
Insiden penculikan yang dialami oleh Juan menimbulkan kecanggungan yang bertahan cukup lama hingga ketika ia dan Zahira pulang. Di dalam taksi yang membawa mereka menyusuri jalanan malam yang ramai lancar, Juan hanya bisa berkali-kali melirik ke arah Zahira yang terus saja membuang pandangannya ke luar jendela. Melihat tangan perempuan itu yang tidak bisa diam, saling bergerak di atas pangkuan, Juan tahu ia sedang merasa tidak nyaman.
Melihat Zahira seperti itu, tentu saja Juan tidak bisa tinggal diam. Walaupun bibirnya masih tidak bisa terbuka untuk mengatakan sesuatu, Juan tetap mengambil satu langkah untuk membantu Zahira teralihkan dari perasaan tidak nyaman yang mendera.
Perlahan, Juan meraih tangan kanan Zahira, lalu dibawanya menuju ke atas pangkuannya. Di sana, dia mendekap erat tangan itu menggunakan kedua tangannya, melabuhkan usapan-usapan hangat sebagai tanda bahwa; ia ada di sana, untuk membersamai Zahira.
Zahira yang mendapat perlakuan seperti itu sontak menolehkan kepala. Ditatapnya tangan yang berada dalam tangkupan Juan lekat-lekat. Dan ketika dia menarik pandangan, Zahira menemukan tatapan Juan masih terlabuh jauh ke jalanan di depan.
Usapan demi usapan, tepukan demi tepukan, serta gerakan-gerakan lain dalam upaya menenangkan masih terus Juan lakukan. Menemani sisa-sisa perjalanan mereka yang kurang dari 15 menit lagi.
Genggaman tangan itu masih tidak dilepas bahkan ketika taksi berhenti di depan rumah Zahira. Malahan, Juan sok berinisiatif turun dari pintu yang sama dengan Zahira demi menjaga agar tautan mereka tetap bertahan.
Sementara Zahira, perempuan itu tidak memiliki keinginan untuk mengajukan protes apa-apa. Semua perlakuan yang Juan berikan dia terima begitu saja. Karena sejujurnya, dia masih merasa bersalah atas keputusannya untuk bekerja sama dalam agenda penculikan terhadap kekasihnya itu sore tadi.
“Mau ikut ke dalam dulu? Atau langsung pulang?” akhirnya, Zahira bisa kembali bersuara. Takut-takut dia menatap Juan yang padahal tidak menampakkan ekspresi marah sama sekali.
Juan melepaskan genggaman mereka secara perlahan, seakan masih tidak rela untuk kembali berpisah dengan kekasih hati yang dia cintai setengah mati. Namun, untuk saat ini, dia akan bersabar. Demi mendapatkan lebih banyak waktu untuk bersama Zahira ke depannya.
“Langsung pulang.” Jawabnya. Tapi, tidak selesai sampai di situ. Setelah mengambil jeda selama beberapa detik, dia melanjutkan. “Minggu depan, ikut aku ketemu Mama, ya?”
Tidak siap akan datangnya permintaan itu, Zahira sontak terkesiap. Bertemu dengan ibunda Juan berarti dia harus siap untuk menerima perlakukan yang mungkin kurang mengenakkan, dan Zahira tidak yakin dia akan mampu.
“Please?” Juan memohon. Dengan puppy eyes andalan yang dia tahu akan membuat siapa saja seketika luluh dan mau menuruti keinginannya. “Udah waktunya kamu ketemu Mama, Za.”
“Tapi kalau Mama kamu nggak nerima aku, gimana?” tanya Zahira khawatir.
__ADS_1
“Kita nggak akan pernah tahu sebelum mencoba.” Tutur Juan. Genggaman yang sempat terlepas akhirnya dia ciptakan lagi. Kali ini bukan hanya satu, kedua tangan Zahira diraih dan dia genggam erat sekali. “Lagi pula, ada aku. Aku nggak akan biarin kamu merasa nggak diterima sama siapa pun.”
Tetap saja, kata-kata yang Juan berikan masih tidak cukup mampu untuk meyakinkan Zahira. Dia masih sangat ketakutan.
“Trust me,” Juan masih berusaha meyakinkan.
Butuh waktu yang tidak sebentar bagi Zahira sampai akhirnya dia bersedia menganggukkan kepala. Ketika dia melakukan itu, hanya satu yang dia pikirkan; bahwa Juan sudah berkorban banyak untuk hubungan mereka, dan ini adalah saatnya untuk dia melakukan sesuatu yang setimpal.
“Ya udah, iya. Aku ikut sama kamu.”
Juan tersenyum senang. Sedari awal, hubungan mereka memang tidak pernah berjalan mudah. Dan berhubung sudah sejauh ini, dia akan mencoba untuk mengurangi rasa khawatir dan lebih banyak berani mengambil langkah maju.
“Makasih, ya, Za.”
“Aku yang harusnya bilang makasih karena kamu udah sampai sejauh ini, Ju.”
Dengan begitu saja, mereka kembali membagi senyum. Entah apa yang akan mereka temui esok hari. Apakah keadaan yang lebih baik, atau justru persimpangan jalan yang menyuguhkan pilihan-pilihan pelik. Untuk saat ini, mereka hanya akan percaya bahwa selama mereka bersama, semuanya akan baik-baik saja.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Pulang ke Rumah Besar membawa kabar bahwa salah satu penghuni yang kabur akan kembali bertandang membuat Reno sukses menjadi pusat perhatian. Khususnya bagi Mama yang langsung menampakkan binar cerah kala kabar itu pertama kali Reno sampaikan.
“Serius?” tanya Mama lagi, seakan ingin meyakinkan diri bahwa kemampuan mendengarnya masih cukup bagus.
Reno mengangguk mantap. “Sama Zahira.” Susulnya. Dia sudah tahu, ketika nama itu disebut, raut wajah Mama pasti akan berubah masam. Maka dari itu, Reno sudah menyiapkan serangkaian kalimat untuk membuat perempuan itu bungkam.
__ADS_1
“Kalau nggak sama Zahira, dia nggak akan pulang. Jadi, Mama better nggak cari gara-gara.” Ucapnya memberikan peringatan. “Mama sendiri juga tahu gimana keras kepalanya Juan, kan?”
Mama terdiam, setengah membenarkan, namun masih menggerutu dalam hati. Juan adalah putranya, jadi kenapa untuk bertemu, dia harus melibatkan perempuan yang sama sekali tidak dia kehendaki untuk hadir ke dalam kehidupan mereka? Padahal jauh sebelum perempuan itu datang, tidak sulit untuk membuat Juan patuh pada perintah yang dia berikan.
“Setuju, nggak? Kalau Mama keberatan, biar Reno bilang ke Juan buat nggak usah jadi pulang.”
Mendengar itu, Mama sontak menatap panik ke arah Reno. “Jangan, dong! Mama udah hampir gila karena kangen sama Juan, ya kali dia nggak jadi pulang.”
“Ya makanya, janji dulu sama Reno kalau Mama nggak akan jahatin Zahira.”
Berjanji untuk tidak bersikap buruk pada orang yang tidak disenangi? Ayolah, jangan bercanda. Kenapa juga dia harus melakukannya? Malah kalau bisa, dia ingin sekali melakukan hal-hal di luar nalar untuk membuat Zahira merasa tidak nyaman. Agar perempuan itu menyerah dan putus saja dari Juan.
Kendati demikian, Mama tetap menganggukkan kepala dengan gerakan yang teramat berat.
“Apa?” tanya Reno, meminta penjelasan lebih lanjut.
Mama menghela napas, “Iya, Mama janji nggak akan jahat sama perempuan itu.”
“Zahira. Namanya Zahira.” Reno mengoreksi. Caranya persis sekali seperti yang Juan biasa lakukan, sehingga membuat Mama berdecak sebal. Lama-kelamaan, perempuan bernama Zahira itu sepertinya akan menginvasi seluruh penghuni rumah, bukan hanya Juan saja.
“Iya, iya. Zahira. Mama janji nggak akan jahat sama dia.” Mama meralat dengan mau tidak mau.
Sudah begitu, Reno mengangguk. “Bagus.” Ucapnya. “Jangan ingkar janji, oke? Kalau sampai ingkar janji, Mama tahu sendiri akibatnya. Siap-siap nggak bisa ketemu Juan selama-lamanya.” Ancamnya. Lalu seperti anak yang tidak pernah diajari sopan santun, Reno ngeloyor begitu saja meninggalkan Mama yang berdiri kaku di ruang tengah.
Selang dua menit setelah kepergian Reno, Mama menghela napas berat. “It’s okay, demi Juan.” Gumamnya, lalu turut beranjak untuk mulai membereskan kamar Juan—siapa tahu anak itu bersedia untuk tinggal di Rumah Besar lagi.
__ADS_1
Bersambung