Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Under The Rain, They're Crying Again


__ADS_3

Puluhan gelembung pesan yang Zahira kirimkan selama tiga hari berturut-turut berakhir ditinggalkan dalam keadaan centang dua berwarna abu-abu, pertanda bahwa jangankan membalas, membacanya pun Juan tidak mau.


Zahira turun dari ranjang, berjalan gontai menuju meja rias lalu duduk di atas kursi. Di hadapannya, ada sebuah cermin yang membuatnya bisa melihat betapa jelek rupanya saat ini. Wajah pucat, mata sembab, bibir kering serta rambut panjang sepunggung yang acak-acakan. Daripada manusia, ia merasa jauh lebih mirip dengan zombie. Bedanya, dia tidak punya hasrat untuk memburu otak demi memenuhi rasa lapar yang terus merongrong. Sebaliknya, dia malah tidak berselera untuk memasukkan apa-apa ke dalam mulutnya yang terasa pahit.


Mungkin kedengaran berlebihan, tapi bagi Zahira, ini adalah kali pertama ia dan Juan terlibat pertengkaran yang hebat. Bahkan jika boleh meminta, Zahira lebih bersedia untuk mendengarkan lelaki itu mengoceh panjang lebar di depan wajahnya, memprotes apa saja yang kiranya salah sehingga dia pun bisa melontarkan pembelaan. Namun, yang terjadi sekarang malah membuat Zahira kelimpungan. Juan cerewet, maka jika lelaki itu sampai mendiamkannya hingga berhari-hari, itu artinya kemarahan lelaki itu sudah sampai pada level di mana ia mungkin akan sulit untuk memberikan maaf.


Putus asa, Zahira menggolekkan kepala di atas meja rias, menyingkirkan serangkaian skin care dari berbagai merek ke sisi pojok agar ia bisa leluasa merebahkan kepala yang rasanya sudah mau pecah. Lalu ia kembali meratapi ponselnya, membaca ulang pesan-pesan tak terbaca yang diabaikan oleh si penerima.


Saking asyiknya menggulir layar, Zahira sampai tidak sadar bahwa perlahan-lahan centang abu-abu yang di sana telah berubah menjadi warna biru satu persatu. Ia masih sibuk meratap, tidak menyadari bahwa pesan-pesan itu mulai dibaca oleh Juan.


Sampai kemudian, sebuah panggilan masuk membuat gerakan tangan Zahira yang masih asyik menggulir layar praktis terhenti. Ini seperti mimpi, tapi terlalu nyata untuk tidak dia akui. Di layar ponselnya, nama Juan tertera begitu jelas, lengkap dengan foto profil yang menunjukkan sepasang cincin couple yang mereka beli akhir tahun lalu.


Dengan gerakan perlahan, Zahira mengangkat kepala, terpaku cukup lama pada layar ponsel, sekadar meyakinkan diri sendiri bahwa yang sedang meneleponnya memang adalah Juan, kekasih hati yang kabarnya sedang dia tunggu.


Detik demi detik habis dengan percuma, tanpa Zahira melakukan tindakan apa-apa agar dering di ponselnya berhenti dan telepon mereka tersambung. Hingga pada detik—entah ke-berapa, Zahira dengan tangan yang gemetar menggeser log hijau.


Suara Juan menggema dekat, terasa jelas di tengah-tengah suara hujan yang berisik. Oh, Zahira bahkan tidak sadar kalau di luar sedang hujan, sebab ia terlalu fokus untuk menyelami hujannya sendiri, hujan yang jatuh di dalam hati.

__ADS_1


“Ju?” ia memanggil, seakan masih ragu.


Sementara di ujung telepon, Juan masih memperdengarkan suara beratnya yang beradu dengan gemercik air hujan.


Lidah Zahira terasa kelu, hingga pada akhirnya dia malah tidak mengatakan apa-apa untuk menanggapi pertanyaan yang terlontar dari bibir Juan selanjutnya. Malah, ia kembali menangis, terisak-isak kala dadanya kembali terasa sesak.


Isakan itu tentu saja menimbulkan kekhawatiran dari laki-laki di seberang telepon itu, yang kini entah di mana keberadaannya namun Zahira bisa merasakan bahwa mereka begitu dekat. Dekat sekali, hanya seperti urat dengan nadi.


Puluhan detik berlangsung begitu. Zahira dengan tangisnya yang semakin menjadi, sedangkan Juan hanya bisa membungkam bibirnya dan membiarkan sang kekasih hati menangis sampai puas.


Suara Juan masih menggema di ujung telepon, namun Zahira sudah tidak memedulikannya lagi. Setelah mendapatkan jilbab instan yang dia cari, Zahira langsung mengenakannya, lalu berlarian keluar dari kamarnya yang hanya diterangi lampu tidur bercahaya temaram.


Belasan anak tangga dia turuni secara terburu-buru. Napasnya sudah tidak keruan, namun Zahira tidak berniat untuk berhenti barang sedetik pun. Ia tidak ingin kehilangan momen, tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bisa menerima maaf dari Juan meski ia tidak tahu ganjaran apa yang harus dia terima untuk itu.


Ini sudah tengah malam, keadaan rumah sudah sepi dan satu-satunya ruangan yang masih dibiarkan dalam keadaan terang hanya ruang tengah. Maka setibanya Zahira di ruang tamu, ia serabutan menyalakan lampu, lalu kembali berlarian menuju pintu utama dan membuka pintu besar itu dengan sisa tenaga yang ada.


Tangis Zahira kembali pecah tatkala menemukan Juan berdiri di depan gerbang, merelakan tubuhnya basah di bawah guyuran hujan selagi ponsel masih tertempel di telinga, menanti Zahira menjawab ucapannya di saat perempuan itu sudah tidak lagi mengindahkan di mana ia meninggalkan ponselnya.

__ADS_1


Hanya setengah jam sebelum ia berdiri di sana, Juan memutuskan untuk tidak jadi menelepon Zahira pada percobaan pertama. Meski hari telah larut dan Reno sudah memberitahunya untuk menemui Zahira esok hari saja, Juan tetap bersikukuh datang ke sini. Mobilnya terparkir jauh sekali, nyaris tidak terlihat dari posisinya berdiri saat ini. Maka ketika hujan akhirnya turun tepat sebelum dia menelepon Zahira untuk yang kedua kali, ia tetap nekat berdiri di sana meski harus menggigil menahan dingin.


Tertatih-tatih Zahira berjalan menghampiri Juan. Sudah tidak terpikirkan lagi olehnya untuk sekadar mencari payung agar dia tidak kebasahan. Mencapai halaman, langkah tertatih itu ia ubah menjadi ayunan lebar, setengah berlari ia menuju pintu gerbang. Untuk akhirnya sampai di hadapan Juan dan langsung menghambur ke dalam pelukan lelaki itu.


Masa bodoh. Zahira sudah tidak peduli lagi soal omongan orang. Mau ada siapa pun yang menyaksikan kelakuannya saat ini, Zahira hanya akan menutup telinga dan pura-pura tuli.


Sementara Juan, lelaki itu membeku di tempatnya berdiri. Ia terlalu terkejut, masih belum mampu untuk memproses apa yang sedang terjadi sehingga bukannya membalas pelukan Zahira, ia malah hanya diam seperti raga tak bernyawa.


“Aku minta maaf, Ju.” Suara Zahira yang bergetar menjadi penolong bagi Juan yang nyaris kehilangan kewarasan. Detik itu juga, Juan membalas pelukan Zahira, jauh lebih erat daripada yang perempuan itu lakukan.


“Don’t cry, Za.” Juan berbisik lamat. “Aku ke sini bukan buat liat kamu nangis.”


Zahira tak sanggup berkata apa-apa. Wajah sembabnya makin dia benamkan ke dada Juan. Meski mereka berakhir sama-sama basah, tapi pelukan itu setidaknya bisa sedikit memeluk pedih yang dia simpan rapat selama tiga hari ini.


Hujan yang turun semakin deras tidak menghalangi dua anak manusia itu untuk menuntaskan perasaannya. Mereka tetap berada dalam posisi itu untuk waktu yang cukup lama, sepenuhnya menyingkirkan hal lain dari dalam kepala.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2