Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Mulut Sampah


__ADS_3

Menunggu adalah hal paling menyebalkan untuk seroang Juananda Saputra. Akan tetapi, jika itu ada kaitannya dengan Zahira, maka sebanyak apa pun waktu yang dia habiskan untuk menunggu, ia tidak akan keberatan.


Sekarang ini, Juan berdiri di dekat pintu masuk, memojokkan diri di pinggiran agar tidak menghalangi lalu-lalang orang yang keluar masuk rumah sakit. Sepuluh menit sebelum sampai di rumah sakit, ia sudah menghubungi Zahira dan mengabarkan tentang kedatangannya. Namun karena perempuan itu ternyata masih memiliki sedikit aktivitas dengan pasiennya, Juan terpaksa menunggu lebih lama.


Untuk mengusir kebosanan selama menunggu Zahira muncul, Juan iseng bersenandung pelan, menyanyikan lagi lagu cinta yang sering dia perdengarkan hanya kepada Zahira seorang. Awalnya hanya sepotong-sepotong, tapi lama-kelamaan ia berhasil menyanyikan satu lagu utuh sebab Zahira masih tidak kunjung muncul.


Saat Juan hendak menyanyikan lagu lain, bibirnya yang sudah siap terbuka dan suaranya siap mengudara, beberapa suara lain membuatnya terpaksa mengurungkan niat. Tubuhnya langsung masuk ke dalam mode waspada, di mana matanya memicing ke arah tiga orang laki-laki berjubah putih (sepertinya juga merupakan dokter muda, sama seperti Zahira) berjalan dari kejauhan, berjalan mendekat ke arah pintu. Mereka tampak berbincang, dan Juan dari posisinya yang agak tersembunyi mulai menajamkan pendengaran kala sayup-sayup ia mendengar nama Zahira disebut.


“Iya, tahu, cuma dia doang yang selalu nolak kalau diajak hang out. Yang lain mah ayo-ayo aja gitu.” Ujar salah seorang di antara tiga laki-laki tadi yang berambut agak gondrong.


“Nah, kan. Gue juga pernah tuh ngajakin dia ngafe bentar sebelum balik, eh dianya nolak. Alesannya sih karena ada jadwal lain, tapi gue nggak percaya, ah. Emang anaknya sombong aja kayaknya.” Sahut yang lain, kali ini si laki-laki berambut ikal berkacamata.


“Sok alim aja sih kata gue. Mungkin biar dikata high class atau apalah itu.” Si gigi berpagar juga turut menimpali.


Di tempatnya berdiri, Juan sudah mati-matian menahan untuk tidak berjalan mendekat, melabrak tiga laki-laki mulut sampah yang berani bicara hal-hal buruk tentang Zahira.


“High class tai kucing, lah. Muka standar, otak juga pas-pasan, sok-sokan nolak ajakan banyak cowok pula. Bukannya kelihatan high class, jatuhnya malah kayak nggak tahu diri.”


“Ya, kita lihat aja nanti. Emang dengan sikap dia yang kayak gitu, dia bakal bisa ketemu jodoh?”


“Cuma orang bego sih yang mau sama cewek sok jual mahal kayak dia. Kalau cantik dan body-nya asik sih, masih mending, ya.”


“Ahaha, bener, anying. Standar pas-pasan tapi maunya yang high quality, nggak tahu diri.”


Cukup sudah. Juan tidak tahan lagi. Semakin dekat jarak antara dirinya dengan tiga lelaki tadi, suara mereka juga semakin terdengar jelas dan menusuk hati. Juan mengepalkan kedua tangannya, siap melayangkan satu tinju mentah ke wajah siapa saja yang muncul lebih dulu di hadapannya.


Namun, belum juga kesampaian niatnya itu, suara jernih milik Zahira yang datang dari arah belakang sudah berhasil menyita seluruh perhatiannya.


Juan membalikkan badan, secepat mungkin merubah raut wajahnya dan menyunggingkan senyum sumringah pada Zahira yang tengah berlarian menghampiri dirinya dengan senyum yang terkembang begitu lebar. Perempuan itu tampak lelah, tetapi sorot matanya berkata bahwa ia merasa senang atas pertemuan mereka malam ini.

__ADS_1


“Duh, lama banget ya nunggunya? Maaf, ya, tadi ada problem sedikit.”


Bersamaan dengan tibanya Zahira di hadapannya, tiga laki-laki tadi juga tiba di ambang pintu. Ketiganya membungkam mulut, beralih berbicara melalui tatapan mata seakan sedang menghakimi dirinya dan Zahira.


“Nggak masalah. Kalau harus nunggu semalaman pun, aku nggak keberatan.” Ucap Juan seraya masih menatap tajam ketiga laki-laki yang kini hanya tinggal kelihatan punggungnya saja. Sumpah, kalau Zahira tidak muncul sekarang, tiga manusia menjijikkan itu pasti sudah babak belur di tangannya.


“Gombal.” Zahira melayangkan pukulan main-main, lalu terkekeh pelan. “Kamu ke sini sama Reno, kan? Di mana dia?” tanya Zahira kemudian seraya mengedarkan pandangan.


“Di parkiran depan, malas turun katanya capek.” Juan menjelaskan.


“Aduh, kasihan dong dia ikut nunggu lama juga.” Zahira si paling mudah merasa bersalah. “Ya udah, kamu buruan balik gih, kasihan Reno.” Lalu kantong berisi makanan yang ada di tangan Juan dia sambar begitu saja.


“Nanti, lah, aku masih kangen sama kamu.”


Zahira berdecak pelan, melayangkan satu lagi pukulan. “Biasanya juga nggak ketemu tiga hari kamu oke-oke aja.”


“Nggak biasa?” satu alis Zahira terangkat. “Nggak biasa gimana maksudnya?”


“Ya pokoknya nggak biasa. Kangennya aku ke kamu lagi banyak-banyaknya, jadi kamu nggak usah protes.”


“Dih, aneh.” Meski begitu, Zahira tetap meloloskan tawa renyah. Sesuatu yang cukup ampuh untuk meredam emosi yang sudah nyaris sampai ke ubun-ubun Juan.


“Za,”


“Apa, Ju?”


“Aku sayang kamu. Please remember that you’re enough.”


Pengakuan tiba-tiba itu terasa janggal, membuat senyum Zahira perlahan-lahan memudar. “Ju, kamu lagi kenapa? Lagi ada masalah?” ia bertanya khawatir. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Juananda Saputra yang kelihatannya baik-baik saja dan selalu menjalani kehidupannya dengan santai kadang kala bisa berubah menjadi seseorang paling sensitif dan banyak berpikir.

__ADS_1


Juan menggeleng, lantas meloloskan helaan napas pelan. “I’m okay. I just want you to know that you’re and will always be enough for me. Aku nggak peduli siapa pun ngomong apa pun tentang kamu, karena buat aku, kamu adalah kamu dan itu udah cukup.”


“Nggak, kamu pasti lagi kenapa-kenapa. Tell me, Ju, ada masalah apa?”


“Nggak ada, Sayang.” Juan memaksakan senyum. “Aku beneran cuma mau kamu tahu kalau aku sayang banget sama kamu. Udah, itu aja.”


“Yakin?”


Juan mengangguk pasti. “Iya.”


Sejenak, Zahira terdiam. Tahu. Dia jelas yakin ada yang tidak beres dengan kekasihnya itu. Namun, ia tidak memiliki banyak waktu untuk mendesak Juan agar menceritakan semuanya sekarang. Jadi dengan berat hati, Zahira pun turut menganggukkan kepala.


“Ya udah kalau memang nggak ada apa-apa. Tapi, kalau kiranya ada yang perlu kamu ceritain ke aku, kalau ada yang mengganggu pikiran kamu sampai bikin di sini serasa penuh, tolong kasih tahu aku.” Ucap Zahira seraya menyentuh dada kiri Juan. “Jangan dipendam sendiri, karena kamu punya aku.”


Meski sulit, meski rasanya dia ingin menangis, Juan tetap mengusahakan senyum terbaiknya untuk Zahira. Sakit sekali hatinya saat mengingat kembali omongan tidak baik soal kekasihnya ini. Sampai tidak habis pikir ia, mengapa ada orang-orang yang bisa berbicara begitu lantang tentang keburukan orang lain di saat mereka sebenarnya tidak tahu apa-apa?


“I have to go,” meski masih ingin berlama-lama melepas rindu, Zahira tetap harus mengucapkan kalimat pamit itu. “Kamu hati-hati di jalan, jangan lupa kabarin kalau udah sampai rumah.” Kemudian, satu usapan ia labuhkan ke pipi Juan. “Aku masuk, ya?”


“Iya, Sayang. Semangat, ya.”


Zahira mengangguk semangat, lalu segera berbalik sebelum rekannya yang lain kelabakan mencari keberadaan dirinya yang absen di tengah-tengah kegiatan.


Punggung perempuan itu semakin menjauh, lama-kelamaan terlihat mengecil sampai akhirnya benar-benar hilang dari pandangan. Sementara di tempatnya berdiri, Juan masih harus berkompromi dengan emosi yang masih terus berusaha menguasai diri.


Saat ini, detik ini, tidak ada hal lain yang mengisi kepala Juan selain rencana-rencana untuk membalas omongan tiga laki-laki sampah tadi dengan sebuah tindakan yang akan membuat mereka jera.


“Demi Tuhan, sekali lagi gue dengar kalian ngomong yang macam-macam soal Zahira, gue akan pastiin hidup kalian berantakan.”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2