Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
People Come and People Go


__ADS_3

Dari hari ke hari, Juan semakin sibuk. Cafe yang dulunya hanya dia jalankan dari jauh dengan mengandalkan bantuan Albert, kini menjelma serupa rumah kedua—sebab ia lebih sering berada di sana. Menjelang akhir masa koas, Zahira juga sama sibuknya, jadi intensitas pertemuan mereka juga menjadi berkurang sejak empat bulan belakangan. Tapi, tidak apa-apa. Juan merasa baik-baik saja. Dengan mereka sibuk bersama kegiatan masing-masing, itu malah membuat Juan lebih sedikit mengamuk. Kalau dulu dia akan sering mereog jika Zahira terlalu lama membalas chat, kini dia bisa lebih santai—karena dia pun kadang begitu.


Intinya, kesibukan yang mereka berdua jalani saat ini malah memberikan banyak sekali dampak positif.


“Al,” dari balik counter, Juan memanggil Albert yang sedang mengelap area dekat coffe maker. Si empunya nama hanya berdeham tanpa menoleh sedikit pun. “Area samping kiri itu, kalau gue bangun musala kira-kira bisa nggak?”


Albert baru menoleh ketika pekerjanya benar-benar selesai. Tidak hanya mengelap bekas espresso, lelaki itu juga membilas bekasnya menggunakan cairan pembersih kaca. “Bisa aja.” Jawab lelaki yang kini rambutnya berwarna biru itu seraya berjalan mendekat ke arah counter. “Mau lo bangun gereja juga bisa.”


Juan mencemooh melalui tatapan mata, “Gereja apaan yang ukurannya cuma 7x7 meter?”


“Gereja setan.” Albert menyeletuk.


“Lo yang jadi pemimpinnya?”


“Boleh juga. Siapa tahu bisa jadi kaya.” Seloroh Albert, diakhiri tawa renyah yang cukup nyaring. Untungnya, cafe sudah dalam keadaan sepi karena mereka memang sudah tutup. Karyawan yang lain sudah pulang sejak satu jam yang lalu, hanya tinggal dirinya dan Juan saja yang masih bertahan di sini.


“Sinting. Kalau mau kaya tuh kerja, ngapain jadi pemimpin gereja setan?”


“Jadi pemimpin gereja setan juga kerja, Ju. Gue harus bisa bermain kata-kata buat narik jemaat masuk ke dalam ajaran sesat gue.”


Juan menggelengkan kepala berkali-kali sambil berdecak. Tak habis pikir dengan jalan pikiran Albert yang kali ini sudah di luar batas normal. Sebenarnya, bisa-bisa saja Juan menanggapi agar obrolan mereka soal gereja setan bisa berlangsung lebih lama. Namun, Juan memutuskan untuk berhenti di sana karena sebentar lagi dia harus pergi.


“Anyway,” Albert bersuara lagi, setelah celetukannya yang terakhir kali tidak ditanggapi. “Tiga bulan dari sekarang gue kayaknya bakal resign.”


“Tiba-tiba?” Juan tak kuasa menyembunyikan keterkejutannya. “Kenapa? Gaji lo kurang?”


Albert menggeleng dengan cepat, “It’s not about money.” Tuturnya.


“Terus? Soal apa?”

__ADS_1


“My Dad.”


“Mati?” celetuk Juan dengan tidak ada akhlaknya. Hingga detik berikutnya, dia langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangan.


“Hampir.” Dan sama tidak ada akhlaknya seperti Juan, Albert pun turut nyeletuk sesuka hati, lalu terkekeh seolah-olah nyawa ayahnya memang sudah biasa dijadikan lelucon seperti itu.


“Dia minta lo balik ke Surabaya?”


Tanpa berpikir lama, Albert menganggukkan kepala. “Buat nerusin kerajaan bisnisnya, of course.” Setelah itu, Albert berubah murung.


Kata orang, lahir dari keluarga kaya adalah sebuah privilege. At least, kita tidak perlu khawatir soal biaya hidup karena semua sudah ter-cover dengan baik. Namun, ada hal-hal yang tidak orang-orang ketahui tentang sisi kelam menjadi anak dari keluarga kaya. Yaitu kebebasan yang telah dirampas sejak hari pertama lahir ke dunia. Apalagi, kalau kalian lahir sebagai anak satu-satunya, yang otomatis membuat kalian menjadi harapan tunggal untuk meneruskan kekayaan keluarga.


Albert seperti itu. Dia lahir sebagai anak tunggal dari pasangan pengusaha kaya raya asal Surabaya yang berjuluk crazy rich. Benar-benar crazy karena mereka akan melakukan segalanya untuk bisa mendapatkan apa yang mereka mau, termasuk memaksakan anak semata wayang masuk ke sekolah yang tidak dikehendaki sejak awal.


Lalu, bagaimana akhirnya Albert bisa meloloskan diri dan malah melanglang buana di Jakarta, hanya untuk menjadi karyawan biasa di sebuah cafe kekinian yang omzetnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan bisnis ayahnya?


Jawabannya adalah karena Albert telah berhasil melimpahkan bebannya kepada orang lain. Segala tanggung jawab yang dia pikul sejak masih remaja, dia pindahkan ke bahu sepupunya yang yatim-piatu, memberinya kesempatan untuk sejenak menghirup udara bebas tanpa tuntutan ini itu. Setidaknya, sampai beberapa tahun kemudian.


Di tempatnya duduk, Juan tidak berkomentar. Dia terlalu mengerti akan keengganan yang dirasakan oleh Albert, makanya dia juga tidak berani memberikan tanggapan apa pun karena rasanya tidak akan ada saran yang benar-benar pas.


“Gue minta waktu tiga bulan biar gue bisa pastiin cafe berjalan baik, dan...” setelah sebelumnya menjatuhkan pandangan ke arah coffee maker yang menjadi saksi obrolan absurd mereka berdua sebelumnya, Albert kembali menatap Juan. “Supaya gue at least bisa datang ke pernikahan lo sama Zahira. Karena kalau gue udah balik ke Surabaya, gue nggak yakin apakah masih ada kesempatan gue untuk pergi lagi dari sana.”


Disinggung soal itu, Juan makin tidak bisa berkata-kata. Albert memang bukan seorang teman yang menemani dia dari awal. Tidak sedekat pertemanannya dengan anggota Pain Killer yang sudah dia anggap seperti keluarga. Namun, dari singkatnya perjalanan pertamanan mereka, Juan menyadari bahwa Albert menjadi satu-satunya yang selalu ada. Cafe, rumah, Zahira. Tiga hal itu mungkin tidak akan bisa Juan miliki jika bukan karena campur tangan Albert di dalamnya. Di saat dia kehilangan rumah setelah kepergian Fabian dan Baskara, Albert hadir menawarkan sebuah tempat singgah yang ternyata membuatnya cukup nyaman.


Kini, sama seperti Fabian dan Baskara yang memutuskan untuk pergi, Albert pun akan mengambil langkah yang serupa.


Juan sadar, dia paham sepenuhnya bahwa hidup memang begitu. Bahwa perkataan people come and people go itu bukan hanya kiasan semata tanpa arti. Perkataan itu ada karena hidup memang berjalan demikian.


Maka, tidak ada yang bisa Juan berikan kepada Albert selain doa yang tulus, agar di mana pun lelaki itu berada dan apa yang akan dia kerjakan nanti, semuanya diberikan kemudahan oleh Tuhan.

__ADS_1


“Thanks for always being by my side, Al. May God always lead you to the right place, and happy life.”


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Juan sudah bersiap untuk pulang. Dia hanya perlu mematikan lampu dan memastikan tidak ada peralatan elektronik yang masih aktif sebelum keluar dan mengunci pintu. Namun, pergerakannya harus terhenti kala suara gemerincing yang berasal dari lonceng di atas pintu masuk cafe terdengar begitu nyaring di telinga.


Malam sudah cukup larut, pukul setengah sebelas, dan dia juga sudah meminta Albert memastikan tag di depan pintu berada pada posisi closed. Tapi agaknya, masih saja ada pengunjung buta waktu yang tetap menerobos masuk.


“Maaf, cafe udah tutup.” Kata Juan kepada seorang pelanggan dengan penampilan yang—aneh. Hoddie berwarna hitam polos itu dikenakan lengkap dengan kupluknya. Belum lagi kacamata hitam dan masker yang membuatnya tak bisa mengidentifikasi dengan jelas apakah yang berdiri enam langkah di depannya itu adalah laki-laki atau perempuan jika hanya mengandalkan dari postur tubuhnya.


“Sudah malam, saya harus segera menutup cafe dan pulang, jadi—“


“Ini gue.”


Deg.


Saliva Juan mendadak mengeras, berhenti di tengah-tengah tenggorokan hingga rasanya dia jadi sulit untuk menelan. Suara itu... meski sudah lama tidak terdengar, namun masih terdengar begitu familier.


Akan tetapi, Juan masih menolak percaya. Ini masih terdengar tidak masuk akal. Terlalu mustahil untuk dia percaya sebagai sebuah kenyataan.


Dia, berdiri di sini? Di hadapannya? Saat ini? Bagaimana bisa? Dari mana dia tahu soal tempat ini? Dan... bersama siapa dia datang?


Bersama siapa?


Refleks, Juan segera menguraikan pandangan ke area sekitar cafe. Meskipun malam sudah larut dan pencahayaan di luar cafe agak minim, namun Juan masih bisa menangkap jikalau memang ada orang lain yang berada di depan cafe ini.


“Gue datang sendirian.” Aku orang itu ketika sadar Juan mulai tampak celingukan.


Juan kembali menatap orang itu, dan dia merasa waktu berhenti berputar saat orang itu membuka masker dan kacamata yang menutupi wajahnya. Gerakannya terlihat seperti slow motion, seakan semesta ingin dia mencermati dengan benar bahwa dia tidak sedang salah lihat. Bahwa ini nyata. Bahwa hidup memang benar-benar soal; people come and people go.

__ADS_1


“Lo....”


Bersambung


__ADS_2