersamanya dan si kucing.


Dan, benar, perempuan itu adalah Zahira. Kekasih Juan yang sampai hari itu masih enggan untuk dia berikan restu.


Pemandangan siang itu bukan satu-satunya alasan. Setelah pulang dari rumah sakit, Chyntia mulai mencari tahu soal Zahira lebih banyak. Dia bertanya kepada rekan-rekan sejawat, menelusuri jejaknya sejak masih zaman kuliah di Noesantara, hingga pergi ke tempat-tempat di mana Zahira ternyata pernah melakukan kerja sukarela.


Hasil dari pencariannya itu semuanya membuat dia tercengang. Tidak ada cacat dari apa yang orang-orang ceritakan tentang Zahira kepadanya. Yang dia dengar selalu: Zahira baik, Zahira rendah hati, Zahira tulus, Zahira adalah perwujudan malaikat tanpa sayap yang sesungguhnya. Tidak ada yang menyuguhkan kepadanya borok yang dimiliki oleh perempuan itu.


Iya, Chyntia tahu tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi setidaknya, dia tahu Zahira tidak gagal memanusiakan manusia lain di sekitarnya. Dan jauh lebih penting daripada itu semua, Zahira adalah satu-satunya yang berani memandang Juan melalui sudut pandang yang berbeda.


Maka setelah melalui pertimbangan yang begitu panjang, Chyntia pun mengambil keputusan ini. Keputusan untuk melamar Zahira, agar perempuan itu tidak diambil oleh laki-laki lain selain putranya.


“Jadi mantu Mama, ya, Za.” Bisiknya, ketika di dalam pelukannya tangis Zahira sudah sedikit mereda.


Zahira menarik tubuhnya, mengusap air mata yang menjadikan wajahnya memerah, lalu menganggukkan kepala.


“Iya, Zahira mau.”


Dan jawaban itu menjadi kelegaan bagi semuanya. Yah, semuanya. Kecuali Juan uang malah belum tahu apa-apa dan masih menggunakan waktunya untuk menggalaukan soal Baskara.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2