Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Dia Tidak Pergi Tanpa Membawa Apa-apa


__ADS_3

Hari pertama menjadi pengangguran, tidak banyak yang Juan lakukan. Sejak pagi, dia lebih banyak berdiam diri di atas sofa, gegoleran sembari mengunyah pizza yang dia beli dari layanan pesan antar. Sesekali dia akan mengecek ponselnya, hanya untuk melihat apakah ada pesan masuk dari yang tercinta Zahira Cassanova—karena jika pesannya datang dari orang lain, Juan tidak akan peduli.


Well, sebenarnya, kalau mau dibilang sepenuhnya menjadi pengangguran sih tidak, ya. Karena meskipun sudah tidak lagi bekerja sebagai karyawan di perusahaan milik keluarganya, Juan masih memiliki pemasukan yang datang dari beberapa lembar saham yang dia beli dari beberapa perusahaan besar. Mereka sudah menyumbang passive income yang lumayan untuk Juan meski dia hanya ongkang-ongkang kaki di rumah.


Selain membeli saham, Juan juga diam-diam telah menjalankan sebuah cafe kekinian selama 2 tahun terakhir. Dan meskipun dia tidak terjun secara langsung untuk mengurus operasionalnya, namun Juan tahun mengontrol apa-apa saja yang terjadi, bagaimana proses penjualan berlangsung, dan dia juga sesekali meminta orang kepercayaannya untuk mengubah beberapa hal demi mendatangkan lebih banyak customer.


Tidak menyangka? Sama. Juan sendiri pun tidak menyangka dirinya bisa memiliki pemikiran yang sejauh ini untuk mempersiapkan masa depannya. Padahal kalau dipikir-pikir, mau dia hanya rebahan di rumah pun, harta yang dimiliki oleh keluarganya masih tetap bisa untuk menghidupi mereka semua hingga bertahun-tahun yang akan datang.


“Anjay, gue keren.” Pujinya kepada diri sendiri tatkala iseng memeriksa akun bank miliknya melalui ponsel. Di sana, tertera 3 deret angka kembar yang disusul 6 buah angka 0 di belakang. “Dikir lagi satu miliar.” Sambungnya, diakhiri tawa puas yang cenderung kedengaran pongah untuk sebagian orang.


Itu bukan satu-satunya akun bank yang Juan miliki. Dia punya dua akun lain yang digunakan khusus untuk transaksi sehari-hari. Akun yang barusan itu pure sebagai tabungan.


“Kok bisa, ya, gue sekaya ini?” gumamnya lagi. Agaknya, mulai tidak percaya bahwa manusia seperti dirinya yang terlihat di mata orang lain sedang menyia-nyiakan masa muda justru bisa menyiapkan dana tabungan sebesar itu di usianya yang belum kepala tiga.


“Wajar, lah. Orang tuanya kaya.” Pasti akan ada yang manusia-manusia yang menyeletuk seperti itu nantinya. Tapi, ayolah, tidak semua anak yang terlahir di keluarga kaya bisa mengumpulkan sebanyak itu uang dari hasil bekerja dan—memutar otak.


Maka, mari kita sejenak mengapresiasi usaha Juan untuk setidaknya sedikit demi sedikit lepas dari ketergantungan terhadap segala bantuan yang orang tuanya tawarkan.


Menjelang sore, sekitar pukul 3 ketika matahari mulai bergerak pelan ke sisi barat, Juan mulai merasa bosan. Ponsel yang dia pandangi sedari tadi dia simpan kembali, lalu dia bangkit dari posisi rebahannya yang tidak banyak berubah sejak pagi. Juan lalu terduduk di sofa, melamun untuk waktu yang cukup lama.


Tentu, Juan sadar sekali bahwa ini semua baru permulaan. Keluarnya dia dari rumah dan perusahaan hanyalah langkah kecil yang harus dia ambil untuk sampai pada tujuan akhirnya; Zahira.


Setelah ini, dia harus mulai memikirkan lagi langkah-langkah selanjutnya untuk diambil. Dia harus menyusun rencana, memastikan mana dulu yang dia harus dahulukan antara; meminta izin kepada Abi Hamzah untuk mulai belajar agama Islam atau mencari cara untuk mendekatkan Zahira dengan Mama secara perlahan-lahan.


Apa yang Reno sampaikan kepadanya kemarin sebelum dia kabur tidak begitu saja dia tolak mentah-mentah, kok. Jua juga tahu kalau menikah itu adalah tentang menyatukan dua keluarga yang berbeda dari berbagai aspek. Dia juga tidak mau kalau Zahira nantinya tidak dianggap sebagai mantu. Euw, tidak boleh seperti itu.


Makanya, selagi menepikan diri dari keluarganya, Juan juga memikirkan bagaimana caranya agar Mama bisa berinteraksi lebih banyak dengan Zahira. Dia ingin Mama tahu alasan mengapa harus Zahira yang dia pilih.


“Ah, mending mandi dulu aja, lah.” Finalnya kemudian ketika tidak satu pun bisa dia putuskan. Siapa tahu saja, setelah mandi nanti, pikirannya bisa sedikit lebih terbuka. Yah, TMI saja, dia memang belum mandi sejak pagi. Karena, ya buat apa dia mandi kalau tidak harus pergi ke mana-mana?


Dengan langkah yang terayun teratur, Juan masuk ke dalam kamar mandi di lantai dua, menyalakan shower dan segera mengguyur tubuhnya setelah memastikan semua pakaiannya tanggal.


...🍁🍁🍁...


Langit sudah menggelap ketika Zahira berjalan beriringan dengan Zayyan menuju pintu keluar rumah sakit. Besok adalah hari libur untuknya, jadi tadi dia sengaja tinggal lebih lama di rumah sakit untuk membantu pekerjaan rekannya yang lain.

__ADS_1


“Nggak dijemput?” tanya Zayyan ketika mereka sampai di perbatasan di mana mereka biasanya berpisah.


Zahira tersenyum tipis sembari menggeleng. “Saya pulang sendiri.”


“Kalau gitu, mau saya antar?” Zayyan menawarkan. Dilihat-lihat, langit tampak murung. Takutnya hujan akan turun dalam waktu dekat dan Zahira akan kesulitan jika harus pulang menggunakan kendaraan umum.


Namun, belum sempat Zahira menjawab, sebuah suara lain lebih dulu menginterupsi. Keduanya pun serempak menoleh ke arah yang sama, untuk menemukan seseorang si pemilik suara yang menyumbang bicara tanpa diminta.


“Zahira pulang sama gue.” Orang itu mengulangi, dengan lebih banyak penekanan diikuti tatapan sinis ke arah Zayyan yang padahal sedang anteng-anteng saja.


“Ren?” Zahira menyela, cukup heran melihat kedatangan Reno yang tak disangka-sangka. “Ngapain di sini?”


“Jemput lo.” Sahut Reno. Dan itu dikatakan dengan tatapan yang masih tertuju lurus pada sosok Zayyan yang beberapa sentimeter lebih tinggi.


“Kenapa?” tanya Zahira lagi. Karena memang tidak biasanya Reno seperti ini.


Sebelum menjawab, Reno menoleh ke arah Zahira. Raut garangnya seketika berubah kala maniknya bertubrukan dengan milik Zahira. Seperti kata Juan, mata Zahira adalah surga dan siapa pun yang menatapnya pasti akan terlena. Hari ini, Reno mengakuinya. Karena dia sempat terdiam selama beberapa detik sebelum menjawab, “Ada yang mau gue omongin sama lo.” Dengan nada suara yang sepenuhnya berbeda.


“Soal?”


Seakan mengerti, Zahira langsung menoleh ke arah Zayyan, lalu mengangguk kecil sebagai sebuah pertanda. “Saya pulang sama Reno, Mas. Dia ini sepupunya Juan.” Ucapnya, sekadar memberi informasi agar Zayyan tidak salah paham.


Mendengar bahwa laki-laki berambut cepak dengan postur tubuh mungil itu adalah seseorang yang Zahira kenal dan perempuan itu memang tidak keberatan untuk pulang bersama, Zayyan pun menganggukkan kepala.


“Kalau gitu, saya duluan.” Zayyan pamit undur diri. Yang tentu saja, hanya Zahira yang sudi merespons kalimat pamit itu karena Reno kelihatannya masih antipati sekali.


Setelah Zayyan pergi, Reno sekonyong-konyong menarik lengan Zahira, membawa perempuan itu berjalan tergesa menuju tempat di mana mobilnya diparkirkan. Kalau di depan Juan, Reno tidak akan berani begini. Boro-boro menggeret lengan Zahira, menyenggol lengan perempuan ini sedikit saja, dia pasti berakhir dimusuhi oleh sepupunya itu.


“Aku bisa jalan sendiri, Ren.” Protes Zahira, tapi sudah terlambat karena mereka sudah tiba di samping mobil.


“Biar cepat.” Sahut Reno, kemudian dia membukakan pintu dan meminta Zahira segera masuk.


Zahira tidak banyak protes. Menurut saja dia masuk ke dalam mobil, memasangkan seatbelt ke tubuhnya dan menunggu sampai Reno duduk di balik kemudi.


Beberapa menit pertama, Reno tidak bersuara. Yang katanya dia mau mengobrol soal Juan, nyatanya malah hanya fokus menyetir dan menciptakan keheningan yang menyebar sampai ke mana-mana. Zahira sendiri tidak akan inisiatif membuka pembicaraan, karena dia memang bukan tipikal yang seperti itu.

__ADS_1


Barulah ketika mobil mereka berhenti di lampu mereka, Reno menoleh sedikit ke arah Zahira, terdiam sebentar sembari memilah kosakata mana yang akan dia gunakan untuk berbicara dengan si cantik pujaan hati sepupunya ini.


“Za,” ujung-ujungnya, dia mengawali ucapannya dengan panggilan pelan.


Yang dipanggil berdeham, lalu menoleh sehingga tatapan mereka kembali bertemu.


“Juan kabur dari rumah, lo udah tahu?” tanyanya hati-hati sambil mengamati perubahan ekspresi di wajah Zahira.


Zahira mengangguk, “Tahu. Tadi pagi dia telepon aku buat ngasih tahu kalau dia nggak tinggal di rumah kalian lagi.”


“Terus, dia ada kasih tahu lo nggak dia tinggal di mana sekarang?”


Sayangnya, untuk pertanyaan yang itu, Zahira menggeleng pelan. “Dia cuma bilang kalau rumah yang dia tinggalin sekarang nyaman. Udah, sampai situ aja, dia nggak ada kasih info apa-apa lagi.”


Buntu. Batin Reno. Karena kalau kepada Zahira saja Juan tidak mau memberi tahu, berarti lelaki itu memang berniat untuk menyembunyikan keberadaannya dari semua orang.


Lampu lalu lintas kembali berganti menjadi hijau. Mau tidak mau, Reno kembali melajukan mobil dan memecah fokusnya untuk mengemudi.


“Nanti aku coba bujuk dia buat balik, ya, Ren.” Ucap Zahira di tengah-tengah hening yang kembali melanda sejak mobil mereka melaju lagi.


Reno mengembuskan napas pelan, lalu menggeleng. “Nggak perlu, nggak akan mempan juga. Lo tahu sendiri gimana keras kepalanya dia.”


“Tapi, kan—“


“Bantu pastiin kalau dia oke aja, Za. Sementara, itu udah cukup. Gua juga nggak bakal berhenti buat cari tahu ke mana perginya si tolol itu." Potong Reno.


Untuk beberapa lama, Zahira kembali terdiam. Meski Juan sudah mengatakan kepadanya untuk tidak merasa bersalah, namun Zahira tidak bisa mengenyahkan perasaan itu dari dalam hatinya begitu saja. Dia tahu kepergian Juan salah satunya juga pasti karena lelaki itu ingin mempertahankan hubungan mereka, yang mana memang selama ini tidak pernah diterima oleh ibunya.


“Gue cuma khawatir aja karena dia pergi terlalu tiba-tiba, Za. Tapi, gue percaya, dia nggak akan seceroboh itu buat ambil keputusan tanpa persiapan apa-apa.” Setelah sekian lama, Reno kembali bicara.


Sekali lagi, Zahira tidak menyahuti. Dia malah sibuk dengan pikirannya sendiri, menerka-nerka seberapa keras Juan berjuang untuk hubungan mereka yang belum kelihatan hilalnya akan berujung di mana.


Dalam sisa perjalanan menuju rumah, Zahira memutuskan untuk lebih banyak diam. Dia arungi seluruh area di dalam kepalanya sendiri, menimbulkan andai-andai yang berujung pada lebih banyak ketidakpastian yang membingungkan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2